Archive for the ‘Apresiasi’ Category

Laskar Pelangi; Benarkah Sebuah Tetralogi Novel?

Tuesday, October 7th, 2008

Banyak yang mengatakan Laskar Pelangi merupakan karya pencerahan. Penggugah semangat. Dan segala keindahan lainnya. Cerita tentang sepuluh anak kecil yang bertemu, berkreativitas, belajar bersama. Tak ada suatu kebetulan yang ditiriskan oleh Tuhan.

Namun, dari dulu saya agak jengah dengan penyebutan Laskar Pelangi sebagai karya sastra dalam hal ini novel. Apa yang saya kritisi tentu balik lagi ke dasar sastra yang mendefinisikan apa itu novel, apa itu cerpen, apa itu puisi. Dan tentunya apa itu sastra.

Saya yakin sepenuhnya, sastra memang tak bisa didefinisikan secara universal sebab ia adalah interpretasi masing-masing individu yang bebas bilang sastra itu bagaimana…

Namun, yang saya pahami sastra adalah dunia regionalitas yang berupa imajinasi total. Novel, bagaimanapun diangkat dari kisah realitas akan tetap dinamakan karya imajinatif artinya sebatas penghayatan dalam kalbu masing-masing orang.

Dan dalam Laskar Pelangi, saya tak menemukan ruang imajinatif itu. Saya hanya menangkap perjalanan hidup Andrea Hirata yang ditulis ulang.

Apa itu bukannya BIOGRAFI????

Ya, saya pikir, Laskar Pelangi hanya sebatas biografi tanpa ruang gerak yang indah dan imajinatif itu sendiri. Memang, dari segi isi Laskar Pelangi cukup jempol untuk dibaca orang banyak. Hanya saja, saya sedikit terganggu dengan penamaan yang lekat di depan Laskar Pelangi itu sendiri; NOVEL…

Popularity: 3%

Pena Kencana (1) Fairkah Kontes SMS Ini?

Thursday, September 25th, 2008

Oleh: Hasan Aspahani

DAN Indonesia memilih: “Kidung Pohon” Jimmy Maruli Alfian sebagai Puisi Terbaik Indonesia Pilihan Pembaca 2008. Inilah kontes
sastra se-Indonesia pertama yang pemenangnya ditentukan lewat SMS. Panitia menyebutkan ada 3.172 SMS yang masuk selama periode kuis (Februari-Agustus 2008). Saya tidak tahu berapa ribu SMS yang masuk untuk puisi, dan berapa ribu SMS yang memilih untuk cerpen. Mari kita cermati titik lemah kontes ini.

(more…)

Popularity: 9%

Setakat Sajak dari Lembah Harau

Sunday, August 31st, 2008

SAJAK-SAJAK ESHA TEGAR PUTRA

Yang Memintal Tali Air

—agus hernawan

dirimu yang memintal tali air
dalam gabak yang semakin hitam
masihkan bertahan di topangan kayu gadang?

suaramu kudengar dari jauh, terdengar jauh, sangat jauh
seolah menarasikan kumparan hari yang direbut orang datang
dan kau terus memintal tali air di harumnya wangi cengkeh, kopi
dan pala yang dipendam hangat dalam ingatan.

suaramu kudengar jauh, terdengar jauh, sangat jauh
seolah berisyarat tentang batang tebu yang ditinggal pergi
si pembawa arit dan sesuaramu melesat ke arah laut
(mungkin ingin membakar kapal-kapal yang memendam rempah buat si rambut jagung)

suaramu kudengar jauh, terdengar jauh, sangat jauh
dari daratan yang menyimpan ratusan tahun kesakitan kampung.
dan angin selatan, jalur rapalan ayat langit yang kau reguk seakan
terus memaksamu untuk menyabit kangen pulang yang begitu hebatnya

Harau, 2008

Yang Bersuara di Angin Lembah

—ahda imran

angin lembah angin penghormatan
sebab dinginnya menghela kabut ke arah langit
angin lembah angin persembahan
sebab basahnya membuat laju peristiwa lama
angin lembah angin pergumulan
sebab karibnya menautkan pucuk air ke titik api

maka bersuaralah, di angin lembah…

Harau, 2008

Yang Bersahutan dari Tanjung

—Jimmy Maruly Alfian (episode rashomon)

sepasang kekasih
saling berebut maut di ujung tanjung
sepasang kekasih saling menghela
kalut dari arah laut

sepasang kekasih
saling menikam
sayang dengan tajam kerang

sepasang kekasih
tak jadi berpadu
sebab malam dipasung badai

tapi siapakah gerangan yang berani bersahutan
dari ujung tanjung? (tempat para hantu menanggalkan kepalanya)

kulihat ada seseorang yang ketakutan, ia meyuruk dibalik
rimbun rumpun betung sambil memanggul pisau panjang
yang karatan. ia menatap ke arah angin datang dan
berseru, “hei tuan yang berparas hantu, raja para rompak
dan bandit, dimanakah si sayang dimakamkan setelah kau
selesai berucap: kumaling jantungmu!”

Harau, 2008

Yang Menghela Sebilah Marah

—chairan hafzan yurma

tanah persemayaman raja-raja, begitulah kita
menyebut setiap sakitnya badan jalan. tapi seruan
apa yang seharusnya menghela sampainya
perjalanan ini? mungkin ganasnya jampi yang berpitunang
lewat sirompak, dengung gasing tengkorak, atau mata
gadis payakumbuh? (kukira tak ada dengung yang lebih hebat selain bunyi bansi saat malam mengendap turun di lapangnya kandang padati)

Harau, 2008

Yang Disetubuhi Rumpun Bambu

—inggit putria marga (fragmen rashomon)

suaramu disetubuhi rumpun bambu,
dalam malam,
lelaki bersamurai panjang diam menyaksikan
suaramu disetubuhi rumpun bambu,
dalam malam,
pantulan cahaya bulan ikut menanam berahi garang
di bagian punggungmu

Harau, 2008

Yang Melepas Sayap Puisi

—iyut fitra

entah kemana burung itu pergi melepas sayap
saat ia merasa tubuhnya telah tua. jalur-jalur pelayaran
dimakamkan angin, tak ada lagi sesuatu yang membuatnya
ingin bertamu ke hunian yang lebih baik. tapi siapakah
gerangan yang sanggup mencari bagian tubuhnya
yang telah lebur diamuk jatuh?

begitu juga aku yang melihat dirimu, sekian lama berlayar
dalam puisi dan kini seolah mencabut sayap bagi pelayaran lama
pelayaran yang dulu selalu kau karibkan dengan
lengang jalan.
o… laut dikutuk maut, jalanan direbut
kerumunan orang yang ingin segera mencapai ujung. tapi kini dimana
gerangan puisi tentang kekasih kecil digeletarkan?

(kulihat seorang perempuan tua, mungkin itu ibu, yang
mengutukmu untuk tak kembali pada jalan puisi)

Harau, 2008

Yang Berpuisi di Dalam Lembah

—iman romansyah

tengah kuhidangkan
secambung nasi kapau,
sebumbung air nira

untuk kau, hei.. sesuatu yang ajaib, yang berpuisi
di dalam lembah

(tentunya kau telah membeku disumpah lumut batu yang makin ragu berbagi kabut baru)

Harau, 2008

Yang Bersunyi di Pulau Dewata

—jengki

yang bersunyi di pulau dewata
yang mengendapkan berahi peristiwa
di kumparan pasir pantai dan di balik pura lama
tumpangkan sahutanku untuk sesuatu
yang dianggap tabu:

“kelamin bulan lima belas telah dijarah lelaki
yang gemar mengenakan jaket hitam!”

Harau, 2008

Yang Menghitung Kelokan Jalan

—sangdenai

kelokan jalan bukittinggi masih begitu, lembah berpunggung dingin, batang air menanak batu,
dan kabut masih saja menyembunyikan rindunya para bujang-gadis untuk menyebut
kata berpadu. tapi takkan kau dengar derak pedati menuruni landai jalan, takkan
kau dengar celotehan perempuan berkain-basahan di tepian mandi, takkan kau
dengar kekanak berlarian girang di surau saat magrib beranjak isya. dan takkan
kau ingat bahwasanya di tiap kelok jalan ke bukittinggi, si sayang telah
ditinggalkan pergantian tahun

Harau, 2008

Yang Menumpang pada Hilang

—faiz ketjil

berbaliklah saat hilang telah merupa jalan
rumah tidak lagi berupa simpang, tapi badan
dikutuk malang. kita yang selalu menumpang
pada hilang telah dikutuk untuk selalu berucap,
“akulah lelaki yang akan terus menumpang pada
pada hilang, dan siapakah yang sanggup
bertanya tentang sakitnya kepergian?”

Harau, 2008

Yang Direnggut dari Sajaknya

—anda s

yang direnggut dari sajaknya, ia berkisah tentang
orang ladang yang terperangkap di tubuh orang
pantai, tapi siapakah yang sanggup menangkap

Popularity: 6%

Puisi perjalanan Sayyid

Sunday, August 24th, 2008

SAAT sedang berada di “pengasingan” rupanya gejolak kreatif kawan saya Sayyid Madany seperti bergelegak. Berikut rangkaian puisi lainnya yang dia kirimkan kepada saya.

telah kularungkan sepi
dalam malam berpurnama setengah kaca
langkah awan yang berkesiur
melintasi derit rambutan

yang ditebang paksa

jika waktu telah datang
mungkin sekali lagi
aku akan mengatakan

rindu

***

waktu begitu sempit
untuk tentukan kepulangan
desah pertama dari sebuah keberangkatan
juga umur yang terus mengemudi
menggerus akhir musim

dan dua waktu kemarau
yang berkepanjangan

yang memetakan sedih dari perjalanan

Popularity: 5%

Puisi dari pesisir selatan Minangkabau

Wednesday, August 6th, 2008

PUISI-puisi ini dikirimkan oleh Sayyid, penulis blog Lentera Susastra di sela-sela menjalani tugas kuliah di pesisir selatan Minangkabau, melalui pesan singkat.

setiap langkah akan selalu menjadi kenangan
ketika hari ini ia tersimpan, suatu saat akan dikenang
kapan pun bisa ditarik;

untuk dinikmati kembali

***

jangan sebut pulang ketika pagi menjelang siang
mentari pun masih terik membakar roma

dunia ini milik kita, jangan kau kotak-kotakkan sang hari
kala ia teruntai indah
biarlah cinta bersemi di bukit rantau

***

kemarin itu kenangan dan esok adalah harapan
maka jadikanlah hari ini sebaik mungkin
agar kemarin menjadi kenangan yang indah
dan esok jadi harapan yang cerah

***

berjaga untuk kepulangan
untuk waktu yang kering
diuapi matahari siang
dikucurkan debu

dan suara jangkrik yang berdiam di ujung rambutan

dia masih berbisik
tentang suarga yang merah

:darah

Popularity: 9%

Cerpen (Terbaik) Pilihan Kompas 2007

Saturday, July 5th, 2008

15 cerpen di bawah ini adalah cerpen terbaik versi Kompas. Cerpen Seno “Cinta di Atas Perahu Cadik” terpilih sebagai cerpen terbaik sekaligus menjadi judul untuk buku “Antologi Cerpen Kompas Pilihan 2007″. Berikut adalah kelimabelas cerpen-cerpen yang katanya “terbaik” itu:

(more…)

Popularity: 20%

Dipa Nusantara A.

Saturday, July 5th, 2008

Masih ingat dengan film “Pengkhianatan G 30 S/PKI”? Tentu propaganda pemerintah ORBA tersebut sudah tak lagi ditayangkan di televisi. D.N. Aidit, yang merupakan tokoh antagonis dalam film ini sekaligus pemimpin partai terlarang “PKI” digambarkan begitu dingin tanpa imajinasi–begitu dingin dengan nafsu kekuasaan yang tersirat pada bibirnya yang kering dan tatapannya yang tajam.

Tapi, sedikit sekali yang mengetahui bahwa pria kelahiran 30 Juli 1923 itu juga seorang penulis puisi. Yah, walaupun ada juga yang mengatakan bahwa Aidit menulis puisi gara-gara Mao Tse Tung juga nulis puisi.

Inilah salah satu puisi Aidit:

Yang Mati Hidup Abadi

Lama nian aku tak menangis
tidak karena mata sudah mengering
atau hati membeku dingin
tapi kali ini, dengan tak sadar
hati kepala penuh tak tertahan
butir-butir air mata membasahi koran pagi
Orang hitam berhati putih itu
dibunuh siputih berhati hitam!

Tapi bukankah pembunuh terbunuh?
Lumumba sendiri hidup selama-lamanya
Lumumba mati hidup abadi
Kini dunia tidak untuk siputih yang hitam
tapi untuk semua
putih, kuning, sawomatang, hitam ….
Kini udara penuh Lumumba
karena Lumumba berarti merdeka.

Jakarta, 14 Febr. 1961.

Popularity: 14%

Langston Hughes

Saturday, June 28th, 2008

hughes_typing_full.jpg

Langston Hughes lahir di Joplin, Missouri, USA. 1 Februari 1902. Beliau adalah salah satu penyair kulit hitam. Berikut beberapa petikan puisi penyair yang meninggal 22 Mei 1967 di New York.

Negro Speaks of Rivers

I’ve known rivers:
I’ve known rivers ancient as the world and older than the
flow of human blood in human rivers
My soul has grown deep like the rivers.

I bathed in the Euphrates when dawns were young
I built my hut near the Congo and it lulled me to sleep.
I looked upon the Nile and raised the pyramids above it.
I heard the singing of the Mississippi when Abe Lincoln
went down to New Orleans, and I’ve seen its muddy
bosom turn all golden in the sunset

I’ve known rivers:
Ancient, dusky rivers.

My soul has grown deep like the rivers.

(more…)

Popularity: 15%

Sajak-Sajak Lovly Dhewinda

Monday, April 21st, 2008

Perempuan Larut Dalam Debu Tanggal 1

setiap senja yang kunanti, telah rapuh
oleh derai tangismu.
ada perempuan berabu
debu di hadapmu.
tanggal 1, dan itu terlalu.

2008

Untuk Aku; Buat Kita Hari Ini

aku dilahirkan dari runtuhan puing-
puing dendam.
aku disusui tangis kemiskinan.
aku hanya taik yang dibuang
di wc umum pemerintahan.
aku takkan seperti wangi
parfummu pagi ini…

2008

Peluh Peluk Wanita

aku telah letih dalam mangu. aku hanya menagih mimpi
yang kau beri. Tapi kau jawab sedang mengisi
lambung. hendak kukata, aku telah
menunggu berabad malam
tengah malam…

berjuta mimpi pagi hari,
kini kau jawab sedang letih
dalam peluk wanita.

2008

Renda

tak pernah ada mentari bahkan
untuk ucap sepi. jika malam menyergap
mati, mungkin hanya lolong anjing
yang jadi saksi

masih kurenda baju hangat itu
masih ingin kulipat dalam tas samping

tapi, semua lenyap jika hari ini
tak ada hidup. aku dalam trotoar malam
berusaha menggapai mimpi
berusaha menggapai harap

aku renda
aku lipat
masih tak terucap

2008

Menanti Bapak

senja di hati ibu, berganti malam
oleh sederet luka yang lelah bernanah
darah. bilik-bilik kelam
itu telah roboh menderai tawa

2008

Orang-Orang yang Berderet Di Depan Minang Plaza

kami bermenung lagi
untuk esok yang belum pasti
diam, dan semua kembali
hujan tiap sore buat semua berlalu dalam haru hari.

2008

Ada Perempuan

perempuan dalam balut rok ketat
perempuan dalam boncengan gas knalpot
perempuan dalam kain taplak meja

dia terus melaju dalam angin
menyibak rambut yang berderai melambai
tersenyum kemudian berlalu

2008

Lovly Dhewinda, penulis kelahiran Padang 1 Februari 1987. Sedang berusaha menamatkan studi di Sastra Indonesia Fak. Sastra Unand. Bekerja part time di Taman Bacaan BacaKata. Senang duduk di pojokan angkot sambil membuka jendela lebar-lebar.

Popularity: 13%

Sajak-sajak: Matroni el-Moezany

Sunday, April 13th, 2008

30 MARET

Wahai pembawa bulan
untuk jiwa
menjadi sinar yang
menyala dalam gelap garam semesta

Yang selalu memikirkanmu
di tempat yang belum kau mengerti

Tak terasa kau lakukan
melintas curam dan kematian
untuk membayar bagi yang sedia pergi
mencari adat-adat malam

Dengan bahagia
kukorbankan hidup
bagi utusan rasa

Yogyakarta, 2008

HENING

Hening datanglah
Agar jiwa ini
Melihat kesetiaan
Dalam ikatan cinta
Seperti bintang-bintang
Yang merelakan dirinya
Di tengah keheningan

Yogyakarta, 2008

TITIPAN

Sejenak rasa
kutitipkan pada malam
hingga aku tak mengerti apa itu kata
dan apa itu duka

Mungkinkah satu rasa
ada dua keadaan?

Aku takut dia merana
karena satu kata
Aku takut dia senyum
karena satu rasa
pada sebuah rumpun kelam

Yogykarta, 2008

EMBUN

Tentunya pagi
yang bisa memberi embun
bagi perut lapar
Betapa tidak
semalaman kau mengadu
pada pemilik waktu
hingga wajar kalau
kau merasa puas dengan aku

Yogykarta, 2008

TERSIKSA

Pagi
semua adalah api
pada cadas ke-lembut
berupa kata manis
yang singgah
antara wajah bulan dan matahari
adakah sesuatu yang kau mengerti?

Setelah semuanya usai
di atas batu nisan
aku masih berharap
pada batu yang bisu
batu-batu gersang
yang tanpa nama
di balik kovermu
yang kata orang cantik

Aku tak bisa berkata
di bawah pohon sendu
yang merumpun duka
hidup bukanlah apa, tapi
rasa dan bicara
pada samudera
yang tak kau mengerti

Yogyakarta, 2008

Popularity: 14%