You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Sekali Lagi untuk Nona Satrapi

Sekali Lagi untuk Nona Satrapi

isyana — June 26, 2007 / 10:06 pm

(Pertama-tama, aku membayangkan apa yang aku rasakan ini hanya akan terjadi ketika aku masih kecil, tapi ternyata masih kejadian sampai sekarang).

Minggu malam yang lalu, aku nggak sabar banget pulang ke rumah karena tahu bapakku bakal balik dari perjalanan dinas. Membawa pesananku. “Persepolis 2: The Story of a Return”-nya Marjane Satrapi.

Buat pembaca blog ini, pasti nggak asing sama kefanatikanku dengan Persepolis. Jadi, ketika bapakku bilang beliau sudah dapat bukunya, duuhhh, nggak sabaaaaar banget nunggu Minggu malam.

Pas sampai rumah, sudah langsung ngeliat buku itu yang ternyata…hardcover, lumayan tebel dan edisinya cukup besar. “Nggak ada yang softcover nih?”

“Enggak ada. Hardcover semua,” kata bapakku. Oooh.

Buku kedua ini ceritanya memang jadi lebih panjang, lebih banyak berpindah tempat dan lebih terasa nada curhatnya. Buku pertamanya terasa lebih imajinatif, lebih fun, lebih jenaka, lebih sederhana tapi lebih menyentuh–buatku ya, karena aku lebih sering nangis mbaca buku pertama. Yang kedua, terasa lebih serius dan lebih ‘normal’. Mungkin karena yang diceritakan adalah hal-hal yang sering kita temui sehari-hari. Marjane di buku pertama bisa hidup di dunianya sendiri. Marjane di buku kedua, ia memang masih hidup dengan standar-standar normanya yang ia anut sejak dulu, tapi di sini ia lebih sering berhadapan dengan tuntutan-tuntutan ‘dunia nyata’.

Tapi lewat buku kedua, aku juga jadi makiiiiin jatuh cinta sama orangtuanya Marjane. This is the kind of parents that I want to be someday. Ya, nggak usah jauh-jauhlah; this is the kind of parents that I wish I had.

Oke, first things first. Buku kedua settingnya udah langsung pindah ke Austria, tempat Marjane tinggal saat ia berusia 14 sampai 18 tahun–bagian akhir buku pertama kan settingnya di bandara, saat Marjane mau berangkat–. Dari situ dimulailah cerita kehidupannya di Austria sebagai “thirld-worlder”, bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru, punya pacar, mencari kamar sewaan, tinggal di jalanan, sampai akhirnya pulang kembali ke Iran. Terus mulai lagi deh cerita tentang kehidupan Marjane sebagai perempuan dewasa di Iran dengan segala restriksinya dan pemikiran-pemikirannya yang terbuka dibanding masyarakat tempat ia tinggal.

Ada satu adegan yang membuatku teringat sama bagian awal “Reading Lolita in Tehran”. Marjane dan teman-teman kuliahnya sering kumpul-kumpul bareng di rumah salah satu dari mereka. Narasinya begini:

“The more time passed, the more I became conscious of the contrast between the official representation of my country and the real life of the people, the one that went on behind the walls.”

Terus, ada gambarnya deh, 13 perempuan, tertutup semua dalam warna hitam kecuali muka dan tangan mulai pergelangan. Di bagian bawahnya, 13 perempuan (yang sama?) difoto dengan identitas ‘lengkapnya’. Tanpa jilbab hitam, walaupun bajunya semua hitam, tapi dengan lipstik, dengan gaya rambut yang berbeda-beda, bentuk kerah berbeda dan belahan dada dengan ketinggian yang bervariasi pula. “Adegan” ini ada juga di ‘Reading Lolita in Tehran’. Azar Nafisi dan murid-muridnya pertama foto dengan jilbab dan baju panjang hitam, terus di foto kedua pada lepas jilbab. Tiba-tiba ada kejutan warna, katanya Azar Nafisi.

Hmmm. Kayaknya aku bakal langsung membaca lagi Persepolis deh malam ini. Masih banyak aspek yang harus aku cerna lebih lanjut.

Oh ya, Bookslut ternyata punya wawancara dengan Satrapi. Cannes Film Festival 2007 lalu juga ternyata memberikan penghargaan Jury Award untuk versi film Persepolis. Kalau mau melihat potongan-potongan adegan filmnya, bisa dilihat di sini.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Prof. Haris Prima — anjinnggg.,.lho emg pintar..salutt
  • petrus adi utomo — cicipi maduku bila kau belajar hidup datanglah pada duri rasakan cicipi onaknya naik ke gunung rasakan penatnya daki baru nikmati sehatmu ringanmu ketika menjejaki hidup ...
  • ade — buat BUMI : Kalau anda memang tau kisah pribadi Andrea Hirata dari sumber langsung (tdk melalui orang lain apalagi media ...
  • enny — ass... annida kalo ada lomba lagi kasih tahu lewat email ku yaw!!! syukron
  • nyoek — ide yang bagus capa tau bisa menang, bisa buat beli kerupuk tuh! kalo perlu lombanya ditambah biar lebih seruuuuuuuuuuu!
  • Andi Zulkifli — Hai, salam kenal
  • sati — aku mau tanya kalo mau ikut lombanya gimana? kalo bisa bales ke emailku yaaaaa....
  • aisha — aku belum sempet baca bukunya, tapi ada talkshow mengenai novel ini di kampus jadi lagi cari info tentang novel ini...^^ mungkin ...
  • Cherry Cooper — hi5dgsrn3enoz6r8
  • Janie Wilder — mt0nhiz3sz9hv9ai