You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Remaja = Outsider?
Apakah menjadi remaja (harus) selalu identik dengan menjadi seorang “outsider”? Tentang menjadi seorang yang asing dari lingkungannya? (Ugghh, membuka tulisan dengan sebuah pertanyaan tuh katanya yang paling gampang. Entah benar atau tidak pernyataan itu, tapi aku selalu merasa berdosa ketika melakukannya…)
Harian The Guardian, dalam versi top 10 books terbarunya, meminta penulis Neil Griffiths membuat ‘daftar’ (hah!) tentang 10 buku yang menurutnya adalah buku ‘terbaik’ (hah lagi!) tentang ‘outsider’. Daftar lengkapnya ada di sini. Dan bisa ditebak, Holden kebanggaanku masuk ke daftar versi Neil Griffiths itu. Dari daftar itu aku baru membaca L’Etranger, Catcher in the Rye dan Jane Eyre. Oh, ‘Jane Eyre’, hmm…ingatkan aku untuk menulis resensinya di sini. Ini buku yang, menurutku, penuh energi, penuh passion dan sangat keras kepala.
Btw, apakah aku terlalu banyak menulis tentang buku-buku ‘menjadi outsider’ di sini? Maksudnya, menjadi remaja juga harusnya tentang jatuh cinta, ketemu lawan jenis, gelinya kupu-kupu di perut, dan hal-hal menyenangkan seperti itu kan?
Hmmm, kayaknya sudah waktunya aku membuka lagi Jane Austen-Jane Austen-ku. Percaya deh, buat bacaan yang solid good dan bisa membuat pipi memerah dan senyum-senyum sendiri, Austen; memang sehebat itu.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.