You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: “menolak dekonstruksi, menampik posmodernisme” - kasus derrida dan bumi manusia”
di dalam buku yang jernih pembahasannya, derrida, yang dikarang oleh muhammad al fayyadl dan diberi kata pengantar oleh goenawan mohamad, buku terbitan lkis, terbaca kata kata di catatan kaki yang dibuat oleh pengarang, di halaman pembukaan.
“dalam sepucuk surat kepada alter egonya, tertanggal 3 september 1977, derrida menulis: setiap hari kau meluangkan lebih dari sehari untuk dirimu. aku benar benar menyangka bahwa kau tak kan kembali lagi. tidak adakah kabar baru tentang pencarian kebenaran? biarkan aku mengetahuinya. “
“ambillah jarak agar aku dapat menulis kepadamu. jika kini aku selalu mengirimi kartu yang sama, itu karena aku ingin mati dan mengakhiri diriku dalam satu tempat yang merupakan sebuah ‘nama’, dan membatasi diriku pada satu kata, satu nama.”
bagi saya sepercik pikiran sudah cukup untuk menyalakan imajinasi dalam diri. cukup untuk memasuki lorong jiwa derrida. bahwa orang itu berupaya menggapai kebenaran dengan keras, dengan setiap hari meluangkan waktu untuk menulis. tapi kebenaran seolah nyala lilin - selalu bergoyang goyang. kadang ia merasa sudah dapat menangkap berkasnya. tapi angin malam membuatnya luput lagi.
“aku benar benar menyangka bahwa kau tak kan kembali lagi,” katanya.
tapi saat ia menulis lagi, berkas cahaya itu kembali lagi. dan nyala lilin itu kembali bergoyang.
begitulah apa yang disebutkannya sebagai kebenaran, seakan upaya menggenggam air dalam tangan - air selalu mengerucut dari balik tangan. atau seakan menggenggam roh dalam badan - roh pun semakin sembunyi ke balik badan.
situasi menulis dalam keadaan seolah termenung seperti itu, memang akhirnya meluncurkan kalimat kalimat sedih. romantis, kata maghie oktaviana tadi di bawah. mungkin tak tepat kata romantis, untuk suasana kejiwaan derrida. yang lebih tepat derrida sedang mengalami melankolia, yang mungkin tak disadarinya, saat ia mengguratkan pena, menuliskan perasaan hatinya.
“jika kini aku selalu mengirimi kartu yang sama”, tulis derrida. segera mengingatkanku pada sebuah cerpen yang terbit di sebuah media berpuluh tahun yang lalu. kalau tak salah penulisnya adalah kurnia jr. tentang seorang yang membayangkan orang lain - orang yang dicintanya. tapi telah pergi. dia pun te
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.