You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Menonton Buku
Ada dua transisi buku ke film yang ingin aku tonton. “The Nanny Diaries”, pertama, dengan karakter Nanny diperankan oleh Scarlett Johansson dan “Atonement”, yang kedua, dengan Keira Knightley sebagai salah satu karakter utamanya, Cecilia.
“Atonement” yang diangkat dari buku karya Ian McEwan (sudah ada dalam daftar ‘to-read’ sejak setahun terakhir. Tapi kok ya dengan masa produksi sebuah film yang cukup lama, ternyata sampai sekarang belum juga membacanya..) jadi pembuka di Venice Film Festival, Rabu (29/8) lalu. The Guardian memberi adaptasi film ini penilaian yang cukup bagus. Sutradaranya, Joe Wright, adalah sutradara “Pride and Prejudice” yang dibintangi juga oleh Keira Knightley sebagai Elizabeth Bennett. Duh, padahal aku tidak terlalu suka versi itu karena Knightley yang kurang cocok sebagai Lizzie, tapi aku juga tetap penasaran melihat “Atonement” ini.
“The Nanny Diaries”, yang disutradarai oleh duo pembuat “American Splendor” Shari Springer Berman dan Robert Pulcini, ternyata hanya mendapat penilaian yang yaah sekadar cukup. Aku masih tetap penasaran sih, walaupun pengharapannya jadi tidak terlampau tinggi.
Bukunya sendiri, aku ingat membacanya sekitar 2004, tak benar-benar terasa sebagai sebuah karya fiksi. Lebih seperti yaa…catatan harian perempuan muda yang bekerja dengan bos yang sama sekali tidak simpatik. (Hmm…kenapa jadi mengingatkan dengan “The Devil Wears Prada” ya? Perempuan muda, cerdas, lulus kuliah, harus bekerja dengan atasan yang menyulitkan dengan tanggung jawab tanpa batas, masuk ke dunia yang bukan dunianya, seorang outsider, di New York…). Yang aku ingat, gaya penulisannya dingin tapi sebenarnya penuh kemarahan. Katanya sih ini kumpulan cerita-cerita dari ibu-ibu kaya yang pernah mempekerjakan penulisnya, Nicola Kraus dan Emma McLaughlin, sebagai pengasuh anak. Jika benar, buku ini bisa jadi sebuah cara balas dendam yang manis, hehe.
Tapi, yang paling aku ingat, adalah pada bagian akhir, Nanny jadi benar-benar peduli akan apa yang mungkin terjadi pada Grayer. Ia tak lagi memikirkan perasaan dendamnya atas perlakuan yang diterimanya dari Mrs X, kepentingan Grayer-lah yang jadi prioritas. Kalau benar ini adalah kumpulan cerita nyata, bukan tak mungkin anak-anak kaya di Park Avenue itu mendapat perlakuan berbeda kan?
Duh, jadi merinding.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.