You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Merunduk Takzim di Hadapan Atticus Finch
Tuan-tuan dan Nona-nona, perkenalkan. Calon ayah dari anak-anak saya. Seorang pengacara berusia paruh baya yang tinggal di daerah selatan Amerika. Namanya Atticus Finch.
Sekitar seminggu yang lalu, aku baru saja menyelesaikan (lagi) “To Kill a Mockingbird”. Memutuskan membacanya lagi karena sudah banyak bagian-bagian yang aku lupa dari buku itu. Terakhir kali membacanya, aku lebih berfokus pada sidang perkosaan yang dituduhkan dilakukan oleh seorang kulit hitam dan kasusnya dibela oleh Atticus. Tapi ternyata sidang ini bukan satu-satunya bahasan buku ini.
“To Kill a Mockingbird” juga penuh cerita-cerita tentang keseharian masa kecil anak-anak Atticus, Jem dan Scout. Juga tentang perilaku orang dewasa yang ditimbang dan dinilai oleh Scout, anak kedua Atticus yang pada awal cerita berusia enam tahun. Ini juga tentang proses pendewasaan Scout dan apa yang dipelajarinya dari peristiwa-peristiwa di Maycomb County, tempat mereka tinggal. “Mockingbird…” juga tentang sebuah kota kecil dan perilaku orang-orang di dalamnya. Tentang kebiasaan-kebiasaan mereka, karakter-karakter mereka, dan apa sebenarnya yang membuat orang ‘baik’ atau ‘buruk’. Semakin sedikit aku meringkas buku ini sebenarnya semakin baik. Ini adalah tipe buku yang tak butuh cerita banyak-banyak. Tinggal dinikmati saja.
Scout sebagai narator sama sekali tidak mengecewakan. Ia sangat lancar bercerita, cerdas, di balik karakternya yang cepat panas kalau mendengar ejekan tentang ayahnya, Scout sebenarnya anak yang sangat memikirkan pengaruh tindakannya pada ayahnya atau pada Calpurnia, pengasuh sekaligus juru masak mereka. Gadis kecil yang hangat, humoris, sampai aku sering berpikir, “Kok bisa-bisanya ya cara berpikirnya seperti itu?”
Ini satu-satunya karya Harper Lee, si penulisnya. Aku penasaran sama penulis-penulis hebat yang sampai sekarang masih hidup, hanya mereka tak lagi mengeluarkan karya-karya baru. Lee, misalnya. Dan pahlawan saya, Salinger, juga seperti itu. Mungkinkah mereka ketakutan, tak bisa lagi menciptakan karakter lain yang begitu kuat seperti Atticus Finch atau Holden Caulfield? Atau mereka sudah menyiapkan karakter-karakter dengan ‘nada’ sama tapi tak rela melepaskannya untuk jadi milik orang banyak? Atau malah ketakutan akan siapa pun yang mereka ciptakan pasti akan disamakan dengan karakter-karakter kuat yang pernah mereka tulis?
Aku memang masih bisa membolak-balik, membaca ulang karya-karya para penulis ‘hermit’ ini. Toh kualitas karya-karya mereka memang tak lekang, tampaknya malah tambah kuat oleh zaman. Masih tetap lentur dan lancar bertuturnya. Tapi, aku masih penasaran dengan cerita-cerita baru mereka.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.