You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Mati Ketawa Cara Voltaire
Oke, oke, aku melebih-lebihkan dan aku harus lebih sering berlatih menulis judul. Tapi aku baru menyelesaikan novel pendek Voltaire yang judulnya ‘Candide’.
Pertama, mungkin harus mulai dari cerita ini dulu. Minggu (1/7) lalu ada puisinya Joko Pinurbo dimuat di Koran Tempo. Salah satunya, judulnya ‘Duel’. Isinya pendek saja.
Buku, bacalah mataku!
(kalo nggak salah penempatan koma, huruf besar dan tanda serunya ya. Aku mencoba mengecek, nggak ada eksemplarnya lagi di sekitarku.)
Aku jadi geli membaca puisi itu karena isinya kurang lebih persis sama kayak doaku kalau lagi membaca buku. Rentang perhatianku membaca sebuah buku tuh sebenarnya pendeeeek sekali.
Gampang sekali jadi bosan.
Misalnya, yang terjadi sekarang, sebelum sampai ke ‘Candide’, diawali dari membaca ‘Old Goriot’-nya Balzac, baru sampai halaman 115an, bosan dan pindah ke ‘Istri Sang Penjelajah Waktu’ dan sampai ke halaman 300an tapi ternyata masih ada 300 halaman lagi sampai selesai, akhirnya bosan dan…pindah ke ‘The Heart is a Lonely Hunter’ sampai halaman 40an dan kembali lagi ke ‘Goriot’ sampai nggak berapa lama pindah ke ‘Candide’.
‘Candide’ karena tebalnya cuma sekitar 150an halaman dan bukunya ukuran mini pula (ketemu edisi bekasnya di Goedang Boekoe pojok Pasar Festival seharga Rp 10 ribu. Tapi aku pernah liat di Periplus edisi Dover Classics-nya harganya sekitar Rp 27 ribuan) jadi sebuah novel yang panjangnya pas untuk tidak membuatku berpaling. Dalam sehari bisa selesai 60 halaman, itu pun cuman perjalanan naik mikrolet Jatiwaringin-Kampung Melayu dan busway Kampung Melayu-Ancol. Besoknya, 60 halaman lagi. Lalu 10, lalu 20an. Selesai.
Tapi mungkin yang membuat halaman itu cepat berbalik juga cerita ‘Candide’ yang nggak perlu dibaca dua kali untuk sekedar memikirkan maknanya. Membaca beberapa bab awalnya, kesan yang aku dapat, sama kayak nonton film-film komedi a la Monty Python (berkat Ambassador, bisa dapet dan nonton “The Life of Brian”, “The Meaning of Life” dan “The Holy Grail”). Konyol, ringan, jenaka untuk topik-topik yang serius, tapi juga kejam. Tapi ya karena kejamnya juga di-dramatisasi dan tokoh-tokoh yang mati bisa dihidupkan lagi, kesannya jadi buku ini tidak takut menertawai atau membuat konyol dirinya sendiri.
Pada intinya sih ‘Candide’, yang juga nama karakter utamanya, adalah perjalanan panjang (tapi dirangkum dalam 120an halaman, jadi rasanya pendek) baik secara jarak atau pun pengalaman tentang upaya menjawab pertanyaan; benar nggak sih semua yang sudah terjadi itu adalah untuk yang terbaik. Juga tentang dunia yang kita diami sekarang adalah ‘the best of all possible worlds’.
Semuanya pasti punya opini masing-masing tentang pertanyaan-pertanyaan itu. Baru-baruuuu aja, pengalaman pribadi membuatku nggak percaya lagi sama ungkapan yang sering diomongin ibuku ketika aku nggak berhasil mendapatkan apa yang aku mau. Bahwa semua ini pasti ada kebaikannya. Baru sampai di tengah-tengah membaca ‘Candide’, aku tersadar kalau pada akhir buku, aku mungkin bisa menemukan jawaban benar atau enggaknya pernyataan itu. Dan, iya aku menemukannya. Tidak benar-benar membenarkan atau menyalahkan pendapatku sih. Tapi, yah, memuaskan sebenarnya. Ah, kayaknya ini bakal jadi buku favoritku deh.
Oh ya, buku ini menawarkan beberapa kutipan menarik, tapi yang paling aku ingat datang dari ‘asisten’-nya Candide, namanya Cacambo, dia bilang: “if we do not find something pleasant, at least we find something new”.
(Note: pernah menemukan kutipan itu juga pas nonton Tadpole, ohh, ternyata dari ‘Candide’ toh..).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
zenrs
Candide ya? Jadi inget prempuan yang “kulamar” dengan novel ini. Hehehe….
Apa boleh buat, yang paling menghentak dari Voltaire menrutku bukan karya fiksinya, tapi justru bukunya yang brjudul “Traktat Toleransi”.
July 9th, 2007 at 11:18 pm
isyana
berhasil? atau pada akhirnya, nasibnya jadi seperti cunegonde? hehehe.
July 11th, 2007 at 12:07 am