You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Manusia Ideal

Manusia Ideal

isyana — June 23, 2007 / 4:16 pm

Dari “The Inn at Lake Devine” yang sudah aku review di beberapa posting sebelumnya:

She liked to read, although I found most of her books woefully babyish. When I read aloud to hear from The Fountainhead, she promised she’d find a copy in Farmington.

Dan dari “Little Altars Everywhere” (sudah pernah nonton film “Divine Secrets of Ya-Ya Sisterhood” yang dimainin Sandra Bullock? Nah, buku ini ceritanya tentang masa kecil karakter Sandra Bullock itu, Siddalee Walker, namanya. Nanti aku review di sini juga bukunya):

She drives straight out to Pearl’s Plunge, a concrete pool with spring water, where they have dance pavilion and all. We swim and lie in the sun all day and eat corn dogs from the concession stand. Every once in a while she reads out loud to me from this book, The Fountainhead, all about this architect that everyone misunderstands. I completely forgot to ask what she and Charlene are going to laugh about.

Pernah ngebaca nggak, satu buku yang bener-bener membuat pikiran kita terbolak-balik? Bener-bener mengubah cara pandang kita terhadap satu persoalan atau terhadap dunia secara keseluruhan? Yang membuat kita merasa tahu terlalu banyak? (Sebelumnya aku pikir ‘tahu terlalu banyak’ itu sesuatu yang tidak mungkin, tapi sekarang, aku merasa itu mungkin. Dan kadang, aku menyesali ‘keadaan’ itu. And believe me, I’m the type of person who always wants to know more). Di satu sisi, kamu merasa buku itu merusak kepolosan dan kenaifanmu, dan berharap kamu bisa balik ke kondisi ‘tidak pernah mendengar atau membaca buku itu’ sehingga cara berpikirnya tetap simpel, tapi di sisi lain, kamu merasa beruntung menemukan buku yang berisi banyak jawaban?

Setiap orang pasti punya versi masing-masing dari buku ‘jawaban’ itu. Aku punya seorang temen yang merujuk pada Sang Alkemis-nya Paulo Coelho. Buku ‘jawaban’ku, mau atau tidak dan malu atau tidak mengakuinya, adalah The Fountainhead.

Bermula dari percakapan Rory dan Jess (Gilmore Girls) tentang The Fountainhead. Rory loves it, Jess tidak mengerti ‘what this crazy woman is babbling about’. Dari situ, iseng-iseng pergi ke toko buku dan menemukan bukunya, cover depannya aktor Hollywood lawas Gary Cooper yang membintangi versi filmnya buku ini.

Tebal bukunya sekitar 680 halaman dan melelahkan membacanya. Tapi aku tidak bisa berhenti. Penulisannya benar-benar sebuah tour de force. Pada saat membacanya, aku tidak begitu mengerti beberapa bagian dari buku itu, tapi sampai sekarang, ketika aku melihat sebuah situasi tentang mediokritas yang dilebih-lebihkan atau betapa individualitas tidak dihargai atau ‘bahayanya’ seorang polisi budaya yang mencoba menentukan nilai budaya yang luhung dan yang ’standar’ (dan entah kenapa, kok hal-hal ini sekarang sering aku temukan di dunia ‘orang dewasa’ku), aku terus-terus teringat sama Howard Roark, karakter utama The Fountainhead, “this architect that everyone misunderstands”. Sekarang, aku jadi ngomong sendiri, “oooh, ini to yang dimaksud di The Fountainhead”. Dan sekarang sudah sekitar lima tahun lewat dari terakhir kali membacanya. Efek pasca pembacaannya sedashyat itu buatku.

Ceritanya tentang seorang mahasiswa arsitektur, awalnya, namanya Howard Roark yang dikeluarkan dari sekolah karena individualitasnya, ia tidak ingin patuh pada nilai-nilai tradisional yang diterapkan sekolah itu. Lalu ada juga perjalanannya menjadi seorang arsitek yang berprinsip, “I will not look for clients. But clients will look for me.” Bahwa ini orang yang begitu yakin sama kemampuan dirinya dan individualitasnya sampai-sampai orang lain akan mengenalinya dari dua hal itu.

Prinsip inilah yang membuatku yakin bahwa The Fountainhead adalah bacaan remaja yang dashyat, walaupun tebalnya nggak kira-kira. Inilah masa individualitas seharusnya benar-benar muncul, you have your whole life to fit in the crowds dan berkompromi akan banyak hal, tapi untuk menjadi individual? Masa remajalah yang paling pas.

Dan nggak heran kalau Natalie Marx di “The Inn at Lake Devine” membaca The Fountainhead di usianya yang ke-14, sementara Siddalee sudah bisa menangkap tentang apa novel itu saat dibacakan cuplikannya oleh tantenya Aunt Jezzie.

Tapi, selain Roark, Fountainhead juga mengenalkan kita sama Ellsworth Toohey, si karakter ‘polisi budaya’ itu, yang membentuk sebuah kelompok diskusi seni tersendiri dan meyakinkan bahwa individualitas adalah sesuatu yang salah. Yang penting adalah karya disukai sebanyak mungkin orang. Lalu ada karakter arsitek lain yang jadi ‘lawan’ Roark, Peter Keating. Tampan, menghasilkan karya-karya yang populer dan mendatangkan banyak kesuksesan, dan pandai mengambil hati orang. Dan ada Dominique Francon, perempuan cantik yang tak percaya dengan mediokritas dan menemukan keseimbangan di Roark. Tapi, ia juga jadi ‘rebutan’ antara Roark, Keating dan seorang raksasa media bernama Gail Wynand.

Wynand, sepanjang aku membaca buku, aku merasa dia sebenarnya adalah sosok yang mirip dengan Roark. Tapi entah kenapa, dia berubah. Dia tetap tak percaya dengan selera atau suara populer, tapi dia (tampaknya) menyerah pada tuntutan ini. Di ringkasan Wikipedia, Wynand dibilang sebagai “a man who could have been”, sementara Roark adalah contoh manusia idealnya.

Buat yang mau masuk jurusan Teknik Arsitektur, ini buku yang pas banget. Ayn Rand, penulisnya, menyediakan banyak detil tentang bangunan-bangunan bergaya individual yang dibangun Roark atau bangunan-bangunan Keating yang yaaa…memenuhi tuntutan pasarlah istilahnya. Dan buat yang mau menciptakan suatu karya dan butuh dorongan keberanian, ini juga buku yang pas.

(Post Note: “The Fountainhead” yang tebelnya kayak gitu dibilangin Rand sebagai sekedar pembukaan untuk sebuah simfoni lengkap berjudul “Atlas Shrugged”. Sejujurnya, walaupun Fountainhead adalah sebuah buku yang amat sangat kuat, aku nggak yakin apakah aku pengen membaca sesuatu yang aku bayangkan sebagai Fountainhead dalam skala yang lebih intens dan volume yang lebih tebal. Mungkin kedengarannya bodoh, tapi I don’t want to know too much than what I already knew.

Ini mungkin kedengarannya lebih bodoh, tapi, tau kan, masa sebelum Aa Gym pamornya turun, terus banyak orang favoriiiiiit banget sama sosoknya? Nah, aku malah ketakutan sama orang yang bisa menarik segitu banyak massa. Karena, menurutku, untuk berada di posisi seperti itu, dia pasti sudah berkompromi begitu banyak. Aku ‘menyalahkan’ The Fountainhead untuk itu. Juga untuk kebencianku sama hal-hal yang, menurutku, bersifat populer. Tapi ya, di sisi lain, aku menemukan ‘jenius-jenius’ yang ‘belum’ terkompromi dan terasa genuine. Dan menemukan ‘Howard Roark-Howard Roark’ lainnya terasa sangaaaaat memuaskan).

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...
  • Herman Suryadi, S.Pd. — Bung Hudan Hidayat Aku lagi nyusun riwayat penyair - sastrawan kelahiran Bengkulu kotaku. Aku minta dikirimkan biodata/riwayat lengkap anda + ...
  • zulhaiban — iya ya, kenapa wartawan tidak mencantumkan gelarnya disusunan redaksi maupun ID Card wartawannya. Mungkin wartawan tidak ingin diketahui latarbelakangnya kali, ...
  • Sayyid fahmi alathas — Menanggapi buku esai nabi tanpa wahyu hudan hidayat. ...
  • hudan hidayat — iya isyana kamu di multiply juga ya? rame di sana kan. sastra memang untuk siapa saja tak ada patokan. maaf aku ...
  • DARIATI — mau donk ikutan LoMba, waLaupun Tidak Lesbian.... sTidaknYa kita berPartisipaSi sMa Tmen2 YaNg PuNya kElaiNan Seksual......
  • yuliana — houwwww, Q tertarik.... 1 hal Q tny.... yg m'adakan adl skul tinggi agama islam, bleh kah non-i juga ikut?
  • yulyanto — Mba ‘Is, Aku mohon ijin tautkan link URL-nya Mba ini ke blog saya (www.yulyanto.com) yach ????….. Tx-alotz
  • Sayyid fahmi alathas — Seni dalam kaijan ilmiah karya sastra ...