You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Mengenal Katharine Hepburn

Mengenal Katharine Hepburn

isyana — July 30, 2007 / 8:23 am

(Pendahuluannya, walaupun sama-sama aktris, tapi yang ini nggak ada hubungan apa-apa sama Audrey Hepburn). Ada beberapa alasan yang membuatku ‘harus’ menyebut tentang Katharine Hepburn di bulan-bulan ini. Aktris yang punya catatan main film di tiap dekade sejak 1930an ini Mei lalu diperingati 100 tahun usianya dan 29 Juni lalu adalah peringatan empat tahun kematiannya. Tapi, siapakah dia sebenarnya?

Sekitar empat tahun lalu, waktu gelombang panas merangsek dataran Eropa, situs tempatku pernah ‘bekerja’ memberitakan meninggalnya Katharine Hepburn. Di berita itu, dimuat pula pranala ke sebuah eulogi di harian The Guardian yang ditulis oleh penulis Zadie Smith. Judulnya, “The Divine Miss H“. (Inget banget ama judulnya karena bacanya sambil super kepanasan)

Zadie Smith, dirinya sebagai penulis hebat, punya cara untuk membuatku teryakinkan akan kualitas Hepburn, bukan hanya sebagai seorang aktris, tapi juga sebagai seorang manusia. Sejak saat itulah, aku jadi terobsesi pengen mencari-cari film-film komedi romantis duetnya Katharine Hepburn-Spencer Tracy.

Nunggu-nunggu di BBC biar ada film dokumenter tentang kehidupannya atau film-filmnya dia–BBC tiap Sabtu atau Minggu siang suka muter film-film lama, waktu itu sempat nonton dua filmnya William Holden–ternyata nggak muncul-muncul. Akhirnya setelah beberapa minggu lewat, baru ada “Bringing Up Baby”. Cary Grant yang…bayangkan George Clooney deh bandingannya di dunia modern. Yang selalu jadi tipikal heartbreaker, tampan, cool, di situ jadi sosok arkeolog yang canggung dan kaku ketika harus berhadapan dengan Hepburn.

Hepburn, si dewi berambut merah itu, sepertinya selalu punya karakter khas yang dia mainkan. Percaya diri tinggi, berani, selalu mengejar apa yang dia mau (dalam hal ini karakternya Grant), tahu caranya bersenang-senang, cerdas, keras kepala, uh, seperti katanya Zadie Smith,

The kind of woman she played, the kind of woman she was, is still the kind of woman I should like to be…

Mencari-cari di Jakarta film-filmnya Katharine Hepburn, belum pernah ketemu. Oke, mungkin ada yang “On Golden Pond”, tapi itu kan Katharine di usia tua, aku ingin melihat dia berperan sebagai ya itu…karakter di komedi-komedi romantisnya, seperti di Philadelphia Story, Woman of the Year atau Adam’s Rib.

Nah, di tengah-tengah kefrustrasian itu, aku menemukan “Katharine Hepburn: Kate Remembered a Personal Biography“. Sebenarnya agak ragu sih ketika memilih membaca sebuah biografi. Masalahku dengan genre ini adalah ada sesuatu yang mengesalkan dengan subyektivitas penulisnya. Aku selalu punya prasangka lebih dulu sama penulisnya. Otobiografi, aku bisa lebih memaklumi. Ya namanya juga diri sendiri bercerita tentang diri sendiri gitu lho. Tapi kalau biografi, aku agak ragu, nantinya malah yang dimunculkan promosi kedekatan antara si penulis dan subyek.

Yang sebenarnya terjadi di buku ini. Mungkin karena ada embel-embelnya ‘personal biography’ jadi kita ‘harus’ memaklumi ketika ada cetusan-cetusan narsisistik si penulis kali ya? Cetusan-cetusan itu makin banyak di bagian akhir, saat Kate sudah tak bisa lagi bercerita, sering mogok makan, sampai akhirnya meninggal.

Tapi okelah, apa pun kelemahannya, buku ini masih bisa sedikit memuaskan kehausanku akan apapun Kate. Sayangnya, dari situ aku malah jadi pengen mencari lebih banyak tentang Kate. Karena nggak ada filmnya, hal terdekat ke Kate yang bisa aku temukan adalah versi bukunya “The African Queen” karya CS Forrester yang filmnya pernah dibintangi oleh Kate dan Humphrey Bogart (sudah pernah nonton Casablanca? Harus pokoknya). Dan ya, itu Kate di sampul depannya.

Karena belum menonton filmnya, aku nggak tahu versi mana yang lebih aku pilih. Tapi selalu menarik buatku untuk membaca bagaimana sebuah petualangan di atas kapal atau perahu ditulis. Apalagi yang ini mengambil tempat di sungai-sungai pedalaman Afrika. Serangga, cabang-cabang sungai, malaria, kurang bahan bakar bisa jadi salah satu dari beberapa elemen yang menyumbang pada dampak fatal.

Rose Sayer, karakter yang diperankan Kate dalam film, memang tipikal Kate. Tak bisa tinggal diam. Harus melakukan sesuatu agar sebuah perubahan terjadi. Belum lagi keras kepalanya dan determinasinya yang kadang berbatasan dengan kegilaan. Tapi ya itu hanya sekedar masalah sudut pandang kan sebenarnya?

Tapi, aku juga melihat karakter Charlie Allnut dan Rose juga kurang memiliki hal-hal yang membuat karakter mereka ‘dikenal baik’. Maksudnya, aku nggak terus-terusan berpikir atau mengingat mereka ketika buku itu selesai dibaca. Lebih terasa datar. Hmm, mungkin yang akan membuatnya memorable adalah penampilan Kate di sini ya?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Prof. Haris Prima — anjinnggg.,.lho emg pintar..salutt
  • petrus adi utomo — cicipi maduku bila kau belajar hidup datanglah pada duri rasakan cicipi onaknya naik ke gunung rasakan penatnya daki baru nikmati sehatmu ringanmu ketika menjejaki hidup ...
  • ade — buat BUMI : Kalau anda memang tau kisah pribadi Andrea Hirata dari sumber langsung (tdk melalui orang lain apalagi media ...
  • enny — ass... annida kalo ada lomba lagi kasih tahu lewat email ku yaw!!! syukron
  • nyoek — ide yang bagus capa tau bisa menang, bisa buat beli kerupuk tuh! kalo perlu lombanya ditambah biar lebih seruuuuuuuuuuu!
  • Andi Zulkifli — Hai, salam kenal
  • sati — aku mau tanya kalo mau ikut lombanya gimana? kalo bisa bales ke emailku yaaaaa....
  • aisha — aku belum sempet baca bukunya, tapi ada talkshow mengenai novel ini di kampus jadi lagi cari info tentang novel ini...^^ mungkin ...
  • Cherry Cooper — hi5dgsrn3enoz6r8
  • Janie Wilder — mt0nhiz3sz9hv9ai