You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Puisi-puisi Esha Tegar Putra
Lembah Bersayap
di lembah batu lembah bermiang aku mengunyah hujan beribu kali lipat melebihi kunyahan sungai pada cadas gunung (cadas yang digerakkan pusaran arus bawah menuju hulu yang dipagari tulang ikan) hingga saat yang tak ditentukan dengan ukuran waktu, akan terdengar lenguhan sapi jantan dari jauh ikut menikmati sakitnya hujan turun takkah kau lihat sesuatu yang menggelegak, semacam air liar, berlarian di hantar kabut bergumpal—sesuatu itukah yang melahirkan sayap serangga, ekor kunang-kunang, atau tali pengikat badan kupu-kupu? mungkin sesuatu itu cuma bunyi langkah para pemikat balam yang takutnya (akan ganas rimba) tertahan di dalam sangkar yang selalu berbalut kain gelap. ah, di lembah batu lembah bermiang aku membikin iri pohon-pohon tua yang kedinginan bersama lumut
di lembah batu lembah bermiang ada beragam mata bewarna yang selalu ingin menampakkan cahayanya. jingga jika senja mengendap pelan hijau pada pagi dengan dedaun mengerucut nyeri, merah di kulit kayu yang terkulum siang… oh, aku terus mengunyah hujan, terus mengunyah. tak menimang kapan batu, kayu, air terjun, atau seisi lembah bakal meminjam sayap serangga untuk terbang mengelilingi tanah di sebalik bukit tanah yang belum sempat mereka datangi
jika diungkap. begitulah sakit yang teramat nikmat, sakit mengunyah hujan di lembah batu lembah bermiang. barangkali nikmat ini ada yang berniat meminjam. sekedar bertanya tentang rasa. aku ingin mengendap saja jadinya setelah waktu yang tak terhitung ini perlahan mulai membilang banyaknya daun banyaknya akar, dan banyaknya air yang susut dari lembah
semacam takut yang dulu tertahan, kini terbentuk menjadi lembah baru yang dipenuhi sayap. oh, lembah bersayap. lembah yang seisinya belajar untuk terbang. lembah yang tak ingin lagi membentur kandungan angin
Kandangpadati, 2008
Mata Angin Buta
aku ingin kau melunasi hutangmu pada mata angin buta yang jalurnya telah kau lenyapkan menjadi buntalan sajak. senantiasa ada yang menindih bunyinya bila lewat tengah malam, mungkin hujan lalu, atau sekedar ranting patah terinjak kaki burung mungkin juga dedaun yang merapatkan gatalnya pada dingin kala suara laut membawa gumpalan garam hampa melewati jalan air
kau tentunya sangat hafal tentang dengung mata angin yang
kau jadikan rumah bagi kediaman sajakmu. sebab sekalian waktu
telah menimpamu, menumpulkan pandangan tajammu akan sesuatu
yang melaju menuju peristiwa lamamu. “aku selalu merindui
kaki-kaki burung, merindui bau tanah bukit, dan bunyi batu
yang menyusup dalam danau.” dan sajak adalah
kerinduan yang kau curi dari mata angin buta
mata angin buta merupa kekosongan pada dadamu, jika malam-malam yang kau impikan menjadi selembar kertas yang tak mau ditulisi. mata angin buta menyerupai ingatanmu akan jalanan masa lalu, tempat kau berlarian menuju ladang kopi, yang kini kau coba ingat lekuk batangnya “barang kali sajak telah menipuku, menjadikanku arang kayu yang dibuang di sudut dapur. atau sajak telah menyihirku, merompak diri kecilku agar menjadi sesuatu yang kabut, sesuatu yang abu-abu, sesuatu yang lengket pada batu.” kembalikanlah sesuatu yang kau curi dari mata angin buta. tentunya bukan mata, bukan pula peristiwa beralihnya gumpalan kabut dari bukit, gunung dan laut. tapi sesuatu yang telah kau amsalkan pada jalan air. jalur perebutan setiap makhluk yang bersuara
Kandangpadati, 2008
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
wisnu
salam kenal,puisi-puisinya oke-oke dan keren-keren….kapan bisa ngisi buat blogku,saya tunggu kunjungan baliknya ke blog puisi dan sajakku…gimana kalo kita tukar link?
December 13th, 2008 at 3:11 pm