You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Tentang Ode Kampung 3 Lagi
Rumah Dunia, sebuah madrasah kebudayaan yang didirikan Gola Gong dan Tias Tatanka berada di komplek Hegar Alam nomor 40 Kampung Ciloang, Serang-Banten, mengadakan kembali pertemuan akbar “Ode Kampung III: Temu Komunitas Literasi se-Indonesia” pada tanggal 5-7 Desember 2008.
Kegiatan ini dihadirkan sebagai upaya untuk mendukung gerakan literasi lokal (Taman Bacaan Masyarakat) yang kini sudah tersebar sekitar 4000 komunitas di Indonesia. Kegiatan ini terbuka bagi siapapun yang peduli dengan dunia literasi. Peserta dapat mendaftar melalui email:
odekampungtiga@gmail.com informasi selanjutnya bisa dilihat di
www.rumahdunia.net dan www.odekampungtiga.wordpress.com
Diharapkan dalam pertemuan ini dapat merumuskan sebuah rekomendasi, di antaranya, mendorong agar setiap instansi terkait membangun gedung perpustakaan yang representatif sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi secara cepat, mudah dan merata. Seperti biasa, selain banyak menu-menu pertunjukan (teater, puisi, musikalisasi puisi), juga ada sederet diskusi. Yaitu:
Jumat , 5 Des 08, Pukul 15.30 – 17.30 WIB
DISKUSI 1: ”MEMBUDAYAKAN MINAT BACA MASYARAKAT” Pembicara: Myra Junor (GM Corporate communication XL), Prof. Dr. Yoyo Mulyana (Penasehat Rumah Dunia), Dik Doang (artis, Komunitas Kandang Jurang Doank), DR. Zulkieflimansyah (Anggota DPR) Moderator: Firman Venayaksa (Presiden Rumah Dunia)
TOR: “Membaca seharusnya menjadi bagian integral dalam kehidupan kebudayaan kita. Dengan membaca kita diberikan kemudahan-kemudahan melahap pelbagai ilmu pengetahuan, informasi dan segala macam yang awalnya tidak kita ketahui. Tapi betulkah minat baca masyarakat sudah mulai berkembang?
Persoalan budaya baca agaknya tetap menjadi persoalan besar di negeri ini. Penyair Taufiq Ismail, disela-sela diskusi sastra di Rumah Dunia (17/11/07) mengungkapkan bahwa bangsa kita rabun membaca dan pincang menulis. Hal ini ia tegaskan setelah melakukan penelitian sederhana kepada Siswa SMU di 13 negara. Jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku sastra selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra.
Dengan media yang berbeda, data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 perihal budaya baca bangsa Indonesia juga sangat rendah. Data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 %. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 %, buku cerita 16,72 %, buku pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 %.
Setelah mengamati data-data di atas, bagaimanakah cara efektif untuk meningkatkan minat baca di negeri kita? Mengapa masyarakat kita masih begitu lemah menerima buku-buku? Apa yang salah dengan masyarakat kita? Pemerintah sudah mengupakayan memfasilitasi Taman Bacaan Masyarakat dengan memberikan sebentuk blockgrant agar buku dengan masyarakat menjadi dekat. Efektifkah? Bagaimanakah aplikasinya di lapangan? (*)
Sabtu, 6 Des 08, Pukul 08.00 – 10.00 WIB
DISKUSI 2: “KIPRAH PEMERINTAH DALAM MENDUKUNG KOMUNITAS LITERASI” Pembicara: Eko Koswara, Kepala Dinas Pendidikan Prov Banten, Wien Muldian (Pustakawan, aktivis literasi ), Tantowi Yahya (artis, Duta Baca), Kiswanti (akivis komunitas literasi ‘Warabal’, Parung, Bogor) Moderator: Toto ST Radik (Penyair, penasehat Rumah Dunia)
TOR: “Pemerintah, dalam persoalan meningkatkan minat baca menunjukan perhatian yang cukup serius. Di dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5, dijelaskan bahwa salah satu cara penyelenggaraan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya baca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Dalam kegiatan informal, Taman bacaan Masyarakat adalah salah satu proyek pemerintah di bawah Pendidikan Kemasyarakatan. Bahkan pada tahun 2006, Depdiknas khusus membuat Subdit Budaya Baca. Kemudian, Undang Undang tentang Perustakaan pun telah terbit.
Sosialisasi mengenai undang-undang ini terus menerus dilakukan oleh pemerintah. Namun permasalahan tentang hal ini tetap menjadi persoalan. Kesan bahwa perpustakaan angker seperti kuburan nampaknya menjadi salah satu ketakakraban antara perpustakaan dengan masyarakatnya. Hal ini penting untuk diubah agar perpustakaan menjadi center of exelent buat masyarakat. Selain itu Taman bacaan yang selama ini berkembang, harus ada kejelasan, baik operasional maupun pada tingkat evaluatif. Mungkinkah pemerintah sanggup mengubah keadaan ini? Lalu bagaimana peran serta masyarakat dalam mendukung budaya baca? (*)
Sabtu, 6 Des 08, Pukul 10.15.- 12.15 WIB
DISKUSI 3: “PERANAN PENERBIT MENDUKUNG GERAKAN KOMUNITAS LITERASI” Pembicara: Hernowo (Mizan), Hikmat Kurnia (Gagas Media), Bambang Trim (Salamadani) Moderator: Jonru (aktivis, situs Penulis lepas)
TOR: “Cina dengan penduduk 1,3 miliar jiwa mampu menerbitkan 140.000 judul buku baru setiap tahunnya. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15.000 judul buku baru per tahun, Malaysia berpenduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10.000 judul, sedangkan Indonesia dengan 220 juta jiwa hanya mampu menerbitkan 10.000 judul pertahun. Pasokan inipun tidak menyebar ke pelbagai pelosok, sehinga masyarakat yang berada di daerah hanya bisa menikmati buku-buku yang lapuk dan sudah tidak layak dibaca. Kita percaya bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, masyarakat diberikan pemahaman lebih, cakrawala yang luas, sehingga mereka dengan sendirinya bisa mengubah hidup menuju kemandirian.
Kita tahu pentingnya buku, tapi dalam posisi ini, penerbit tak bisa juga disalahkan harga menjadi mahal. Pajak yang kelewat mahal menunjukkan bahwa pemerintah tidak sepenuh hati mendukung budaya baca. Kira-kira bagaimana caranya agar buku menjadi murah sehingga bisa dibeli oleh berbagai kalangan masyarakat? Dengan demikian, jaminan buku murah adalah sebuah keniscayaan. Selanjutnya, bagaimana pula penerbit memberikan kontibusi sosial, sehingga (walau dengan kondisi sekarang) buku-buku tetap bisa murah. (*)
Sabtu, 6 Des 08, Pukul 13.00 – 15.00 WIB
DISKUSI 4: MEMBANGUN JARINGAN ANTARKOMUNITAS Pembicara: Virgina (KKS Melati), Sekar (Forum Indonesia Membaca), Ir. Zulkarnaen (PP Forum TBM), Indra (Komunitas 1001 Buku) Moderator: Langlang Randhawa (Redpel tabloid Kaibon, Serang)
TOR: “Perkembangan Taman Bacaan atau komunitas literasi mulai pesat. Kesadaran untuk mendekatkan buku dan pembacanya kian digandrungi. Beragam versi tujuan Taman bacaan Masyarakat didirikan. Ada yang memang ingin mencari sekedar penghidupan (proyek) dari block grant, kepentingan politik (kelompok dan golongan), ada pula yang murni ingin membantu program pemerintah dalam memberantas buta aksara.
Dalam versi depdiknas, terrekam sekitar 4000-5000 Taman Bacaan Masyarakat terserak di Indonesia. Tetapi dari sekian banyak itu, seakan TBM berjalan sendiri-sendiri. Beberapa TBM bahkan hanya sekadar menunggu blockgrant dari pemerintah, setelah itu kemudian mati suri. Mengapa terjadi demikian?
Bagaimana pula dengan komunitas yang kini membuat jejaring? Sampai di mana langkah mereka untuk mengajak masyarakat akan pentingnya budaya baca? Bagaimana pula kiprah para penggiat literasi bertahan dalam proses yang tak bisa dibilang gampang? (*)
Sabtu, 6 Des 08, Pukul 15.30 – 17.00 WIB
DISKUSI 5: “PENULIS DALAM MEMBANGUN GERAKAN SOSIAL” Pembicara: Asma Nadia (Pengarang, pendiri Rumah Cahaya), Anwar Kholid (Editor, ativis perbukuan, Bandung), Halim HD (networker kebudayaan, Solo) Moderator: Bambang Q-Anees (penulis, Komunitas Pasemoan Sophia, Bandung)
TOR: “Kini, mulai berjamuran para penulis yang peduli dengan keadaan sekelilingnya. Beberapa mulai menyisihkan honorariumnya untuk membantu masyarakat tak mampu. Ada juga yang mengeluarkan buku-buku di perpustakaan pribadi untuk bisa diakses masyarakat. Lalu bagaimanakah para penulis membuat semacam regenerasi? Kepedulian semacam apa yang bisa dilakukan oleh penulis agar masyarakat menjadi peduli dengan bahan bacaan sehingga meningkatkan minat baca?
Penulis dan pembaca jelas tak bisa dipisahkan. Dengan membuat komunal masyarakat yang mencintai buku, secara tidak langsung, penulis menciptakan juga komunal pembaca buku yang bisa saja melahap buku-buku yang ditulisnya. Sinergisitas ini menjadi penting agar terjadi keharmonisan antara penulis dan pembaca. (*)
Sabtu 5 Des 08, Pukul 19.30 – 21.00 WIB
DISKUSI 6: ”TANGGUNGJAWAB PERS DALAM MENDUKUNG GERAKAN LITERASI” Pembicara: MW. Fauzi (Pemred Banten Raya Post, Cilegon), Odien Solihin (Dosen Untirta Serang), Jodhy Yudono (Kompas Cybermedia) Moderator: Ibnu Adam Aviciena (relawan Rumah Dunia)
TOR: “Pers adalah ujung tombak dari gerakan literasi. Setiap saat pers bisa hadir di ruang pribadi atau public. Pers secara tidak langsung menjadi media pembelajaran literasi bagi masyarakat. Rubrik-rubriknya memacu masyarakat untuk mengekspresikan dirinya lewat opini, prosa, dan puisi. Apalagi ketika bermunculan pers daerah (koran lokal). Ini memberi berkah bagi perkembangan mengembirakan, yaitu problem kebutaaksaran di masyarakat pelan-pelan mulai terkikis.Tapi adakah kontribusi langsung pers dalam memajukan gerakan literasi lokal di negeri ini? Apakah pers hanya sekedar memublikasikan kegiatan-kegiatan literasi versi pemerintah dan masyarakat dalam betuk laporannya? Atau pers juga menyisihkan dananya secara langsung untuk mendukung gerakan literasi masyarakat? (*)
Minggu 7 Des 08, Pukul 08.00 – 10.00 WIB
DISKUSI 7: “CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DALAM MENDUKUNG GERAKAN KOMUNITAS LITERASI” Pembicara: Ariful Amir (Yayasan Nurani Dunia), Siska Leonita (corporate Communication XL Care), Deasy Yasmin (Rumah Baca) Moderator: Mahmudin (Forum Indonesia Membaca)
TOR: “Tak bisa disangkal bahwa keberlangsungan Taman Bacaan Masyarakat/ Komunitas Literasi perlu bantuan dari segenap pihak. Ada TBM yang mengandalkan dari bantuan pemerintah. Ada juga yang survive dengan hasil iuran para anggotanya, atau mereka menjual segala macam produk yang hasilnya nanti untuk membiayai operasional. Selain itu, bagi TBM yang terbilang berhasil, mereka terkadang bekerjasama dengan berbagai perusahaan agar eksistensi mereka tetap terjaga. Sebuah perusahaan seyogyanya tak hanya memikirkan persoalan laba. Masyarakat sebagai konsumen harus diberikan porsi lain agar ada keseimbangan antara kapitalistik dan sosial.
Bagaimanakah kesadaran perusahaan terhadap program CSR? Apakah program CSR bisa dipisahkan dengan promosi? Selama ini, kadang sulit sekali membedakan antara program sosial dengan promosi. Batasannya begitu mengambang, sehingga kepedulian perusahaan terhadap masyarakat terkesan setengah-setangah. Ataukah memang program CSR juga menjadi bagian tak terpisahkan dengan image produk itu sendiri?
Pertanyaan lain yang sering terdengar adalah bagaimana mengakses program CSR? Apakah Taman bacaan Masyarakat yang notabene lebih banyak bergerak di pelosok kota-kampung bisa ikut ambil bagian? (*)
Minggu 7 Des 08, Pukul 10.00 – 12.00 WIB
DISKUSI 7: “DIALOG DAN DEKLARASI KOMUNITAS LITERASI SE-NUSANTARA” (MENGATUR LANGKAH, MENGATUR BARISAN, BERGERAK KE DEPAN) Pembicara: Perwakilan masing-masing komunitas literasi
TOR: “Kegiatan ini dihadirkan sebagai upaya untuk mendukung gerakan literasi lokal/ Taman Bacaan Masyarakat, yang kini sudah tersebar sekitar 4000 komunitas di Indonesia. Kegiatan ini terbuka bagi siapapun yang peduli dengan dunia literasi.
Diharapkan dalam pertemuan ini dapat merumuskan sebuah rekomendasi, di antaranya, mendorong agar setiap instansi terkait di masing-masing daerah membangun gedung perpustakaan yang representatif sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses buku yang variatif dan mutakhir, informasi secara cepat (internet), mudah dan merata.(*)
TIM PERUMUS Gola Gong, Firman Venayaksa, Ibnu Adam Aviciena, Langlang Randhawa, Aji Setiakarya, Muhzen Den
(DIAMBIL DARI MILLIS SASTRA PEMBEBASAN)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.