You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Revolusi Iran Dongeng Seorang Anak (Marjane Satrapi)

Revolusi Iran Dongeng Seorang Anak (Marjane Satrapi)

isyana — June 2, 2007 / 6:09 pm

Salah satu halaman ‘Persepolis’Aku menemukan buku ini secara nggak sengaja di Pasar Buku Beringharjo di Yogyakarta pas ada penugasan kantor. Nama populer pasar buku-nya ’shopping’ kan? (Walaupun dengan aksen Yogya, ’shopping’ jadi diucapkan soping, dengan ‘i’ yang menjurus ke ‘e’). Seingatku sih, aku belum sempat pulang dan membaca secara lengkap untuk memutuskan beli tiga eksemplar lagi buat dibagi-bagi. Cuma sempat lihat beberapa halaman dari memoar grafis ini. Tapi dari sekelebatan itu sudah langsung mendapat kesan yang kuat.

Sampai di kamar hotel dan membaca, aku yakin keputusanku beli tiga eksemplar ekstra itu tepat banget. “Revolusi Iran Dongeng Seorang Anak” tuh tipe buku seperti itu. Yang kita pengen beli banyak terus dibagi-bagiin ke sebanyak mungkin orang biar makin banyak yang mbaca. Buat aku nggak banyak buku yang efeknya bisa sedashyat itu tapi tetap gampang dibaca. Dan, ketika aku menemukannya, reaksiku yang instan adalah membeli buat dikasihin ke orang. (’The Catcher in the Rye’ adalah satu contoh lain buku seperti itu).

Satu buku, buat temen deketku saat itu. Satu lagi, buat cowok yang lagi dikecengin, terakhir, buat atasan yang selama aku di Yogya, harus terus koordinasi sama aku. (Plus, karena aku malah kehabisan oleh-oleh buat dia sih…) Mengecewakannya, nggak ada dari tiga-tiganya yang menganggap karya ini sedashyat itu.

(Tapiiiii….kalau membaca jaket bukunya, ada resensi-resensi positif dari New York Times Book Review, Vogue, Time, sampai dari Phillip Pullman, penulis ‘The Golden Compass’. Jadi nggak cuma aku kan yang menganggap karya ini dashyat?)

Aku malah terlibat perdebatan sengit sama salah satu dari tiga orang itu. Sialnya, kok ya sama temen deketku. Dia nggak senang dengan cara Marjane Satrapi, penulis sekaligus karakter utama novel grafis itu, menggambarkan anak-anak perempuan yang menggunakan jilbab sebagai mainan. Ada yang menyambung-nyambungnya buat dipakai lompat tali, ada yang menjadikannya sebagai alat menyamar untuk jadi ‘monster kegelapan’ sampai menggunakannya sebagai kendali di leher buat yang sedang main kuda-kudaan.

Yang membuat aku kesal, adegan itu muncul di halaman pertama. Artinya, “ya ampun. Lu belum baca sampai akhir cerita, tapi udah bisa nge-judge itu buku bagus atau jelek?” Tapi, yang lebih penting, di halaman sesudahnya diceritakan tentang betapa drastisnya pengalaman yang dialami Marjane dan teman-temannya saat mereka berusia 10 tahun pada 1980, saat Revolusi Kebudayaan Iran baru dimulai.

Baru setahun sebelumnya, Marjane dan teman-temannya bersekolah di sekolah ‘normal’ yang menyatukan anak perempuan dan laki-lakinya dan belum ada pemaksaan memakai jilbab. Kewajiban mengenakan jilbab adalah salah satu simbol utama dalam Revolusi. Adegan yang dimunculkan Marjane Satrapi di halaman pertama “Revolusi Iran…”, menurutku, adalah caranya menggambarkan bagaimana anak-anak menerima perubahan itu.

Cerita-cerita masa kecil penulisnya dalam bentuk novel grafis ini ternyata punya judul asli “Persepolis”. Gosipnya sih, ada salah satu penerbit besar di Indonesia yang mau menerjemahkan dan menerbitkan buku ini. Tapi mereka agak takut dengan reaksi pembaca atas adegan yang tidak disukai teman saya itu. Yang saya beli, ternyata katanya versi bajakan. Diterjemahkan tanpa bayar hak ciptanya. (Benarkah?)

Revolusi budaya, bom bunuh diri, tahanan politik, serangan bom ke daerah perumahan, kehilangan anggota keluarga karena masalah politik sampai kehilangan sahabat dalam serangan bom, semuanya adalah topik-topik besar. Tapi Marjane Satrapi membahasakan semuanya dengan sederhana, diceritakan dari sudut pandang dirinya sejak ia berusia 10 sampai 14 tahun. Semuanya ditarik ke pengalaman-pengalaman pribadinya. Mungkin karena semuanya bersifat pribadi, cerita-ceritanya tak pernah tak menyentuh.

Tapi ia juga bercerita tentang hal-hal yang ‘remeh’. Di suatu masa saat mendengarkan musik atau memakai kuteks atau sekedar memanjangkan kuku dilarang, Marjane harus sembunyi-sembunyi membeli kaset atau ke pesta bawah tanah.

Marjane juga selalu bercerita tentang berbagai kelompok teman dan saudara yang berbeda. Ia menggambarkan seberapa besar skala ‘perubahan’ yang terjadi, bagaimana revolusi itu mempengaruhi semua orang di berbagai strata kehidupan sosial.

Tapi, Marjane tergolong beruntung. She has the coolest parents ever dalam situasi yang sangat tidak suportif. Orangtua yang berpikiran terbuka dan selalu (seringnya) membelanya dan mengajaknya berdialog. Terasa sekali, kedua orangtuanya mencoba membuat masa kecil Marjane se-’normal’ mungkin dengan absurditas yang ada di luar sana.

Dari ‘Persepolis’ atau ‘Revolusi Iran…’, aku berkesimpulan, bahwa religiositas adalah hal yang amat sangat personal. Ketuhanan tak selalu berarti agama. Dan ‘menjadi religius’ bukan sekedar lewat apa-apa yang diajarkan di sekolah-sekolah atau sekedar lewat simbol-simbol. Ketika semua tampilan sudah disamakan, siapa yang bisa menjamin isi hati dan kepala?

Entah seberapa besar Iran sudah berubah sekarang, tapi memoar grafis ini adalah sebuah album foto yang membuktikan, ‘dulu’ ada masa seperti ini. Sebelum kita mengulang-ulang kata-kata orang lain tentang arti jilbab atau semua identitas keagamaan lainnya, ada baiknya kita membaca ‘Revolusi Iran…’ ini dan bertanya lagi, apakah cara pikir kita tetap sama? Kenapa?

[Sumber foto]

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. lisno

    wah boleh dong pinjam bukunya…aku lagi seneng sama budaya iran neh

    April 28th, 2008 at 8:53 pm

  2. aldriana amir

    tulisan review bukunya bagus deh!!! saya rada telat bgt nih hunting bukunya marjane satrapi yg ‘revolusi iran’ skrg:( susah sekali dapetin bukunya, krn saya dpt yg ‘bordir’ dan ‘ayam dg plum’ lbh dulu… salam kenal mba :)

    June 7th, 2009 at 8:17 pm

  3. aldriana amir

    halo mba, hanya mau kasih kabar aja… kalau saya sdh dpt buku ‘revolusi iran’ ini. dg penuh perjuangan tentunya, hehe. senang, senang, senang!!! :)

    July 7th, 2009 at 5:55 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...