Archive for July, 2007

Mengenal Katharine Hepburn

Monday, July 30th, 2007

(Pendahuluannya, walaupun sama-sama aktris, tapi yang ini nggak ada hubungan apa-apa sama Audrey Hepburn). Ada beberapa alasan yang membuatku ‘harus’ menyebut tentang Katharine Hepburn di bulan-bulan ini. Aktris yang punya catatan main film di tiap dekade sejak 1930an ini Mei lalu diperingati 100 tahun usianya dan 29 Juni lalu adalah peringatan empat tahun kematiannya. Tapi, siapakah dia sebenarnya?

Sekitar empat tahun lalu, waktu gelombang panas merangsek dataran Eropa, situs tempatku pernah ‘bekerja’ memberitakan meninggalnya Katharine Hepburn. Di berita itu, dimuat pula pranala ke sebuah eulogi di harian The Guardian yang ditulis oleh penulis Zadie Smith. Judulnya, “The Divine Miss H“. (Inget banget ama judulnya karena bacanya sambil super kepanasan)

Zadie Smith, dirinya sebagai penulis hebat, punya cara untuk membuatku teryakinkan akan kualitas Hepburn, bukan hanya sebagai seorang aktris, tapi juga sebagai seorang manusia. Sejak saat itulah, aku jadi terobsesi pengen mencari-cari film-film komedi romantis duetnya Katharine Hepburn-Spencer Tracy.

Nunggu-nunggu di BBC biar ada film dokumenter tentang kehidupannya atau film-filmnya dia–BBC tiap Sabtu atau Minggu siang suka muter film-film lama, waktu itu sempat nonton dua filmnya William Holden–ternyata nggak muncul-muncul. Akhirnya setelah beberapa minggu lewat, baru ada “Bringing Up Baby”. Cary Grant yang…bayangkan George Clooney deh bandingannya di dunia modern. Yang selalu jadi tipikal heartbreaker, tampan, cool, di situ jadi sosok arkeolog yang canggung dan kaku ketika harus berhadapan dengan Hepburn.

Hepburn, si dewi berambut merah itu, sepertinya selalu punya karakter khas yang dia mainkan. Percaya diri tinggi, berani, selalu mengejar apa yang dia mau (dalam hal ini karakternya Grant), tahu caranya bersenang-senang, cerdas, keras kepala, uh, seperti katanya Zadie Smith,

The kind of woman she played, the kind of woman she was, is still the kind of woman I should like to be…

Mencari-cari di Jakarta film-filmnya Katharine Hepburn, belum pernah ketemu. Oke, mungkin ada yang “On Golden Pond”, tapi itu kan Katharine di usia tua, aku ingin melihat dia berperan sebagai ya itu…karakter di komedi-komedi romantisnya, seperti di Philadelphia Story, Woman of the Year atau Adam’s Rib.

Nah, di tengah-tengah kefrustrasian itu, aku menemukan “Katharine Hepburn: Kate Remembered a Personal Biography“. Sebenarnya agak ragu sih ketika memilih membaca sebuah biografi. Masalahku dengan genre ini adalah ada sesuatu yang mengesalkan dengan subyektivitas penulisnya. Aku selalu punya prasangka lebih dulu sama penulisnya. Otobiografi, aku bisa lebih memaklumi. Ya namanya juga diri sendiri bercerita tentang diri sendiri gitu lho. Tapi kalau biografi, aku agak ragu, nantinya malah yang dimunculkan promosi kedekatan antara si penulis dan subyek.

Yang sebenarnya terjadi di buku ini. Mungkin karena ada embel-embelnya ‘personal biography’ jadi kita ‘harus’ memaklumi ketika ada cetusan-cetusan narsisistik si penulis kali ya? Cetusan-cetusan itu makin banyak di bagian akhir, saat Kate sudah tak bisa lagi bercerita, sering mogok makan, sampai akhirnya meninggal.

Tapi okelah, apa pun kelemahannya, buku ini masih bisa sedikit memuaskan kehausanku akan apapun Kate. Sayangnya, dari situ aku malah jadi pengen mencari lebih banyak tentang Kate. Karena nggak ada filmnya, hal terdekat ke Kate yang bisa aku temukan adalah versi bukunya “The African Queen” karya CS Forrester yang filmnya pernah dibintangi oleh Kate dan Humphrey Bogart (sudah pernah nonton Casablanca? Harus pokoknya). Dan ya, itu Kate di sampul depannya.

Karena belum menonton filmnya, aku nggak tahu versi mana yang lebih aku pilih. Tapi selalu menarik buatku untuk membaca bagaimana sebuah petualangan di atas kapal atau perahu ditulis. Apalagi yang ini mengambil tempat di sungai-sungai pedalaman Afrika. Serangga, cabang-cabang sungai, malaria, kurang bahan bakar bisa jadi salah satu dari beberapa elemen yang menyumbang pada dampak fatal.

Rose Sayer, karakter yang diperankan Kate dalam film, memang tipikal Kate. Tak bisa tinggal diam. Harus melakukan sesuatu agar sebuah perubahan terjadi. Belum lagi keras kepalanya dan determinasinya yang kadang berbatasan dengan kegilaan. Tapi ya itu hanya sekedar masalah sudut pandang kan sebenarnya?

Tapi, aku juga melihat karakter Charlie Allnut dan Rose juga kurang memiliki hal-hal yang membuat karakter mereka ‘dikenal baik’. Maksudnya, aku nggak terus-terusan berpikir atau mengingat mereka ketika buku itu selesai dibaca. Lebih terasa datar. Hmm, mungkin yang akan membuatnya memorable adalah penampilan Kate di sini ya?

Popularity: 13%

101 Orang Paling Berpengaruh…

Sunday, July 29th, 2007

….tapi mereka tak pernah hidup di dunia nyata.

Ceritanya berawal dari sekitar dua minggu yang lalu, sebelum aku pergi liburan keluarga. Di Periplus Soekarno Hatta melihat buku dengan judul yang ‘lucu’; “101 Most Influential People Who Never Lived”. Intinya sih tentang bagaimana karakter-karakter fiksi, mitos, legenda, televisi dan film telah ikut membentuk masyarakat kita, merubah perilaku kita dan menentukan arah sejarah.

Aku tertarik sama buku ini, karena, satu, aku suka apa pun yang berhubungan dengan daftar. Valid atau tidaknya sih nanti-nanti aja, tapi yang lebih penting, unsur fun-nya dulu terpenuhi, hehe. Daftar buatku termasuk hal yang menyenangkan. Terus, sebagai seorang pecandu budaya pop, aku jadi tertarik kira-kira siapa sih karakter menarik yang belum aku kenal atau karakter favoritku ada yang masuk daftar nggak. Yah, lumayan buat menambah-nambah referensi lah. Tapi sebenarnya dari judul aja kan udah menarik banget. Penulisnya, Allan Lazar, Dan Karlan dan Jeremy Salter punya argumen bahwa masyarakat kita sekarang bukan sekadar bentukan dari manusia-manusia ‘beneran’, tapi juga karakter fiksi dan legenda.

Penulis-penulisnya memang mengakui, ada dari karakter-karakter ini yang berasal dari tokoh nyata, tapi karakter mereka sebagai tokoh fiksilah yang memberi dampak lebih besar dari ’sekedar’ jadi manusia biasa.

Yang dimasukkan memang, karakter-karakter yang menurut penulisnya mempengaruhi masyarakat Amerika. Jadi, sangat subyektif memang dan sangat bisa didebat. Tapi hal-hal seperti ini kan yang kemudian memicu versi-versi lain di kebudayaan masing-masing orang. Kalau sebelumnya, tentang daftar, ada komentator yang menanyakan, buat apa sih repot-repot, nggak ada gunanya juga. Jawabanku, karena menyusunnya adalah hal yang menyenangkan. Sesuatu yang menyenangkan memang seringnya nggak butuh maksud kan? Heheh.

Oke, di daftar buku ini ada tokoh-tokoh mitologi Yunani, Pandora, Helen, Odysseus, Midas, Icarus, Hercules, menyebut beberapa di antaranya. Ada juga karakter dari cerita rakyat (folktales) seperti Hansel dan Gretel, Cinderella, atau di kategori legenda ada Robin Hood dan Raja Arthur.

Kategori-kategori lainnya seperti monster, stereotip, petualangan, kriminal, Americana (Uncle Sam salah satu contohnya, GI Joe juga, pun John Doe), sastra, karakter di fiksi untuk anak-anak (Peter Pan dan Alice), teater, film, emansipasi perempuan (detektif muda Nancy Drew dan Buffy the Vampire Slayer berdampingan dengan Lady Chatterly dan Hester Prynne). Ada pula kategori komik dan animasi (Superman, Bambi, Betty Boop, Mickey Mouse), iklan (Marlboro Man dan Barbie), propaganda (Big Brother, salah satunya), dan televisi.

Kalau misalnya buku ini versi Indonesia, aku membayangkan pasti bakal ada Malin Kundang, kalau malah nggak muncul di nomor satu. Mitologi Yunani mungkin punya Helen, kita punya Ken Dedes atau Loro Jonggrang. Nyai Ontosoroh juga mungkin bisa jadi contoh di kategori emansipasi perempuan. Siti Nurbaya juga mungkin bisa ada di kategori yang sama, walaupun ia bisa jadi contoh skenario terburuk. Minke, aku pernah baca di mana ya, katanya Minke adalah prototipe manusia Indonesia dengan wawasan kebangsaan yang tidak lagi membeda-bedakan suku. Terus siapa lagi ya? Ada ide lanjutan?

Popularity: 17%

Merunduk Takzim di Hadapan Atticus Finch

Sunday, July 29th, 2007

Tuan-tuan dan Nona-nona, perkenalkan. Calon ayah dari anak-anak saya. Seorang pengacara berusia paruh baya yang tinggal di daerah selatan Amerika. Namanya Atticus Finch.

Sekitar seminggu yang lalu, aku baru saja menyelesaikan (lagi) “To Kill a Mockingbird”. Memutuskan membacanya lagi karena sudah banyak bagian-bagian yang aku lupa dari buku itu. Terakhir kali membacanya, aku lebih berfokus pada sidang perkosaan yang dituduhkan dilakukan oleh seorang kulit hitam dan kasusnya dibela oleh Atticus. Tapi ternyata sidang ini bukan satu-satunya bahasan buku ini.

“To Kill a Mockingbird” juga penuh cerita-cerita tentang keseharian masa kecil anak-anak Atticus, Jem dan Scout. Juga tentang perilaku orang dewasa yang ditimbang dan dinilai oleh Scout, anak kedua Atticus yang pada awal cerita berusia enam tahun. Ini juga tentang proses pendewasaan Scout dan apa yang dipelajarinya dari peristiwa-peristiwa di Maycomb County, tempat mereka tinggal. “Mockingbird…” juga tentang sebuah kota kecil dan perilaku orang-orang di dalamnya. Tentang kebiasaan-kebiasaan mereka, karakter-karakter mereka, dan apa sebenarnya yang membuat orang ‘baik’ atau ‘buruk’. Semakin sedikit aku meringkas buku ini sebenarnya semakin baik. Ini adalah tipe buku yang tak butuh cerita banyak-banyak. Tinggal dinikmati saja.

Scout sebagai narator sama sekali tidak mengecewakan. Ia sangat lancar bercerita, cerdas, di balik karakternya yang cepat panas kalau mendengar ejekan tentang ayahnya, Scout sebenarnya anak yang sangat memikirkan pengaruh tindakannya pada ayahnya atau pada Calpurnia, pengasuh sekaligus juru masak mereka. Gadis kecil yang hangat, humoris, sampai aku sering berpikir, “Kok bisa-bisanya ya cara berpikirnya seperti itu?”

Ini satu-satunya karya Harper Lee, si penulisnya. Aku penasaran sama penulis-penulis hebat yang sampai sekarang masih hidup, hanya mereka tak lagi mengeluarkan karya-karya baru. Lee, misalnya. Dan pahlawan saya, Salinger, juga seperti itu. Mungkinkah mereka ketakutan, tak bisa lagi menciptakan karakter lain yang begitu kuat seperti Atticus Finch atau Holden Caulfield? Atau mereka sudah menyiapkan karakter-karakter dengan ‘nada’ sama tapi tak rela melepaskannya untuk jadi milik orang banyak? Atau malah ketakutan akan siapa pun yang mereka ciptakan pasti akan disamakan dengan karakter-karakter kuat yang pernah mereka tulis?

Aku memang masih bisa membolak-balik, membaca ulang karya-karya para penulis ‘hermit’ ini. Toh kualitas karya-karya mereka memang tak lekang, tampaknya malah tambah kuat oleh zaman. Masih tetap lentur dan lancar bertuturnya. Tapi, aku masih penasaran dengan cerita-cerita baru mereka.

Popularity: 16%

Bocoran, Bocoran

Thursday, July 19th, 2007

Beberapa hal memang tak pernah berubah. Harry Potter and the Deathly Hallows yang bakal terbit 29.01 jam lagi sudah bocor di internet.

(more…)

Popularity: 7%

Austen-austen Muda, Bertahanlah!

Thursday, July 19th, 2007

The Guardian nggak pernah kehabisan orang-orang yang melakukan hal-hal atau eksperimen unik untuk diliput. Ini salah satunya, Direktur Jane Austen Festival di Bath David Lassman iseng-iseng mencoba mengirimkan ulang karya-karya Austen pada banyak penerbit. Tujuannya sih mau mengetes seberapa besar sih kans-nya buku-buku Austen diterbitkan di masa sekarang.

(more…)

Popularity: 6%

Istri Sang Penjelajah Waktu

Tuesday, July 17th, 2007

Sorry, girls. Or boys. Sepertinya aku harus memberi cap “16 tahun ke atas” untuk buku yang satu ini. Alasannya, apalagi kalau bukan isinya yang dewasa. Okelah, kalau hanya ’sekedar’ petualangan seksual, ada sumber-sumber lain memang yang lebih grafis dalam penggambarannya. Tapi alasan yang membuat buku ini adalah konsumsi 16 tahun ke atas lebih tentang kronologis dan anatomi sebuah kisah cinta dan hubungan serius dari mulai awal sampai akhirnya. Atau mungkin, lebih tepatnya, dari bagian tengah, ke awal, ke akhir, ke tengah, maju sedikit, dan sampai di titik selesai, walaupun sebenarnya bukan akhir cerita.

(more…)

Popularity: 16%

Awal Sebuah Akhir

Wednesday, July 11th, 2007

Para penggemar Harry Potter pasti merasa senang ketika akhirnya buku terakhir yang ‘menyelesaikan’ semuanya terbit. Tapi juga pasti ada rasa sedih mengetahui petualangan Harry-Ron-Hermione, setidaknya lewat versi tulisan JK Rowling ya (nggak tahu kalau ada yang menambah lewat fan fiction), segera tamat.

(more…)

Popularity: 9%

Selamat Ulang Tahun Presiden Penyair

Wednesday, July 11th, 2007

Tahun ini, penyair Sutardji Calzoum Bachri merayakan ulangtahunnya yang ke-66. Dalam rangka memperingatinya Yayasan Panggung Melayu menyiapkan beberapa acara menarik. Ini, menurutku, kesempatan yang sangat bagus buat berkenalan (atau mungkin, lagi) dengan sosok dan karya-karya Sutardji.

(more…)

Popularity: 10%

Mati Ketawa Cara Voltaire

Friday, July 6th, 2007

Oke, oke, aku melebih-lebihkan dan aku harus lebih sering berlatih menulis judul. Tapi aku baru menyelesaikan novel pendek Voltaire yang judulnya ‘Candide’.

(more…)

Popularity: 16%

Remaja = Outsider?

Friday, July 6th, 2007

Apakah menjadi remaja (harus) selalu identik dengan menjadi seorang “outsider”? Tentang menjadi seorang yang asing dari lingkungannya? (Ugghh, membuka tulisan dengan sebuah pertanyaan tuh katanya yang paling gampang. Entah benar atau tidak pernyataan itu, tapi aku selalu merasa berdosa ketika melakukannya…)

(more…)

Popularity: 6%