You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: 13 Puisi Sayyid Madany Syani
Fajar dalam Gaun Merah Muda
dari ufuk timur ia menyulut terang seperti gadis bergaun merah muda bertengger pada kedewasaan menertawakan musim-musim yang berputar berganti dalam ruang kaca lalu menelikung senja di pematang sawah
ia pun bergumam mengaji dalam kekal suara azan terjal batin yang ia pugar dalam keseharian, dalam lingkaran pertemuan
fajar menyerupai bejana tenggelam dalam awal purnama hanyut di jembatan mega seperti gadis bergaun merah muda yang pergi dalam lindap suara perpisahan
;fajar bersuka-ria dalam gelombang.
Rumah Cinta, 2007
Subuh yang Permai di Sebuah Danau dengan Riak yang Menerpa-Nerpa Ujung Keramba ;Esha Tegar Putra
siapa yang menangis? ketika subuh yang permai diawali oleh dedaunan mawar berjatuhan dalam lindap pertemuan
eden! aku cuma tangisan yang tergenang di subuh permai itu. membentuk laguna dengan sepotong cinta yang padam dalam wajah bujang sambilan
wajah yang begitu gaib merupa sepasukan langit yang kau impikan cinta yang pernah menuai marah Tuhan
sementara garis tangan ibu adalah wajahku yang lelah lelah menunggu ayah, lelah menunggu sang kekasih yang bersembunyi dalam kelenaan jala
tak perlulah kau tampung air hujan untuk melepas lelahku sebab keriangan danau ini telah menyatu dalam kalbuku tak perlu juga kau nyanyikan setakat doa sebab pesisir yang mengguncang air asin dengan telaga telah mengobati rasa perihku
biar subuh yang permai ini tergelincir di ujung keramba nenekku dan aku tetap menjadi sebuah bayang mungkin berebut maut dengan bunian yang menghuni leladang durian di belakang rumah kakekku
Rumah Cinta, Oktober 2008
Perjalanan ;Arif Rizki
seperti harap pada waktu yang membingungkan kau lembab pada ujung trotoar jalan masih juga kau rindukan kesendirian padahal, kesendirian mulai memutar haluan
yang sesalnya, menempuh lorong sunyi dan kau mendambakan hujan turun di sana basah lalu bahagia lepas seperti lentingan batu dari ketapel masa kanakmu
Rumah Cinta, 9 September 2008
Perjalanan
nafas bebatuan seperti memanggil pulang cerita tentang pepohonan, tualang yang menitip siang dengan air yang menguntit karam dan selendang gadis muda yang hanyut dibawa pasang
pada garis tangan ibu senja menjejakkan catatan-catatannya dimana ketulusan menjadi garang dan kampung halaman meneruka dalam bayang
jadilah kepulangan adalah sesuatu yang mustahil meski kereta telah lambat menemukan peron
o, gadis muda dengan selendang hijaunya berjalan dalam riang malam kandas dalam lautan hingar dalam nestapa kampung halaman
F 2.5, Oktober 2008
Perjalanan
ujung jalan yang kita tempuh menakar hujan dengan sebab yang entah mungkin, di pertengahan nanti kita terpeleset curam basah
bayangan setinggi pohon mangga menyurut dalam getir cahaya yang tak terduga mungkin, gerhana atau malam saja
sediakan kertas atau semacamnya buat kita berteduh dari mimpi
sementara, ujung jalan yang kita tuju menjauh setapak-demi setapak kita tersekat dari lamun kenyataan
di sinilah sayang, saat jalan kita terhenti sehabis hujan dengan akar pohon yang tajam cukam memahat tebing dan pandam kita terlalu dini untuk ada
Langkah, November 2008
Ababil
;terbang mengawal Ka’bah mendera bebatuan neraka
sejumput jarak dari Mekkah berbaris lelah, sepasukan gajah dan sepotong-sepotong daging hangus terbakar cahaya
hari itu, ketika semua bersembunyi dalam kalut, dan detak waktu yang merangkak cepat kabut turun di jengkal panorama gersang
ababil, dengan riuh rendah memberi kabar tentang anak Abdullah yang takkan terjamah dengan segenggam kepundan neraka, ia hujankan kepada gading-gading yang mencuat rikuh pada angin memuja-muja kematian sambil melafadzkan; “maha suci Allah, maha suci engkau Ya Allah”
dan ketika semua berakhir, langit menyaksikan semua berubah seperti daun kering yang jatuh dari pohon-pohon mati dan hilang beterbangan dihembus gemuruh angin gurun
SENJA, Januari 2007
Bukan Seorang Penyair
aku, yang mengais kata untuk puisi dari sampah Bantar Gebang dari got dan comberan amis dari sisa plastik minuman, di jalanan hanya sekedar memungut dan membaca slogan-slogan
aku, yang merangkai kata jadi sajak meniti getek Ciliwung, hanya sekedar menuliskan kelu yang bercerita tentang kehidupan menggores nurani, membakar jiwa jadi abu
aku, yang bercerita tentang prosa lirih kudengarkan pedagang asongan yang tidak akan pernah tahu kapan duitnya cukup, untuk beli rumah
aku, yang berusaha mencipta syair telah berkata kepada laut “kapan engkau datang merengkuh daratan?”
aku, yang kadang menahan tangis dalam keramaian selalu melekatkan jaket kesedihan di ujung pena, atau sekerat pensil 2 B kusandarkan kehidupan, tetapi
aku bukan penyair hanya sebatas penciptaan dan selesai
Rumah Cinta, Juni 2004
Ode Badai
adakah arus hilir mencerabuti pepohonan akasia rimbun dalam benam badai menikam gemuruh, dan air mata sungai yang terisak riuh
mata yang menikam bebatuan dalam upacara purnama yang basah darah meruap dalam bara kemenyan menutup kalap badai yang bertempuran
badai…badai…badai…
tak lekang tangis menghilang dalam letusan sangkakala dinding-dinding batu penuh kesumat bersama dengan keheningan yang hilang cekam menusuk lewat bantal, guling dan kasur
siapa yang melaknat diri?
mengharap darwis lewat di sisian rumah sambil mengatakan; “mari mati mari…mari…. demi nurani!”
AA. Navis, September 2008
ini untuk abi
ujung sorbannya sudah terlalu lama lusuh dikepung debu dan waktu yang berkejaran melewati kota
abi sering menyeruak di antara ilalang melewati barisan kurma yang tumbang dan ranggas
kata abi, rumah-rumah seperti barisan laskar yang cerai berai dilumat api permusuhan tetapi, abi masih bisa bertahan di kota ini menunggu perut waktu menemui ajalnya
hanya saja, berkali-kali semangat itu dipatahkan oleh mesiu yang mondar-mandir tak bertujuan
entah kapan seekor dua ekor burung pipit akan mampir lagi di atas atap kota
hingga subuh menyerupai kepulan asap berwarna jingga dalam asuhan langit, bintang-bintang jatuh menampakkan surainya dan berdentam ria, di dekat pembaringan para pengungsi
abi telah kehilangan sorbannya itu dijemput cahaya yang susul-menyusul dari atas rumah
dan, aku tak lagi bertemu abi seperti anak-anak pengungsi lainnya yang tak bertemu dengan ayahnya lagi
Februari 2009
Ngiangmu ;Rudi Datuak
kau telah bertemu dengan nasib genggaman yang menirukan igau hujan menikam darah dan aku ingat semasa kita berteduh dalam ruang kopi yang hangat
kurindu gumammu sahabat menebas pilu di antara jalanan yang rawan dan kau berceloteh tentang masa depan yang begitu suram kurasa
ngiang suara yang tertuba cium garis tanganmu yang swarga dimana kau menjemput nasib dengan gegas, dan bertemu raib yang tak dapat kau tolak
oh langit dengan darah tergenang menghitung pertanda sebagai pasi dan wajahmu jatuh dalam kental kopi yang kuseruput semalaman
kau telah berkawan dengan kafan meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan rapal doa dan igau yang jemu tentang masa depan selamat jalan!
Rumah Cinta, November 2008
Menemui Reda
;sebelum reda, kutawar janji pada hujan itu menengarai sunyi yang sedan lagi pula, aku tak meminta sesuatu yang memberatkan jika hujan esok hari setuju memberi pertanda
gadis yang berkelindan pada perempatan barisan itu kemarin, dan kemarinnya lagi pertemuan meringkus jejak dan jarak bersitatap melampaui kejauhan
oh, aku hanya meminta hujan sebagai pertanda bersamaan dengan kemunculan gadis itu kembali dan aku akan mengejarnya sampai batas ilalang sampai kutemui ia, dengan debaran jantung lebih berlipat kencang dari biasanya
sungguh, kerinduan yang belum dapat terobati
sementara waktu tak lekas berpisah menggodaku seperti prajurit yang kalah
maka sebelum reda, kutawar janji pada hujan agar menemuiku bersama gadis yang berkelindan pada perempatan barisan besok, dan besoknya lagi
Tunggang, Januari 2009
Pelarian ;untuk I
ditemuinya jejak lazim di basah tanah tampaknya, menelusuri lelorong kosong yang ditinggal lekas
mereka mengejar jejak itu berhari-hari dalam gulungan debu yang memedihkan mata dalam sorot purnama yang membuhul dari akar-akar pohon
lalu, sorot telaga pun menyeringai dalam kurun waktu yang bersamaan jejak itu kembali mengabur di balik kabut wewarna menjadi pasi di setiap jengkal jejak yang ditinggalkan
seolah-olah jejak yang dicarinya ditelan kesunyian hutan menjauh dari kepungan, lalu mencari celah untuk sebuah titik perubahan
supaya apa kita mengejar supaya apa kita dikejar
harum jejak meruap kembali dari tanah mungkin ilusi atau iluminasi yang tersublimasi
tetapi, sebetulnya ia tak pernah pergi dari lelorong itu ia tak pernah menghilang dari sorot purnama atau telaga menuju hutan
ia tetap disana, saat cermin dirinya merangkak menjauh ketika mereka mengejar dengan bara api yang keluar dari mulutnya
Rumah Cinta, Februari 2009
Di Bawah Hujan ;Tommy Firdaus
tadi aku mandi hujan, sebentar saja menguyupkan badan untuk melepas hari-hari lelah lalu, menikmati sansai badan yang resam ditelan debu jalan lalu pias lalu hilang dibawa ke hilir, tempat jalan dan jatuhnya air
kau terlihat di keremangan kabut membawa payung dan memakai jas hujan berdiam dalam suram langit dan samar bintang timur yang redup dikalahkan kelebatan hujan
ketika kilat menyentuh tubuh kita kau bilang, “matilah dirimu seperti chairil yang menyeduh puisi dalam paru-parunya!”
kau lenyap di antara rerimbunan pohon meninggalkanku dalam ketertegunan lalu lingkaran fajar mulai mengintip berkelok dalam bayang-bayang hujan
lelah menjumputi rusuk yang sebentar-sebentar hingar dalam ketakberdayaan namun, jikalau semua itu cuma sepi maka, perjalanan adalah titik terang dari keharuan kau yang meneruka pinggiran jurang dengan mata yang tajam mendekati lindap pertemuan seolah-olah menjadi sentosa
Rumah Cinta, Mei 2009
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
dul abdul rahman
Hmm, saya singgah “menyeruput” puisinya.
Ueeenaaak…
May 13th, 2009 at 6:11 pm
Sayyid
Thanks bung…
May 22nd, 2009 at 3:54 pm