Archive for August, 2007

Komik Agatha Christie

Friday, August 31st, 2007

Penerbit HarperCollins ternyata punya rencana untuk menerbitkan ulang delapan karya Agatha Christie, “Murder in the Orient Express” salah satunya, dalam bentuk komik. Tujuannya untuk menarik minat audiens baru penggemar karya-karya Agatha Christie.

Tapi, Ned Beauman dari blog buku The Guardian menuding langkah ini sia-sia saja karena tidak ada makna baru yang ditambahkan dalam proses adaptasi buku ke buku ini. Menurutnya:

The best comics are nearly always the ones that tell a story that could not have been adequately told in any other medium. Straight adaptations are excluded by definition. What’s far more interesting is something like Alan Moore’s second volume of The League of Extraordinary Gentlemen, a sort of lunatic conspiracy theorist’s view of The War of the Worlds, or Neil Gaiman’s award-winning issue of Sandman in which a performance of A Midsummer Night’s Dream is taken over by real imps and fairies. They’re not replacements for the originals, they’re irreverent tributes.

(Btw, ini ketiga kalinya aku mendapati nama ‘Neil Gaiman’ disebut dalam seminggu terakhir. Pertama dari rekomendasi Goodreads seorang teman, lalu profilnya di Koran Tempo dan terakhir di blog entry dari Ned Beauman ini. Hmm, harus mengunjungi Kino sepertinya untuk mencari-cari seperti apa sih novel grafisnya…)

Buat yang penasaran dengan “Pembunuhan di Orient Express” dijadikan komik, ya harap bersabar. Tapi buat mereka yang lebih memilih versi teksnya, Gramedia ternyata tengah mencetak ulang dan mengganti desain sampul karya-karya Agatha Christie. Selain “Poirot’s Early Cases”, aku sempat melihat judul-judul lain yang sudah diberi sampul baru seperti, “Misteri di Styles” dan “Skandal Perjamuan Natal”.

Popularity: 8%

Menonton Buku

Friday, August 31st, 2007

Ada dua transisi buku ke film yang ingin aku tonton. “The Nanny Diaries”, pertama, dengan karakter Nanny diperankan oleh Scarlett Johansson dan “Atonement”, yang kedua, dengan Keira Knightley sebagai salah satu karakter utamanya, Cecilia.

“Atonement” yang diangkat dari buku karya Ian McEwan (sudah ada dalam daftar ‘to-read’ sejak setahun terakhir. Tapi kok ya dengan masa produksi sebuah film yang cukup lama, ternyata sampai sekarang belum juga membacanya..) jadi pembuka di Venice Film Festival, Rabu (29/8) lalu. The Guardian memberi adaptasi film ini penilaian yang cukup bagus. Sutradaranya, Joe Wright, adalah sutradara “Pride and Prejudice” yang dibintangi juga oleh Keira Knightley sebagai Elizabeth Bennett. Duh, padahal aku tidak terlalu suka versi itu karena Knightley yang kurang cocok sebagai Lizzie, tapi aku juga tetap penasaran melihat “Atonement” ini.

“The Nanny Diaries”, yang disutradarai oleh duo pembuat “American Splendor” Shari Springer Berman dan Robert Pulcini, ternyata hanya mendapat penilaian yang yaah sekadar cukup. Aku masih tetap penasaran sih, walaupun pengharapannya jadi tidak terlampau tinggi.

Bukunya sendiri, aku ingat membacanya sekitar 2004, tak benar-benar terasa sebagai sebuah karya fiksi. Lebih seperti yaa…catatan harian perempuan muda yang bekerja dengan bos yang sama sekali tidak simpatik. (Hmm…kenapa jadi mengingatkan dengan “The Devil Wears Prada” ya? Perempuan muda, cerdas, lulus kuliah, harus bekerja dengan atasan yang menyulitkan dengan tanggung jawab tanpa batas, masuk ke dunia yang bukan dunianya, seorang outsider, di New York…). Yang aku ingat, gaya penulisannya dingin tapi sebenarnya penuh kemarahan. Katanya sih ini kumpulan cerita-cerita dari ibu-ibu kaya yang pernah mempekerjakan penulisnya, Nicola Kraus dan Emma McLaughlin, sebagai pengasuh anak. Jika benar, buku ini bisa jadi sebuah cara balas dendam yang manis, hehe.

Tapi, yang paling aku ingat, adalah pada bagian akhir, Nanny jadi benar-benar peduli akan apa yang mungkin terjadi pada Grayer. Ia tak lagi memikirkan perasaan dendamnya atas perlakuan yang diterimanya dari Mrs X, kepentingan Grayer-lah yang jadi prioritas. Kalau benar ini adalah kumpulan cerita nyata, bukan tak mungkin anak-anak kaya di Park Avenue itu mendapat perlakuan berbeda kan?

Duh, jadi merinding.

Popularity: 8%

Usia yang ‘Tepat’

Friday, August 31st, 2007

Ada sebuah artikel yang sangat bagus di blog-nya The Guardian tentang membaca karya pada usia yang ‘tepat’. Penulis blognya, Eloise Millar, mempertanyakan ulang penilaian-penilaian sebelumnya akan buku-buku yang dulu ia anggap menarik, tapi sekarang malah jadi terasa melempem.

“Wuthering Heights” contohnya. Kisah cinta tragis antara Heathcliff dan Cathy yang dulunya ia anggap begitu penuh hasrat dan romantis, ekuivalen dengan sebuah kisah cinta yang maha dashyat, sekarang dianggapnya sebagai cerita tentang dua orang yang super egois. Nah, yang terjadi padaku sebaliknya malah, membacanya pada usia 20 atau 21, aku tidak merasakan hasrat kuat yang katanya jadi nilai plus buku itu. Waktu itu juga aku sebal setengah mati sama karakter Cathy yang menurutku sangat manja dan egois. Buku ini jadi masuk lagi dalam daftar ‘to read’-ku hanya untuk sekedar mengkonfirmasi penilaian yang sebelumnya muncul. Siapa tahu perubahan waktu, lokasi dan cara pandang bisa membantuku melihat apa yang sebelumnya tidak terpantau.

Eloise Millar juga menyebut tentang “On the Road” yang dinilainya tak lagi dapat mempengaruhinya sedashyat saat ia pertama membacanya di usia belasan. Beberapa komentar pembaca blog itu juga menyatakan hal yang sama, bahkan menambahkan: “Hal terkejam yang dapat dilakukan pada Jack Kerouac (penulis “On the Road”) adalah membacanya lagi saat kau berusia 30 tahun”. Jadi, sebelum kalian 30, cepat-cepat baca “On the Road” ya, hehe.

Buat aku sendiri, buku-buku dengan tema remaja yang mendewasa belum kehilangan maknanya. “The Catcher in the Rye”, misalnya. Ada komentator di blog Eloise yang bilang pengaruhnya hanya untuk mereka yang berusia remaja. Tapi aku malah semakin menemukan artinya dan pentingnya ketika lebih tua dari pertama kali membacanya di usia 20. Buku-buku anak-anak Roald Dahl juga malah lebih aku senangi daripada cerpen-cerpennya untuk ‘orang dewasa’.

Sebenarnya aku tak merasa asing dengan bahasan yang diajukan Eloise, bahwa makna sebuah bacaan bisa jadi berbeda saat kali kedua atau ketiga atau seterusnya dibanding saat pertama. Kesimpulan akhirku sih, bahwa membaca ulang itu adalah suatu hal yang penting. Mood yang berbeda mungkin bisa memberi penilaian yang berbeda, tempat membaca yang berbeda juga bisa ikut berpengaruh. Kalau katanya karakter Katharine Hepburn di “The Philadelphia Story”, Tracy Lord, “The time to make your mind up about people is never!” Dalam hal ini, “The time to make your mind up about a book is never” sepertinya.

Popularity: 7%

Penyair Generasi MTV

Thursday, August 30th, 2007

Kira-kira siapa?

MtvU, salah satu anak perusahaan MTV yang khusus ditayangkan di kampus-kampus di Amerika, sudah memilih poet laureate pertamanya. Seorang penyair berusia 80 tahun, namanya John Ashberry.

Tapi, kalau ada yang bertanya, poet laureate itu apa sih? Istilah laureate sebenarnya sering dipakai untuk ‘menandai’ pemenang Nobel. Nobel laureate, biasanya. Tapi selain itu, jarang dipakai buat penghargaan-penghargaan lain.

Poet laureate sebenarnya bukan sebuah penghargaan. Mungkin istilah tepatnya maestro penyair ya? Mereka yang disebut poet laureate artinya sudah punya nilai lebih dan patut dikenal secara khusus untuk pencapaiannya di bidang penulisan puisi.

Oke, John Ashberry, menurut berita dari New York Times:

It is John Ashbery, the prolific 80-year-old poet and frequent award winner known for his dense, postmodern style and playful language. One of the most celebrated living poets, Mr. Ashbery has won MacArthur Foundation and Guggenheim fellowships and was awarded a Pulitzer Prize in 1976 for his collection “Self-Portrait in a Convex Mirror.”

Kutipan-kutipan puisi dari penyair itu akan ditampilkan dalam 18 spot iklan yang akan ditayangkan di MtvU. Salah satunya “Retro” (2005):

“It’s really quite a thrill/When the moon rises over the hill/and you’ve gotten over someone/salty and mercurial, the only person you’ve ever loved.”

Tujuan pemilihan poet laureate ini sih katanya untuk menajamkan lagi nafsu akan membaca puisi. Karya-karya Ashberry, menurut tim pemilihnya, memiliki resonansi dengan para mahasiswa yang mereka ajak diskusi. Ia malah jadi pilihan pertama buat poet laureate pertama MTV ini.

Aku baru pertama kali ini mendengar namanya. Jadi mungkin masih akan melakukan riset kecil-kecilan dulu ya, membaca karya-karyanya yang lain yang katanya punya resonansi dengan generasi mahasiswa Amerika sekarang.

Tapi, btw, siapa penyair generasi MTV pilihanmu?

Popularity: 7%

Wawancara Tracy Chevalier

Thursday, August 30th, 2007

Pernah dengar novel-novel historis seperti “The Girl with the Pearl Earring” atau “The Lady and the Unicorn” atau “The Virgin Blue” dan “Falling Angels”? Penulisnya namanya Tracy Chevalier. Empat novelnya itu sudah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia oleh Gramedia. “The Girl with the Pearl Earring” juga sudah dibuat filmnya dengan aktris Scarlett Johannson sebagai Griet.

BBC ternyata punya banyak anak situs. Salah satunya “Blast“. Isinya semua tentang tips-tips dan diskusi tentang menulis bagi penulis muda. Salah satu rubriknya, People, menampilkan wawancara dengan berbagai penulis dan penulis skenario. Tracy Chevalier termasuk salah satu di antaranya.. Wawancaranya cukup informatif, ditanyakan langsung oleh pengunjung situsnya.

Salah satu kutipan yang menarik:

Blast_Host: Here is Tracy with a few final words of advice…

Tracy Chevalier : Usually they say write what you know about, but I don’t agree with that. I think you should write what interests you. Write about what inspires you and go and find out about it.

Selamat membaca dan menulis!

Popularity: 13%

Novel Distopia

Wednesday, August 29th, 2007

Entah kenapa, aku selalu senang setiap kali koran The Guardian ‘mengeluarkan’ daftar top 10 buku terbarunya. Tepatnya bukan The Guardian-nya yang mengeluarkan, tapi mereka meminta bantuan penulis-penulis untuk memilihkan kira-kira buku apa sih yang mempengaruhi mereka menulis karya mereka sendiri. Pilihan-pilihan itu lalu dibungkus dengan nama Top 10.

Kali ini, temanya “Top 10 Dystopian Novels for Teenagers“. Membaca daftarnya, bacaan tentang sebuah dunia ‘alternatif’ (kebanyakan settingnya di ‘masa depan’) dan kondisi-kondisi sosialnya yang membuat merinding biasanya bukan bacaan favoritku. Jadi, agak kaget ketika membaca daftar top 10 ini dan menyadari kalau aku sudah membaca lima di antaranya. Angka yang agak banyak, karena biasanya di daftar-daftar top 10 lainnya paling banyak sudah pernah membaca empat judul (itu pun baru satu kali kejadian), seringnya dua judul, dan lebih sering lagi belum membaca atau mendengar judul itu sama sekali.

Ternyata, buat buku yang tidak aku favoritkan, kok ya kuantitas yang dibaca lumayan juga ya dibanding yang benar-benar aku favoritkan (romantic comedies, anyone?).

Bukannya saya tidak mengagumi konstruksi cerita yang dibangun di 1984, Brave New World, The Handmaid’s Tale, dan A Clockwork Orange (satu laginya The Diary of Anne Frank, tapi ini tidak bisa dibilang konstruksi cerita kan? Karena ini sebuah kejadian nyata…). Aku malah justru salut pada para penulis-penulisnya yang mau dan berani membahas skenario terburuk yang mungkin terjadi dalam sebuah masyarakat. Sementara kita? Kita bisa membacanya dan ikut terlibat dalam pembahasan tentang skenario terburuk itu atau ya sudah, tidak membacanya sama sekali. Tapi para penulisnya itu lho. Berani mengajukan pertanyaan dan pernyataan.

Dan dunia yang mereka ciptakan itu benar-benar tidak menyenangkan. Membuat merinding. Tidak akan aku masukkan dalam daftar buku favorit. Tapi anehnya, kok ya sampai sekarang aku masih bisa mengingat apa-apa saja yang terjadi di empat buku itu (percaya deh, ini sebuah pencapaian mengingat betapa pendeknya ingatan dan perhatianku) dan masih merasa ngeri-ngeri sendiri. Berarti memang ada sebuah kekuatan dalam penceritaan mereka kan?

Aku nggak mau bilang, “ini buku-buku yang harus kamu baca”. Tapi, aku memilih bilang, baca deh buku-buku ini. Kamu mungkin bakal suka pada buku-buku bertema paranoia seperti itu. Kalau pun tidak suka, buku-buku ini akan membantu mendefinisikan buku-buku seperti apa yang kamu suka. Intinya sih, kalau buku adalah sebuah jendela melihat dunia, buka jendela itu selebar mungkin.

Popularity: 7%

Membaca Ulang ‘Bumi Manusia’

Wednesday, August 29th, 2007

Tulisan ini sengaja tidak dikategorikan dalam ‘Resensi’ karena sifatnya memang masih setengah resensi. Hanya sekedar melaporkan kemajuan dalam membaca ulang bagian pertama Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, “Bumi Manusia”.

Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan pementasan teater “Nyai Ontosoroh” baru-baru ini. Sebenarnya sudah mulai membaca sejak awal bulan ini, tapi kemudian terhenti karena beralih ke Harry Potter 7, hehe. Motivasi membaca ulang pun sebenarnya tidak murni untuk mengenal kembali Pram, tapi biar bisa ikut diskusi seorang teman ketika dia marah-marah sama Minke yang dianggapnya keterlaluan buaya daratnya.

Kesimpulannya sih, ya memang dari awal Minke sudah menunjukkan tanda-tanda ke-buaya darat-annya itu. Lha wong dia menyebut dirinya sendiri ‘philogynik’ dengan nada yang agak bangga, bercampur malu, bercampur meminta pemakluman dari pembacanya akan tingkahnya. Atau setidaknya itu dalam opiniku. Ya masak baruuu aja kenal berapa jam sama Annelies sudah curi-curi cium pipi sih?

Tapi, selain detil-detil yang baru dicermati sekarang, “Bumi Manusia” tetap jadi sebuah karya yang menghentak seperti yang aku ingat ketika selesai membacanya pertama kali. Penuh dengan ‘ajaran-ajaran’ tentang menjadi manusia yang lebih baik. “Sudah harus berlaku adil sejak dalam pikiran” adalah yang paling aku ingat. Agak-agak mirip dengan salah satu dialog di filmnya Katharine Hepburn, “The Philadelphia Story” yang baru-baru saja selesai aku tonton. Dialognya, “You’ll never be a first rate human being, let alone a first rate writer until you have some regard for human frailty.”

“Menghargai kerapuhan manusia” kan sama dengan “berlaku adil sejak dalam pikiran” kan?

Oh ya, ada satu hal lagi yang aku catat. Pada bagian Minke menggambarkan identitas ke-Jawa-annya ketika bertemu lagi dengan orangtua dan kakaknya, aku merasa Pram sedang benar-benar marah dengan ke-Jawa-an. Dan aku jadi teringat akan identitas priyayi Jawa yang digambarkan oleh Umar Kayam. Yang kedua seperti mengenalkan sisi lain arti menjadi Jawa. Hmm, sepertinya aku harus mulai membuka lagi ‘Para Priyayi’ setelah menyelesaikan ‘Bumi Manusia’.

Popularity: 7%

Harry Potter and the Deathly Hallows (JK Rowling)

Thursday, August 23rd, 2007

“NOT MY DAUGHTER, BITCH!” jadi kalimat favoritku dari buku terakhir Harry Potter. Diucapkan oleh Molly Weasley (*gasp*) untuk Beatrix Lestrange sebelum mereka terlibat dalam duel maut yang tak sabar aku lihat di layar akan seperti apa bentuknya. Molly Weasley tiba-tiba jadi oh so cool. Kalimat itu aku kutip dengan huruf besar semua, karena tulisannya di buku juga dengan huruf kapital semua.

Kalimat favorit kedua diucapkan oleh Dumbledore yang bilang ke Harry, “(kejadian) ini mungkin hanya ada di kepalamu. Tapi siapa bilang ini bukan kejadian nyata?”

Sebenarnya, kemarin-kemarin aku sempat ingin menulis resensi setengah buku. Saat itu, baru saja menyelesaikan bab 18 dan akan memulai ke 19. Pada akhir bab 18, aku merasa capek dengan gerutuan-gerutuannya Harry tentang Dumbledore yang tidak bercerita banyak tentang masa lalunya sama dia. Betapa dia meragukan kasih sayang dan kepercayaan Dumbledore.

Memang sih, kali ini tantangan-tantangan yang dihadapi benar-benar terasa kabur. Tak ada lagi dinding-dinding sekolah dan jadwal-jadwal yang membatasi gerak Harry, Ron dan Hermione. Harry jadi terkesan sebagai pemikul beban paling berat. Tapi selesai bab 18 itu aku benar-benar sudah capek dengan kemarahannya Harry ama situasi sekelilingnya.

Dan JK Rowling terlalu kerap mengulang-ulang ungkapan “It feels like a different lifetime”, seperti sebuah masa yang lain, seperti sebuah kehidupan yang lain ketika Harry mengingat-ingat musim panas lalu atau teman-temannya yang terluka atau mati. Pertama atau kedua Rowling menggunakan ‘trik’ itu, memang aku jadi merasa banyak yang berubah dalam waktu yang sangat cepat. Tapi lama-lama, jadi terganggu dengan gaya ini. Iya, kita sudah tahu kok banyak yang terjadi dalam waktu singkat.

Tapi, menjelang bagian akhir, aku baru sadar, kekuatan Rowling adalah membangun heroisme dan kegagahan menjelang akhir cerita. Tentang usaha-usaha melawan, keberanian karakter-karakternya, dan twist akan rahasia keunggulan Harry dari Voldemort yang rapi tersimpan sampai akhir. Mengepas-ngepas potongan puzzle juga merupakan kekuatan Rowling. Pada akhirnya, ini jadi sebuah cerita petualangan yang menyenangkan.

HP 7 jadi buku yang paling ‘kejam’ menurutku. Rowling tega-tega saja mempertemukan HP dan rekan-rekannya dengan pengalaman membahayakan, bukan sekedar satu atau dua kali, tapi beberapa kali. Jalan keluarnya kadang terlihat instan, tapi juga ada yang menyenangkan.

Aku kok malah tidak sabar melihat lebih banyak Bellatrix Lestrange di versi film ya? Helena Bonham-Carter tak bisa lebih pas dari sekarang saat memerankan Bellatrix. Ada salah satu bagian saat Hermione minum Polyjuice Potion dan menyamar sebagai Bellatrix, lalu ia harus bertingkah laku seperti Bellatrix dan melihat reaksi yang ditimbulkan dari tingkah lakunya itu. Pada bagian itu, aku benar-benar membayangkan Helena Bonham-Carter yang benar-benar sangat pas memainkan karakter itu di filmnya.

Setelah HP 7, apa lagi yang mau ditulis Rowling?

Novelis Ian Rankin sempat ‘bergosip’ bahwa Rowling tengah menulis cerita detektif. Tapi ternyata cerita itu hanya sebuah lelucon. Yang ada cuma rumor-rumor. Tapi, rencana membuat HP 8 (sebuah ensiklopedi tentang Hogwarts untuk tujuan amal) tetap terbuka lebar.

Popularity: 15%

Goodreads

Wednesday, August 22nd, 2007

Kemunculan (dan kepopuleran) situs-situs seperti Friendster, MySpace, YouTube, Facebook dan sejenisnya mengajarkan satu hal. Membangun jejaring adalah prioritas manusia-manusia zaman modern. Aku berjejaring, maka aku ada. Dan dengan semangat yang sama, aku rasa, Goodreads dibangun.

Tak lebih dari 24 jam yang lalu aku menemukan situs itu. Secara tidak sengaja pula. Berputar-putar di dalamnya dan berkesimpulan, ini seperti Friendster ketemu klab buku. Goodreads memungkinkan kita mendaftar buku-buku apa saja yang sudah kita baca, memberi penilaian dan resensi, lalu membagi daftar itu dengan orang-orang yang masuk daftar ‘teman’ kita.

Di saat bersamaan, kita bisa melihat isi ‘lemari buku’ teman-teman kita (hal yang selalu aku lakukan kalau main ke rumah teman, mencari apa yang bisa dipinjam, hehe), mendaftar buku-buku yang ingin kita baca atau sedang kita baca.

Situs impian saya ternyata sudah jadi nyata!

Baru kemarin menyebar undangan, ternyata aku sudah punya delapan teman yang sepertinya jadi ikut-ikutan antusias meng-update daftar bacaan dan penilaian mereka. Punyaku, masih kosong, karena masih belum punya waktu untuk ‘mengerjakan’ daftar bacaan itu dan yakin banget pasti bakalan nggak bisa berhenti mendaftar. (Catat, hal yang harus dilakukan di akhir minggu).

Fitur lain yang ada di situs ini adalah secara khusus menampilkan penulis. Ada profilnya Sitta Karina di bagian authors itu.

Gara-gara Goodreads, aku jadi penasaran dengan Neil Gaiman yang muncul banyak banget bukunya di daftar buku temanku, Ayu.

Selamat mendaftar dan melirik daftar bacaan teman-teman ya!

Popularity: 6%

Pustakawan, Profesi Masa Depan?

Monday, August 20th, 2007

Harian New York Times mencatat tentang munculnya sebuah ‘varietas’ baru pustakawan/wati lewat artikel berjudul “A Hipper Crowd of Shushers“. Varietas baru pustakawan ini digambarkan lebih mirip orang-orang kreatif; sutradara film, desainer web, seniman, daripada imaji yang muncul tentang pustakawan selama ini. Membosankan, tua, galak, dst. Setidaknya varietas pustakawan itulah yang sering aku temui di masa-masa sekolahku, hehe.

Lewat artikel di atas, harian New York Times mencoba mencari tahu, kenapa sih kok muncul generasi pustakawan yang tampilan dan gayanya lebih hip dan cool daripada pendahulu-pendahulunya. Bukan sekedar tampilan baju atau rambut yang dicat pink, tapi generasi ini berisi orang-orang yang punya ketertarikan pada budaya pop, aktivisme dan teknologi.

Salah satu alasan ‘kemunculan’ mereka:

How did such a nerdy profession become cool — aside from the fact that a certain amount of nerdiness is now cool? Many young librarians and library professors said that the work is no longer just about books but also about organizing and connecting people with information, including music and movies.

And though many librarians say that they, like nurses or priests, are called to the profession, they also say the job is stable, intellectually stimulating and can have reasonable hours — perfect for creative types who want to pursue their passions outside of work and don’t want to finance their pursuits by waiting tables.

Hmmm…artikel ini benar-benar membuat profesi pustakawan terdengar sangat cool. Aku memikirkan berganti pekerjaan deh.

Oke, oke, mungkin ada yang menanggapi, ini kan di Amerika, di Indonesia profesi pustakawan ya masih begitu-begitu saja, dst, dst. Ah, aku rasa enggak juga ya. Library@Senayan contohnya, perpustakaan hibah British Council yang sekarang di gedung Depdiknas itu. Wien Muldian, pustakawannya, aku rasa bisa dimasukkan dalam kategori varietas baru pustakawan ini.

Mungkin gaya berpakaiannya belum se-hip para pustakawan di foto-fotonya New York Times itu, hehe, tapiii caranya dia menghidupkan Perpus Diknas dengan mengadakan berbagai acara di sana. Dengan menjadikan perpustakaan lebih dari sekedar sebuah bangunan atau ruang yang menampung buku tapi juga dengan memberi ruh pada tempat itu, itu kan sama dengan mengorganisir dan menghubungkan orang dengan informasi, yang disebut di atas. Iya nggak?

Kalau nggak percaya, coba aja ke Perpus Diknas dan rasakan betapa ‘hidupnya’ tempat itu.

So, memilih jadi pustakawan untuk profesi masa depan, siapa takut?

Popularity: 8%