The Jane Austen Book Club
March 22nd, 2008 by isyanaSebuah buku yang bisa memuat kalimat ini: “Austen can plot like a son of a bitch!” adalah sebuah buku yang cukup oke, menurutku. Alasannya, itu pembelaan paling kreatif tentang Austen yang pernah aku dengar atau baca.
Secara keseluruhan, seperti judulnya, buku ini bercerita tentang sebuah klab buku di Sacramento yang membahas tentang “All Austen, all the time”. Isinya ada enam perempuan, Bernadette yang paling senior, pelaku yoga dan sering bicara tanpa arah tujuan yang jelas. Sylvia yang baru bercerai setelah pernikahan duapuluhan tahun, Allegra anaknya yang lesbian (percayalah, ini aku sebut karena di buku juga dijadikan poin secara jelas), lalu Jocelyn, sahabat masa remaja Sylvia yang tak menikah dan membiakkan anjing-anjing ras. Ada juga Prudie, si guru bahasa Perancis yang kepribadiannya rumit dan Grigg, satu-satunya laki-laki dan dianggap misterius oleh anggota klab buku lainnya.
Klab buku ini bertemu setiap sebulan sekali dan selama enam bulan ke depan, setiap anggota bergiliran jadi tuan rumah membahas satu judul. Mulai dari Emma sampai terakhir Persuasion. (Kalau aku jadi anggota klab buku ini, pertemuan untuk buku mana ya yang mau aku pilih? Pride and Prejudice sepertinya terlalu umum. Dan setiap anggota pasti saling berebut judul itu. Persuasion? Mungkin. Aku suka Captain Wentworth. Sense and Sensibility mungkin. Atau Northanger Abbey. Jelas tidak Mansfield Park, karena masih belum selesai membacanya. Dan Emma is a snob).
Dari segi plot buku ini sendiri, aku butuh ekstra mengingat-ingat dan mencocok-cocokkan dengan plot di novel-novel Austen, karena ada kesamaan tapi amat sangat subtil. Dan terlalu banyak simbolisasi. Mungkin aku harus membacanya kedua atau ketiga kalinya. Tapi, yang menarik dari buku ini adalah, sebagai pembaca Austen, aku biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan ‘pertanyaan-pertanyaan klab buku’ seperti yang dibahas di sini.
Ternyata, aku bisa (terbantu) sampai di beberapa kesimpulan:
1. Aku suka Charlotte Lucas. Beberapa kali membaca Pride and Prejudice, dan menonton versi filmnya, aku sering marah pada Charlotte. Karena ia tidak cukup berani menyendiri dan memilih menikah dengan seorang pria sombong seperti Mr Collins. Karena ia menikah dengan Mr Collins. Mr Collins! Tapi apa yang dilakukan Charlotte, caranya dia memilih jalan hidupnya sendiri—walau tidak sesuai dengan penilaian Lizzie—butuh suatu keberanian, dan aku menghormati itu. She’s still the wise and smart woman that she is, dan dia mempertimbangkan peran sebagai anak perempuan yang ingin meringankan beban orangtuanya dengan menikahi Mr Collins. Elizabeth Bennett adalah mahluk yang menarik, tapi Charlotte Lucaslah yang aku hormati.
2. Aku mulai mempertanyakan kenapa Emma berakhir dengan Mr Knightley? Maksudnya, perbedaan usianya, minat, temperamen, dan cara mereka tumbuh besar bersama-sama (sejak Emma kecil dan Mr Knightley yang sudah dewasa), aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi sesudah ceritanya berakhir.
3. Aku mulai percaya bahwa Marianne yang berakhir dengan Colonel Brandon di Sense and Sensibility lebih karena didorong oleh ibu dan kakaknya, daripada rasa cinta yang tumbuh.
4. Hero favoritku ternyata bukan Mr Darcy, walaupun sepertinya aku stuck dengan tipe itu di kehidupan nyata, tapi masih seri antara Henry Tilney (Northanger Abbey) dan Captain Wentworth. Henry Tilney, karena dia pria yang menyenangkan, lucu, cerdas, sociable, sopan dan bijaksana, semuanya sejak pertama. Bandingkan dengan Darcy yang pertamanya jutek dan baru ‘berubah’ menjelang akhir. Wentworth karena, ah, aku selalu suka ide-ide cinta lama bersemi kembali (hehehe) dan surat yang ditulisnya buat Anne Elliott itu lho. Such a letter was not soon to be recovered from, tulis Jane Austen. Oh, how so true.
Hmm, memulai sebuah klab buku Jane Austen mungkin bukan ide yang buruk.
Sebagai penutup, izinkan aku meminjam kutipan dari Martin Amis tentang karya-karya Jane Austen yang pernah dimuat The New Yorker dengan judul Jane’s World:
Jane Austen is weirdly capable of keeping everybody busy. The moralists, the Eros-and-Agape people, the Marxists, the Freudians, the Jungians, the semioticians, the deconstructors—all find an adventure playground in six samey novels about middle-class provincials. And for every generation of critics, and readers, her fiction effortlessly renews itself.
Popularity: 11%