You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Gadis-gadis Suburbia
Seperti sudah ditulis Sayyid di Dunia Buku, Penerbit Serambi menerbitkan edisi Indonesia karya kedua penulis Jeffrey Eugenides, “Middlesex”. Aku pernah mbaca buku ini sekitar 2003 atau 2004-an, membelinya pas baru pertama kali terbit. Cepet-cepet belinya karena penasaran banget. Dan karena dapet book voucher juga siiihh.
Tapi, aku penasaran sama jalan ceritanya, tentang “Cal/Calliope” remaja perempuan berkelamin ganda. Dan penasaran sama Jeffrey Eugenides, yang katanya salah satu penulis favoritnya sutradara Sofia Coppola (”The Virgin Suicides”, “Lost in Translation” dan “Marie Antoinette”). Yah, aku ingat, sekitar tahun-tahun 2003-2004, aku lagi ngefans banget ama Sofia gara-gara “Lost in Translation”. Novel pertamanya Eugenides, The Virgin Suicides difilmkan oleh Sofia dengan bintang utama Kirsten Dunst. Belum mbaca bukunya, tapi pas nonton filmnya, aku jatuh cinta sama ceritanya. Tentang lima kakak beradik perempuan Lisbon, yang semuanya cantik dan sempurna dari mata naratornya, tapi lima-limanya hidupnya berakhir dengan bunuh diri.
Buku itu pertama diterbitkan pada 1993, dan “Middlesex” terbit sekitar 2003 lah. Aku inget, soalnya pas baru terbit ada wawancara dengan Eugenides yang dibilang sama pewawancaranya novelis 10 tahun sekali.
Anyway, aku melihat ada beberapa unsur yang sama dari dua novel ini. Tokoh-tokoh utamanya, sama-sama remaja perempuan yang tinggal di suburbia dan merasa dirinya ‘bermasalah’. Pada akhirnya, mereka dihadapkan pada akhir yang, menurutku, dashyat. Lima gadis muda bunuh diri (please, ini bukan spoilers. Judulnya aja “Virgin Suicides”. Kayak “Snakes on a Plane”, masa aku bilang itu spoiler?) dan satu gadis remaja berubah kelamin jadi remaja laki-laki.
Gadis-gadis itu sama tinggal dengan keluarga yang…sebenarnya bisa sih kalau mau dituding sebagai penyebab ‘nasib’ mereka. Gadis-gadis Lisbon berakhir seperti itu, salah satu penyebabnya, karena ibunya. Sementara apa yang terjadi pada Cal/Calliope bisa dirunut sampai kakek-neneknya.
Middlesex, dilihat dari jumlah halamannya, termasuk buku besar (Perfect holiday book, yay!). Dari segi lokasi, tema, waktu, kisah, ini juga cerita yang…nggak heran butuh 10 tahun energi sang penulis untuk menyusunnya. Dari mulai cerita kakek-nenek Calliope di Asia Minor sampai ke tempat mereka bermigrasi dan menetap di Detroit dan memiliki Calliope sebagai cucu mereka. Sebagian sejarah keluarga, sebagian sejarah dunia, sebagian cerita-cerita growing up dan masa puber. Tapi, pada akhirnya, ’status’ hermaprodit yang diberikan Eugenides untuk Cal/Callie tidak diposisikan sebagai sebuah hukuman dari Tuhan atau membuatnya menjadi seorang ‘freak’. Cal/Callie yang menyambut identitas barunya, pada akhirnya, diposisikan seperti kisah-kisah pencarian jati diri yang dialami kebanyakan orang.
Ah, satu lagi buku yang masuk daftar “to read again”-ku.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.