You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Hudan Hidayat: Sapardi adalah Pembunuh Terbesar Sastra Indonesia

Hudan Hidayat: Sapardi adalah Pembunuh Terbesar Sastra Indonesia

sayyid — February 11, 2009 / 8:58 pm

Diskusi Sastra Internet dan Masa Depan Sastra pada 31 Januari 2009 saat ulang tahun apresiasi-sastra@yahoogroups.com memunculkan pernyataan kontroversial dan gugatan terhadap media cetak.

JAKARTA - Acara ultah grup milis apresiasi-sastra@yahoogroups.com di PDS HB Jassin berlangsung meriah, akrab, banyak kejutan, menyenangkan, dan berbobot. Acara bertema “Sastra Milik Siapa?” itu berlangsung singkat-singkat, tapi berkesan. Yang paling mengesankan- -dan berlangsung paling lama–boleh jadi diskusi Sastra Internet dan Masa Depan Sastra, bersama para pembicara yang telah lama bergelut dengan media tersebut, ialah Enda Nasution, Saut Situmorang, Nuruddin Asyhadie, ditambah Hudan Hidayat, dimoderatori Agus Noor.

Diskusi puncak itu penuh dengan gugatan, terutama dari Hudan dan Saut. Enda memberi siasat bagaimana agar sastra di Internet bisa memanfaatkan kekuatan yang mereka miliki dan justru tak terdapat pada media cetak, salah satunya ialah immediacy (kekinian), yang bersifat langsung, tanpa jeda dan ada link yang memungkinkan setiap hal bertaut. Celetukan Agus Noor menarik dan sering bikin ketawa, membuat diskusi hidup dan setia pada jalur. Sementara uraian Nuruddin Asyhadie terlalu serius untuk forum yang sudah cair oleh acara sebelumnya; dia menerangkan signifikansi sastra di media Internet, meskipun sampai sekarang tampaknya makin mirip dengan sastra cetak. Uraiannya mirip dengan tulisan Eka Kurniawan beberapa bulan lalu, mengusung jargon “code is poetry.”

Ajakan Saut Situmorang untuk melawan sastra koran dan menguatkan sastra Internet memang bersemangat dan berapi-api. Dia bilang, kalau mau menguatkan sastra Internet, penulis (sastrawan) harus berani meninggalkan sastra koran, jangan menulis atau langganan harian. Dia menyatakan sastra Internet sampai sekarang masih belum diakui keberadaannya oleh sejumlah kalangan, terutama kritikus dan para redaksi sastra koran–apalagi 4-5 tahun lalu. Sebagian kritik menilai, sastra Internet ialah tong sampah. Ironik, sekarang para pengkritik itu beberapa di antaranya malah menfaatkan blog dan semacamnya, terutama situs jaringan sosial seperti milis dan Facebook.

Gugatan Hudan Hidayat serius dan bikin telinga pendengar panas. Berkali-kali dia bilang, “Sapardi adalah pembunuh terbesar sastra Indonesia. Termasuk di antaranya Agus R. Sardjono dan Putu Wijaya.” Hudan dan Saut secara terbuka menyatakan kecaman terhadap Goenawan Mohamad, Nirwan Dewanto, juga Dewan Kesenian Jakarta. Pernyataan keras seperti ini memang butuh klarifikasi atau forum lebih khusus lagi. Bila aku perhatikan dari Internet, pertentangan mereka berlangsung terbuka, terutama terkait persoalan politik sastra. Penyair senior Suparwan G. Parikesit meminta Hudan menjelaskan pernyataannya yang kontrovesial.

Mungkin perlu ada acara semacam “Pengadilan Sastra” untuk polemik yang justru berpotensi kontraproduktif (buruk) terhadap perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan. Tapi di sisi lain, publik sastra butuh orang berani, revolusioner, dan kuat seperti Saut. Aku dengar dia dijuluki “the lone wolf” sastra Indonesia atas sikap dan pendiriannya. Dalam beberapa hal, antara lain keberanian, kehadiran Saut memang bikin rusuh, menggemparkan. Hudan menyemangati peserta agar lebih tangguh berkarya, lebih kuat, biar mampu merebut masa depan sastra Indonesia. Dia menilai bahwa koran masih penting (terutama karena ada faktor kekuatan finansial di sana), tapi jelas memperlihatkan pemihakan kepada sastra Internet. Memang banyak yang mendukung sastra Internet, tapi ranah ini juga masih memiliki persoalan genting, misalnya tentang mutu/isi yang juga harus diperhatikan dan diperbaiki, juga ada kesan bahwa Internet malah menghadirkan fenomena kesekilasan yang melunturkan kedalaman dan perenungan.

Media massa cetak jelas masih memiliki keunggulan, namun sastra Internet juga punya faktor menentukan, misalnya interaktivitas, yang justru mampu melibatkan publik secara lebih intens. Apa persoalan terbesar sastra Internet ialah bahwa media ini masih gagal memenuhi kebutuhan finansial para sastrawan dan pegiatnya? Acara seperti ini melontarkan lagi pikiranku pada diskusi tradisi sastra Indonesia di Jawa Barat. Namun fakta menunjukkan bahwa media kini bukan merupakan persoalan. Makin banyak penulis mampu menulis baik di Internet dan media cetak. Persoalan kini lebih pada ekspresi, aktualitas, dan kedekatan pada media.

Beranggotakan beberapa ribu orang, milis apresiasi-sastra@yahoogroups. com–dikenal dengan sebutan “apsas”–termasuk komunitas sastra Indonesia terbesar di Internet. Milis ini dimoderatori delapan orang, yang rata-rata tinggal di luar negeri. Salah satu moderatornya ialah Sigit Susanto, penulis dua jilid buku Menyusuri Lorng-Lorong Dunia, yang tinggal di Swiss. Sejumlah anggota milis ini telah menerbitkan buku, baik sendiri maupun bersama.[]

Oleh Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot. com.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 6 komentar untuk artikel ini.

  1. Calvin

    wah ini menarik, ternyata tidak sedikit yang berpikir bahwa literatur di indonesia hierarkis. ada golongan yang menulis sastra “kelas atas” dan “sastra koran” (kalau dimuat di surat kabar bernilai tinggi), sedangkan yang tidak masuk dan dimasukkan internet adalah kelas dua.

    February 11th, 2009 at 11:40 pm

  2. dul abdul rahman

    Sangat menarik. POLEMIK itu sebenarnya adalah
    khasanah sastra.

    February 12th, 2009 at 6:29 pm

  3. Sayyid

    Begitulah bung.

    February 13th, 2009 at 7:10 pm

  4. Nurjehan

    Menyimak dan belajar banyak.

    June 11th, 2009 at 9:43 pm

  5. saut situmorang

    nah sekarang cobak masuk ke link di bawah dan lihat apa yang sekarang sudah terjadi pada Hudan Hidayat yang menyebut dirinya tuhan sastra itu!!!

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=115032154697&comments=

    June 13th, 2009 at 1:51 am

  6. semata wayang

    ada kekuatan sastra lisan yang terus dilupakan. ada otentisitas pengalaman dalam ruang fisik di situ yang tidak bisa dimunculkan media internet. sastra lisan yang hilang….
    sastra yang lupa pada asal usulnya…..
    kapan kekuatan sastra lisan bisa dieksplorasi kembali?

    June 28th, 2009 at 7:52 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...