You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Membaca Ulang ‘Bumi Manusia’
Tulisan ini sengaja tidak dikategorikan dalam ‘Resensi’ karena sifatnya memang masih setengah resensi. Hanya sekedar melaporkan kemajuan dalam membaca ulang bagian pertama Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, “Bumi Manusia”.
Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan pementasan teater “Nyai Ontosoroh” baru-baru ini. Sebenarnya sudah mulai membaca sejak awal bulan ini, tapi kemudian terhenti karena beralih ke Harry Potter 7, hehe. Motivasi membaca ulang pun sebenarnya tidak murni untuk mengenal kembali Pram, tapi biar bisa ikut diskusi seorang teman ketika dia marah-marah sama Minke yang dianggapnya keterlaluan buaya daratnya.
Kesimpulannya sih, ya memang dari awal Minke sudah menunjukkan tanda-tanda ke-buaya darat-annya itu. Lha wong dia menyebut dirinya sendiri ‘philogynik’ dengan nada yang agak bangga, bercampur malu, bercampur meminta pemakluman dari pembacanya akan tingkahnya. Atau setidaknya itu dalam opiniku. Ya masak baruuu aja kenal berapa jam sama Annelies sudah curi-curi cium pipi sih?
Tapi, selain detil-detil yang baru dicermati sekarang, “Bumi Manusia” tetap jadi sebuah karya yang menghentak seperti yang aku ingat ketika selesai membacanya pertama kali. Penuh dengan ‘ajaran-ajaran’ tentang menjadi manusia yang lebih baik. “Sudah harus berlaku adil sejak dalam pikiran” adalah yang paling aku ingat. Agak-agak mirip dengan salah satu dialog di filmnya Katharine Hepburn, “The Philadelphia Story” yang baru-baru saja selesai aku tonton. Dialognya, “You’ll never be a first rate human being, let alone a first rate writer until you have some regard for human frailty.”
“Menghargai kerapuhan manusia” kan sama dengan “berlaku adil sejak dalam pikiran” kan?
Oh ya, ada satu hal lagi yang aku catat. Pada bagian Minke menggambarkan identitas ke-Jawa-annya ketika bertemu lagi dengan orangtua dan kakaknya, aku merasa Pram sedang benar-benar marah dengan ke-Jawa-an. Dan aku jadi teringat akan identitas priyayi Jawa yang digambarkan oleh Umar Kayam. Yang kedua seperti mengenalkan sisi lain arti menjadi Jawa. Hmm, sepertinya aku harus mulai membuka lagi ‘Para Priyayi’ setelah menyelesaikan ‘Bumi Manusia’.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
chocovanilla
Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga “Jejak Langkah”. Cuma masih bingung arti kata philogynik sebetulnya apa sih? Emang ejaannya begitukah?
Thanks before :D
October 5th, 2009 at 4:23 pm