You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Benarkah “Laskar Pelangi” Bukan Sebuah Novel?

Benarkah “Laskar Pelangi” Bukan Sebuah Novel?

sayyid — April 13, 2009 / 4:41 pm

OLEH: DUL ABDUL RAHMAN

Seorang sastrawan muda dari Sumatera Barat, Sayyid Madani Syany menulis dalam blog sastra yang diasuhnya “Lentera Susastra” yang mencoba mempertanyakan jenis karya Andrea Hirata “Laskar Pelangi”. Sayyid agak jengah dengan penyebutan Laskar pelangi sebagai sebuah novel. Laskar Pelangi hanya sebatas biografi tanpa ruang gerak yang indah dan imajinatif. Memang, dari segi isi Laskar Pelangi cukup jempol untuk dibaca orang banyak. Hanya saja, penamaan yang lekat di depan Laskar Pelangi itu sendiri; Novel, begitu menganggu. Begitu kata Sayyid. Berbicara tentang ruang imajinatif dalam sebuah fiksi sebenarnya multi interpretatif. Sebenarnya “ruang imajinasi” adalah ruang yang menggelantung di otak. Dalam menulis berita sebenarnya bisa lewat “ruang imajinatif”. Fakta yang kita lihat pun dengar akan berproses di otak(baca ruang imajinatif) lalu menjadi tulisan.

Buat saya, laskar pelangi tetaplah menawarkan ruang regionalitas dan ruang imajinatif. Sayangnya memang tetralogi novel itu terlalu “diekspos” menjadi perjalanan hidup Andrea Hirata, padahal buku itu dimaksudkan sebagai novel bukan otobiografi seorang Andrea Hirata. Tapi saya kira itu hanyalah “keperluan pasar” saja yang sengaja dibuat mengharu biru agar buku tersebut semakin laris manis. Kenyataannya memang Andrea Hirata “terlalu ingin” disebut tokoh “ikal” yang punya rona dan pesona. Padahal tokoh ikal dalam tetralogi Laskar Pelangi sebenarnya adalah tokoh yang sudah fiksitif dan imajinatif, meski memang tokoh ikal adalah “symbol” dari Andrea sendiri. Singkatnya Laskar Pelangi adalah otobiografi Andrea yang ditulis secara fiksitif(ada juga yang mengistilahkan ditulis sastrawi) sehingga otobiografi itu menjadi fiksi yang tentu saja sudah terjadi “manipulasi” data. Tulisan fiksi model Laskar Pelangi oleh Robert Stanton disebutnya sebagai fiksi otobiografi. Otobiografi dan fiksi otobiografis masing-masing mempunyai ruang regionalitas yang berbeda.

Antara Fiksi Otobiografis dan Otobiografi

Fiksi otobiografi adalah sebuah fiksi, sedangkan otobiografi bersifat non-fiksi. Bahasa awamnya, fiksi otobiografis adalah hayalan, sedangkan otobiografi adalah kenyataan. Persamaannya(baca benang merah-nya) adalah hayalan dalam fiksi otobiografis bersumber dari kenyataan. Benang kusutnya(ini hanya istilah saya saja) adalah “kenyataan” terkadang adalah sebuah “hayalan”, pun kadang sebuah “hayalan” dianggap sebuah “kenyataan”. Dari “benang kusut” inilah sehingga muncul polemik apakah Laskar Pelangi adalah sebuah novel atau otobigrafi. Bahkan polemik-polemik yang muncul bukan lagi sekedar “hayalan”, apalagi “kenyataan”, tapi polemik-polemik itu terkesan “bualan” karena menjustifikasi suatu karya dari sudut pandang “nilai” yang dianutnya sendiri.

Memang fiksi otobiografis dan otobiografis bisa ditulis secara sastrawi. Menurut Robert Stanton, fiksi otobiografis berbeda dengan otobiografi. Karena sifatnya fiksi, maka fiksi otobiografis memiliki alur, konflik utama, dan sebagainya. Pengarang novel otobiografis bebas memanipulasi data dan fakta. Tokoh yang dijadikan model biasanya disamarkan. Sebagai contoh adalah novel Buddenbrooks karya Thomas Mann. Novel itu adalah sebuah novel otobigrafis yang terinspirasi oleh keluarganya. Si tokoh utama dalam novel itu adalah ayah Mann sendiri. Penulis sendiri menggambarkan dirinya lewat seorang tokoh yang mati saat masih bocah.

Begitulah. Dalam novel Laskar Pelangi, meski dianggap sebagai perjalanan hidup seorang Andrea Hirata, tetapi buku itu sudah “dimanipulasi” sedimikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh laiknya sebagai karya fiksi. Walau alur cerita itu konon benar adanya tetapi sebagai fiksi(fiksi otobiografis), maka tak bisa dihindari “pembohongan”(baca manipulasi) data. Pembohongan disini bukan berarti memutarbalikkan fakta, tetapi mengimajiner sebuah fakta menjadi lebih imajiner dan menarik. Jadi disini pembaca jangan terkecoh untuk menemukan biografi yang sesungguhnya dari Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, karena Andrea Hirata sudah membohongi anda sendiri dengan menyebut bukunya tersebut sebagai novel. Di sinilah kawan tadi Sayyid Madany Syani ikut-ikutan terkecoh. Sayyid tak setuju kalau Laskar Pelangi disebut novel karena isi buku tersebut hanya perjalanan hidup Andrea semata. Menurut saya, sesungguhnya Laskar Pelangi adalah novel karena saya tidak percaya kalau Laskar Pelangi adalah benar-benar utuh perjalanan hidup dari seorang Andrea. Sederhananya, tokoh Ikal hanyalah tokoh rekaan yang sengaja dimirip-miripkan dengan Andrea Hirata sendiri. Kalau anda suka nonton infotoinment di teve, pernah mantan isteri Andrea Hirata berkata bahwa Laskar Pelangi bukan kisah nyata tapi hanya bohong-bohongan. Menurut saya, label “kisah nyata” yang menempel pada Laskar Pelangi karena kepiawaian Andrea Hirata dalam menghadirkan setting.

Fiksi Serius versus Fiksi Populer

Selanjutnya yang menjadi polemik adalah apakah Laskar Pelangi termasuk fiksi serius atau fiksi popular? Redina Pasfarana dalam tulisannya berjudul “Matinya orang-orang fiksi”(Fajar 15 Februari 2009) “menyentil” bahwa Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta hanyalah fiksi populer yang “melenakan” tapi sesungguhnya hanya menyimpan kegaduhan, kejenuhan, dan kekosongan. Saya pikir Redina “terlena” dan “terhasut” oleh teori fiksi Robert Stanton, tapi Redina tak salah. Tapi Bukankah Robert Stanton juga “mengajarkan” bahwa sebenarnya untuk menentukan apakah sebuah karya disebut karya serius bila mengandung ajaran-ajaran berguna? Ataukah karya bisa disebut karya serius bila bisa mempengaruhi dan memberi semangat(makna) bagi masyarakat? Terserah anda yang menilai apakah Laskar Pelangi atau Ayat-ayat Cinta karya serius atau popular. Tapi ingat! Robert Stanton sendiri terkadang bingung melabeli “serius” atau “popular” sebuah karya karena sama saja dengan memuji atau mengutuk karya tersebut. Biar bagaimanapun, setiap kategori pernah mengalami kesuksesan dan kegagalan.

Saya pikir untuk mengukur apakah sebuah karya disebut “serius” atau hanya “popular”(tidak serius?) sebaiknya kita menyimak wise words yang berbunyi “Orang yang berpikiran besar membicarakan gagasan, orang yang berpikiran biasa membicarakan peristiwa, orang yang berpikiran rendah membicarakan manusia, orang yang berpikiran dangkal membicarakan diri sendiri.” Tulisan-tulisan Maulana Jalaludin Rumi yang ditulisnya sekitar 800 tahun silam sampai sekarang(dan saya yakin hingga akhir zaman) masih “serius” dibaca. Alasannya karena meski Rumi membicarakan diri sendiri, manusia, dan peristiwa, tapi kesemuanya itu berisi gagasan besar yang tak kan lapuk oleh hujan dan tak kan lekang oleh panas. Atau mari berkaca pada karya legendaris Syaikh Nizhami “Layla Majnun”. Mengapa karya itu masih “serius” dibaca hingga sekarang padahal hanyalah kisah cinta antara Layla dan Qais(Majnun)? Jangan salah! Kisah cinta antara Qais dan Majnun bukan “cinta biasa”, itu bukan cinta plastik, itu cinta sufistik, itu gagasan sufistik. Begitulah, filsuf-filsuf besar seperti Rumi, Nizhami, Attar, Sa’di, Syabistari, ataupun Hafizh mengajarkan cinta kepada Tuhan dengan symbol-symbol yang gampang dipahami. (dulabdul@gmail.com)

(dul abdul rahman, novelis, pekerja sastra)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. munawir syahidi

    saya ga tau bahwa laskar pelangi sebuah novel atau bukan. tetapi yang jelas sebuh karya yang ditulis andrea adalah satu motivasi besar bagi dunia sastra indonesia. dunia sastra membutuhkan orang yang bisa berkata dalam bahasa apapun dengan nada rendah ataupun tinggi yang jelas dunia sastra harus tetap lebih berkembang dari hari-kehari.

    May 22nd, 2009 at 10:28 pm

  2. ani arlina

    betul memang jika LP dikategorikan biografi fiksi kan Andrea sendiri menyebutkan itu. Kenapa kita bingung LP masuk novel atau autobiografi? Namun yang pasti kita harus bisa mengaplikasikan nilai moral yang terdapat dalam LP. LP telah memotivasi banyak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik, untuk itu Subhanallah walhamdulilah

    Terima kasih Anda telah membuat opini di atas dan saya ambil tuk melengka[i tesis saya. Wassalam

    July 29th, 2009 at 3:31 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...