You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Telaah
Oleh: Leonardo Rimba Post Modernisme memang cuma istilah saja, karena yang menentukan adalah paradigma yang dipakai. Kalau paradigma yang dipakai adalah kesetaraan gender, maka era-nya adalah Post Modern. Kalau paradigma yang dipakai adalah pria sebagai “kepala rumah tangga”, maka berarti itu masih di era modern. Di era Post Modern, kepala rumah tangga bukan pria semata, melainkan [...]
Di bawah ini adalah berita dari Kompas.com Kenapa di ambil mentah-mentah??? Karena, rasanya tak layak dan kurang menggigit untuk didiskusikan jika tidak baca beritanya sekaligus. Minggu, 16 November 2008 | 00:22 WIB JAKARTA, SABTU — Peta sastra Indonesia dari dulu dikuasai orang Minang, karena ada yang membedakannya dengan etnik lain di Indonesia, yaitu watak “pemberontak” dan berpikir [...]
Diungkapkan Oleh: Eka Priadikusumah Kayaknya di era kontemporer yang hingar bingar akan eforia “kebebasan”, terlihat yang dikejar selalu domain “kebebasan” yang tak berawal dan tak berujung, juga selalu dipertanyakan “kebebasan” dari apa?? dari keterkekangan? , dari belenggu?… atau dari dalam ranah pemikiran. Konsep yang revolusioner yang berakar dari kegelisahan metafora yang universal!, kita berkaca pada “zarahustra” , [...]
OLEH: YONATHAN RAHARDJO Dalam ilmu komunikasi, katanya, kejujuran orang adalah apa yang sesungguhnya tidak diungkapkan. Sering orang mengaku tidak ingin punya nama, namun sebetulnya itulah yang diinginkan. Sering orang mengaku bekerja tanpa pamrih dan tidak banyak suara dan cakap serta gembar-gembor, dengan mengaku bekerja tanpa pamrih, namun sayangnya kadang tempatnya tidak tepat ketika wilayah dan diranah [...]
Bulan Oktober, selain ada hari-hari yang dianggap penting seperti peringatan milad Angkatan Bersenjata, peringatan Sumpah Pemuda, juga disebut-sebut sebagai Bulan Bahasa. Lantas, apa yang sudah kita berikan buat bahasa Indonesia itu sendiri? Bulan bahasa mengalir terus dari tahun ke tahun tanpa ada keseriusan dalam berbahasa iru sendiri. Akademisi bahasa benar-benar ditekan bagaimana arah bahasa yang baik [...]
Puisi sebagai salah satu karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (Riffaterre, 1978:1). Orang tidak akan dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui [...]
Oleh: Hasan Aspahani Anugerah Pena Kencana tampaknya digagas juga untuk melengkapi, atau menutupi kelemahan Khatulistiwa Literary Award. Direktur Program Pena Kencana Triyanto Triwikromo menulis begini: Penghargaan tahunan cukup besar -terkini Rp 100 juta– memang diberikan oleh Khatulistiwa Literary Award untuk kumpulan puisi dan cerpen terbaik. Meskipun telah menulis 1000 puisi bagus, seorang sastrawan tidak berhak mendapatkan [...]
Oleh: Hasan Aspahani DAN Indonesia memilih: “Kidung Pohon” Jimmy Maruli Alfian sebagai Puisi Terbaik Indonesia Pilihan Pembaca 2008. Inilah kontes sastra se-Indonesia pertama yang pemenangnya ditentukan lewat SMS. Panitia menyebutkan ada 3.172 SMS yang masuk selama periode kuis (Februari-Agustus 2008). Saya tidak tahu berapa ribu SMS yang masuk untuk puisi, dan berapa ribu SMS yang memilih untuk [...]
SEBUAH TULISAN YANG MUNGKIN BISA MENGGEGERKAN DUNIA SASTRA! BACA DAN TANGGAPI DENGAN BIJAKSANA! TULISAN INI JUGA BISA DILIHAT DI BLOG PRIBADI HAFIZ AZHARI Ada banyak karya-karya pujangga dan sastrawan yang menggambarkan orang-orang Indonesia sebagai manusia gelandangan, seperti halnya sastrawan Iwan Simatupang yang terang-terangan menulis sastra dengan gaya denotasi yang terlampau logis, meskipun dunia seni bergerak di [...]
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra) Oleh: Qinimain Zain FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka). JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V [...]
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.