You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Teenlit itu dangkal?
INI sih sebenernya isu lama. Cuma, lama-lama gerah juga dengernya.
Memang, opini tersebut datangnya dari penulis-penulis teenlit juga yang sering menampilkan kisah-kisah yang klise, percintaan yang basi, dan konflik yang nggak berkembang. Ada juga pakar (deeuuu…) yang berpendapat bahwa dangkalnya teenlit disebabkan oleh penggunaan bahasa yang “semau gue”, nggak ngikutin kaidah bahasa Indonesia yang disempurnakan.
Yaa, ada benernya. Tapi menilai dangkal-tidaknya sebuah karya cerita remaja populer hanya dari segi bahasa tentu nggak adil juga, meski bisa dijadikan sebagai masukan bagi para penulis.
Namun, harus diingat pula, karakter teenlit yang kerap menggunakan bahasa populer juga bukan tanpa alasan. “Ini sebagai upaya untuk memotret kehidupan anak muda, senyata-nyatanya,” ujar Rachmania Arunita, penulis naskah Eiffel I’m in Love, suatu ketika.
Memang, begitulah karakter bahasa kita yang tercinta. Lain generasi lain bahasa. Mungkin analoginya ya bahasa slank-nya Amerika sana.
Satu yang perlu dicatat adalah, paradigma bahwa teenlit harus pake bahasa gaul pelan-pelan harus dihapus. Banyak contoh dari khazanah sastra populer di Amerika, karya Jane Austen, misalnya notabene adalah teenlit juga, tapi bisa lebih elegan dan “cerdas”.
Bagaimana menurut dikau?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 12 komentar untuk artikel ini.
Firman Firdaus
ini isyana, pake loginnya firman firdaus. hehe.
yes, i agree. di kantor, aku kadang mbantu-mbantuin koordinasi halaman khusus pelajar smp-sma yang dikerjain ama mereka juga. nah, satu hal yang kita berkomitmen tidak merubah, bahkan menyentuh, adalah bahasa.
bad language atau apa pun itu tuduhannya, itu cara ‘teens’ berkomunikasi secara efektif. they have their own ways, why change it? di mana-mana, orang nyewa mahal-mahal konsultan komunikasi cuman buat nemuin ‘bahasa’ yang tepat.
toh, seperti pengalaman kita-kita, kita semua ngelewatin fase itu kan? bahasa, menurutku, juga menunjukkan perkembangan usia, bagian dari pencarian identitas, dan mungkin aja suatu saat bisa ikut berkontribusi ke khazanah bahasa indonesia. kata ciptaan beyonce knowles, ‘bootylicious’ sukses masuk di oxford english dictionary.
tapi, aku setuju sama pendapatnya wartawan tempo, qaris tajudin, di rubrik bahasa majalah tempo beberapa minggu lalu. ada unsur bahasa orang muda yang nggak boleh ditolerir, kayak ’secara’ yang sekarang pemakaiannya nggak pas ama makna sebenarnya. arti sebenarnya kan ‘dengan cara’ bukan menandakan sebuah kesimpulan kaaann?
teruss…tentang keragaman tema, nah, ini mending jadi posting sendiri kali yaaa.
May 29th, 2007 at 6:03 pm
Sayyid disini
Tetapi saya agak kurang setuju dengan Teenlit. Terutama jika bahasanya campuraduk dengan serapan bahasa asing. (walah-walah) Tetapi saya pun tidak bisa memungkiri dengan trend anak muda. (ya ampun, kayak gak pernah muda aja)
namun yang mesti diperhatikan dalam Teenlit menurut saya adalah logika penceritaan. Disini, penulis-penulis muda sering kejebak dengan jalan ceritanya sendiri. Misalnya kalimat yang menyatakan seperti ini:
“akhirnya, setelah memborgol tangan Andi, polisi itu mengantongi kembali AK 47 yang tadi sempat ditembakkan ke arah Andi”
nah logikanya, AK 47 adalah jenis laras panjang, jadi mustahil dan tidak masuk logika jika AK 47 dikantongi. (hahahhahahaha, gak kebayang deh Pak Polisi jalannya kayak gimana)
June 8th, 2007 at 5:55 pm
p24992
“Ini sebagai upaya untuk memotret kehidupan anak muda, senyata-nyatanya.”
Anak muda bukan cuma di Jakarta, Mbak. Saya tahu di daerah2 (apalagi di luar pulau Jawa) masih banyak anak muda yang bahasanya jauh lebih terpelihara dibandingkan anak muda Jakarta, tentu dengan bahasa gaul-nya sendiri yang gak sama dengan bahasa gaul Jakarta. Apa mereka bukan pangsa pasar teenlit sehingga nggak komersil untuk diperhatikan? Makanya buka mata lebih lebar; lakukanlah riset, bereksperimenlah dengan tema dan bahasa yang lain, jangan cepat puas dengan status bestseller dan royalti yang menumpuk. Kalau nggak seperti itu, teenlit beberapa tahun ke depan bisa sejajar dengan novel2 macamnya harlequin atau nora roberts: brainless, trash fiction.
Ngomong2, saya jadi tertawa melihat pengarang novel ‘ajaib’ seperti “Eiffel, I’m in Love” berbicara soal “memotret kehidupan anak muda, senyata-nyatanya.”
June 11th, 2007 at 1:31 am
Firman Firdaus
sayyid dan p24992 (namanya susah amat).
mmm, coba baca lagi posting saya, paragraf akhir. Ada satu hal yang perlu dicatat, paradigma bahwa teenlit harus “semau gue” harus dihapus. jadi, yang harus ditekankan dari teenlit adalah semangatnya, bukan bahasanya.
coba kalian bedua baca post2 di blog ini, notabene jauh dari main-main, kok.
dan generalisasi bahwa karya teenlit itu mesti cerita-cerita remaja populer seperti yang banyak kita lihat di rak-rak Gramedia juga pelan-pelan harus diubah.
June 11th, 2007 at 4:55 pm
p24992
Hehehe, maaf Mas Firman kalo jadi salah tangkap ^^; Sebenernya saya lebih mengomentari ucapannya si penulis naskah Eiffel I’m In Love itu kok, bukannya tulisan Mas Firman. Saya juga sependapat dengan opini Mas. Tapi saya jadi mau bertanya lagi: sebenernya ’semangat teenlit’ itu seperti apa sih? Apa yang membuat sebuah karya sastra adalah teenlit dan bukan…lit-lit yang lain? Semangat untuk “memotret kehidupan anak muda, senyata-nyatanya” atau bagaimana?
June 11th, 2007 at 6:00 pm
p24992
Wait…nevermind I’ve read your next entry (Inspirasi dari Rory) ^^; malu, ternyata harus belajar membaca lebih baik lagi
June 11th, 2007 at 11:05 pm
firman firdaus
that entry was written by isyana, my fave popculture writer evah…tsaaahh.
ya. semangatnya adalah being young and being in the middle of the phase, where all kinda aspects in life beginning to show up. isn’t it fun and challenging?
June 12th, 2007 at 10:10 am
Bee
aku ikut kasih pendapat dong…
aku rasa juga kalau teenlit kadang ada yang nggak pake riset. dan hanya mengandalkan lingkungan sekitar saja. eitszz!! ini ‘kadang’ loh yah! ada juga yang terlalu mengandai. aku pikir, terlalu membuat pembaca mengandai-andai itu bisa membawa dampak buruk di belakang. coz, klo ceritanya isinya yang ‘luxury’ melulu, dan nggak diseimbangi, bisa-bisa generasi indonesia jadi penghayal tingkat 1. syukur2 kalau pakai usaha, kalau nggak?? berabe kan?
saya lumayan setuju dengan “Ngomong2, saya jadi tertawa melihat pengarang novel ‘ajaib’ seperti “Eiffel, I’m in Love” berbicara soal “memotret kehidupan anak muda, senyata-nyatanya.”” punya p24992. Bukan apa2 loh yah. tapi masing-masing orang juga punya sisi penilaian yang unik. itu memang potret kehidupan anak muda, senyata-nyatanya, cuma itu (mungkin) potret di sekeliling Rachmania Arunita. kan lingkungan orang-orang beda-beda. nah.. ini juga yang perlu diperhatikan kalau pengen buat cerita.
saya bukannya sok ‘ehm-ehm’ loh yah.. saya hanya ingin berbagi pendapat.
salam :)
-bee-
June 13th, 2007 at 1:45 am
tootsie
halo, ikut ngobrol yahk…saya baru tau ada blog ini langsung ingin tau seperti apa, terutama blognya mbak isyana, blogger tetap teenlit.. kenapa? karena dari yang saya lihat di metro tv cara bicara, gaya bahasa dan penampilannya, sama sekali gak match sama imej teenlit yang selama ini nempel ‘plek’ di kepala saya.. yaahkk.. tau sendirilah.. gak jauh beda seperti sinetron remaja yang sekarang sedang laris manis tanjung kimpul, dagangan laris duit kumpul.. dangkal.. setuju dengan dek isyana (sepertinya sy lebih tua deh hehe) n mas firman (kalo mas ini saya ndak tahu, soalnya ndak masuk tivi ya mas?),mungkin bisa lebih gencar lagi ya promosi buku2 teenlit yang bermutu, supaya remaja2 sekarang tau kalo ada pilihan lain, selain yang di rak2 gramedia itu..hehe..
June 17th, 2007 at 6:18 pm
radhani
Masalah bahasa pada karya-karya teenlit kita ga perlu terlalu dibesar-besarkan. Memang begitulah adanya. Mungkin yg kurang adalah kedalaman ceritanya. Kayaknya inti cerita teenlit itu stereotip. Mungkin ini tugas penulis dan penerbit membuka ruang bagi penulisan teenlit yg lebih berbobot dan variatif.
Makasih
June 18th, 2007 at 11:15 pm
isyana
iya, bener setuju. bahasa, it’s not a big deal buatku. setidaknya, aku tidak merasa cemas.
kayak katanya atticus finch di “to kill a mockingbird” tentang kebiasaan mengumpatnya si scout (aku lupa tepatnya, tapi ini kasarannya), cursing is something you grow out of. itu menunjukkan cara kita menilai sesuatu, pada umur tertentu, mengumpat atau bahasa gaul mungkin dianggap cool, tapi we don’t talk like that for the rest of our lives, right?
June 19th, 2007 at 6:18 pm
zenrs
Teenlit itu dangkal? Hehehehe…. (No comment!)
Kebanyakan Teenlit itu dangkal? Iya!
Pertama, karena ceritanya lebih banyak repetisi. Kedua, karena pilihan bahasanya yang semau gue. Bukan semau guenya itu yang jadi soal, tapi karena semau guenya adalah pilihan terakhir akibat kurangnya “vocab”. Karena jarang baca, dan lebih terbiasa nonton sinetron dan bergosip, maka vocab mereka pun kurang lebih sama dengan yang sering mereka dengar dari sinetron dan dari percakapan sehari-hari mereka. Jadi kalau nulis, keluarnya ya itu-itu juga.
Seandainya saja para penulis teenlit itu mau meluangkan waktu membaca dua novel teenlit Josten Gaarder: “Misteri Soliter” dan “Gadis jeruk”!
Ya, seandainya saja!
June 22nd, 2007 at 4:35 pm