You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Sedikit Merenung di 17 Agustus
Tadi pagi pada upacara bendera ya? Terus pulang? Atau jalan-jalan?
Sudah tujuh tahun aku lepas dari upacara bendera jadi agak lupa dengan detil kebiasaan pada 17 Agustus. Tapi ayahku yang bekerja di sebuah kantor pemerintahan tadi pagi masih berangkat untuk upacara bendera dan kembali lagi sekitar pukul 10 pagi.
Jadi, apa arti kemerdekaan bagi kalian?
Aku tidak biasanya berada dalam mood seperti ini. Tapi ada sesuatu yang membuatku agak tersentuh dan merenung. Ceritanya begini, Kamis malam (16/8) aku menghadiri acara syukuran dan renungan 17 Agustusan di RT kompleks tempat nenekku tinggal.
Itu sebuah kompleks tentara di kawasan Jakarta Timur dan banyak dari keluarga-keluarga itu yang sudah hidup berdampingan selama puluhan tahun. Dari masa kecil ibuku sampai sekarang beliau punya anak-anak berusia dewasa. Jadi setiap ada acara berkumpul seperti ini, dan banyak acara-acara lain, rasanya lebih seperti sebuah arisan keluarga daripada bertetangga. Setiap rumah pasti ada perwakilannya yang datang. Nggak ada yang nggak datang.
Karena ini kompleks (mantan) tentara, biasanya setiap sebelum makan malam akan ada kata sambutan dan sedikit ‘kuliah’ sejarah dari para saksi mata. Tapi, tahun ini ternyata menjadi sebuah peringatan yang rasanya lain. Dari perjalanan 61 tahun Indonesia merdeka ke 62 tahun, ada beberapa eyang di kompleks itu yang meninggal. Jadi, tahun ini, perwakilan dari para pejuang 45 ‘tinggal’ empat orang. Salah satunya, namanya Eyang Kartono, memberikan sambutan dan wejangan.
Sebentar, sebentar. Awalnya sempat ada menyanyi “Padamu Negeri” yang dinyanyikan eyang-eyang itu dengan lantang, walaupun jalannya sudah agak pelan dan ingatannya mulai agak pikun.
Oke, kembali ke Eyang Kartono.
Ceritanya sebenarnya ’standar’. Dalam artian, sesuatu yang sering kita baca di buku-buku sejarah sekolah. Betapa saat proklamasi diumumkan, mereka tak punya waktu untuk bergembira, karena harus segera melawan tentara Sekutu. Lalu tentang Pertempuran Lima Hari di Semarang dan Eyang Kartono bercerita tentang melihat tumpukan mayat-mayat rekan-rekan seusianya di got-got saat melintasi kota. Dan saat itu, aku membayangkan, bagaimana ya rasanya bagi generasi itu untuk tumbuh dewasa dan di usia yang sangat muda, belasan tahun aku kira, sudah melihat tumpukan mayat orang di got. Lalu ia juga bercerita tentang Westerling. Sampai ke Konferensi Meja Bundar dan kewajiban membayar biaya perang yang harus ditanggung Indonesia. Kalau yang terakhir itu, diingatnya dari majalah Tempo edisi khusus tentang masa demokrasi liberal di Indonesia yang baru terbit Senin (13/8) lalu. Itu juga catatan ‘alternatif’ tentang sejarah kita, kalau masih menemukan edisi itu, baca ya. Aku juga sedang membacanya untuk sekedar mengingat tentang perjalanan sebuah Indonesia.
Lalu, pemikiranku tiba-tiba berhenti pada pencatatan sejarah. Dan tentang apa yang terjadi baru-baru ini pada pencatatan sejarah. Tentang buku-buku sejarah yang dibakar karena tidak mencantumkan kata ‘PKI’ dalam pemberontakan G 30 S. Ini kan sesuatu yang terjadi pada buku-buku sekolah kalian kan? Aku pengen tahu apa sih pendapat kalian tentang itu?
Maksudnya, begini. Aku tidak bisa mengerti kenapa ada seorang Menteri Pendidikan Nasional sebuah negara yang sudah 62 tahun merdeka, seorang mantan dosen bahkan, seorang profesor malah, membiarkan pembakaran buku terjadi. Bukankah ini sesuatu yang dilakukan oleh orang seperti Adolf Hitler?
Pembakaran buku adalah sesuatu yang membuatku takut. Buatku, itu adalah hal yang mengerikan, ekstrim, tidak beradab. Membuat kita jadi orang tak beradab dan bengis.
Ada sebuah buku tentang dunia di mana buku-buku dibakar habis. ‘Fahrenheit 451′, judulnya, karya Ray Bradbury. Judulnya merujuk pada temperatur saat buku terbakar habis. Aku pikir, buku itu ‘hanya’ sebuah buku. Ternyata kita masih hidup dalam temperatur dan dunia yang sama.
Selamat Ulang Tahun, Indonesia.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Firman Firdaus
soal bakar-membakar buku, di blognya andreas harsono lagi seru tuh…kekeke…
August 19th, 2007 at 1:07 am