<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/wordpress-mu-1.2.4" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments for Lentera Susastra</title>
	<link>http://mywritingblogs.com/sastra</link>
	<description>Karena blogosfer bukan pasar malam...</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 18:39:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=wordpress-mu-1.2.4</generator>

	<item>
		<title>Comment on Laskar Pelangi; Benarkah Sebuah Tetralogi Novel? by dul abdul rahman</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/10/07/laskar-pelangi-benarkah-sebuah-tetralogi-novel/#comment-3569</link>
		<author>dul abdul rahman</author>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 10:04:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/10/07/laskar-pelangi-benarkah-sebuah-tetralogi-novel/#comment-3569</guid>
		<description>Saya terkadang "jengah" bicara teori sastra. Para kritikus terkadang "sami'na waata'na" pada pendapat tokoh2 yang hidup ratusan tahun silam. Hmmm, para kritikus merasa tak sah bicara bila tidak mengutip tokoh2 sastra zaman dulu... 
Bukan maksud saya mengatakan bahwa kritikus asal ngomong, tapi harus ada re-teori kembali, kritikus sekarang tak boleh asal mengekor...
Mazab satra bukan kitab suci, hehehe....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terkadang &#8220;jengah&#8221; bicara teori sastra. Para kritikus terkadang &#8220;sami&#8217;na waata&#8217;na&#8221; pada pendapat tokoh2 yang hidup ratusan tahun silam. Hmmm, para kritikus merasa tak sah bicara bila tidak mengutip tokoh2 sastra zaman dulu&#8230;<br />
Bukan maksud saya mengatakan bahwa kritikus asal ngomong, tapi harus ada re-teori kembali, kritikus sekarang tak boleh asal mengekor&#8230;<br />
Mazab satra bukan kitab suci, hehehe&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Film Laskar Pelangi by cielie</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/09/13/film-laskar-pelangi/#comment-3568</link>
		<author>cielie</author>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 04:58:38 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/09/13/film-laskar-pelangi/#comment-3568</guid>
		<description>peeeeeengggeeeen nonton..........................................</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>peeeeeengggeeeen nonton&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Laskar Pelangi; Benarkah Sebuah Tetralogi Novel? by Sayyid</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/10/07/laskar-pelangi-benarkah-sebuah-tetralogi-novel/#comment-3567</link>
		<author>Sayyid</author>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 10:06:06 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/10/07/laskar-pelangi-benarkah-sebuah-tetralogi-novel/#comment-3567</guid>
		<description>Sebagai kritikus, tentu saja akan melihat dari segi isinya dulu. Memang, pasar membuat opini dan mengarahkan pembaca supaya tau bahwa Ikal adalah Andrea...

Namun, walaupun tidak diberitahu kritikus akan tahu sendiri bahwa Laskar Pelangi adalah sebuah biografi yang ditulis dengan sastra...

hehehhehehe...

Sayang, kita punya masyarakat yang menurut dengan selera "kurator" pasar...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai kritikus, tentu saja akan melihat dari segi isinya dulu. Memang, pasar membuat opini dan mengarahkan pembaca supaya tau bahwa Ikal adalah Andrea&#8230;</p>
<p>Namun, walaupun tidak diberitahu kritikus akan tahu sendiri bahwa Laskar Pelangi adalah sebuah biografi yang ditulis dengan sastra&#8230;</p>
<p>hehehhehehe&#8230;</p>
<p>Sayang, kita punya masyarakat yang menurut dengan selera &#8220;kurator&#8221; pasar&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Lomba Penulisan Cerpen Berbasis Cerita Rakyat Jambi (DIPERPANJANG!) by NONTON TV YUK</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/04/01/lomba-penulisan-cerpen-berbasis-cerita-rakyat-jambi-diperpanjang/#comment-3566</link>
		<author>NONTON TV YUK</author>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 18:36:32 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/04/01/lomba-penulisan-cerpen-berbasis-cerita-rakyat-jambi-diperpanjang/#comment-3566</guid>
		<description>All indonesian tv channel, gratis, realtime, gak putus-putus. Asyiik.. nonton nyambi surfing</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>All indonesian tv channel, gratis, realtime, gak putus-putus. Asyiik.. nonton nyambi surfing</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Laskar Pelangi; Benarkah Sebuah Tetralogi Novel? by dul abdul rahman</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/10/07/laskar-pelangi-benarkah-sebuah-tetralogi-novel/#comment-3565</link>
		<author>dul abdul rahman</author>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 10:26:46 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/10/07/laskar-pelangi-benarkah-sebuah-tetralogi-novel/#comment-3565</guid>
		<description>Sebenarnya "ruang imajinasi" adalah ruang yang menggelantung di otak. Dalam menulis berita sebenarnya bisa lewat "ruang imajinatif". Fakta yang kita lihat pun dengar akan berproses di otak(baca ruang imajinatif) lalu menjadi tulisan.
Buat saya, laskar pelangi tetaplah menawarkan ruang regionalitas dan ruang imajinatif. "Sayangnya" memang novel ini terlalu "diekspos" menjadi perjalanan andrea hirata. Ini "keperluan pasar" yang sengaja dibuat mengharu biru agar novel ini semakin banyak dibaca.
Andrea Hirata "terlalu ingin" disebut tokoh "ikal" yang punya pesona, padahal "ikal" bisa siapa saja, ikal bisa saja Sayyid atau dul abdul, hehehe...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya &#8220;ruang imajinasi&#8221; adalah ruang yang menggelantung di otak. Dalam menulis berita sebenarnya bisa lewat &#8220;ruang imajinatif&#8221;. Fakta yang kita lihat pun dengar akan berproses di otak(baca ruang imajinatif) lalu menjadi tulisan.<br />
Buat saya, laskar pelangi tetaplah menawarkan ruang regionalitas dan ruang imajinatif. &#8220;Sayangnya&#8221; memang novel ini terlalu &#8220;diekspos&#8221; menjadi perjalanan andrea hirata. Ini &#8220;keperluan pasar&#8221; yang sengaja dibuat mengharu biru agar novel ini semakin banyak dibaca.<br />
Andrea Hirata &#8220;terlalu ingin&#8221; disebut tokoh &#8220;ikal&#8221; yang punya pesona, padahal &#8220;ikal&#8221; bisa siapa saja, ikal bisa saja Sayyid atau dul abdul, hehehe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on LOMBA MENULIS PUISI MATEMATIKA by bgung</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/05/15/lomba-menulis-puisi-matematika/#comment-3563</link>
		<author>bgung</author>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 14:15:54 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/05/15/lomba-menulis-puisi-matematika/#comment-3563</guid>
		<description>atas ^^

baca lagi dengan teliti ya


(www.geocities.com/knm14_ 2008 atau www.pps.unsri.ac.id)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>atas ^^</p>
<p>baca lagi dengan teliti ya</p>
<p>(www.geocities.com/knm14_ 2008 atau <a href="http://www.pps.unsri.ac.id" >www.pps.unsri.ac.id</a>)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Imajinasi Penyair (Gitu Aja Kok Repot!) TULISAN PERTAMA by faqih</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2007/08/19/imajinasi-penyair-gitu-aja-kok-repot-tulisan-pertama/#comment-3550</link>
		<author>faqih</author>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 23:59:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2007/08/19/imajinasi-penyair-gitu-aja-kok-repot-tulisan-pertama/#comment-3550</guid>
		<description>puisi dan penyair walau pun mereka mempunyai dunianya tpi harus di dasari dengan apa yang akan mereka sampaikan dengan syairnya karena bukan hanya dia yang akan membacanya.... tapi kita semua!!!! kecuali kalau dia mau buat tuch puisi bt drinya sendiri ywdah simpan az pasti gk bkalan ad yg protes heheheee gito az kuk repot. inga-inga!!! Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.... heheheee........</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>puisi dan penyair walau pun mereka mempunyai dunianya tpi harus di dasari dengan apa yang akan mereka sampaikan dengan syairnya karena bukan hanya dia yang akan membacanya&#8230;. tapi kita semua!!!! kecuali kalau dia mau buat tuch puisi bt drinya sendiri ywdah simpan az pasti gk bkalan ad yg protes heheheee gito az kuk repot. inga-inga!!! Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman&#8230;. heheheee&#8230;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Lomba Penulisan Cerpen Berbasis Cerita Rakyat Jambi (DIPERPANJANG!) by lala</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/04/01/lomba-penulisan-cerpen-berbasis-cerita-rakyat-jambi-diperpanjang/#comment-3543</link>
		<author>lala</author>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 05:51:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2008/04/01/lomba-penulisan-cerpen-berbasis-cerita-rakyat-jambi-diperpanjang/#comment-3543</guid>
		<description>setahu saya sudah lama sekali lomba ini tidak jelas infonya,... 
pengumuman pemenang juga tidak kunjung di beritakan 
ada apa sebenarnya? rasanya kapok kalau lombanya ga jelas kayak gini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>setahu saya sudah lama sekali lomba ini tidak jelas infonya,&#8230;<br />
pengumuman pemenang juga tidak kunjung di beritakan<br />
ada apa sebenarnya? rasanya kapok kalau lombanya ga jelas kayak gini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Polemik sastra: senior vs junior by Qinimain Zain</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2007/09/22/sastrawan-indonesia-beri-kami-sastrawan-muda-contoh/#comment-3542</link>
		<author>Qinimain Zain</author>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 04:41:49 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2007/09/22/sastrawan-indonesia-beri-kami-sastrawan-muda-contoh/#comment-3542</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. 

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). 

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. 

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &#38; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)</p>
<p>Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V<br />
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)<br />
Oleh Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).</p>
<p>JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   </p>
<p>Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. </p>
<p>Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?</p>
<p>Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).</p>
<p>YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).</p>
<p>Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.</p>
<p>SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).</p>
<p>Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.</p>
<p>Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). </p>
<p>Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.</p>
<p>SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).</p>
<p>Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  </p>
<p>Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      </p>
<p>Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. </p>
<p>SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Info Lomba Cerpen by ei</title>
		<link>http://mywritingblogs.com/sastra/2007/11/20/info-lomba-cerpen/#comment-3539</link>
		<author>ei</author>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 02:28:12 +0000</pubDate>
		<guid>http://mywritingblogs.com/sastra/2007/11/20/info-lomba-cerpen/#comment-3539</guid>
		<description>mmmm....................
kapan lagi ya ngadain loomba cerpen ato puisi????
ntar kasih tau ya..!
soalnya lumayan tertarik juga.........tapi sayang lombanya dah keburu di tutup
sedikit kecewa sihhh........</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mmmm&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
kapan lagi ya ngadain loomba cerpen ato puisi????<br />
ntar kasih tau ya..!<br />
soalnya lumayan tertarik juga&#8230;&#8230;&#8230;tapi sayang lombanya dah keburu di tutup<br />
sedikit kecewa sihhh&#8230;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
