You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Membaca Ulang ‘Bumi Manusia’

Membaca Ulang ‘Bumi Manusia’

isyana — August 29, 2007 / 11:50 am

Tulisan ini sengaja tidak dikategorikan dalam ‘Resensi’ karena sifatnya memang masih setengah resensi. Hanya sekedar melaporkan kemajuan dalam membaca ulang bagian pertama Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, “Bumi Manusia”.

Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan pementasan teater “Nyai Ontosoroh” baru-baru ini. Sebenarnya sudah mulai membaca sejak awal bulan ini, tapi kemudian terhenti karena beralih ke Harry Potter 7, hehe. Motivasi membaca ulang pun sebenarnya tidak murni untuk mengenal kembali Pram, tapi biar bisa ikut diskusi seorang teman ketika dia marah-marah sama Minke yang dianggapnya keterlaluan buaya daratnya.

Kesimpulannya sih, ya memang dari awal Minke sudah menunjukkan tanda-tanda ke-buaya darat-annya itu. Lha wong dia menyebut dirinya sendiri ‘philogynik’ dengan nada yang agak bangga, bercampur malu, bercampur meminta pemakluman dari pembacanya akan tingkahnya. Atau setidaknya itu dalam opiniku. Ya masak baruuu aja kenal berapa jam sama Annelies sudah curi-curi cium pipi sih?

Tapi, selain detil-detil yang baru dicermati sekarang, “Bumi Manusia” tetap jadi sebuah karya yang menghentak seperti yang aku ingat ketika selesai membacanya pertama kali. Penuh dengan ‘ajaran-ajaran’ tentang menjadi manusia yang lebih baik. “Sudah harus berlaku adil sejak dalam pikiran” adalah yang paling aku ingat. Agak-agak mirip dengan salah satu dialog di filmnya Katharine Hepburn, “The Philadelphia Story” yang baru-baru saja selesai aku tonton. Dialognya, “You’ll never be a first rate human being, let alone a first rate writer until you have some regard for human frailty.”

“Menghargai kerapuhan manusia” kan sama dengan “berlaku adil sejak dalam pikiran” kan?

Oh ya, ada satu hal lagi yang aku catat. Pada bagian Minke menggambarkan identitas ke-Jawa-annya ketika bertemu lagi dengan orangtua dan kakaknya, aku merasa Pram sedang benar-benar marah dengan ke-Jawa-an. Dan aku jadi teringat akan identitas priyayi Jawa yang digambarkan oleh Umar Kayam. Yang kedua seperti mengenalkan sisi lain arti menjadi Jawa. Hmm, sepertinya aku harus mulai membuka lagi ‘Para Priyayi’ setelah menyelesaikan ‘Bumi Manusia’.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...
  • Herman Suryadi, S.Pd. — Bung Hudan Hidayat Aku lagi nyusun riwayat penyair - sastrawan kelahiran Bengkulu kotaku. Aku minta dikirimkan biodata/riwayat lengkap anda + ...
  • zulhaiban — iya ya, kenapa wartawan tidak mencantumkan gelarnya disusunan redaksi maupun ID Card wartawannya. Mungkin wartawan tidak ingin diketahui latarbelakangnya kali, ...
  • Sayyid fahmi alathas — Menanggapi buku esai nabi tanpa wahyu hudan hidayat. ...
  • hudan hidayat — iya isyana kamu di multiply juga ya? rame di sana kan. sastra memang untuk siapa saja tak ada patokan. maaf aku ...
  • DARIATI — mau donk ikutan LoMba, waLaupun Tidak Lesbian.... sTidaknYa kita berPartisipaSi sMa Tmen2 YaNg PuNya kElaiNan Seksual......
  • yuliana — houwwww, Q tertarik.... 1 hal Q tny.... yg m'adakan adl skul tinggi agama islam, bleh kah non-i juga ikut?
  • yulyanto — Mba ‘Is, Aku mohon ijin tautkan link URL-nya Mba ini ke blog saya (www.yulyanto.com) yach ????….. Tx-alotz
  • Sayyid fahmi alathas — Seni dalam kaijan ilmiah karya sastra ...