You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Gelitik Sastra Kita
OLEH: DUL ABDUL RAHMAN
Tersebutlah seorang penulis dari Indonesia(boleh dibaca dari Makassar) bernama Beddu yang sering berkunjung ke Malaysia. Lalu, penulis itu jatuh cinta pada perempuan Malaysia(baca perempuan Melayu). Laiknya orang yang sedang jatuh cinta, Beddu benar-benar terinspirasi menulis apa saja tentang perempuan itu, tentang cinta yang begitu mendayu-dayu, tentang hati yang terus merayu-rayu.
Rupanya penulis Beddu tidak bertepuk sebelah tangan. Perempuan Melayu yang ayu itu menerima cinta Beddu bulat tak bersyarat. Saudara serumpun. Bangsa serumpun. Truly Asia (karena sama-sama berakhiran Asia, Indonesia dan Malaysia). Cocoklah. Eloklah. Tak bedalah. Begitulah setumpuk alasan kuat membuat perempuan Melayu itu tak menampik cinta sang penulis Beddu.
Karena hubungan beda negara, tentulah Beddu dan perempuan Melayu itu berhubungan lewat SMS atau email. Lama kelamaan, Beddu sadar bahwa sesungguhnya perempuan Melayu itu adalah seorang sastrawan yang kata-katanya benar-benar indah dan wah. Pilahan kata-katanya benar-benar menjelma madah yang menggugah. Bahkan setiap kali Beddu menerima SMS bernada cinta, Beddu meneteskan airmata. Baru kali ini ada perempuan yang begitu mencintainya lewat lirik puisi. “Pastilah puisi itu ia buat karena rindu dan kangen pada saya.” Beddu membatin ke-geer-an.
Suatu hari Beddu menerima puisi lewat SMS dari perempuan Melayu itu.
Cintaku jauh di pulau, Gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar, Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar, Angin membantu, laut terang, tapi terasa Aku tidak ‘kan sampai padanya. Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama ‘kan merapuh Mengapa ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?
Airmata Beddu berguguran, ia merasa tentulah kekasihnya disana meneteskan airmata ketika menulis puisi yang teramat indah itu. Lihatlah sajak itu teramat indah dengan lapis suara(sound stratum). Baris pertama ada asonansi a dan u, di baris kedua ada aliterasi s seperti gadis manis, sekarang iseng sendiri. Kemudian ada asonansi a, melancar, memancar, terang, terasa. Ada aliterasi l dan r, perahu melancar, memancar.
Tapi bukan puisi itu yang paling mengiris-ngiris perasaan Beddu, tetapi puisi berikut ini yang dikirim oleh perempuan Melayu itu lewat tengah malam.
Bang Beddu, Kaulah kandil gemerlap Pelita jendela di malam gelap Melambai pulang perlahan Sabar, setia selalu Satu kekasihku Aku manusia Rindu rasa Rindu rupa Di mana engkau Rupa tiada Suara sayup Hanya kata merangkai hati
Beddu sangat terpesona. Betapa sajak itu menggunakan semiotik cinta yang menunjukkan hubungan mesra antara sepasang kekasih. Tanda-tanda hubungan percintaan seperti: aku, engkau, kau, melambai pulang, sabar, setia selalu, kekasihku, rindu rasa, dan kata merangkai hati.
Sudah dua kali Beddu mendapat kado puisi yang sangat istimewa. Karena Beddu tidak banyak menulis puisi, ia lebih konsentrasi menulis cerpen dan novel, maka untuk mengimbangi puisi dari kekasihnya dari Malaysia itu, Beddu bermaksud meminjam puisi dari penyair terkenal di Indonesia. Maka Beddu mencoba membaca puisi-puisi pelopor Angkatan 45 Chairil Anwar dan penyair Pujangga Baru Amir Hamzah. Disamping karena kedua penyair tersebut sangat terkenal, pun masih kental dengan aksen Melayu, jadi setidaknya menyatu dengan perempuan Melayu itu disana.
Belum seberapa banyak puisi Chairil Anwar dan Amir Hamzah yang Beddu baca, Beddu menggeleng-geleng dengan muka pucat seperti keciprat teh tarik minuman khas Malaysia. “Saya teramat bodoh, teramat malas membaca karya-karya sastrawan dalam negeri, saya hanya terlena dengan penyair luar negeri seperti Robert Frost, Ralph Waldo Emerson, Walt Whitman, William Butler Yats, akh!” Beddu mendesah seperti mengutuk diri sendiri.
Beddu merasa benar-benar telah ‘diganyang’ oleh perempuan Malaysia itu yang telah ia cap sebagai sastrawan. Padahal sesunguhnya perempuan Malaysia itu hanyalah mengungkapkan isi hatinya lewat ‘hati’ Beddu sendiri. Lewat hati penyair-penyair senegara Beddu sendiri. Lihatlah! Puisi pertama di atas sesungguhnya adalah penggalan puisi Chairil Anwar yang berjudul “Cintaku Jauh di Pulau” dan puisi kedua adalah penggalan puisi Amir Hamzah yang berjudul “Padamu Jua”.
Orang Indonesia Membaca Nol Sastra?
William Liddle dari Ohio University ketika mengupas budaya politik Indonesia mengambil ilustrasi pada episode drama Losmen yang pernah tayang di TVRI beberapa tahun silam. Pakar asing itu percaya bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat.
Anwar Ibrahim, mantan wakil PM Malaysia bila berbicara, tak perduli ia bicara dalam ranah apa, politik, ekonomi, sejarah, ataupun sosial budaya. Ia mengutip disana sini karya kreatif dari dunia sastra. Anwar Ibrahim begitu piawai dan lihai mendendangkan puisi-puisi Chairil anwar, Amir Hamzah, Asrul Sani, WS Rendra, Taufik Ismail, atau penyair-penyair Indonesia lainnya masa kini.
Bukan hanya Anwar Ibrahim. Di suatu ketika, saya dan beberapa mahasiswa dari Indonesia yang kuliah di Universiti Utara Malaysia(UUM) Kedah, disambut oleh rektor UUM Dato’ Nordin Kardi kala itu dengan pembacaan puisi penyair-penyair Indonesia.
Malaysia hanyalah catatan kecil. Tak usah menyebut negeri-negeri maju lainnya di Eropa. Yang jelasnya, di negara-negara maju hampir semua pakar berbagai bidang menyukai bidang sastra. Makanya, ketika menulis karya ilmiah di bidang spesialisasinya pun, pakar di negeri maju tak lupa mengutip penggalan-penggalan karya sastra sebagai ilustrasi dari gagasan yang akan ditawarkan.
Bagaimana dengan Indonesia? Siapa pakar, pejabat, atau politikus yang senang sastra? Kenyataannya pakar di Indonesia yang senang sastra hanyalah pakar sastra itu sendiri. Politikus? Ya, sastrawan yang jadi politikus, seperti Korrie Layun Rampan, anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat.
Kalau memang orang Indonesia malas baca sastra, mungkin karena salah satu penyebabnya adalah sistem pendidikan humaniora yang tak tertangani secara serius. ”Pelajar Indonesia membaca nol sastra,” kata penyair Taufik Ismail suatu ketika. Memang sangat memiriskan, pengajaran sastra di sekolah-sekolah tidak mengacu pada pengenalan teks sastra, yang diajarkan hanyalah sebatas menghapal judul dan pengarang karya sastra. Lain halnya di Malaysia, pengajaran sastra lebih menekankan pembacaan teks sastra. Dan asal tahu, pengajaran sastra Melayu di Malaysia lebih banyak mengkaji karya sastra dari Indonesia, seperti halnya kaum muda Malaysia yang lebih menyenangi musik/lagu-lagu dari Indonesia ketimbang dari negeri sendiri.
Mungkin karena saking tergila-gilanya orang Malaysia dengan karya sastra dari Indonesia yang dianggap karya serumah(baca serumpun), Malaysia pernah mengklaim sebuah lagu lama “Rasa Sayange” dari Indonesia yang dijadikan ikon pariwisata Visit-Malaysia sebagai ciptaan sendiri. Sekali lagi Malaysia ‘mengganyang’ dan menantang Indonesia. Tapi kali ini Malaysia mungkin bertindak santun sebagai saudara serumpun. Karena sesungguhnya Malaysia hanya ingin mengingatkan saudara Melayunya(baca serumpunnya) bahwa bacalah karya sastramu, pahamilah supaya orang lain tidak mengambilnya. Atau Malaysia ingin berkata, “Kalau kami klaim lagu itu tak masalah, karena pemerintah Indonesia tak bakalan menuntut, toh pejabat-pejabat dan politikusnya tak tahu banyak tentang sastra.”
Benar-benar sangat memprihatinkan, sosok Beddu pada ilustrasi di atas saja yang notabene sebagai penulis(sastrawan)? Yang bergelut di bidang sastra, jarang membaca karya sastra yang bukan ranah atau genre yang digelutinya. Apatah lagi orang-orang yang memang bukan bergelut di dunia sastra. Maka wajarlah kalau orang luar berani mengklaim seni budaya milik kita. Nah! (dulabdul@gmail.com)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.