You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Puisi-puisi Esha Tegar Putra

Puisi-puisi Esha Tegar Putra

sayyid — November 29, 2008 / 12:22 pm

Lembah Bersayap

di lembah batu lembah bermiang aku mengunyah hujan beribu kali lipat melebihi kunyahan sungai pada cadas gunung (cadas yang digerakkan pusaran arus bawah menuju hulu yang dipagari tulang ikan) hingga saat yang tak ditentukan dengan ukuran waktu, akan terdengar lenguhan sapi jantan dari jauh ikut menikmati sakitnya hujan turun takkah kau lihat sesuatu yang menggelegak, semacam air liar, berlarian di hantar kabut bergumpal—sesuatu itukah yang melahirkan sayap serangga, ekor kunang-kunang, atau tali pengikat badan kupu-kupu? mungkin sesuatu itu cuma bunyi langkah para pemikat balam yang takutnya (akan ganas rimba) tertahan di dalam sangkar yang selalu berbalut kain gelap. ah, di lembah batu lembah bermiang aku membikin iri pohon-pohon tua yang kedinginan bersama lumut

di lembah batu lembah bermiang ada beragam mata bewarna yang selalu ingin menampakkan cahayanya. jingga jika senja mengendap pelan hijau pada pagi dengan dedaun mengerucut nyeri, merah di kulit kayu yang terkulum siang… oh, aku terus mengunyah hujan, terus mengunyah. tak menimang kapan batu, kayu, air terjun, atau seisi lembah bakal meminjam sayap serangga untuk terbang mengelilingi tanah di sebalik bukit tanah yang belum sempat mereka datangi

jika diungkap. begitulah sakit yang teramat nikmat, sakit mengunyah hujan di lembah batu lembah bermiang. barangkali nikmat ini ada yang berniat meminjam. sekedar bertanya tentang rasa. aku ingin mengendap saja jadinya setelah waktu yang tak terhitung ini perlahan mulai membilang banyaknya daun banyaknya akar, dan banyaknya air yang susut dari lembah

semacam takut yang dulu tertahan, kini terbentuk menjadi lembah baru yang dipenuhi sayap. oh, lembah bersayap. lembah yang seisinya belajar untuk terbang. lembah yang tak ingin lagi membentur kandungan angin

Kandangpadati, 2008

Mata Angin Buta

aku ingin kau melunasi hutangmu pada mata angin buta yang jalurnya telah kau lenyapkan menjadi buntalan sajak. senantiasa ada yang menindih bunyinya bila lewat tengah malam, mungkin hujan lalu, atau sekedar ranting patah terinjak kaki burung mungkin juga dedaun yang merapatkan gatalnya pada dingin kala suara laut membawa gumpalan garam hampa melewati jalan air

kau tentunya sangat hafal tentang dengung mata angin yang kau jadikan rumah bagi kediaman sajakmu. sebab sekalian waktu telah menimpamu, menumpulkan pandangan tajammu akan sesuatu yang melaju menuju peristiwa lamamu. “aku selalu merindui kaki-kaki burung, merindui bau tanah bukit, dan bunyi batu
yang menyusup dalam danau.” dan sajak adalah kerinduan yang kau curi dari mata angin buta

mata angin buta merupa kekosongan pada dadamu, jika malam-malam yang kau impikan menjadi selembar kertas yang tak mau ditulisi. mata angin buta menyerupai ingatanmu akan jalanan masa lalu, tempat kau berlarian menuju ladang kopi, yang kini kau coba ingat lekuk batangnya “barang kali sajak telah menipuku, menjadikanku arang kayu yang dibuang di sudut dapur. atau sajak telah menyihirku, merompak diri kecilku agar menjadi sesuatu yang kabut, sesuatu yang abu-abu, sesuatu yang lengket pada batu.” kembalikanlah sesuatu yang kau curi dari mata angin buta. tentunya bukan mata, bukan pula peristiwa beralihnya gumpalan kabut dari bukit, gunung dan laut. tapi sesuatu yang telah kau amsalkan pada jalan air. jalur perebutan setiap makhluk yang bersuara

Kandangpadati, 2008

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. wisnu

    salam kenal,puisi-puisinya oke-oke dan keren-keren….kapan bisa ngisi buat blogku,saya tunggu kunjungan baliknya ke blog puisi dan sajakku…gimana kalo kita tukar link?

    December 13th, 2008 at 3:11 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...