SAJAK-SAJAK ESHA TEGAR PUTRA
Yang Memintal Tali Air
—agus hernawan
dirimu yang memintal tali air
dalam gabak yang semakin hitam
masihkan bertahan di topangan kayu gadang?
suaramu kudengar dari jauh, terdengar jauh, sangat jauh
seolah menarasikan kumparan hari yang direbut orang datang
dan kau terus memintal tali air di harumnya wangi cengkeh, kopi
dan pala yang dipendam hangat dalam ingatan.
suaramu kudengar jauh, terdengar jauh, sangat jauh
seolah berisyarat tentang batang tebu yang ditinggal pergi
si pembawa arit dan sesuaramu melesat ke arah laut
(mungkin ingin membakar kapal-kapal yang memendam rempah buat si rambut jagung)
suaramu kudengar jauh, terdengar jauh, sangat jauh
dari daratan yang menyimpan ratusan tahun kesakitan kampung.
dan angin selatan, jalur rapalan ayat langit yang kau reguk seakan
terus memaksamu untuk menyabit kangen pulang yang begitu hebatnya
Harau, 2008
Yang Bersuara di Angin Lembah
—ahda imran
angin lembah angin penghormatan
sebab dinginnya menghela kabut ke arah langit
angin lembah angin persembahan
sebab basahnya membuat laju peristiwa lama
angin lembah angin pergumulan
sebab karibnya menautkan pucuk air ke titik api
maka bersuaralah, di angin lembah…
Harau, 2008
Yang Bersahutan dari Tanjung
—Jimmy Maruly Alfian (episode rashomon)
sepasang kekasih
saling berebut maut di ujung tanjung
sepasang kekasih saling menghela
kalut dari arah laut
sepasang kekasih
saling menikam
sayang dengan tajam kerang
sepasang kekasih
tak jadi berpadu
sebab malam dipasung badai
tapi siapakah gerangan yang berani bersahutan
dari ujung tanjung? (tempat para hantu menanggalkan kepalanya)
kulihat ada seseorang yang ketakutan, ia meyuruk dibalik
rimbun rumpun betung sambil memanggul pisau panjang
yang karatan. ia menatap ke arah angin datang dan
berseru, “hei tuan yang berparas hantu, raja para rompak
dan bandit, dimanakah si sayang dimakamkan setelah kau
selesai berucap: kumaling jantungmu!”
Harau, 2008
Yang Menghela Sebilah Marah
—chairan hafzan yurma
tanah persemayaman raja-raja, begitulah kita
menyebut setiap sakitnya badan jalan. tapi seruan
apa yang seharusnya menghela sampainya
perjalanan ini? mungkin ganasnya jampi yang berpitunang
lewat sirompak, dengung gasing tengkorak, atau mata
gadis payakumbuh? (kukira tak ada dengung yang lebih hebat selain bunyi bansi saat malam mengendap turun di lapangnya kandang padati)
Harau, 2008
Yang Disetubuhi Rumpun Bambu
—inggit putria marga (fragmen rashomon)
suaramu disetubuhi rumpun bambu,
dalam malam,
lelaki bersamurai panjang diam menyaksikan
suaramu disetubuhi rumpun bambu,
dalam malam,
pantulan cahaya bulan ikut menanam berahi garang
di bagian punggungmu
Harau, 2008
Yang Melepas Sayap Puisi
—iyut fitra
entah kemana burung itu pergi melepas sayap
saat ia merasa tubuhnya telah tua. jalur-jalur pelayaran
dimakamkan angin, tak ada lagi sesuatu yang membuatnya
ingin bertamu ke hunian yang lebih baik. tapi siapakah
gerangan yang sanggup mencari bagian tubuhnya
yang telah lebur diamuk jatuh?
begitu juga aku yang melihat dirimu, sekian lama berlayar
dalam puisi dan kini seolah mencabut sayap bagi pelayaran lama
pelayaran yang dulu selalu kau karibkan dengan
lengang jalan.
o… laut dikutuk maut, jalanan direbut
kerumunan orang yang ingin segera mencapai ujung. tapi kini dimana
gerangan puisi tentang kekasih kecil digeletarkan?
(kulihat seorang perempuan tua, mungkin itu ibu, yang
mengutukmu untuk tak kembali pada jalan puisi)
Harau, 2008
Yang Berpuisi di Dalam Lembah
—iman romansyah
tengah kuhidangkan
secambung nasi kapau,
sebumbung air nira
untuk kau, hei.. sesuatu yang ajaib, yang berpuisi
di dalam lembah
(tentunya kau telah membeku disumpah lumut batu yang makin ragu berbagi kabut baru)
Harau, 2008
Yang Bersunyi di Pulau Dewata
—jengki
yang bersunyi di pulau dewata
yang mengendapkan berahi peristiwa
di kumparan pasir pantai dan di balik pura lama
tumpangkan sahutanku untuk sesuatu
yang dianggap tabu:
“kelamin bulan lima belas telah dijarah lelaki
yang gemar mengenakan jaket hitam!”
Harau, 2008
Yang Menghitung Kelokan Jalan
—sangdenai
kelokan jalan bukittinggi masih begitu, lembah berpunggung dingin, batang air menanak batu,
dan kabut masih saja menyembunyikan rindunya para bujang-gadis untuk menyebut
kata berpadu. tapi takkan kau dengar derak pedati menuruni landai jalan, takkan
kau dengar celotehan perempuan berkain-basahan di tepian mandi, takkan kau
dengar kekanak berlarian girang di surau saat magrib beranjak isya. dan takkan
kau ingat bahwasanya di tiap kelok jalan ke bukittinggi, si sayang telah
ditinggalkan pergantian tahun
Harau, 2008
Yang Menumpang pada Hilang
—faiz ketjil
berbaliklah saat hilang telah merupa jalan
rumah tidak lagi berupa simpang, tapi badan
dikutuk malang. kita yang selalu menumpang
pada hilang telah dikutuk untuk selalu berucap,
“akulah lelaki yang akan terus menumpang pada
pada hilang, dan siapakah yang sanggup
bertanya tentang sakitnya kepergian?”
Harau, 2008
Yang Direnggut dari Sajaknya
—anda s
yang direnggut dari sajaknya, ia berkisah tentang
orang ladang yang terperangkap di tubuh orang
pantai, tapi siapakah yang sanggup menangkap
Popularity: 6%