You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra
Nah, esai di bawah tak jauh beda dengan yang ditulis oleh Damhuri. Begini kira-kira bunyi esai tersebut yang ditulis Khrisna Pabichara:
“Ladang: Asketisme Orang Kalah”
Seberapa tegar seorang lelaki memasuki dunia sunyinya, dunia masa tua, dunia yang dipenuhi kenangan “kegemilangan” masa lalu? Apa akibatnya bila manusia mengabaikan dimensi abadi hidupnya? Bagaimana caranya membunuh sunyi, dengan sebentuk keraguan-raguan eksistensial, yang terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan? Dan, keputusasaan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?
Mencapai dan memasuki kehidupan otentik, yang diidamkan, memang tidaklah mudah. Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia, yang berbeda dalam konsep dan terapan. Cara pandang ini memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling didambakan di dunia, apa yang paling bernilai, apa yang sebenarnya dikejar, bagaimana mewujudkan tujuan, dan sebagainya. Jawabannya pastilah beragam. Berbeda-beda. Tergantung pada siapa yang memberikan jawaban. Boleh jadi, hal yang paling diburu di dunia adalah kekayaan. Atau kebahagiaan. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada yang memilih kehormatan, cinta kasih, atau kedamaian hari tua sebagai jawabannya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Apa yang dipikirkan penyair ketika menulis puisi?
Berbagai tanggapan sering muncul, termasuk pertanyaan yang agak privasi seperti di atas. Terjebakkah? Sebelum lebih jauh membicarakannya, ada baiknya melihat (satu-satu) berbagai tanggapan (tulisan) yang mengapresiasi “Pinangan Orang Ladang” karya Esha Tegar Putra, penyair yang berasal dari Sumatra Barat ini.
Kali ini, kita lihat dulu tulisan Damhuri Muhammad yang dimuat di Suara Karya (13 Juni 2009):
Di Ladang Kekalahan, Kekalahan Itu Ditambatkan
“IA MALU karena sudah menjadi orang ladang,” begitu dalil yang saya dengar setelah saya bersusah-payah mencari musabab dari tabiat ganjil sahabat saya semasa bersekolah di kampung dulu. Ia selalu beralibi untuk menghindar dari saya. Padahal, setelah sekian lama kami tak berjumpa, setelah saya beranak-pinak di tanah rantau, saya sangat merindukan pertemuan itu.
Pada sebuah kesempatan pulang kampung itu, gelegak rindu saya padanya hampir-hampir menyamai gairah rindu pada seorang kekasih yang telah lama ditinggalkan. Maka, saya mulai bertanya-tanya: Apa yang salah dengan “orang ladang”? Kenapa kawan saya itu harus menanggung malu hanya karena ia “orang ladang”? Apakah “orang ladang” dan “orang rantau” (seperti saya) sudah sedemikian terbelah bagai pinang dibelah dua? Apakah istilah “orang ladang” telah tegak sebagai “kasta” rendah yang merepresentasikan nasib yang kurang beruntung? Sementara “orang rantau” hendak memperlihatkan sebentuk cita-cita, bahkan puncak pencapaian yang hendak digapai oleh sebagian besar laki-laki Minang? Meski sesungguhnya, tidak semua “orang rantau” terbilang mujur, banyak yang jadi orang, banyak pula yang terpelanting sebagai pecundang.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA
Kembali menyelenggarakan: LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2009) Memperebutkan: LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Total Hadiah Senilai Rp 80 Juta Peserta: Terdiri dari 3 (tiga) kategori : Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum
Syarat-Syarat Lomba:
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Yang dibutuhkan bukan hanya bahan yang bagus, tetapi juga kecakapan mengolahnya. Tuntutan ini berlaku bukan hanya dalam penulisan sastra, tetapi juga dalam telaah sastra, bahkan dalam kegiatan tulis-menulis pada umumnya. Jika bahan sastra Indonesia bisa digali dari pelbagai penjuru nusantara, bahkan belahan bumi lain, begitu juga seharusnya dengan kecakapan menuliskannya. Sejenis keahlian yang kami percaya akan membuat sastra Indonesia berkembang dan berdiri sejajar dengan sastra-sastra dari belahan bumi lainnya.
Salah satu kenyataan yang harus kita terima adalah telaah sastra tidak tumbuh subur di negeri agraris ini. Bukan hanya karena hampir tidak ada media yang secara khusus memuat telaah sastra, tetapi juga kurangnya rangsangan agar kelak ia bisa tumbuh subur, cemerlang, dan inspiratif. Untuk merangsang kelahiran telaah sastra yang diharapkan, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan kembali sayembara telaah sastra. Mengambil tema “Kepengrajinan (craftmanship) dalam Sastra Indonesia Mutakhir” sayembara telaah sastra kali ini mengajukan sejumlah pertanyaan pemancing:
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Ketentuan Umum
Ketentuan Khusus
Hadiah
Juara 1: Rp 1.000.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi Juara 2: Rp 750.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi Juara 3: Rp 500.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi
Naskah yang tidak menjadi juara namun memenuhi kriteria akan dimuat di majalah Girliezone dengan honor seperti biasa.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
TEMA KEGIATAN Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2009 ini mengusung tema “Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Internet”.
PESERTA Lomba ini terbuka bagi siapa saja. Jumlah, latar belakang usia, pendidikan, dan kewarganegaraan, serta domisili peserta tidak dibatasi. Namun, berkenaan dengan hadiah uang yang disediakan oleh panitia, pajak dan biaya transfer/pengiriman ditanggung oleh peserta pemenang.
KETENTUAN LOMBA
PERSYARATAN LOMBA
PENILAIAN Beberapa hal yang dijadikan dasar penilaian untuk lomba blog ini adalah sebagai berikut.
DEWAN JURI Yang bertindak sebagai dewan juri pada lomba blog ini adalah pakar bahasa dan sastra, pakar IT dan pakar jurnalistik dan publikasi.
HADIAH Hadiah yang akan diterima pemenang lomba blog adalah sebagai berikut.
Juara I: Rp4.000.000,- Juara II: Rp3.000.000,- Juara III: Rp2.500.000,- Juara Harapan I: Rp2.000.000,- Juara Harapan II: Rp1.500.000,- Juara Harapan III: Rp1.000.000,-
PENGUMUMAN PEMENANG Pemenang lomba blog akan diumumkan dalam acara Final Duta Bahasa Tingkat Nasional pada bulan Oktober 2009. Pengumuman ini akan ditampilkan pula di laman Pusat Bahasa (http://www.diknas.pusba.or.id) dan di laman Balai Bahasa Bandung (http://www.balaibahasabandung.web.id).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Dengan adanya Facebook ini maka setiap orang bisa menghasilkan karya sastra yang dipublikasikan di Facebook. Baik itu Puisi, Cerpen, ataupun Esai. Oleh karena itu sangat menarik untuk menganalisa apa yang di sebut dengan Sastra Indonesia di Facebook. Berikut ini adalah wawancara saya dengan Hudan Hidayat, seorang sastrawan besar milik negeri ini yang sangat aktif mengembangkan sastra Facebook khususnya dan sastra cyber pada umumnya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Betapa pun geniusnya seseorang tapi bila menjelaskan sesuatu hal terkadang kata-kata yang menghiasi bibirnya merujuk ke arah tak pasti. Sebutlah kata-kata “kemungkinan”, “biasanya”, “tidak biasanya”, “sepertinya”, “kayaknya”, dan lain-lain. Kata-kata seperti ini dengan semena-mena digunakan untuk menjelaskan sesuatu hal dan perihal.Semua orang ingin berbicara, ingin disebut serba tahu, walau hanya sok tahu, ingin disebut paling taat peraturan, taat hukum dan tahu hukum. Sayangnya banyak dari mereka tak tahu diri. Begitulah.
Semuanya ingin seperti para pengacara, bermain kata-kata. Bila mereka tidak bisa memecahkan sesuatu masalah, mereka membuat konsep-konsep aneh. Jalaluddin Rakhmat menyebutnya sebagai konsep instink(naluri). Mengapa perempuan berhias? Karena ia memiliki naluri keperempuanan.
Mengapa laki-laki senang kepada perempuan? Karena ia memiliki naluri kelaki-lakian (Maaf! Ada sebagian laki-laki yang tak punya naluri terhadap perempuan, misal Ryan-Sang Penjagal dari Jombang beserta “habitatnya”).
Seorang ahli bahasa dari Massachusets Institute of Technology bernama Noam Chomsky menyebut gejala ini sebagai “Play-acting at science” (bermain sandiwara dalam ilmu). Akhir-akhir ini gejala itu kian menggejala.
Tapi kali ini saya menyederhanakan istilah Noam Chomsky “Play-acting at science” menjadi “Play-acting at words” (bermain sandiwara dalam kata-kata), atau cukup “Play acting” (bersandiwara). Seiring dengan datangnya Pemilu, pun gejala ini semakin merajalela.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Berkenaan rangkaian acara Munas II FLP, selain pemilihan Ketua Umum, panitia juga menyelenggarakan Anugerah Pena FLP dan Lomba Novel. Berikut adalah pengumuman awal mengenai kedua kegiatan tersebut.
ANUGERAH PENA Merupakan penghargaan yang diberikan oleh FLP kepada karya-karya terpuji yang dihasilkan oleh anggota FLP. Ini adalah penyelenggaraan untuk ketiga kalinya.
Adapun untuk kategorinya, adalah:
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
“Fiksi ilmiah akan memungkinkan kita semua untuk mengupas realitas dan menemukan kebenaran di dalamnya.” (Arthur C. Clarke)
Fiksi ilmiah adalah suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual. Di dunia sastra Indonesia, genre yang satu ini agak jarang disentuh. Tetapi di dunia sastra internasional, genre ini adalah genre yang sudah ada sejak pertengahan Abad 19. Jules Verne, yang kerap disebut-sebut sebagai Bapak Fiksi Sains menerbangkan balon udara dalam cerita mengelilingi dunia dengan balon selama delapan belas hari, sebelum Zeppelin menemukan balon udara; membantu NASA meluncurkan Apollo 11 dalam novelnya From The Earth to the Moon. Verne tidak menganggap novel-novelnya hanyalah khayalan. Dia yakin ada ilmuwan yang dapat mewujudkan imajinasi-imajinasi nya itu.
Di situlah letak keindahan sebuah fiksi-sains, bercerita melebihi jamannya. Yang patut digaris bawahi adalah pandangan pengarang tentang masa depan tidak hanya berpijak pada sudut pandang imajinasi semata, melainkan juga dari kaca mata ilmu pengetahuan. Berdasarkan kalkulasi akurat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan dimasa sekarang, pengarang menciptakan sebuah imaji masa depan tentang keadaan masyarakat atau makhluk lain yang berada di luar khayalan manusia di abadnya. Kemudian timbul pula pertanyaan, mengapa di Indonesia masih sedikit penulis fiksi ilmiah? Apakah karena para ilmuwan kita tidak memiliki bakat mengarang dan para pengarang kita tidak punya latar belakang sains.
Menjawab pertanyaan ini maka Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFIS) Universitas Brawijaya, Malang akan mengadakan acara Science Fiction dengan tema:
Leading our future with imagination
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja