Archive for the ‘Sastrawan’ Category

Dipa Nusantara A.

Saturday, July 5th, 2008

Masih ingat dengan film “Pengkhianatan G 30 S/PKI”? Tentu propaganda pemerintah ORBA tersebut sudah tak lagi ditayangkan di televisi. D.N. Aidit, yang merupakan tokoh antagonis dalam film ini sekaligus pemimpin partai terlarang “PKI” digambarkan begitu dingin tanpa imajinasi–begitu dingin dengan nafsu kekuasaan yang tersirat pada bibirnya yang kering dan tatapannya yang tajam.

Tapi, sedikit sekali yang mengetahui bahwa pria kelahiran 30 Juli 1923 itu juga seorang penulis puisi. Yah, walaupun ada juga yang mengatakan bahwa Aidit menulis puisi gara-gara Mao Tse Tung juga nulis puisi.

Inilah salah satu puisi Aidit:

Yang Mati Hidup Abadi

Lama nian aku tak menangis
tidak karena mata sudah mengering
atau hati membeku dingin
tapi kali ini, dengan tak sadar
hati kepala penuh tak tertahan
butir-butir air mata membasahi koran pagi
Orang hitam berhati putih itu
dibunuh siputih berhati hitam!

Tapi bukankah pembunuh terbunuh?
Lumumba sendiri hidup selama-lamanya
Lumumba mati hidup abadi
Kini dunia tidak untuk siputih yang hitam
tapi untuk semua
putih, kuning, sawomatang, hitam ….
Kini udara penuh Lumumba
karena Lumumba berarti merdeka.

Jakarta, 14 Febr. 1961.

Popularity: 11%

Langston Hughes

Saturday, June 28th, 2008

hughes_typing_full.jpg

Langston Hughes lahir di Joplin, Missouri, USA. 1 Februari 1902. Beliau adalah salah satu penyair kulit hitam. Berikut beberapa petikan puisi penyair yang meninggal 22 Mei 1967 di New York.

Negro Speaks of Rivers

I’ve known rivers:
I’ve known rivers ancient as the world and older than the
flow of human blood in human rivers
My soul has grown deep like the rivers.

I bathed in the Euphrates when dawns were young
I built my hut near the Congo and it lulled me to sleep.
I looked upon the Nile and raised the pyramids above it.
I heard the singing of the Mississippi when Abe Lincoln
went down to New Orleans, and I’ve seen its muddy
bosom turn all golden in the sunset

I’ve known rivers:
Ancient, dusky rivers.

My soul has grown deep like the rivers.

(more…)

Popularity: 13%

Peraih Nobel Bidang Sastra (II)

Saturday, June 28th, 2008

Nah, ini adalah 10 peraih nobel sastra (lanjutan) dari 1996-1987.

  • Wis?awa Szymborska (1996)

    Lahir di Kórnik, Polandia 2 Juli 1923. Karya-karyanya Dlatego ?yjemy (”That’s Why We Are Alive”) 1952, Pytania zadawane sobie (”Questioning Yourself”) 1954, Wo?anie do Yeti (”Calling Out to Yeti”) 1957, Sól (”Salt”) 1962, 101 wierszy (”101 Poems”) 1966, Sto pociech (”No End of Fun”) 1967, Poezje wybrane (”Selected Poetry”) 1967, Wszelki wypadek (”Could Have”) 1972, Wielka liczba (”A Large Number”) 1976, Ludzie na mo?cie (”People on the Bridge”) 1986, Poezje: Poems, bilingual Polish-English edition 1989, Lektury nadobowi?zkowe (”Non-required Reading”) 1992, Koniec i pocz?tek (”The End and the Beginning”) 1993, Widok z ziarnkiem piasku (”View with a Grain of Sand”) 1996, Sto wierszy - sto pociech (”100 Poems - 100 Happinesses”) 1997, Chwila (”Moment”) 2002, Rymowanki dla du?ych dzieci (”Rhymes for Big Kids”) 2003, Dwukropek (”Colon”) 2005.

  • (more…)

    Popularity: 12%

Peraih Nobel Bidang Sastra (I)

Wednesday, May 28th, 2008

Banyak diantara kawan-kawan saya (dan juga mungkin anda) yang asing dengan “Nobel Bidang Sastra”. Oleh karena itu, saya postingkan sepuluh-(sepuluh) wajah peraih nobel sastra tersebut. Dari mulai yang terbaru (2007) hingga 1901.

(more…)

Popularity: 11%

Si Binatang Jalang

Saturday, March 29th, 2008

chairil.jpg

Tak ada yang bersedia untuk mati muda. Begitu juga Chairil yang meski harus pahit menelan kematian di usia muda itu. Ia malah bercita-cita untuk hidup seribu tahun lagi, namun ternyata cita-citanya itu tak kesampaian.

(more…)

Popularity: 13%

Putu Wijaya (Pertemuan Akhir; Proses Kreatif)

Tuesday, March 18th, 2008

Jika dalam pertemuan awal, Putu lebih mengarahkan pembicaraannya kepada kemerdekaan, maka pertemuan terakhir (dengan saya) di Aula Gedung E Universitas Andalas Padang tanggal 13 Maret 2008 ini lebih dominan pada proses kreatif.

Sedikitnya ada lima jurus yang harus dipunyai oleh pengarang yang saya sebut dengan 4 resep teror:

  1. Menulis bukanlah kehendak mood.
  2. Harus berani membuang 5 paragraf awal yang diyakini Putu sebagai kentut. Mungkin kita akan sayang terhadap 5 paragraf tersebut, tetapi begitulah. Biasanya, 5 paragraf awal tersebut hanya berisikan kata-kata pengantar, yang akan membuat cerita itu menjadi ngantuk.
  3. Tulisan yang telah jadi ditangguhkan dahulu. Jangan dikirim ke media massa, tetapi dipetieskan selama lebih kurang 1 bulan. Setelah itu, baru dibaca dan diedit. Hal ini adalah untuk menghilangkan keberpihakan kita terhadap tulisan kita itu. Biasanya, para penulis pemula menganggap tulisan yang baru dihasilkannya itu sangat bagus. Namun, jika sudah diendapkan selama satu bulan bahkan lebih, ternyata kebalikannya–sangat jelek (tergantung perspektif kita).
  4. Sedapatnya (pada karya fiksi) ending cerita tidak diselesaikan secar tuntas. Ini dimungkinkan untuk mengembangkan daya nalar pembaca, dan biar pembaca yang menaksir akhir cerita tersebut.

Popularity: 14%

Putu Wijaya (Pertemuan Awal; Arti Kemerdekaan”

Tuesday, March 18th, 2008

putu.jpg

Coba tebak, berapa orang pengarang di Indonesia yang menulis dengan gaya meneror?

Agaknya, tak ada yang menandingi Putu Wijaya dalam hal itu. Keterkesanan saya tambah menjadi setelah bertemu dengan pak (mas?) Putu di Halaman Balai Bahasa Padang tanggal 12 Maret 2008. Ketika itu, Balai Bahasa mengundang Putu dalam Temu Wicara Mahasiswa.

Peserta acara sangat antusias. Klimaksnya, ketika Putu “mendongengkan” salah satu karyanya yang berkisah tentang arti kemerdekaan. Tak ada pengarang yang pandai mengolaborasikan karya tulisnya menjadi monolog yang menarik selain Putu.

Kemerdekaan

Dianalogikan 200juta lebih burung perkutut dalam sangkar yang dipelihara oleh seorang majikan tua. Sang majikan ingin memberikan hadiah kepada salah satu burung perkututnya untuk merdeka–terbang ke angkasa dan menghadapi hidup tidak dalam sangkar lagi, melainkan lewat langit.

Namun sang burung takut dengan kemerdekaan itu. Ia tak sanggup, sebab ia sudah membayangkan betapa naifnya ia bisa bertahan hidup selamanya di luar sangkar karena banyak predator yang mengerikan. Sang perkutut surut. Tak mau terbang, padahal sang majikan telah membuka pintu sangkar dengan selebar-lebarnya.

Sang majikan marah. Berulangkali disebutnya sang perkutut dengan sebutan “bodoh!” Sang majikan berpendapat, perkututnya tak menghargai kemerdekaan padahal bangsa-bangsa di dunia sejak dulu kala bersimbahan darah demi kemerdekaan itu.

Berulangkali pula, sang majikan membentak perkutut, bahkan mengancam. “Jika tidak keluar, maka aku akan membunuhmu!” ucap sang majikan terhadap perkutut tersebut. Perkutut itu takut, kembali surut, ia tak mau merdeka dan akhirnya ia putuskan untuk membenturkan kepalanya ke pintu sangkar.

Sang majikan terkejut, perkututnya jatuh ke tanah tak bergerak lagi. Perkutut-perkutut lain melagukan kematian untuk mengiringi kepergian saudaranya. Sang majikan pun tak hentinya mengucapkan kata “bodoh” bagi perkutut yang mati. Dan ia pun seakan menasihati perkutut-perkututnya yang lain agar meresapi arti kemerdekaan itu.

Namun tiba-tiba, perkutut-perkutut lain mendobrak sangkar terbang jauh ke langit. Sang majikan terpana. Belum habis keterpanaannya itu, perkutut yang “Mati” tadi pun terbang menyusul saudara-saudaranya.

“Bukan kemerdekaan individu yang kami mau. Tetapi, kemerdekaan secara bersama yang kami ingini.”

Perkutut-perkutut itu pun dengan serentak mengarahkan duburnya dan berak di atas kepala majikannya itu.

Itulah pelajaran kemerdekaan dari Putu Wijaya. Dan disampaikan dengan gaya yang ekspresionis serta kental dengan jiwa teaternya.

(bersambung)

Popularity: 15%

SURAT TERBUKA PENGUNDURAN DIRI FAISAL KAMANDOBAT DARI PENA KENCANA AWARD

Monday, March 3rd, 2008

Di bawah ini, saya postingkan sebuah surat terbuka yang berkaitan dengan Pena Kencana Award. Surat ini sendiri dikirim oleh Dwicipta dan disebarkan lewat millis-millis Sastra di tanah air. Inti yang disesalkan Faisal Kamandobat juga saya pribadi adalah penentuan karya sastra yang bermutu lewat polling SMS. Entah, apakah Pena Kencana lagi demam kuis-kuisan SMS yang sekarang sering bermunculan di layar kaca. Saya masih percaya bahwa menilai sastra bukan dari banyaknya SMS yang masuk melainkan dari kritik sehat yang mengupas ataupun menganalisa karya sastra tersebut.

Bagi yang ingin menyebarluaskan surat ini ataupun yang ingin bertanya lebih jauh seputar pengunduran diri Faisal Kamandobat, diharapkan menghubungi saudara Dwicipta (081392783001) atau Faisal Kamandobat (081804823841) atau lewat email dwicipta1977@yahoo.com

(more…)

Popularity: 24%

Saman Berjaya Di Eropa

Wednesday, January 9th, 2008

Ayu Utami, tokoh sastrawangi yang sering disorot karena karya fenomenalnya “Saman”. Biarpun di negerinya sendiri ditohok, dimaki, dituduh sebagai pembuka keran sastra kelamin namun ia berjaya di Eropa sana.

Ya, “Saman” itu, ia sukses menaklukkan pembaca di Belanda, Inggris, Jerman, Prancis dan terakhir di Ceko. Mungkin Ayu Utami sekarang sedang tertawa pulas melihat karya yang dituduh sebagai karya kacangan dan sampah melimpah ruah dan meraih sukses di luar tanah kelahirannya.

Ayu Utami sebagai “Bunda” yang melahirkan “Saman” patut bangga karena belum ada karya dari lawan-lawan sastranya yang juga berhasil menundukkan bumi Eropa. Hal ini seharusnya jadi bahan perenungan bagi setiap orang yang menyebut dirinya sastrawan bahwa karya fenomenal tidak tercipta hanya dengan omong semata, tetapi dibuat, ditulis, “dipersenggamakan”. Mungkinkah para “lawan” Ayu juga bisa menembus pasar Eropa?

Kita lihat saja perkembangannya.

Popularity: 25%

Hudan dan Buku Esainya

Friday, January 4th, 2008

desaincover.jpg

Tentunya anda sudah kenal dengan Hudan Hidayat. Salah satu tokoh yang menggegerkan dunia Sastra Indonesia setahun belakangan dengan polemik Sastra Kelamin. Masih ada beberapa nama lain seperti Taufik Ismail, Saut Situmorang, TUK/KUK, Rumah Dunia dll.

(more…)

Popularity: 30%