You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Harry Potter and the Deathly Hallows (JK Rowling)
“NOT MY DAUGHTER, BITCH!” jadi kalimat favoritku dari buku terakhir Harry Potter. Diucapkan oleh Molly Weasley (gasp) untuk Beatrix Lestrange sebelum mereka terlibat dalam duel maut yang tak sabar aku lihat di layar akan seperti apa bentuknya. Molly Weasley tiba-tiba jadi oh so cool. Kalimat itu aku kutip dengan huruf besar semua, karena tulisannya di buku juga dengan huruf kapital semua.
Kalimat favorit kedua diucapkan oleh Dumbledore yang bilang ke Harry, “(kejadian) ini mungkin hanya ada di kepalamu. Tapi siapa bilang ini bukan kejadian nyata?”
Sebenarnya, kemarin-kemarin aku sempat ingin menulis resensi setengah buku. Saat itu, baru saja menyelesaikan bab 18 dan akan memulai ke 19. Pada akhir bab 18, aku merasa capek dengan gerutuan-gerutuannya Harry tentang Dumbledore yang tidak bercerita banyak tentang masa lalunya sama dia. Betapa dia meragukan kasih sayang dan kepercayaan Dumbledore.
Memang sih, kali ini tantangan-tantangan yang dihadapi benar-benar terasa kabur. Tak ada lagi dinding-dinding sekolah dan jadwal-jadwal yang membatasi gerak Harry, Ron dan Hermione. Harry jadi terkesan sebagai pemikul beban paling berat. Tapi selesai bab 18 itu aku benar-benar sudah capek dengan kemarahannya Harry ama situasi sekelilingnya.
Dan JK Rowling terlalu kerap mengulang-ulang ungkapan “It feels like a different lifetime”, seperti sebuah masa yang lain, seperti sebuah kehidupan yang lain ketika Harry mengingat-ingat musim panas lalu atau teman-temannya yang terluka atau mati. Pertama atau kedua Rowling menggunakan ‘trik’ itu, memang aku jadi merasa banyak yang berubah dalam waktu yang sangat cepat. Tapi lama-lama, jadi terganggu dengan gaya ini. Iya, kita sudah tahu kok banyak yang terjadi dalam waktu singkat.
Tapi, menjelang bagian akhir, aku baru sadar, kekuatan Rowling adalah membangun heroisme dan kegagahan menjelang akhir cerita. Tentang usaha-usaha melawan, keberanian karakter-karakternya, dan twist akan rahasia keunggulan Harry dari Voldemort yang rapi tersimpan sampai akhir. Mengepas-ngepas potongan puzzle juga merupakan kekuatan Rowling. Pada akhirnya, ini jadi sebuah cerita petualangan yang menyenangkan.
HP 7 jadi buku yang paling ‘kejam’ menurutku. Rowling tega-tega saja mempertemukan HP dan rekan-rekannya dengan pengalaman membahayakan, bukan sekedar satu atau dua kali, tapi beberapa kali. Jalan keluarnya kadang terlihat instan, tapi juga ada yang menyenangkan.
Aku kok malah tidak sabar melihat lebih banyak Bellatrix Lestrange di versi film ya? Helena Bonham-Carter tak bisa lebih pas dari sekarang saat memerankan Bellatrix. Ada salah satu bagian saat Hermione minum Polyjuice Potion dan menyamar sebagai Bellatrix, lalu ia harus bertingkah laku seperti Bellatrix dan melihat reaksi yang ditimbulkan dari tingkah lakunya itu. Pada bagian itu, aku benar-benar membayangkan Helena Bonham-Carter yang benar-benar sangat pas memainkan karakter itu di filmnya.
Setelah HP 7, apa lagi yang mau ditulis Rowling?
Novelis Ian Rankin sempat ‘bergosip’ bahwa Rowling tengah menulis cerita detektif. Tapi ternyata cerita itu hanya sebuah lelucon. Yang ada cuma rumor-rumor. Tapi, rencana membuat HP 8 (sebuah ensiklopedi tentang Hogwarts untuk tujuan amal) tetap terbuka lebar.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.