You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Apresiasi
Perempuan Larut Dalam Debu Tanggal 1 setiap senja yang kunanti, telah rapuh oleh derai tangismu. ada perempuan berabu debu di hadapmu. tanggal 1, dan itu terlalu. 2008 Untuk Aku; Buat Kita Hari Ini aku dilahirkan dari runtuhan puing- puing dendam. aku disusui tangis kemiskinan. aku hanya taik yang dibuang di wc umum pemerintahan. aku takkan seperti wangi parfummu pagi ini… 2008 Peluh Peluk Wanita aku telah letih dalam mangu. aku hanya [...]
30 MARET Wahai pembawa bulan untuk jiwa menjadi sinar yang menyala dalam gelap garam semesta Yang selalu memikirkanmu di tempat yang belum kau mengerti Tak terasa kau lakukan melintas curam dan kematian untuk membayar bagi yang sedia pergi mencari adat-adat malam Dengan bahagia kukorbankan hidup bagi utusan rasa Yogyakarta, 2008 HENING Hening datanglah Agar jiwa ini Melihat kesetiaan Dalam ikatan cinta Seperti bintang-bintang Yang merelakan dirinya Di tengah keheningan Yogyakarta, 2008 TITIPAN Sejenak rasa kutitipkan pada malam hingga aku tak mengerti apa [...]
Pusing ngeliat inbox penuh dari email-email berbagai millis, eh ada juga tertarik dengan sebuah email dari Gendhotwukir. Dia mentransletkan sebuah sajak dari Jerman. Simak!
Februari ini, Sumatra Barat “gempar” dengan dua tokoh tersebut–Hamka dan Tan Malaka. Keduanya, diperhelatkan–walaupun beda situasi oleh orang-orang yang rindu dengan sosok mereka berdua. Pengikut Hamka bergembira merayakan ulang tahun ke-100 sang Ulama Hamka 17 Februari 1908-17 Februari 2008. Diskusi serta seminar mengenai Hamka begitu semarak di seantero Sumatra Barat ini–mungkin juga di Indonesia. Sedangkan [...]
JEMBATAN BAMBU kedatangan di atur air dibawa jadi mundur menjulur Dari bawa beralun sendu bayi dan lelaki tahunan Kini tinggal sampah dan kuburan tersisa sampai tiada lagi tarian air tak mengalir kali mengendap pergi tak satu mengerti hanya satu bukan waktu bukan jembatan bambu ………………….? Yogyakarta, 2008 DALAM PUISI MALAM Malam kutemukan rasa pada detak retak waktu disibakan kata-kata Malam dihidangkan pada nyamuk ciumi darah di ruang kelana di musim yang tak kukenal dan semesta orangorang Pada malam jiwa kutemukan biji [...]
Kegentingan moral seperti yang ditakuti oleh Taufik Ismail membuat bangsa ini terkurung oleh sosok hantu yang bersiap meluluh-lantakkan negara ini. Paradigma fakta sosial yang diungkapkan oleh Durkheim (Pelly, 1994: 138) seperti norma, hukum, kultur dan lain-lainnya yang dipandang oleh anggota masyarakat sebagai sesuatu yang datang dari luar dirinya untuk diikuti terabaikan seiring derap masa yang [...]
HUJAN DI LADANG –bapak, emak hujan di ladang, titik deras ke daun-daun bergetar jatuh ke batang-batang kau terus tertatih mengunyah resah dan gundah yang tak henti datang meminang “ah, pinang tak berbuah, mak” pelepah ranggas luruh dipeluk semak onak sajak juga salak “tak usah ke ladang” katamu tuntaskan sebuah pagi dalam kabut yang senyap nun, di ladang hujan turun deras harum bunga kopi dan pohon karet yang mulai [...]
BAYANG HITAM Di hitam matamu, :sembilu. harapan, tak lagi timbul. “untuk apa linangi air mata? cukuplah lubang di dada menusuk sanubari yang kekal bersama Tuhan aku hilang!” hingga ajalku sampai, mungkin aku takkan pernah tahu, siapa muntahkan peluru! Damar, Desember 2005 RANTING (I) angin suci, kesepian kali ke-sekian aku patah di jalanan. fatamorgana kuanggap nyata. nyalang mataku, saat hati kelabu. ranting patah itu kembali dipijak hanya derit bunyi penghasilan-nya. Damar, Desember 2005 SELAKSA, KUSEBUT ITU kusebut; zajal ketika deru nyanyian [...]
Kenal dengan Sriti? Katanya, Sriti adalah nama burung. Tapi, bagi setiap orang yang berkucindan di dunia sastra akan mengenalnya sebagai rumah dokumentasi karya Sastra Indonesia yang berceceran di media massa Indonesia. Ya betul, dialah Sriti.com, sebuah portal dokumentasi. Mungkin pembuatannya terilhami oleh tindakan HB. Jassin yang juga mendokomentasikan karya-karya sastra yang ia dapatkan. Berangkat pada tahun 1997, [...]
Oleh Sayyid Madany Syani pesanggrahan mulai jejak pasang ditemani gemericik embun yang turun dan singgah membelai halus pori-pori kulit “mari, kuantar hingga decak mentari pagi membasuh wajah dengan berseri” begitu ucap embun yang senyum menitikkan sejuta kesegaran dan dingin akar sementara itu, puncak Marapi telah tersenyum halus dalam gelap yang bercucuran dedaun hijau tersibak ke tepi jejurang pun semakin menemani langkah dingin mencerabuti hawa panas dari badan digantikan kabut tebal yang menutupi bulan [...]
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.