You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: 13 Puisi Sayyid Madany Syani

13 Puisi Sayyid Madany Syani

sayyid — May 12, 2009 / 2:30 pm

Fajar dalam Gaun Merah Muda

dari ufuk timur ia menyulut terang seperti gadis bergaun merah muda bertengger pada kedewasaan menertawakan musim-musim yang berputar berganti dalam ruang kaca lalu menelikung senja di pematang sawah

ia pun bergumam mengaji dalam kekal suara azan terjal batin yang ia pugar dalam keseharian, dalam lingkaran pertemuan

fajar menyerupai bejana tenggelam dalam awal purnama hanyut di jembatan mega seperti gadis bergaun merah muda yang pergi dalam lindap suara perpisahan

;fajar bersuka-ria dalam gelombang.

Rumah Cinta, 2007

Subuh yang Permai di Sebuah Danau dengan Riak yang Menerpa-Nerpa Ujung Keramba ;Esha Tegar Putra

siapa yang menangis? ketika subuh yang permai diawali oleh dedaunan mawar berjatuhan dalam lindap pertemuan

eden! aku cuma tangisan yang tergenang di subuh permai itu. membentuk laguna dengan sepotong cinta yang padam dalam wajah bujang sambilan

wajah yang begitu gaib merupa sepasukan langit yang kau impikan cinta yang pernah menuai marah Tuhan

sementara garis tangan ibu adalah wajahku yang lelah lelah menunggu ayah, lelah menunggu sang kekasih yang bersembunyi dalam kelenaan jala

tak perlulah kau tampung air hujan untuk melepas lelahku sebab keriangan danau ini telah menyatu dalam kalbuku tak perlu juga kau nyanyikan setakat doa sebab pesisir yang mengguncang air asin dengan telaga telah mengobati rasa perihku

biar subuh yang permai ini tergelincir di ujung keramba nenekku dan aku tetap menjadi sebuah bayang mungkin berebut maut dengan bunian yang menghuni leladang durian di belakang rumah kakekku

Rumah Cinta, Oktober 2008

Perjalanan ;Arif Rizki

seperti harap pada waktu yang membingungkan kau lembab pada ujung trotoar jalan masih juga kau rindukan kesendirian padahal, kesendirian mulai memutar haluan

yang sesalnya, menempuh lorong sunyi dan kau mendambakan hujan turun di sana basah lalu bahagia lepas seperti lentingan batu dari ketapel masa kanakmu

Rumah Cinta, 9 September 2008

Perjalanan

nafas bebatuan seperti memanggil pulang cerita tentang pepohonan, tualang yang menitip siang dengan air yang menguntit karam dan selendang gadis muda yang hanyut dibawa pasang

pada garis tangan ibu senja menjejakkan catatan-catatannya dimana ketulusan menjadi garang dan kampung halaman meneruka dalam bayang

jadilah kepulangan adalah sesuatu yang mustahil meski kereta telah lambat menemukan peron

o, gadis muda dengan selendang hijaunya berjalan dalam riang malam kandas dalam lautan hingar dalam nestapa kampung halaman

F 2.5, Oktober 2008

Perjalanan

ujung jalan yang kita tempuh menakar hujan dengan sebab yang entah mungkin, di pertengahan nanti kita terpeleset curam basah

bayangan setinggi pohon mangga menyurut dalam getir cahaya yang tak terduga mungkin, gerhana atau malam saja

sediakan kertas atau semacamnya buat kita berteduh dari mimpi

sementara, ujung jalan yang kita tuju menjauh setapak-demi setapak kita tersekat dari lamun kenyataan

di sinilah sayang, saat jalan kita terhenti sehabis hujan dengan akar pohon yang tajam cukam memahat tebing dan pandam kita terlalu dini untuk ada

Langkah, November 2008

Ababil

;terbang mengawal Ka’bah mendera bebatuan neraka

sejumput jarak dari Mekkah berbaris lelah, sepasukan gajah dan sepotong-sepotong daging hangus terbakar cahaya

hari itu, ketika semua bersembunyi dalam kalut, dan detak waktu yang merangkak cepat kabut turun di jengkal panorama gersang

ababil, dengan riuh rendah memberi kabar tentang anak Abdullah yang takkan terjamah dengan segenggam kepundan neraka, ia hujankan kepada gading-gading yang mencuat rikuh pada angin memuja-muja kematian sambil melafadzkan; “maha suci Allah, maha suci engkau Ya Allah”

dan ketika semua berakhir, langit menyaksikan semua berubah seperti daun kering yang jatuh dari pohon-pohon mati dan hilang beterbangan dihembus gemuruh angin gurun

SENJA, Januari 2007

Bukan Seorang Penyair

aku, yang mengais kata untuk puisi dari sampah Bantar Gebang dari got dan comberan amis dari sisa plastik minuman, di jalanan hanya sekedar memungut dan membaca slogan-slogan

aku, yang merangkai kata jadi sajak meniti getek Ciliwung, hanya sekedar menuliskan kelu yang bercerita tentang kehidupan menggores nurani, membakar jiwa jadi abu

aku, yang bercerita tentang prosa lirih kudengarkan pedagang asongan yang tidak akan pernah tahu kapan duitnya cukup, untuk beli rumah

aku, yang berusaha mencipta syair telah berkata kepada laut “kapan engkau datang merengkuh daratan?”

aku, yang kadang menahan tangis dalam keramaian selalu melekatkan jaket kesedihan di ujung pena, atau sekerat pensil 2 B kusandarkan kehidupan, tetapi

aku bukan penyair hanya sebatas penciptaan dan selesai

Rumah Cinta, Juni 2004

Ode Badai

adakah arus hilir mencerabuti pepohonan akasia rimbun dalam benam badai menikam gemuruh, dan air mata sungai yang terisak riuh

mata yang menikam bebatuan dalam upacara purnama yang basah darah meruap dalam bara kemenyan menutup kalap badai yang bertempuran

badai…badai…badai…

tak lekang tangis menghilang dalam letusan sangkakala dinding-dinding batu penuh kesumat bersama dengan keheningan yang hilang cekam menusuk lewat bantal, guling dan kasur

siapa yang melaknat diri?

mengharap darwis lewat di sisian rumah sambil mengatakan; “mari mati mari…mari…. demi nurani!”

AA. Navis, September 2008

ini untuk abi

ujung sorbannya sudah terlalu lama lusuh dikepung debu dan waktu yang berkejaran melewati kota

abi sering menyeruak di antara ilalang melewati barisan kurma yang tumbang dan ranggas

kata abi, rumah-rumah seperti barisan laskar yang cerai berai dilumat api permusuhan tetapi, abi masih bisa bertahan di kota ini menunggu perut waktu menemui ajalnya

hanya saja, berkali-kali semangat itu dipatahkan oleh mesiu yang mondar-mandir tak bertujuan

entah kapan seekor dua ekor burung pipit akan mampir lagi di atas atap kota

hingga subuh menyerupai kepulan asap berwarna jingga dalam asuhan langit, bintang-bintang jatuh menampakkan surainya dan berdentam ria, di dekat pembaringan para pengungsi

abi telah kehilangan sorbannya itu dijemput cahaya yang susul-menyusul dari atas rumah

dan, aku tak lagi bertemu abi seperti anak-anak pengungsi lainnya yang tak bertemu dengan ayahnya lagi

Februari 2009

Ngiangmu ;Rudi Datuak

kau telah bertemu dengan nasib genggaman yang menirukan igau hujan menikam darah dan aku ingat semasa kita berteduh dalam ruang kopi yang hangat

kurindu gumammu sahabat menebas pilu di antara jalanan yang rawan dan kau berceloteh tentang masa depan yang begitu suram kurasa

ngiang suara yang tertuba cium garis tanganmu yang swarga dimana kau menjemput nasib dengan gegas, dan bertemu raib yang tak dapat kau tolak

oh langit dengan darah tergenang menghitung pertanda sebagai pasi dan wajahmu jatuh dalam kental kopi yang kuseruput semalaman

kau telah berkawan dengan kafan meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan rapal doa dan igau yang jemu tentang masa depan selamat jalan!

Rumah Cinta, November 2008

Menemui Reda

;sebelum reda, kutawar janji pada hujan itu menengarai sunyi yang sedan lagi pula, aku tak meminta sesuatu yang memberatkan jika hujan esok hari setuju memberi pertanda

gadis yang berkelindan pada perempatan barisan itu kemarin, dan kemarinnya lagi pertemuan meringkus jejak dan jarak bersitatap melampaui kejauhan

oh, aku hanya meminta hujan sebagai pertanda bersamaan dengan kemunculan gadis itu kembali dan aku akan mengejarnya sampai batas ilalang sampai kutemui ia, dengan debaran jantung lebih berlipat kencang dari biasanya

sungguh, kerinduan yang belum dapat terobati

sementara waktu tak lekas berpisah menggodaku seperti prajurit yang kalah

maka sebelum reda, kutawar janji pada hujan agar menemuiku bersama gadis yang berkelindan pada perempatan barisan besok, dan besoknya lagi

Tunggang, Januari 2009

Pelarian ;untuk I

ditemuinya jejak lazim di basah tanah tampaknya, menelusuri lelorong kosong yang ditinggal lekas

mereka mengejar jejak itu berhari-hari dalam gulungan debu yang memedihkan mata dalam sorot purnama yang membuhul dari akar-akar pohon

lalu, sorot telaga pun menyeringai dalam kurun waktu yang bersamaan jejak itu kembali mengabur di balik kabut wewarna menjadi pasi di setiap jengkal jejak yang ditinggalkan

seolah-olah jejak yang dicarinya ditelan kesunyian hutan menjauh dari kepungan, lalu mencari celah untuk sebuah titik perubahan

supaya apa kita mengejar supaya apa kita dikejar

harum jejak meruap kembali dari tanah mungkin ilusi atau iluminasi yang tersublimasi

tetapi, sebetulnya ia tak pernah pergi dari lelorong itu ia tak pernah menghilang dari sorot purnama atau telaga menuju hutan

ia tetap disana, saat cermin dirinya merangkak menjauh ketika mereka mengejar dengan bara api yang keluar dari mulutnya

Rumah Cinta, Februari 2009

Di Bawah Hujan ;Tommy Firdaus

tadi aku mandi hujan, sebentar saja menguyupkan badan untuk melepas hari-hari lelah lalu, menikmati sansai badan yang resam ditelan debu jalan lalu pias lalu hilang dibawa ke hilir, tempat jalan dan jatuhnya air

kau terlihat di keremangan kabut membawa payung dan memakai jas hujan berdiam dalam suram langit dan samar bintang timur yang redup dikalahkan kelebatan hujan

ketika kilat menyentuh tubuh kita kau bilang, “matilah dirimu seperti chairil yang menyeduh puisi dalam paru-parunya!”

kau lenyap di antara rerimbunan pohon meninggalkanku dalam ketertegunan lalu lingkaran fajar mulai mengintip berkelok dalam bayang-bayang hujan

lelah menjumputi rusuk yang sebentar-sebentar hingar dalam ketakberdayaan namun, jikalau semua itu cuma sepi maka, perjalanan adalah titik terang dari keharuan kau yang meneruka pinggiran jurang dengan mata yang tajam mendekati lindap pertemuan seolah-olah menjadi sentosa

Rumah Cinta, Mei 2009

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. dul abdul rahman

    Hmm, saya singgah “menyeruput” puisinya.
    Ueeenaaak…

    May 13th, 2009 at 6:11 pm

  2. Sayyid

    Thanks bung…

    May 22nd, 2009 at 3:54 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...