You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Andrea Hirata, Belitong yang Mengindonesia

Andrea Hirata, Belitong yang Mengindonesia

sayyid — December 9, 2008 / 5:52 pm

Oleh: Asahan Aidit

Laskar Pelangi = Laskar yang pelangi Saya sudah tidak ingat berapa warna yang bisa dilihat pada waktu terbitnya pelangi yang berbentuk setengah lingkaran raksasa yang luar biasa indahnya itu karena di Belanda sangat jarang bertemu melihat pelangi. Tapi di Belitung (Belitong) ,ketika saya masih sangat remaja, sangat sering menyaksikan terbitnya pelangi dengan warna-warni yang masih saya ingat( kalau tidak salah) : merah, kuning, hijau, biru dan ungu…

Andrea memilih nama “Laskar Pelangi” untuk nama bukunya dan setelah saya baca, nama yang dipilih Andrea, sungguh sangat berhasil, sungguh indah nama itu. Ketika pada tahun 1996 disambut hujan lebat persis ketika memasuki sebuah restoran di pantai Tanjong Pendam. Tahun 1950 saya meninggalkan kampung halaman saya yang bernama Pulau Belitong atau pulau timah menuju Jakarta untuk melanjutkan pelajaran. Saya masih ingat Belitong adalah pulau hujan atau rain forest-nya Indonesia. Sangat sering turun hujan terutama di musim hujan, hujan besar, lama, angin bertiup kencang dengan bumbu-bumbu tradisionalnya seperti guruh, guntur sambar menyambar dan begitulah juga yang digambarkan Andrea Hirata dalam novelnya “Laskar Pelangi”. Dan sesudah hujan biasanya muncul pelangi yang luar biasa indahnya, jelas serta menakjubkan. Rupanya Belitong tidak berubah sejak ribuan tahun yang juga sempat saya saksikan: pulau hujan dan negeri pelangi. Tapi pelanginya Andrea adalah pelanginya manusia, sepuluh manusia muda belia: Lintang, Mahar, Sahara, Kucai, Syahdan, Trapani, Ikal, Harun , A Kiong dan Borek Lalu Flo sebagai anggota laskar istimewa yang dinobatkan oleh klub Laskar Pelangi dengan nomor 11.

Setiap orang mempunyai watak dan sifat-sifat yang berbeda-beda, sangat beda meskipun semua mereka berasal dari saru klas: klas orang miskin hingga teramat miskin kecuali Flo yang menghianati klasnya, yaitu klas orang kaya yang orang tuanya adalah pegawai staf PN timah, lalu bergabung dengan Laskar Pelangi sesudah lari dari sekolah super mewah kepunyaan PN timah Belitong.

Andrea dengan sangat terperinci melukiskan setiap sifat, kelakuan serta kecerdasan setiap anggota laskar, satu persatu. Umpamanya Mahar yang jago seni, Lintang yang anak super genial otaknya dan Ikal (dia sendiri?) yang sangat romantis, berperasaan halus.

Sejak dari halaman pertama kita membaca buku ini telah terasa enak, menarik dengan gaya bahasa Andrea yang juga istimewa keorisinilannya. Dia mengunakan begitu banyak perumpamaan. Umpamanya:

“Pria itu berpotongan seperti pinang mati karena disambar petir: hitam, meranggas , kurus dan kaku”… atau: “Ganjil sekali , buaya itu seperti takluk, mengibas-ngibaskan ekornya laksana seekor anjing yang ingin mengambil hati tuannya, lalu mendadak sontak,dengan sebuah lompatan dahsyat seperti terbang reptil zaman cretaceous itu terjun ke rawa menimbulkan suara laksana tujuh pohon kelapa tumbang sekaligus” atau: “Wajahnya tampak menyesal seperti baru saja membongkar sebuah rahasia keluarga yang terdalam dan telah disimpan tujuh turunan”. Atau: “Kepalanya seperti kaleng kerupuk”. Dll, dll, berjumlah ratusan banyaknya yang-hampir semuanya “made in Andrea Hirata”. Dan semuanya amat berkesan. Keunggulan Andrea melukiskan tokoh-tokohnya maupun dalam melukiskan keadaan sekeliling, seperti suasana pasar, dalam toko kelontong yang berbau busuk oleh produk makanan dan karena barang-barang dagangan yang sudah saling tumpang tindih digambarkan oleh Andrea begitu rincinya, begitu detailnya dengan begitu piawainya hingga mengingatkan saya pada pengarang Rusia Gogol yang terkenal dengan kerinciannya yang luar biasa dalam melukiskan apa saja terutama manusia, tapi sangat enak dan terasa jenaka membacanya. Barangkali bila Gogol membaca novel Andrea Laskar Pelangi ini, di dalam kuburnya, ia akan terangguk-angguk sambil menggerutu tak jelas: “Sekarang di Indonesia sudah lahir seorang Andrei Hiratovich yang baru”.

Mengapa novel ini begitu menarik untuk dibaca. Saya kira rahasia terbesar Andrea Hirata adalah karena kerajinannya dan keantusiasannya dalam bercerita. Ia mempunyai rasa humor yang tersembunyi tapi meledak ledak di sana-sini ,bertaburan di sana-sini dalam novelnya yang 534 halaman itu (cetakan ke 21, April 2008) , disamping itu, dia bercerita dengan sungguh-sungguh bahkan teramat bersungguh-sunguh. Semua digarapnya dengan teliti, dilahapnya dengan penuh gairah. Di sini saya teringat akan kata-kata Nikolai Paganini seorang virtuos besar, violis dan komponis Italia. Paganini bilang: “Bila engkau ingin membuat pendengarmu menangis, maka yang pertama-tama, kaulah yang harus bisa menangis terlebih dahulu”. Hal itu telah dilakukan oleh Andrea dalam novelnya dan benar saja, pembacapun turut dibawa arus yang dikehendakinya.

Semua tokoh Laskar Pelangi adalah tokoh istimewa, bahkan dalam kesederhanaan dan ketidakberartiannya . ketololannya, kegilaannya, kegenialannya dan bahkan hinga keironisannya. Lintang digambarkan sebagai tokoh eksentrik, tapi genius, luar biasa pintar dan cepatnya berpikir di samping yang termiskin dari sepuluh laskar Pelangi. Berhalaman halaman banyaknya Andrea menceritakan keluar biasaan Lintang, kehebatannya dalam menjawabi pertanyaan-pertanya an dalam lomba kecerdasan hingga sekolah Muahammdiah menjadi juara pertama karena kehebatan otak Lintang. Dan sesungguhnya drama terbesar dalam novel Andrea ini adalah pada tokoh Lintang ini dan tidak hanya drama terbesar tapi adalah juga ironi terbesar. Ironi keblingsatan Indonesia dalam segala hal. Lintang yang super jenius ahirnya hanya menjadi seorang supir truck pengangkut pasir yang pekerjaannya sangat berat dengan upah paling minimum. Di sini kita melihat Indonesia tidak perlu dengan kaca pembesar. Ikal ( bentuk “aku”dalam novel ini, yang mungkin bisa kita duga adalah pengarangnya atau Andrea sendiri atau setidaknya barangkali begitu) adalah seorang murid yang rajin dan juga cerdas, peneliti semua keadaan sekeliling-teman- temannya, punya kemampuan untuk jadi apa saja, juga dari keluarga miskin yang sejak masa belianya bertekad tidak akan bekerja di kantor pos karena harus bangun dinihari, tapi di ahir cerita diapun terjerumus dalam pekerjaan yang sangat ditakutinya: tukang sortir surat-surat di Kantor pos dan harus bangun dinihari setiap hari. Lagi-lagi sebuan ironi Indonesia: jabatan terjelek selalu jatuh pada orang-orang paling cerdas, paling berbakat, paling sungguh-sungguh tapi selalu dari lapisan bawah. Ikal ahirnya lari dari pekerjaannya tapi dengan semangat yang lebih gila lagi untuk mencari dan memasuki kehidupan yang lebih baik hingga ahirnya dia berhasil mendapatkan beasiswa belajar ke luar negeri.

Flo atau Floriane adalah tokoh pembrontak, anak orang kaya yang tinggal di “Gedong” dalam lingkungan khusus kompleks perumahan orang-orang staf kepunyaan PN Timah, merasa tidak betah dilingkungan serba mewah termasuk harus belajar piano untuk memainkan musik-musik klassik. Flo adalah gadis muda eksentrik, petualang klas berat, dan dimanapun dia berada dia seperti tuan rumahnya sendiri. Hari pertama pelariannya ke sekolah Muhammadiah, dia telah menentukan sendiri di mana dia harus duduk dan menolak untuk sebangku dengan teman sekelasnya, Sahara, yang satu satunya pelajar wanita dalam sekolah itu. Flo hanya mau duduk sebangku dengan Mahar yang juga super eksentrik. Flo digambarkan sebagai gadis muda yang tak tahu apa itu rasa takut. Puncak kegilaannya ialah ketika Flo menghilangkan diri di tengah hutan belantara Belitong dan membuat banyak ribut-ribut bagi orang-orang yang mencarinya untuk menemukannya yang ahirnya ditemukan grup Laskar Pekangi di sebuah tempat terpencil, berbahaya untuk didatangi karena adanya sungai maut dan binatang buas seperti buaya-buaya paling besar dan lain-lainnya. Lalu ketika klub Laskar Pelangi berlayar ke Pulau Lanun untuk menemui seorang yang setengah manusia setengaah mahluk ajaib yang disebut orang-orang sebagai Tuk Bayan Tula. Di tengah pelayaran mereka menemui badai topan yang luar biasa yang nyaris menenggelamkan mereka semua dan hanya Flo yang tampak tidak merasa takut sedikitpun di saat maut akan menjemput semua mereka yang ahirnya selamat berkat suara azan yang dikumdangkan oleh sang nakhoda. Episode ini salah satu episode magis yang dilukiskan Andrea dengan sangat jelasnya, murni semurni magisnya Gabriel Garcia Marquez. Sebagaimana kekaguman Gogol terhadap Andrea meskipun dalam bentuk imajiner, saya yakin kalau Marquez membaca Laskar Pelanginya Andrea di sebuah apartemennya yang mewah di Paris, dia akan mengatakan: “Sekarangpun di Indonesia sudah ada ” Don Andrea Hirata de la Manggar”. Tanpa sedikitpun bermaksud mengejek Andrea, tapi memang Andrea telah berhasil mengindonesiakan aliran Realisme Magis dan itu telah dilakukannya dengan sukses dan gemilang.

Tapi saya sendiri merasa sayang kalau tokoh Flo yang kritis, berani dan mau berpihak kepada orang miskin dan telah menghianati klas orang tuanya yang hidup dalam kemewahan, tapi ahirnya Andrea hanya menobatkannya sebagai gadis memakai jilbab yang terpengaruh oleh Sahara yang religius Islam. Saya anggap ini sebagai kemunduran Andrea. Flo tidak semestinya cuma dijadikan gadis berjilbab. Dia punya kemampuan yang jauh lebih besar, sebagai pembrontak, sebagai pemimpin dan organisator dan itu yang diperlukan kaum miskin yang telah mulai dikenal dan didekatinya. Tapi rupanya Andrea tidak pergi ke arah itu. Jammer.Tapi memang saya belum membaca tiga novel Andrea yang lain yang dianggap sebagai triloginya. Apa Flo masih akan ditemui di sana?

Kemiskinan Belitong adalah lambang kemiskina Indonesia. Penghisapan terhadap rakyat Belitong adalah lambang penghisapan yang dilakukan oleh kaum penghisap di Indonesia. Korupsi di Belitong adalah juga lambang korupsi di seluruh Indonesia. Dan semua ini digambarkan Andrea dalam novelnya yang fenomenal ini. Pada tahun 2000 ketika saya mengunjungi Belitong dan mampir di Kelapa Kampit, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana itu bekas kerajaan PN Timah telah dirambah, digerogoti, dihancur leburkan oleh rakyat, oleh tukang maling, oleh semua orang yang punya dendam terhadap penindasan masa lalu. Rumah-tumah mewah hanya tinggal puing-puing sisa-sisa penjarahan, jembatan besi hilang sirna besinya, semua telah dipreteli tanpa ampun, dan yang tumbuh di atas bumi yang dulunya adalah istana-istana tertutup, ketika saya lihat waktu itu cumalah tumbuhan lalang dan belukar. Di tahun lima puluhan saya masih sempat menyaksikan kejayaan PN timah karena suami kakak perempuan saya adalah juga seorang pegawai staf dan tinggal di Kampit di sebuah rumah mewah dengan sekitarnya ada gedung sebagai klub besar yang di antaranya untuk bermain bowling yang saya juga pernah turut bermain (Maafkanlah saya Amdrea, itu karena ipar saya maka saya bisa masuk ke kompleks yang ditulisi dengan:” HANYA ORANG YANG MEMPUNYAI HAK YANG BISA MASUK “. Jadi saya melihat dan menyaksikan sendiri suasana berbagai kemewahan, keistimewana sekelompok manusia yang menikmati semua hasil kemakmuran dan kekayaan pulau Belitong di tengah rakyat Belitong yang miskin papa, terpencil, terhina hingga saat ini.

Masih terlalu banyak hal-hal yang menarik dan perlu lebih banyak disoroti dalam novel Andrea Hirata ini. Tentu tidak mungkin melakukan semua itu dalam sebuah tulisan teramat kecil seperti sekarang ini. Namun setelah saya membaca novel ini saya hanya hanya bisa menarik kesimpulan pribadi saya sendiri. Sejak saya membaca novel “Sitti Nurbaya”(Marah Rusli) dan “Salah Asuhan”(Abdul Muis), belum pernah saya membaca novel Indonesia moderen yang sebagus dan seindah novel “laskar Pelangi” Andrea Hirata ini. Novel ini sungguh-sungguh merupakan sinar Pelangi yang terindah hingga kini dalam sastra moderen Indonesia.

Asahan Aidit. M.A. Ph.D. filolog(kritik sastra)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...