You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Green Poetry Valentine Day 2009
Mengapa harus green poetry; bukannya white poetry, blue poetry, atau biar lebih kental nuansa kosmisnya memilih saja black poetry? Bukankah misalkan—grey poetry, dark yellow poetry itu jauh lebih romantis-melankolis kedengarannya dibandingkan dengan green poetry?
Tak lain spirit green poetry itu dilentikkan guna merekonstruksikan kesadaran mata batin kita yang telah terdekonstruksi akut; agar melek lingkungan hidup. Pasca melek lingkungan hidup, praktis rasa cinta kita pada lingkungan hidup tumbuh merekah, laksana keindahan warna pelangi dari kilauan bunga-bunga di musim penghujan.
Sebab selama ini yang sudah terlanjur terjadi adalah Hari Valentine hanya diraya-rayakan sebagai ungkapan rasa cinta dengan sesama manusia, terlebih kepada person to person, people to people (p to p), pacar pada gadis pujaannya. Khasanah cinta dalam Hari Valentine tidak diperluas pada jejaring cinta yang jauh melibas batas-batas wilayah cinta yang amat primordialistis.
Aura cinta sejati sesungguhnya, terletak pada gairah ruh cinta yang meledak-ledak bagaikan setangkup bebijian kapas (randu) yang merindukan percikan air dari gemulai tangan-tangan manusia atau curahan awan di musim kemarau. Sebab cinta itu sama seperti juga tanaman, yang diawali dengan bibit dan agar bisa tumbuh sempurna; ia harus dirawat dan diberikan pupuk. Pohon tanpa perawatan akan mati sia-sia. Apabila dirawat dengan baik pasti akan berbunga, lantas berbuah, dan berbiji. Cinta yang tumbuh terus itulah cinta hijau.
Hal inilah yang mendorong HOKI dan YPHL mengadakan lomba puisi
“Green Poetry Valentine Day”
Tak mustahil lagi bahwa tahun 2009 ini akan di-ploting menjadi Green Year, karena begitu banyak perusahaan maupun masyarakat yang semakin peduli akan lingkungan. Sedangkan esensialitas Puisi Hijau (Green Poetry) sendiri merupakan salah satu kunci pokok untuk merealisasikan seluruh kesadaran manusia dalam mewujudkan Green Year di atas.
Memang benar adanya, lomba ini memanfaatkan momentum strategis perayaan Hari Kasih “Valentine Day” Sayang yang jatuh pada 14 Februari 2009. Bila mau mencermati lebih seksama lagi, perayaan Valentine Day di belahan dunia Barat menjadi masa-masa teristimewa di mana para kekasih yang sedang dimabuk rasa jatuh cinta mengungkapkan cinta mereka.
Ada yang mengungkapkan rasa cintanya dengan membelikan sekuntum bunga mawar merekah berona merah marun teruntuk sang pujaan, kekasih. Sebagian lain mengkado-kadokan secincin emas atau liontin pada pasangan setianya. Bahkan ada juga yang meraya-rayakan hari itu sembari menyantuni anak-anak yatim piatu di berbagai penjuru kota.
Khusus di belahan dunia Timur (Utara dan Selatan), perayaan Valentine Day masih terkesan “kering”. Bahkan khusus di Indonesia, sebagian orang tidak tahu apa itu Hari Valentine, apalagi kalau ditanya kapan hari H-nya; aduh kuper amat. Kendati begitu, acap kali Hari Valentine yang dianggap sebagai masa berkasih sayang itu disalahgunakan oleh mayoritas pasangan muda-mudi (ABG) dengan mengobral cinta murah(an) hingga melanggar batas-batas norma/etika (agama, negara, adat-istiadat).
Padahal sejujur-jujurnya, substansialitas hari kasih sayang itu bukan lagi sebatas mencurahkan kasih sayang (original love, tresno, liebe, hubb) pada kekasih semata, melainkan juga kepada semua makhluk ciptaan Tuhan; orang tua, guru, rekan, tetangga dekat-jauh, karib kerabat, bahkan tanah, air, udara, bintang-gemintang serta lingkungan dan all every things over this world.
Dengan mengambil puncak orgasmus kesakralan spirit momentum Valentine “Hari Kasih Sayang” Day itu pula; Lomba Menulis Puisi “Green Poetry Valentine Day” ini diharapkan mampu mentransformasikan rasa cinta bukan hanya sekedar untuk menyadarkan sang kekasih mengenai cinta saja. Tetapi juga mempunyai tujuan lainnya yang lebih penting nan tinggi lagi yakni mengenai cinta lingkungan hidup maupun pelestarian hutan. Selain itu nantinya juga kuasa melahirkan penyair-penyair baru, tenar yang peduli terhadap hijaunya kehidupan, kelestarian lingkungan hidup itu sendiri. Mereka dituntut aktif, inspiratif, aspiratif, kritis, reflektif, eklektif sekaligus kreatif dan rekreatif mencurahkan segala potensi kemampuan dengan mengejawantahkannya dalam bentuk karya puisi yang menyentuh perasaan, jiwa, mata batin tiap insan.
Lebih khusus lagi, karya-karya puisi yang mampu menggugah dan mencerahkan kesadaran intelektual dan mata batin kolektif, bagi siapa saja pasca mengapresiasi karya-karya puisi itu. Klimaksnya, melalui hajatan lomba menulis puisi kali ini bisa membumbungkan puncak kesadaran manusia bahwa lingkungan dunia hari ini sedang berada diambang pintu gerbang ancaman bernama pemanasan global (global warming).
Pemenang akan dinobatkan sebagai
“Penyair Hijau 2009 versi HOKI”.
Lengkap dengan Piagam Penghargaan paling istimewa. Dan Insya Allah—kalau Tuhan berkenan; HOKI juga akan berkolaborasi apik dengan pihak penerbit buku untuk membukukan karya-karya puisi para pemenang serta puisi-puisi terbaik lainnya menjadi sebuah buku eksklusif.
Bagi siapa pun yang memiliki bakat jempolan dalam menulis puisi, gemar pada dunia sastra dan tulis-menulis; jangan lewatkan kesempatan emas ini. Segera saja kirimkan karya puisi hijau (green poetry) anda sebanyak-banyaknya dan semua karya puisi peserta yang diikutsertakan dalam lomba ini akan ditayangkan secara online di situs kesayangan HOKI yaitu kabarindonesia
Adapun mengenai persyaratan khusus dan ketentuan Lomba Menulis Puisi “Green Poetry Valentine Day 2009″ ini amat sederhana saja, yakni:
Jadi, tunggu apalagi!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Irwan Bajang
Wah… keren juga.. mau ikutan dong akh
February 5th, 2009 at 11:08 pm