You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit
Kelompok penyair dan penulis generasi Beat sepertinya memang…belum ada matinya. Jack Kerouac (yay!) dan William S Burroughs berkolaborasi menulis sebuah novel, And the Hippos Were Boiled in Their Tanks. Ceritanya tentang pembunuhan yang dilakukan oleh salah seorang teman mereka pada musim panas 1944.
Si teman adalah seorang Lucien Carr, dalam buku namanya disamarkan menjadi Phillip. Salah satu alasan kenapa buku ini baru diterbitkan sekarang adalah pada sosok Carr. Singkatnya:
This was Lucien Carr, best known to Beat watchers as the dedicatee of Allen Ginsberg’s Howl. When Carr died in 2005 he was a respected United Press editor and family man. Back in 1944 things were very different. Then he was 17 and beautiful: “the kind of boy literary fags write sonnets to, which start out ‘O Graecian Lad’”, as Burroughs says in the Hippos book. He was sexually ambivalent, the friend of the fast living Jack Kerouac, William Burroughs and Allen Ginsberg. And he was a murderer.
Berbicara tentang Kerouac.
My music-geek friend baru saja mengenalkanku pada Death Cab for Cutie, sebuah band yang sudah cukup lama aku penasaranin. Nah, setelah mendengarkan musik mereka (dari album Plans, lagu Marching Bands of Manhattan), kok kedengerannya…so geeky ya? Hehe.
Tapi, wawancara Hai dengan Ben Gibbard menunjukkan bahwa ia mengagumi Kerouac sebagai seorang penulis. Katanya, “Jack Kerouac selalu menjadi inspirasi untuk hidup saya dan untuk penulisan-penulisan lirik DCFC. Saya suka cara menulisnya yang mengalir dan gaya penulisan romannya.”
Entah kenapa tapi membayangkan para music geek ini nongkrong bareng dengan Kerouac yang uber-cool jadi sebuah imaji yang menyenangkan.
Lalu ada frasa this skinny eighteenth century Emo kid (haha!) yang membuatku membaca keseluruhan artikel ini. Intinya tentang penyair (dan puisi) yang seharusnya tak lagi diidentikkan dengan kemuraman atau kemurungan.
Dan artikel dari The New York Times ini, menggambarkan apa yang terjadi (pada mereka dan karyanya) ketika sesama penyair saling jatuh cinta. Yang disoroti adalah penyair Elizabeth Bishop dan Robert Lowell.
Selamat berakhir pekan!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Rest in Peace, Michael Crichton.
Aku jadi merasa bersalah karena lebih mengenal cerita-cerita berlatar fiksi sains yang ia kemas populer itu dalam bentuk film daripada buku. Padahal, menurut artikel ini, ia adalah seorang master dalam menceritakan sebuah kisah dan membuat membaca jadi pengalaman yang menyenangkan. Obituarinya juga ada di sini.
Penggemar Neil Gaiman, silakan menonton video wawancara Gaiman dengan situs buku Bookslut, di sini. Oh, dan tunggu sampai 2009 untuk versi animasi Coraline (teaser) dari sutradara A Nightmare Before Christmas, Henry Selick. Ada Dakota Fanning sebagai si karakter utama dan Teri Hatcher yang akan memerankan ibu Coraline di dunia nyata dan sebagai Ibu Satunya. Ugh, nggak sabar melihat seberapa mengerikan versi filmnya nanti.
Item selanjutnya dalam daftar keinginanku adalah The White Tiger-nya Aravind Adiga. Buku yang jadi pemenang The Booker Prize itu ternyata masuk dalam nominasi penghargaan lain, penghargaan John Llewellyn Prize. Dan berbicara tentang Booker Prize, nominator lain dalam penghargaan itu, Amitav Ghosh dan karyanya Sea of Poppies dibahas secara bersamaan di Salon.com dan USA Today.
Tapi membaca paragraf pertama artikel di Salon.com yang ‘mendefinisikan’ Ghosh:
(No literary outpost of the Anglophone empire has taken up the mantle of Charles Dickens and Anthony Trollope with greater enthusiasm and success than India and its diaspora.)
…aku jadi baru mengerti Dickens. Oh, ‘cerita-ceritanya’ memang tentang itu to, tumpukan tokoh dengan masing-masing karakternya dan banyak adegan yang naik turun ritmenya. Yang benar-benar mengejawantahkan sebuah konsep bernama storytelling, mengisahkan sebuah cerita.
Dan kolumnis Alison Flood bertanya: who is your literary crush?
Pilihan pertamaku adalah Mr Darcy, tapi itu bisa direvisi lagi nanti. Yang membuatku penasaran sekarang adalah jawaban salah satu pembaca kolom: Edward dari Twilight. Ugh, I need to jump on the Twilight wagon, soon.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Di National Geographic edisi Maret 1989, ada artikel berjudul Faulkner’s Mississippi. Ini adalah tulisan tentang kota tempat tinggal William Cuthbert Faulkner di Oxford, Mississippi dan jejak kota itu dalam berbagai karya fiksinya.
Faulkner adalah tipe penulis yang dikenal sering menggunakan lokalitas atau lingkungan tempat ia tinggal sebagai latar dalam karya-karyanya. Sebagai pembaca, aku baru berkenalan dengan karya Faulkner lewat A Rose for Emily, sebuah cerita pendek bernada gothic. Sisanya, aku mencoba membaca paragraf pertama Absalom, Absalom yang entah kenapa sulit ditembus.
Mungkin karena Faulkner menggambarkan sebuah lanskap alam atau kota yang sama sekali asing. Atau mungkin ia adalah tipe penulis yang butuh jam terbang tertentu sebagai seorang pembaca untuk mengenalnya. Atau, Faulkner butuh didekati dari cara yang tidak langsung.
Mengenali Mississippi dari mata Faulkner adalah salah satu trik yang aku harap bisa membantuku menembus buku-bukunya. Dan juga menarik untuk melihat bagaimana sosok dan keseharian Faulkner sebagai seorang penduduk Oxford.
Daerah selatan Amerika sepertinya memang punya norma kesopanan tersendiri. Dari menyapa semua orang dengan Mister atau Ma’am, yang muda menghormati yang tua, ikatan kekeluargaan yang masih dijunjung kuat, saling berbasa-basi atau menyapa ketika bertemu di jalan, sampai kultur menjamu atau mengundang orang bertamu yang masih dianggap kewajiban.
Faulkner pun tak luput dari kebiasaan lingkungannya. Wali Kota Oxford saat artikel itu ditulis, John Leslie, mengingat ia pernah diundang oleh Faulkner—Mr Bill—untuk duduk sebentar di pekarangan rumah setelah mengantarkan obat. Mereka lalu akan berbicara tentang apa-apa saja yang terjadi di dalam kota.
Gambaran yang buatku terasa familiar.
Oxford, Mississippi yang digambarkan Willie Morris, si penulis yang memprofilkan Faulkner di NG itu, jadi seperti tak jauh berbeda dengan Maycomb, Alabama yang digambarkan Harper Lee di novel To Kill a Mockingbird.
Ada juga cerita tentang reputasi Faulkner di kota itu yang ternyata tak ‘sebanding’ dengan reputasi dia di dunia sastra. Anak-anak dari generasi yang lebih muda menganggap Faulkner hanya seorang tua yang suka mabuk dan tak layak dianggap serius. Sekadar lelaki tua eksentrik yang menulis hal-hal ‘aneh’.
Oleh kawan-kawan ibunya, Faulkner juga dianggap tak lebih baik. Sampai-sampai ketika ibu Faulkner disindir oleh teman-teman main kartunya, ia membela Faulkner tapi tak pernah kembali lagi ke acara bermain kartu sore hari itu.
Tapi Faulkner, menurut Morris,banyak menggunakan deskripsi kota dan ikon-ikon dan orang-orangnya dan beragam kelas sosial di Oxford, Mississippi dalam novel-novelnya. Artikel itu bukan hanya bercerita tentang penugasan Morris di situ untuk mencari jejak Faulkner, tapi juga tentang orang-orang (penerjemah, produser film, penulis, professor sastra) dari berbagai belahan dunia yang datang dan mengenali elemen-elemen Oxford dalam beragam karya Faulkner. The Sound and the Fury termasuk salah satu karya Faulkner yang kental elemen Oxford-nya.
Betapa gembiranya mereka, para pembaca Faulkner itu, ketika melihat gereja atau sungai seperti yang digambarkan dalam karya-karya dia atau melihat rumah tempat Faulkner tinggal.
Dan di situ baru aku sadar, apakah kita punya sesuatu yang bernada se-‘memuja’ ini untuk penulis Indonesia? Sebuah tulisan yang mendeskripsikan bagaimana postur tubuh si penulis, caranya berjalan, berbicara, kelakuan sehari-harinya, seperti apa bau tubuhnya, bagaimana dia bekerja. Atau bagaimana anak dan saudara dan tetangga mengingatnya. Yang lebih penting sebenarnya adalah siapakah penulis Indonesia yang punya sense kuat akan kota tempat ia tinggal dan memasukkannya secara gamblang ke karya-karya dia?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Gramedia Pustaka Utama menerbitkan satu lagi novel grafis Marjane Satrapi setelah Embroideries (Bordir). Judulnya Chicken with Plums (Ayam dengan Plum). Fokus ceritanya adalah seorang musisi tar (alat musik Iran yang, berdasarkan gambaran Satrapi, bentuknya seperti biola dengan tangkai panjang) yang juga ayah salah satu bibi Satrapi. Tampaknya sumber ide terbesar Satrapi adalah lingkaran keluarganya yang penuh dengan orang-orang jenius dan suka mendobrak nilai-nilai yang berlaku kala itu.
Nama si musisi adalah Nasser Ali Khan. Dan dia bukan sekadar musisi. Sebagai pemain tar, Nasser Ali adalah yang terbaik di Iran. Tapi suatu hari ia memutuskan bergelung di tempat tidur sembari menunggu maut menjemputnya. Pertanyaan besar yang coba dibangun buku ini adalah ‘kenapa’. Kenapa Nasser Ali tiba-tiba memutuskan untuk mati saja?
Lalu Satrapi membawa pembacanya berselang-seling ke masa lalu dan kini. Dari soal kegagalan cinta di masa lalu, pertengkaran Nasser Ali dengan istrinya, rivalitas dengan adiknya, sampai perasaan pada anak-anaknya dan apa yang terjadi pada anak-anak Nasser Ali di masa depan.
Mungkin tidak penting untuk mempertanyakan apa motivasi Satrapi untuk memilih Nasser Ali sebagai subyek, tapi si subyek yang diceritakan bukan orang yang mudah diempatikan oleh pembaca. Setidaknya aku tidak berempati pada ‘penderitaan-penderitaannya’. Dan itu mungkin tidak terlalu penting juga, tapi…tidak ada satu momen pun di Chicken with Plums yang membuat aku tergugah dengan sosok Nasser Ali.
Ibumu lebih sayang pada adikmu daripada denganmu? So? Kamu tidak menikah dengan cinta terbesar dalam hidupmu? Terus kenapa? Anakmu tidak peduli pada apa yang kamu lakukan? Please deh, dia kan baru berapa tahun. Dan itu bukan alasan untuk terus mengasihani diri sendiri dan tidak menyayangi mereka kan? Kamu terjebak dalam pernikahan dengan orang yang tidak kamu cintai? Yah, well, things happens.
Tetapi, bukankah semua orang punya tumpukan masalahnya sendiri-sendiri? (Dan untuk cara yang lebih bijak mengatasi masalah-masalah itu, baca Candide dari Voltaire)
Satrapi sebagai pencerita juga membuat penghakiman yang akut. Terhadap salah satu anak Nasser Ali, Mozaffar, terutama. Mozaffar diceritakan tak punya kemiripan sama sekali dengan ayahnya. Tak pernah murung, tak mengerti seni, tidak kurus. Mozaffar lalu menikah dengan seorang teman kuliahnya dan bermigrasi ke Amerika Serikat. Mereka mewujudkan hidup a la The American Dream dan punya anak-anak yang bermasalah serius dengan berat badan. Lalu Satrapi berkata, “Nasser Ali Khan tidak tahu betapa beruntungnya dia meninggal empat hari kemudian. Andai dia tahu kisah tentang Mozaffar dan putrinya, bisa-bisa dia langsung kena kanker…”
Mungkin, bagi Satrapi, ia hanya mencoba mengidentifikasi reaksi Nasser Ali. Yang terjadi adalah kesan bahwa apa yang terjadi pada keluarga Mozaffar adalah sebuah aib besar. Sepertinya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan perilaku Nasser Ali pada istri dan anak-anaknya. Bukan sebuah kekerasan fisik sebenarnya, tapi pengabaian. Dan itu juga bisa sangat menyakitkan.
Chicken with Plums buka cerita yang menyenangkan. Nasser Ali Khan pun bukan karakter yang mudah untuk dipahami. Terlepas dari seberapa pentingnya kita perlu memahami pilihan yang diambil oleh karakter-karakter dalam fiksi, cerita Satrapi kali ini tidak terlalu istimewa. Seberapa hebat Nasser Ali sebagai pemain tar tak ditunjukkan kuat. Berbagai kekecewaan dalam hidupnya mungkin memang berdasar, tapi Satrapi seperti tak bisa memilih imaji yang kuat untuk menunjukkan kenapa kekecewaan itu penting.
Mungkin karena ini bukan cerita tentang dirinya sendiri dan ia (aku tebak) harus bersandar pada cerita-cerita keluarga tentang sosok Nasser Ali, maka kekuatan Satrapi sebagai pencerita di sini jadi terasa tumpul.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Saat sedang menonton The Daily Show with John Stewart di CNN Sabtu lalu, news-ticker di bagian bawah layar televisi terus-terusan memunculkan berita kecil ini: Studs Terkel Dies at 96. Selanjutnya, berita-berita di layanan wire dan berbagai koran Amerika juga memunculkan berita itu.
Ini baru pertama kali aku dengar namanya. Tapi titel yang paling sering muncul berbarengan dengan nama Terkel adalah oral historian (sejarawan oral). Alasannya, ia menyoroti berbagai kejadian bersejarah pada abad 20 di Amerika Serikat lewat pengalaman dan observasi orang-orang ‘biasa’ yang tak pernah didengar suaranya. Ia mewawancarai orang-orang itu dalam program radionya. Pulitzer Prize yang ia menangkan untuk buku ‘The Good War’ adalah sebuah catatan sejarah berbasis pengalaman orang ‘biasa’ tentang Perang Dunia II.
Mungkin kematian Terkel jadi penting karena ia adalah orang yang bisa meyakinkan orang lain bahwa sejarah bukan hanya tentang sudut pandang atau kejadian yang dialami para pemimpin, tapi juga oleh wajah-wajah di tengah kerumunan.
Dan, jika ’serial’ Twilight (yang tinggal menunggu detik-detik peluncuran filmnya) masih belum cukup menyita seluruh waktumu membaca, maka USA Today merekomendasikan empat judul buku baru untuk Young Adult. Salah satunya adalah ‘The Hunger Games’ dari Suzanne Collins.
Ceritanya, dari ringkasan yang diberikan, aku membayangkan ini agak-agak mirip film ‘Battle Royale’, cuma dicampur dengan plot reality-TV dan sedikit bumbu politik. Oleh Collins, buku ini direncanakan juga menjadi sebuah trilogi.
Hmm…aku belum membaca ‘For Whom the Bell Tolls’-nya Hemingway. Tapi ini ada tulisan menarik tentang pengaruh karakter utama novel itu, Robert Jordan, yang menjadi karakter favorit kandidat calon Presiden AS, Barack Obama dan John McCain.
Di sisi yang lebih ‘ringan’, selamat ulang tahun ke-50 untuk penerbitan novella ‘Breakfast at Tiffany’s’! Ini waktu yang tepat untuk mulai membaca karya fiksi Truman Capote itu sepertinya, setelah terlalu ‘terbiasa’ dengan versi romantis filmnya. Hasilnya, nanti aku laporkan di sini.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Ada bagian di ‘The Cossacks’-nya Tolstoy, yang membuatku berkomentar: Kayaknya karakter Chris McCandless di ‘Into the Wild’ lebih pas membaca ini deh daripada Tolstoy yang ‘Happy Ever After/A Family Happiness’.
Ingat nggak, di film Into the Wild, waktu karakternya sudah tinggal di bis dan mulai kehabisan makanan dan mulai mengambili dedaunan dan biji-bijian? Dia kecantol pada kalimat dari A Family Happiness-nya Tolstoy, tentang keinginan untuk menyebut tumbuhan indah di sekitarnya “with their own true name”?
Tapi sepertinya The Cossacks lebih pas buat teman perjalanan. Ceritanya tentang seorang pemuda bernama Olenin yang pergi menjauh dari kota besar ke pedalaman Caucasus. Sudah agak-agak mirip Into the Wild kan, yang memilih Alaska sebagai tempatnya menyendiri?
Paragraf yang menggetarkan itu menggambarkan tentang pertemuan pertamanya Olenin dengan gunung salju Caucasus. Tolstoy menggambarkannya seperti ini:
“Suddenly he saw, at what seemed to him at first glance to be about twenty paces away, gigantic pure white masses with gentle curves and fantastical airy summits minutely outlined against the distant sky. When he realized the distance between himself and them and the sky, and the whole immensity of those mountains, and their infinite beauty, he feared lest it prove to be a mirage or a dream. He gave himself a shake, but the mountains were still there.”
……..
“At first Olenin only marveled at the towering masses, then delighted in them; but later on, gazing more and more intently at that snow-peaked chain that seemed to rise not from other, black masses but straight out of the plain, and to glide away into the distance, he began gradually to take in their beauty and feel the mountains. From that moment, whatever he saw, whatever he thought, whatever he felt, acquired a new character, sternly majestic, like the mountains.”
Hmm.
melanjutkan The Cossacks
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Ada sesuatu yang menarik dari dinamika sebuah kelompok pertemanan. Karakter yang berbeda-beda, interaksi dan konflik yang terjadi di dalam lingkaran pertemanan itu, ‘kekuatan’ atau kesan yang dimunculkan kelompok itu pada lingkungan di sekitarnya, adalah beberapa dari ‘sesuatu’ itu.
Tapi mungkin yang paling menarik adalah cerita tentang usaha seorang tokoh untuk tergabung dalam sebuah kelompok. Untuk diterima, untuk mengasosiasikan identitas dirinya dengan kelompok itu. Dari Mean Girls sampai Gossip Girl sampai The Great Gatsby penuh dengan tema ‘besar’ itu.
Ada sebuah kutipan yang aku lupa asalnya dari mana atau siapa. Bahwa teman adalah keluarga yang kamu pilih.
Sepertinya itu yang ada di kepala Richard Papen.
Yang ia cari adalah kecantikan, keanggunan, kehidupan yang elegan dan intelektualitas. Hidupnya di kota kecil suburban bernama Plano, California bukanlah sesuatu yang ia identifikasikan dengan semua yang indah itu.
Jadi dia memutuskan untuk pindah ke sebuah kampus swasta kecil di Vermont. Kampus yang ia bayangkan sebagai alat mencapai dunia yang berbudaya itu. Lalu ada the inner circle. Kelompok kelas Yunani Kuno, terdiri dari lima mahasiswa terpilih, masing-masing datang dari latar belakang yang bergelimang uang dan sangat familiar dengan ‘keindahan-keindahan’ yang diinginkan Richard.
Dan Richard mencoba segala cara untuk bergabung dengan mereka. Untuk menjadi salah satu dari mereka. Bahkan ketika usaha itu berarti melakukan tindak kriminal.
Bukunya adalah ‘The Secret History’ dari Donna Tartt. Diterbitkan pertama kali pada 1992 dan ditemukan di salah satu tumpukan toko buku bekas Pasar Festival. Sekitar 2002, aku pernah menonton rekaman wawancara televisi dengan Donna Tartt tentang penerbitan buku terbarunya ‘The Little Friend’.
Aku sudah tidak ingat lagi apa saja yang ia katakan, tapi yang aku ingat adalah pertanyaan: Siapa dia? Kenapa dia? Apa yang sudah ia lakukan?
Ternyata dia tipe penulis yang butuh waktu lama (satu dekade) untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Agak-agak seperti Jeffrey Eugenides (The Virgin Suicide (1994), Middlesex (2002)). Tartt terkenal karena kedekatannya dengan Bret Easton Ellis, penulis American Pyscho dan Glamorama yang ‘besar’ pada dekade 1990an.
Terlepas dari tempelan-tempelan itu, Tartt adalah penulis yang matang. Dunia yang dibangunnya ‘lengkap’. Tidak besar atau liar, tapi mencukupi, tanpa harus muncul kesan kurang atau berlebih.
Adegan-adegannya dan deskripsi-deskripsinya efektif.
Tahu kan bagaimana Zadie Smith misalnya, bisa berbanyak-banyak mendeskripsikan bahasa tubuh atau menceritakan dialog? Atau cara Salinger mengabsen isi lemari di kamar mandi keluarga Glass di Franny and Zooey? Nah Tartt adalah pencerita yang tahu takaran.
Dia efisien, tapi tidak pelit. Rasanya adalah satu buku yang pas. Enak dibaca dengan bahan yang bertekstur.
Yang agak menarik, karena buku ini keluaran 1992, ada banyak cerita tentang penggunaan telepon rumah.
Tidak, tidak mengganggu, hanya tidak terbiasa.
Dan sekarang aku sedang mencari ‘The Little Friend’. Dan oh, mungkin menunggu kapan Tartt akan meluncurkan buku terbarunya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
When I’m on a roll, I’m on a roll.
Maka, satu Henry James selesai, lanjutkan dengan Henry James yang lain. Begitu terus. Setidaknya sampai aku bosan.
‘Daisy Miller’ ternyata lebih pendek dari ‘Washington Square’. Jika James dibilang dekat dengan format novella atau novel pendek, maka ‘Daisy Miller’ adalah bukti kedekatan itu.
Dan ‘Daisy Miller’ menampilkan semua elemen yang khas James. Perempuan muda Amerika di dataran Eropa, pertentangan nilai yang terjadi antara dua dunia itu, dan kelompok sosial ekspat Amerika di negara-negara Eropa.
Daisy Miller sebagai seorang karakter ada di skala kepribadian yang berlawanan dengan Catherine Sloper. Catherine is dull, pemalu, tak cantik, tak punya selera dan tak bisa bersosialisasi. Tapi Daisy, whew!
Cantik, tahu caranya berpakaian yang bisa membuat orang berimajinasi, bisa bersosialisasi, atau malah terlalu tahu sampai-sampai ia mendapat cap seorang flirt.
Ceritanya berawal dari deretan resort dan hotel mewah di Swiss yang sering jadi tempat tujuan berlibur orang-orang kaya Amerika. Dan karya-karya James ternyata bisa juga dilihat dari sudut pandang travel writing. Beberapa paragraf awal ‘Daisy Miller’ dan cara James menggambarkan kondisi Vevey, Swiss, bisa jadi salah satu contoh terbaik penulisan perjalanan.
Daisy Miller yang cantik bertemu seorang Winterbourne. Dan berbicara. Padahal di masa ini, seorang pemuda, sebelum diperkenalkan secara resmi, tak boleh berbicara langsung dengan seorang perempuan yang belum menikah. Tapi Daisy seperti tak pernah mendengar aturan itu.
Dan dia berbicara dengan Winterbourne. Bahkan bepergian berdua mengunjungi sebuah kastil.
Pertemuan keduanya baru terjadi lagi di Italia, saat Daisy sudah mendapatkan sebuah reputasi.
Ah, reputasi.
Kenapa kata itu selalu punya makna yang lebih berat untuk perempuan-perempuan muda?
Daisy Miller, pada awalnya buat saya, bukanlah karakter yang ‘likeable’. Dia tampaknya manipulatif, pura-pura polos dan acuh pada peraturan sosial. Ia yakin tak melakukan sesuatu yang salah.
Tapi seperti ‘Washington Square’, apa yang kita, atau aku, rasakan terhadap karakternya sebagian besar ditentukan oleh kata-kata lingkungan sosial si karakter ini tentang dirinya. Jadi ketika lingkungan sosial Daisy mengecapnya sebagai seorang flirt atau perempuan bereputasi buruk, aku jadi ikut berpikir seperti itu.
Jika kesimpulan tentang Daisy itu benar, maka apa artinya menjadi diri sendiri dan terbebas dari norma sosial?
Daisy, yang memang seorang flirt, adalah tipe yang membebaskan diri dari ikatan sosial. Tidakkah aku ’seharusnya’ mengagumi caranya berpihak pada dirinya sendiri? Atas kemampuannya membuat dirinya bahagia atau untuk memilih yang membuat dirinya bahagia?
What it means to be a girl has never been told more simple, yet layered, and shorter than this.
Jika ada yang tertarik mengenal James, mulailah dengan ‘Daisy Miller’.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Tahu nggak toko buku bekas di Pasar Festival itu?
Bukan, bukan yang di lantai dasar dekat Hartz Chicken Buffet. Yang di dalam, di dekat food court, tempat jual DVD bajakan?
Kebanyakan sih memang jualannya majalah bekas. Asalnya agak luas tokonya, tapi terakhir ke sana dua, tiga minggu lalu, sekarang cuma setengahnya yang jual buku dan majalah. Setengahnya lagi dipakai untuk menjual baju.
Nggak masalah sih. Toh tempat itu masih jadi tempat menyimpan harta karun-harta karun kecil. Kompilasi tiga novelnya Eudora Welty misalnya. Atau volume pertama jurnalnya Anais Nin. Dan Rosemary’s Baby.
Aku mengetahui Rosemary’s Baby pertama sebagai sebuah film karya Roman Polanski. Pada sebuah musim panas, aku dan beberapa teman menyewa film ini karena rekomendasi yang menyatakannya sebagai salah satu film paling mengerikan. Tapi sampai filmnya selesai, kami yang mengharapkan terjengking-jengking saking ketakutannya ternyata tak merasakan apa-apa.
Baru beberapa tahun kemudian, saat filmnya diputar di MetroTV (setahun, dua tahun lalu, stasiun ini masih punya program yang menayangkan film-film bagus tiap malam tertentu di TV), aku jadi mengerti ‘tipe’ kengerian yang ditampilkan Rosemary’s Baby. That it was of the human kind.
Dan sejak saat itulah ada bagian dari otakku yang, entah bagaimana, bisa mengingat adegan per adegan film itu. Mungkin karena aku sampai pada kesimpulan bahwa Rosemary’s Baby adalah film yang bagus.
Sekarang tentang bukunya.
Membaca versi bukunya, aku malah jadi lebih menghargai Roman Polanski sebagai seorang sutradara. Versi filmnya benar-benar, adegan demi adegan, bahkan sampai setting apartemen The Bramford dari pasangan Woodhouse, mengikuti dengan setia versi bukunya.
Ceritanya tentang pasangan muda Rosemary dan Guy Woodhouse. Guy adalah seorang aktor yang sedang berusaha jadi terkenal. Rosemary adalah perempuan muda cantik yang ingin sekali tinggal di komplek apartemen The Bramford.
Pasar properti New York pada 1967an (perkiraan berdasarkan tahun terbit Rosemary’s Baby) memberikan citra ini; bahwa penting untuk mendapat apartemen yang masih punya karakter, yang bukan sekadar kotak-kotak tanpa keunikan gaya. Maka The Bramford pun jadi penting buat Rosemary.
Yang selalu ditunjukkan oleh Levin bagi karakter Rosemary adalah bahwa ia gadis Katolik dari kota kecil yang, tanpa izin orangtua dan keluarganya, datang ke New York. New York, seperti mungkin kota-kota metropolitan lainnya, bisa punya dampak pada siapa kita dulu dan siapa kita di masa depan. Jauh dari keluarganya, Rosemary bisa bebas mempertanyakan keyakinan yang diwarisi dari orangtuanya. Walaupun kadang ia masih kagum pada sosok Paus, ia tak lagi secara fanatik mempercayai apa yang dulu dipercayainya (Percaya deh, ini akan jadi salah satu poin penting yang membuat Rosemary’s Baby, terutama pada versi buku, begitu mengesankan).
Di The Bramford, pasangan muda ini bertemu dengan pasangan tua tetangga mereka, Minnie dan Roman Castevet. Pada awalnya The Woodhouses tak menganggap mereka serius, sampai Guy–yang sering sinis–tiba-tiba jadi dekat dengan mereka.
Ketika Rosemary hamil, pasangan Castevetlah yang paling perhatian dengan kondisi bayi Rosemary dan Guy. Atau mungkin terlalu perhatian? Dari mulai merekomendasikan dokter sampai membuatkan minuman kesehatan.
Bramford, sebagai sebuah apartemen, juga tak berhenti memberikan Rosemary kejadian-kejadian aneh. Dari mulai bunuh dirinya seorang gadis penghuni yang ia kenal sampai mimpi-mimpi aneh–yang salah satunya kemudian ia sadari sebagai sebuah kenyataan. Sementara Guy, yang sebelumnya tak pernah mendapat kesempatan berarti dalam berakting, kemudian mulai mendapat peran-peran bagus, bersamaan dengan semakin dekatnya ia dan pasangan Castevet.
Jadi, apa hubungannya dengan bayi Rosemary?
Menjawab pertanyaan itu sama saja dengan membongkar ceritanya.
Tapi ini yang aku pikir jadi mengerikan dari Rosemary’s Baby. Aku sudah pada tahap yakin bahwa untuk menjauh atau mempertanyakan atau menemukan sebuah bentuk kepercayaan atau ‘religiusitas’ baru dari yang diwariskan secara dogmatis oleh keluarga adalah bagian dari menjadi dewasa. Seperti yang terjadi pada Rosemary, contohnya.
Levin membuatnya jadi mengerikan ketika ia menceritakan seorang karakter yang menjadi dewasa dengan cara itu–menemukan versi kepercayaannya sendiri dan mempertanyakan apa yang sudah ia pelajari selama ini–tapi terus dihadapkan pada ‘kenyataan’ bahwa ternyata semua yang ia yakini ’salah’ memang sebuah kebenaran.
Itu sepertinya yang membuat Rosemary’s Baby jadi menakutkan.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
“What is this, a Henry James novel? The young lady acts up, and her family ships her off to Europe?” (Rory Gilmore)
“TO paraphrase Henry James: It’s a complex fate, being an American girl.” (AO Scott, kritikus NY Times menulis resensi film American Girl)
Coba tentukan, mana yang lebih ‘buruk’. Dokter Austin Sloper adalah seorang pria yang, digambarkan, hampir sempurna. Cerdas, rasional, tak kurang apa pun dari segi fisik. Dan tinggal di kalangan sosialita New York yang menjadi kaya dengan warisan atau dengan ilusi bahwa mereka bekerja, Dokter Sloper punya profesi idaman. Ia masih bekerja untuk penghasilannya, tapi pekerjaannya dianggap cukup ‘terhormat’ (dalam artian tidak terlalu kasar, karena melibatkan pikirannya) oleh kalangan sosialita New York.
Dalam dunia yang pernikahannya diatur oleh uang dan koneksi, ia bertemu keseimbangannya dari segi kesempurnaan, seorang Miss Catherine Harrington. Yang cantik, luwes, rasional, dan…punya uang.
Mereka menikah atas dasar sesuatu yang paling mirip dengan cinta, punya anak lelaki yang juga sempurna dan bisa jadi penerus sang ayah. Sayangnya, si anak laki-laki meninggal dan, setelah melahirkan anak keduanya, si ibu juga meninggal.
Tidak, tidak, tidak.
Jangan salah sangka, ini bukan spoiler. Ini justru awal.
Anak keduanya, secara ironis, diberi nama sama dengan ibunya, Catherine. Catherine Sloper adalah sosok yang…sehat. Tapi di mata ayahnya, dia tak memiliki keanggunan dan kecantikan ibunya, atau kepintarannya. Juga keluwesan. Bagi Dokter Sloper, Catherine is dull.
Jadi, mana yang lebih ‘buruk’?
Seorang ayah dengan segala kesempurnaannya diberi anak yang sangat berbeda darinya dan istrinya? Atau seorang anak yang selalu dianggap remeh keberadaannya (dan segala tindakannya) oleh ayahnya?
Catherine, dengan warisan 10 ribu dollar dari ibunya dan 30 ribu dollar dari ayahnya, punya status sebagai seorang heiress (Ada masanya ‘heiress’ tak selalu berarti Paris Hilton. Ini adalah New York pada tahun 1840-1850an).
Ketika Catherine sudah digambarkan dalam ‘ketidaksempurnaan’ itu (tapi memiliki kesempurnaan dari segi finansial) dan datanglah seorang Morris Townsend (He had features like young men in pictures; Catherine had never seen such features–so delicate, so chiselled and finished–among the young New Yorkers whom she passed in the streets and met at dancing-parties) tanpa pekerjaan jelas, maka ayah Catherine diarahkan untuk berpikir bahwa niatan Townsend adalah uang.
Dan Henry James juga tak membuat keadaan jadi lebih baik. Pertemuan-pertemuan Townsend dan Catherine hanya didominasi dengan cerita-cerita Townsend dan Catherine yang hanya mampu diam mendengarkan.
Jadi, sebenarnya, mungkin ‘vonis’ Dokter Sloper tentang anaknya (dan tentang Morris Townsend) benar. Tapi bukankah itu berarti, sebagai pembaca, kita berlaku sama tidak adilnya terhadap Catherine? Sama seperti yang dilakukan Dokter Sloper?
Yang menurutku paling menarik dari Washington Square adalah perpindahan sudut pandang yang dilakukan James secara halus. Pada awalnya semua dilihat dari sudut pandang Dokter Sloper dengan ketajaman ironinya. Aku jadi ikut menilai Catherine dari mata ayahnya. Tapi kemudian, lama-lama, Catherine mulai diberi suara.
Dan benar, ia memang tak pernah melakukan sesuatu yang istimewa atau memikirkan sesuatu yang cerdas. Tapi juga tidak ada yang ’salah’ dengan itu. She being who she is.
Washington Square, karena ketipisannya mungkin, adalah Henry James pertama yang aku selesaikan. Beberapa tahun lalu, aku pernah mulai membaca The Portraif of a Lady sampai akhirnya berhenti di tengah-tengah. Dari situ, aku jad ber-oh ya, ya, pada ‘potret-potret’ yang dibuat James tentang menjadi seorang gadis Amerika. Di The Portrait, adalah Isabel Archer, juga seorang gadis Amerika dengan warisan uang, yang mencoba menemukan dirinya sendiri.
Dan ya, ya, konsep an American in Europe (dan mungkin semua disorientasi yang timbul karenanya) juga merupakan tema yang muncul berulang di dua novel itu.
Tapi ini, jika Henry James adalah pemeta atau pencatat fase kehidupan dan perilaku gadis-gadis Amerika, siapa ya yang menjalankan peran itu buat gadis-gadis Indonesia? Atau kompleksitas takdir menjadi seorang gadis itu tak memiliki batas geografis?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
XML error: Reserved XML Name at line 2, column 38