You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Bahasaku Bahasa???????
Bulan Oktober, selain ada hari-hari yang dianggap penting seperti peringatan milad Angkatan Bersenjata, peringatan Sumpah Pemuda, juga disebut-sebut sebagai Bulan Bahasa.
Lantas, apa yang sudah kita berikan buat bahasa Indonesia itu sendiri? Bulan bahasa mengalir terus dari tahun ke tahun tanpa ada keseriusan dalam berbahasa iru sendiri. Akademisi bahasa benar-benar ditekan bagaimana arah bahasa yang baik dan benar itu… Apakah adanya ETD lebih mendisiplinkan bahasa, atau justru mengekang kebebasan berbahasa itu sendiri.
Siapa yang bisa menjawab?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
ikram
ETD itu apa ya Mas Sayyid?
October 23rd, 2008 at 11:15 pm
Catshade
Edjaan Tjang Disempoernakan? :D
Saya yakin kita sudah memberikan banyak buat bahasa Indonesia itu sendiri… saking banyaknya, para ahli sampai geregetan sendiri mengatur dan memilahnya. :P
Menurut saya bahasa yang hidup harus diberikan ruang untuk bernapas (kalaupun tidak diberi, ia akan mencari jalannya sendiri). Toh yang menggunakannya juga manusia yang hidup dan bernapas. Tapi tentunya ada standar minimum atawa aturan umum yang (seharusnya) tidak dilanggar; Gaya bahasa ABG sEpErtI iNi NiCh, misalnya, menurut saya adalah salah satu contoh pelanggarnya.
October 23rd, 2008 at 11:57 pm
Ben
Posting ini sendiri sepertinya kurang serius dalam berbahasa Indonesia. Misalnya, soal penggunaan tanda tanya yang berlebihan dan salah ketik. Sudah begitu, ada kalimat tanya tapi tanpa tanda tanya. :)
October 24th, 2008 at 2:07 am
elvi
Halo semua.. .
Meski sehari-hari saya berkutat dg “kehidupanfilm Korea”, namun saya salah satu orang yang serius, serius banget malah dengan eksistensi BI.
Sebenarnya pemakaian BI yang baik dan benar itu bisa dimulai dari diri sendiri kok (bukannya menggurui kok, mentang-mentang dosen he..he..)
Coba kita intip apakah di rumah kita punya Kamus Besar Bahasa Indonesia yang akan jadi polisi bahasa kita? Saya yakin jawabnya pasti tidak, yang ada pasti hanya kamus bahasa Inggris.
Kenyataan ini setidaknya membuat saya miris. Terus kalau soal bahasa gaul dipersoalkan, saya pikir itu agak keliru, karena itu termasuk salah satu ragam bahasa slang.
Yang perlu kita garisbawahi adalah pemakaian bahasa Indonesia di ruang publik (formal). Jika mereka memakai bahasa Indonesia harus sesuai EYD (lain cerita bahasa gaul). Jangan berkedokbbahasa iklan, orang seenaknya memutarbalikkan kebenaran berbahasa. Contoh sederhana: di jalan banyak sekali kita jumpai kata-kata yang salah ditulis dan itu malu-maluin. Misal di jual, di kontrakkan, di sewakan. Masa untuk penulisan kata tersebut hampir semua melakukan kesalahan. Mengutip Amin Rais,”Kesalahan (korupsi)kok berjemaah?”. Penulisan “di” baru dipisah jika menunjukkan posisi atau arah. semisal: di dalam, di sini, di Jakarta, dsb.
Eits…kepanjangan ya saya ngomelnya. Maaf, ntar diskusinya nyambung lagi. Insyaallah …
October 27th, 2008 at 1:53 pm
sayyid
Siplah mas Ben, Catshade dan Evi. Menurut saya, bahasa tak bisa diatur, didisiplinkan. Sebab mengacu kepada pengertian dan asal mula bahasa itu sendiri, yaitu: “bahasa adalah hasil konvensi kebahasaan yang sering dipakai dalam masyarakat. Artinya, bahasa bersifat manasuka atau arbitrer. Watson tokoh Behaviorisme Modern juga mengatakan “apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu (bahasa) digunakan.”
:D
October 27th, 2008 at 7:15 pm