You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: 10 Langkah Mengenal Sastra Indonesia
Aku suka menghabiskan waktu lamaaa banget di toko buku. Hanya sekedar untuk browsing-browsing, membaca judul-judul buku yang terpajang, membayangkan kira-kira apa yang ditawarkan buku itu. Dan ketika matanya menyusuri urutan alfabetis nama penulisnya, aku kadang tiba-tiba keingat nama penulis lain yang masih lima alfabet ke depan, terus mencari nama itu, terus balik lagi ke urutan alfabetis tadi. Nggak hanya di toko buku ‘nyata’, kebiasaan itu diteruskan lagi pas muter-muter di situs Amazon.com. Kadang, di tengah ngetik sesuatu untuk urusan kantor dan ngerasa bosan, bisa tiba-tiba langsung belok ke Amazon.com dan tinggal terlalu lama di sana.
Dari segi kelengkapan, mungkin situs Barnesandnoble.com bisa menawarkan judul buku yang lebih banyak. Tapi aku lebih suka ke Amazon.com karena komunitasnya yang lebih hidup. Bisa ada delapan windows berbeda yang aku buka pas lagi browsing satu aja judul buku. Karena ada daftar-daftar yang dibuat pengunjung dan pelanggan situs itu tentang judul buku tersebut. Sejenis rekomendasi pribadi lah.
Banyak dari pengunjung dan pelanggan situsnya berasal dari Amerika, jadi ketika mereka membuat daftar “my favorite Classics” atau “must-read Classics”, judul-judul buku yang muncul bisa kurang lebih sama. Sedikit Hemingway, sedikit Steinbeck, sedikit Salinger, Ralph Ellison untuk Invisible Man-nya, sedikit F Scott Fitzgerald dan beberapa penulis bernama belakang Rusia. Kasarannya seperti itu. Tapi aku tidak mau menyoroti masalah pengaruh “ke-Amerika-an” dalam apa yang aku baca. Yang lebih penting adalah aktivitas membacanya kan?
Yang mau aku omongin lebih tentang menyusun daftar bacaan itu sendiri. Di situs-situs Amazon, mungkin karena dipengaruhi kurikulum sekolah juga, jelas banget siapa-siapa aja penulis yang ‘harus’ dibaca dan mereka menulis tentang apa. Kayak F Scott Fitzgerald misalnya. Hampir semua, kalau malah bukan semua, karya-karyanya adalah tentang sisi gelap para kaum rich and glamour itu. Atau Jane Austen. Sebelum membaca karyanya pun aku udah yaa…kasarnya, tau lah, kira-kira apa yang bakal aku dapatkan, komedi tatanan sosial dengan pengamatan yang detil. Jadi ada alasan ketika aku pengen mulai membaca Austen atau Fitzgerald atau Hemingway atau Salinger (penuh orang muda, menurutku) atau Steinbeck (rasa Americana yang kental) atau gadis-gadis Bronte (Emily dan Charlotte, gothic love stories, passionate dibanding karakter-karakter perempuan Austen yang cenderung…sopan).
Tapi pengetahuan seperti ini nggak aku dapatkan dari penulis-penulis Indonesia. Maksudnya….emm, gini aja deh. Di Amazon, aku pernah ngeliat list yang judulnya “10 Steps to American Literature”. Jadi penyusun daftarnya mencoba menentukan, apa-apa aja sih 10 karya utama sastra Amerika. Pastinya memang penilaian pribadi, tapi buatku itu nggak mengurangi nilai menariknya. Tetap bikin penasaran lah. (Dan, ini juga yang membuat aku pengen punya buku ini, ini, atau yang ini. I can never get enough of recommendation, walaupun membacanya mungkin masih harus ngantri).
Nah, kalau aku harus menyusun “10 Langkah Mengenal Sastra Indonesia”, jujur, my mind goes blank. Kumpulan cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” pasti masuk karena menurutku dari segi narasi atau bentuk lebih eksploratif dari “Para Priyayi”, “Orang-orang Bloomington”, mungkin, tapi aku belum pernah baca “Olenka”. Sesuatu oleh Danarto, ’seharusnya’ masuk. Tapi apa? Dan, misalnya aku mau mengenal Rendra, apa sih 10 karya yang benar-benar mewakili Rendra? Atau Putu Wijaya, dari mana aku mulai?
Dan ini bukan sekedar menyusun daftar, tapi meyakinkan orang lain, kenapa karya-karya inilah yang layak masuk di daftar itu. Selama ini, aku nggak pernah menemukan ‘daftar’ seperti itu. Atau menemukan banyak orang yang bisa diajak ngomong tentang “apa yang akan aku dapatkan ketika aku membaca (nama penulis)”.
Oke, ini buku hasil karya seseorang, masing-masing punya karakter dan nggak bisa dibanding-bandingin. Ini bukan sekedar sesuatu yang bisa dikasih ranking, yang ini lebih penting, yang ini, kalau nggak masuk daftar, berarti nggak penting. Bukan itu maksudnya. Tapi gini, kalau ada yang muncul dengan daftar “top 10″ itu, terus orang membaca apa-apa saja yang ada di situ, merasa nggak setuju, terus nyusun daftarnya sendiri, orang lain mbaca lagi, merasa ada yang ’salah’ dengan interpretasi pembuat daftar kedua, lalu membuat daftar sendiri, itu lho yang aku cari. Dialog tentang what to read dalam sastra Indonesia.
Aku nggak tau kenapa di Amazon, bisa muncul berbagai versi “must-read classics”. Mungkin memang ada yang kemakan rekomendasi banyak orang sebelumnya, ada yang terpengaruh kurikulum bacaan wajib di sekolah, ada yang sekedar sombong terus membuat daftar yang isinya buku-buku intimidatif (buatku, Ulysses adalah salah satunya), ada yang berani memasukkan judul ‘tak terkenal’ ke daftarnya, tapi tidak memasukkan judul yang sudah jelas ’seharusnya’ masuk daftar semua orang. Nggak ada masalah. Semuanya tetap berfungsi sebagai peta membaca. Dan, dalam hal peta yang satu ini, kesasar-sasar juga nggak apa-apa, karena di sini yang lebih penting menikmati perjalanannya kan, bukan tujuan akhirnya.
So, ada yang mau membantu menyediakan peta buat orang buta ini?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 17 komentar untuk artikel ini.
zenrs
Petanya sederhana: baca sebanyak mungkin. Mamah serakus mungkin.
Kalau Olenka aja blm baca, atau karya Rendra dan Putu aja masih bingung, waduh… sabar dulu deh. Jangan keburu bikin rangking2an. Entah berapa tahun lagi mungkin.
June 18th, 2007 at 3:37 pm
zenrs
Petanya sederhana: baca sebanyak mungkin. Mamah serakus mungkin.
Kalau Olenka aja blm baca, atau karya Rendra dan Putu aja masih bingung, waduh… sabar dulu deh. Jangan keburu bikin rangking2an. Entah berapa tahun lagi mungkin.
Lagian, anda kan buta toh? Emangnya orang buta bisa baca peta? Setauku blm ada peta berbentuk braile. Terlalu ribet bikinnya kalee…
June 18th, 2007 at 3:42 pm
roners
Perlu tuh peta, guide atau semacamnya.. Siapa yang buat? Ya, siapa aja yang merasa udah banyak baca. Tapi peta kayak gitu biasanya dimulai dari suatu riset yang ngumpulin sebanyak-banyaknya rekomendasi dari pelaku2 utama dunia sastra kita. Baru deh disusun. Siapa aja bisa buat. Masalahnya gak ada yang mulai
June 18th, 2007 at 6:38 pm
isyana
nah, roners, aku setuju ama kamu. masalahnya, belum ada yang mulai. perbincangan tentang sastra indonesia nggak rame kayak di amazon, contohnya. atauuuu…ya itu, ada nggak sih 500 books must read in indonesian literature atau sejenisnya? dan, sama kayak idemu, aku pernah berpikir untuk…kalau misalnya pas ketemu penulis siapaa gitu, terus iseng2 nanya, what is your top 5 greatest sastra indonesia of all time dan kenapa? hmmm, kayaknya aku emang udah harus mulai mbuat gitu deh
dan zenrs, kayaknya kamu salah ngerti deh maksudku. siapa aja bisa mbuat ‘ranking’, tapi aku menulis posting ini bukan bermaksud menyusun ranking. itu bukan esensinya. esensinya adalah ingin memunculkan dialog tentang mana nih, top 5 atau top 10 sastra indonesia, menurut masing-masing pribadi.
i want to know karya mana sih yang mewakili kebesaran nama seseorang. okeee, semua karya emang bisa berfungsi seperti itu. cuman, gini….
f scott fitzgerald misalnya (apakah aku terlalu sering menyebut namanya?). karya yang membuatnya dikenal, karyanya yang ’sempurna’ itu ‘the great gatsby’, tapi ketika aku mbaca ‘this side of paradise’, aku jadi ngerti platform2 yang dibangunnya untuk menuju ke ‘gatsby’. jadi, walaupun mungkin ‘this side of paradise’ hanya dikenal sekedar sebagai ’satu lagi karya fitzgerald’, but at least i know ‘apa’ yang sedang aku baca. aspek2 apa aja yang harus aku perhatikan. dan nggak menutup kemungkinan kan aku menemukan hal-hal lain yang bisa diapresiasi.
diskusi-diskusi seperti ini yang belum aku dapetin dari penikmat sastra indonesia.
btw, peta buat orang buta, ya kenapa enggak? film buat orang buta juga ada kok, aku bisa dan pernah nonton bareng orang tuna netra. software katalog perpus buat orang buta juga ada. computer camp orang buta juga ada. kenapa nggak bisa ada peta buat orang buta? (semuanya terjadi di indonesia, jakarta tepatnya)
June 18th, 2007 at 7:53 pm
zenrs
“diskusi-diskusi seperti ini yang belum aku dapetin dari penikmat sastra indonesia.”
Masak sih? Ngelamun ya? Anda kalau diskusi di mana sih?
Pekerjaan menyusun-nyusun ranking macam itu percuma. Gak akan pernah ketemu. Setiap orang gak akan sama pilihannya. Karena tiap orang punya magnum opusnya sendiri-sendiri.
Anda menulis begini: “…Dan zenrs, kayaknya kamu salah ngerti deh maksudku. siapa aja bisa mbuat ‘ranking’, tapi aku menulis posting ini bukan bermaksud menyusun ranking. itu bukan esensinya. esensinya adalah ingin memunculkan dialog tentang mana nih, top 5 atau top 10 sastra indonesia, menurut masing-masing pribadi.”
Lha yang mena yang bener? Katanya esensinya bukan membuat ranking? Tapi kok malah bilang “sekadar memunculkan dioalog tentang mana top 5 atau top 10 sastra indonesia menurut masing-masing pribadi” Ya, sama aja lah membuat ranking esensinya. Konsisten dikit nape?
Oh ya, film untuk orang buta mah aku juga udah tau. Tapi peta untuk orang buta? Hmmm… saya blm pernah dengar. Kalau pun ada, hanya mungkin digunakan di negeri yang ramah dengan para diffabel karena toh orang buta tu tetaP membutuhkan bantuan rang lain.
Kalau pun film untuk orang buta ada, blm tentu peta untuk orang buta ada. Karena keduanya gak berhubungan. Membandingkan keduanya gak tepat, non!
Orang buta, pertama-tama, lebih butuh tongkat, setelah itu baru peta. Kedua, peta baru berguna ketika seseorang tahu dia ada di titik koordinat mana dalam peta yang ia pegang. Kalau kita gak tahu ada di mana, peta yang kita pegang akan sia-sia.
Satu lagi, kasih tahu di mana saya bisa mendapat peta untuk orang buta di Jakarta. Kalau gak bisa menunjukkan, hati-hati dong kalau bicara.
Saya rewel soal “orang buta yang butuh peta” itu sekadar mengajak anda untuk lebih berhati-hati memilah diksi. Dan kudu konsisten. Jangan sampai mentang-mentang cuma nulis di blog terus bisa sekenanya asal njeplak.
Sebagai sesama blogger, kita mesti menocba mengingatkan banyak orang bahwa catatan-catatan yang kita simpan di bog bukanlah sampah.
June 19th, 2007 at 3:18 pm
isyana
iya, aku ngerti semua orang punya magnum opusnya sendiri-sendiri. nah, isinya magnum opus semua orang itulah yang lagi aku cari. what’s in your magnum opus, by the way? kamu, aku yakin, udah jauh lebih sering ikut diskusi tentang sastra indonesia dibanding aku. ya nggak heranlah kalau kamu ngasih komentar di sini.
top 5 atau top 10 atau apapun itu…hmm, mungkin aku salah menyebutnya top 5, tapi aku keseringan baca dan nonton ‘high fidelity’ yang sering mbuat daftar top 5 tapi disusun dengan no particular order. mungkin lebih tepatnya, lima terhebat in no particular order. maksudku lebih ke situ. maaf kalau ada salah pemahaman yang membuatku terkesan tidak konsisten.
tentang yang di jakarta, itu me-refer ke fasilitas-fasilitas yang saya sebutkan, bukan peta. tentang film dan peta tidak berhubungan, secara langsung, memang sih. tapi aku melihatnya dengan gini…film ditampilkan lewat bahasa visual, sementara orang buta kan tidak lancar ‘membaca’ bahasa itu. so, kalau sesuatu yang berbahasa visual aja bisa diterjemahin ke bahasa yang bisa dimengerti para tuna netra, kenapa hal-hal lain tidak? peta, terutama.
oke, kita sama-sama mengingatkan ya. thank you, bos.
June 19th, 2007 at 6:15 pm
firman firdaus
sabar bung zen,
soal peta buat orang buta
Ah, sejarawan dan sastrawan partikelir seperti ente pasti tahu yang dimaksudkan isyana. Yup, betul. mestinya kalimat itu (atau kata peta dan buta) diberi tanda petik sebagai penanda bahwa itu adalah ungkapan, bukan makna sebenarnya.
soal ranking
ente betul. setiap ranking nggak akan mendapat titik temu. tapi, memang bukan titik temu itu yang dicari bukan?
menurutku ini menjadi semacam “panduan” bagi para penikmat sastra untuk lebih mudah memilah bacaan. that simple. semakin banyak panduan, ya semakin banyak pilihan. ya tidak apa-apa. tapi saya yakin 100% pasti ada irisan yang bisa “menyaring” sedemikian banyak pendapat.
sepakat kang. menulis, apa pun medianya, harus bisa dipertanggungjawabkan.
June 22nd, 2007 at 1:28 am
tootsie
hehehe.. seru juga ini diskusinya… sebagai orang awam sekali di dunia kesusastraan indo (mudah2an bener nulisnya)apalagi mancanegara spt yg disebut mba isyana, saya levelnya masih playgroup, mungkin malah “batita”, “wong” paling banter agatha christie, john grisham, yaaa yg populer n ringan2 aja… kalo yang indo, bukunya pram juga baru satu yang kebaca, tapi boleh ya kasih komen? :)
saya sengaja suka baca2 di blog ini buat menambah wawasan ttg buku2 yang sebelumnya jarang dibahas di majalah atau korang biasa… soal dibuat top2 ato must read itu tadi terserah aja, kayaknya ga ada ruginya juga, membuat orang lebih tertarik dan ingin tahu lbh besar,penasaran..kenapa kok bisa dikategorikan top?? hehe.. semakin banyak orang tau bacaan yang bermutu kan malah bagus… kalau nantinya ada banyak versi ‘must read’ ya ga pa pa juga, kucing garong aja ada versi jawa, versi indonesia, versi disco…hehehe… tapi semuanya bikin orang hepi bukan??… kalo dari top2 itu tadi bisa bikin orang tambah bermutu, hayuk aja atuh…
June 27th, 2007 at 12:49 am
dicky
buat mas zen, kayaknya soal tongkat dan buta itu nggak perlu diperpanjang deh, hehe…
saya baca di blognya mas firman ternyata Horison pernah tuh bikin top ten cerpen indonesia, dalam ultah 15 tahun horison.
June 27th, 2007 at 1:55 pm
zenrs
Saya kan biasa bikin “panas” forum, bung Firman. Biar gak adem. Masak gak ada diskusi sama sekali. Hehehe…
Lanjuuuutttt, mang.
June 27th, 2007 at 6:13 pm
isyana
hehe, iya zenrs, forum ginian harusnya rame. setidaknya karena orang-orang seperti elu lah, penulis blog bakal keinget untuk ‘bisa’ dituntut accountable untuk tulisannya. gk sekedar nyampah, seperti kata elu.
June 27th, 2007 at 8:06 pm
sayyid
Mengenal Sastra Indonesia sih gak perlu rumit2… Cukup baca buku sastra sebanyak-banyaknya…
Yang pasti, di Indonesia yang dinamakan sastra itu beda tipis sama yang populer… Nah, menurutku inilah yang membuat sastra Indonesia gak hidup dan kurang dikenal dunia. Meski dulu kita punya Pram, yang karya2nya sudah diterjemahkan oleh berbagai bahasa.
Kapan ya, Indonesia dapat nobel sastra?
July 1st, 2007 at 4:39 pm
zenrs
Sayyid menulis: “Yang pasti, di Indonesia yang dinamakan sastra itu beda tipis sama yang populer… Nah, menurutku inilah yang membuat sastra Indonesia gak hidup dan kurang dikenal dunia.”
Saya bertanya: “Apa mahluk yang anda maksud dengan ‘karya sastra’ dan ‘karya populer’? Kasih tunjuk pada saya di mana batas keduanya? Beri saya penjelasan, jika memang ada itu ‘karya sastra’ dan ‘karya populer’, bagaimana penjelasannya tiba-tiba anda menyimpulkan hal itu sebagai sebab tidak hidup dan tidak populernya karya sastra Indonesia?”
Saya heran, masih ada orang yang doyan dengan dikotomi begituan dalam membaca sastra indonesia!
July 1st, 2007 at 7:23 pm
Firman Firdaus
sepakat dengan zen. kata-kata “populer” itu sendiri bisa “misleading” (halah!). lha, karya Pram juga amat populer kok, di seluruh dunia bahkan.
July 2nd, 2007 at 4:58 pm
Andre GB
ada situs sastra yang memuat karya-karya dari seniman-seniman muda di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo.
Kunjungi di: sastramanado.co.nr
May 30th, 2008 at 11:18 pm
fajar
salam kenal ya.
August 15th, 2008 at 12:23 am
Janie Wilder
mt0nhiz3sz9hv9ai
November 13th, 2008 at 4:43 am