You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Novel Distopia
Entah kenapa, aku selalu senang setiap kali koran The Guardian ‘mengeluarkan’ daftar top 10 buku terbarunya. Tepatnya bukan The Guardian-nya yang mengeluarkan, tapi mereka meminta bantuan penulis-penulis untuk memilihkan kira-kira buku apa sih yang mempengaruhi mereka menulis karya mereka sendiri. Pilihan-pilihan itu lalu dibungkus dengan nama Top 10.
Kali ini, temanya “Top 10 Dystopian Novels for Teenagers“. Membaca daftarnya, bacaan tentang sebuah dunia ‘alternatif’ (kebanyakan settingnya di ‘masa depan’) dan kondisi-kondisi sosialnya yang membuat merinding biasanya bukan bacaan favoritku. Jadi, agak kaget ketika membaca daftar top 10 ini dan menyadari kalau aku sudah membaca lima di antaranya. Angka yang agak banyak, karena biasanya di daftar-daftar top 10 lainnya paling banyak sudah pernah membaca empat judul (itu pun baru satu kali kejadian), seringnya dua judul, dan lebih sering lagi belum membaca atau mendengar judul itu sama sekali.
Ternyata, buat buku yang tidak aku favoritkan, kok ya kuantitas yang dibaca lumayan juga ya dibanding yang benar-benar aku favoritkan (romantic comedies, anyone?).
Bukannya saya tidak mengagumi konstruksi cerita yang dibangun di 1984, Brave New World, The Handmaid’s Tale, dan A Clockwork Orange (satu laginya The Diary of Anne Frank, tapi ini tidak bisa dibilang konstruksi cerita kan? Karena ini sebuah kejadian nyata…). Aku malah justru salut pada para penulis-penulisnya yang mau dan berani membahas skenario terburuk yang mungkin terjadi dalam sebuah masyarakat. Sementara kita? Kita bisa membacanya dan ikut terlibat dalam pembahasan tentang skenario terburuk itu atau ya sudah, tidak membacanya sama sekali. Tapi para penulisnya itu lho. Berani mengajukan pertanyaan dan pernyataan.
Dan dunia yang mereka ciptakan itu benar-benar tidak menyenangkan. Membuat merinding. Tidak akan aku masukkan dalam daftar buku favorit. Tapi anehnya, kok ya sampai sekarang aku masih bisa mengingat apa-apa saja yang terjadi di empat buku itu (percaya deh, ini sebuah pencapaian mengingat betapa pendeknya ingatan dan perhatianku) dan masih merasa ngeri-ngeri sendiri. Berarti memang ada sebuah kekuatan dalam penceritaan mereka kan?
Aku nggak mau bilang, “ini buku-buku yang harus kamu baca”. Tapi, aku memilih bilang, baca deh buku-buku ini. Kamu mungkin bakal suka pada buku-buku bertema paranoia seperti itu. Kalau pun tidak suka, buku-buku ini akan membantu mendefinisikan buku-buku seperti apa yang kamu suka. Intinya sih, kalau buku adalah sebuah jendela melihat dunia, buka jendela itu selebar mungkin.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.