You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Antara Sandiwara, Sastra, Dan Pemilu

Antara Sandiwara, Sastra, Dan Pemilu

sayyid — May 22, 2009 / 1:57 pm

Betapa pun geniusnya seseorang tapi bila menjelaskan sesuatu hal terkadang kata-kata yang menghiasi bibirnya merujuk ke arah tak pasti. Sebutlah kata-kata “kemungkinan”, “biasanya”, “tidak biasanya”, “sepertinya”, “kayaknya”, dan lain-lain. Kata-kata seperti ini dengan semena-mena digunakan untuk menjelaskan sesuatu hal dan perihal.Semua orang ingin berbicara, ingin disebut serba tahu, walau hanya sok tahu, ingin disebut paling taat peraturan, taat hukum dan tahu hukum. Sayangnya banyak dari mereka tak tahu diri. Begitulah.

Semuanya ingin seperti para pengacara, bermain kata-kata. Bila mereka tidak bisa memecahkan sesuatu masalah, mereka membuat konsep-konsep aneh. Jalaluddin Rakhmat menyebutnya sebagai konsep instink(naluri). Mengapa perempuan berhias? Karena ia memiliki naluri keperempuanan.

Mengapa laki-laki senang kepada perempuan? Karena ia memiliki naluri kelaki-lakian (Maaf! Ada sebagian laki-laki yang tak punya naluri terhadap perempuan, misal Ryan-Sang Penjagal dari Jombang beserta “habitatnya”).

Seorang ahli bahasa dari Massachusets Institute of Technology bernama Noam Chomsky menyebut gejala ini sebagai “Play-acting at science” (bermain sandiwara dalam ilmu). Akhir-akhir ini gejala itu kian menggejala.

Tapi kali ini saya menyederhanakan istilah Noam Chomsky “Play-acting at science” menjadi “Play-acting at words” (bermain sandiwara dalam kata-kata), atau cukup “Play acting” (bersandiwara). Seiring dengan datangnya Pemilu, pun gejala ini semakin merajalela.

Bermain-main kata dan bermain kata-kata Fenomena yang sangat menarik menjelang pemilu adalah fenomena bermain-main kata dan bermain kata-kata. Sandiwara kata-kata itu sebagai lipstik untuk memenangkan dan menyenangkan hati pemilih. Lihatlah para kandidat bermain-main kata! Karena namanya Rahman, ia mengaku paling mengasihi rakyat miskin, Rahman dalam bahasa Arab memang berarti pengasih.

Ataukah karena namanya Rahim, ia berkoar-koar paling menyayangi rakyat kecil. Lalu lihatlah pula para kandidat lainnya bermain kata-kata, mereka membuat akronim-akronim “aneh” seperti “Obama??%9

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...