You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Usia yang ‘Tepat’

Usia yang ‘Tepat’

isyana — August 31, 2007 / 3:23 am

Ada sebuah artikel yang sangat bagus di blog-nya The Guardian tentang membaca karya pada usia yang ‘tepat’. Penulis blognya, Eloise Millar, mempertanyakan ulang penilaian-penilaian sebelumnya akan buku-buku yang dulu ia anggap menarik, tapi sekarang malah jadi terasa melempem.

“Wuthering Heights” contohnya. Kisah cinta tragis antara Heathcliff dan Cathy yang dulunya ia anggap begitu penuh hasrat dan romantis, ekuivalen dengan sebuah kisah cinta yang maha dashyat, sekarang dianggapnya sebagai cerita tentang dua orang yang super egois. Nah, yang terjadi padaku sebaliknya malah, membacanya pada usia 20 atau 21, aku tidak merasakan hasrat kuat yang katanya jadi nilai plus buku itu. Waktu itu juga aku sebal setengah mati sama karakter Cathy yang menurutku sangat manja dan egois. Buku ini jadi masuk lagi dalam daftar ‘to read’-ku hanya untuk sekedar mengkonfirmasi penilaian yang sebelumnya muncul. Siapa tahu perubahan waktu, lokasi dan cara pandang bisa membantuku melihat apa yang sebelumnya tidak terpantau.

Eloise Millar juga menyebut tentang “On the Road” yang dinilainya tak lagi dapat mempengaruhinya sedashyat saat ia pertama membacanya di usia belasan. Beberapa komentar pembaca blog itu juga menyatakan hal yang sama, bahkan menambahkan: “Hal terkejam yang dapat dilakukan pada Jack Kerouac (penulis “On the Road”) adalah membacanya lagi saat kau berusia 30 tahun”. Jadi, sebelum kalian 30, cepat-cepat baca “On the Road” ya, hehe.

Buat aku sendiri, buku-buku dengan tema remaja yang mendewasa belum kehilangan maknanya. “The Catcher in the Rye”, misalnya. Ada komentator di blog Eloise yang bilang pengaruhnya hanya untuk mereka yang berusia remaja. Tapi aku malah semakin menemukan artinya dan pentingnya ketika lebih tua dari pertama kali membacanya di usia 20. Buku-buku anak-anak Roald Dahl juga malah lebih aku senangi daripada cerpen-cerpennya untuk ‘orang dewasa’.

Sebenarnya aku tak merasa asing dengan bahasan yang diajukan Eloise, bahwa makna sebuah bacaan bisa jadi berbeda saat kali kedua atau ketiga atau seterusnya dibanding saat pertama. Kesimpulan akhirku sih, bahwa membaca ulang itu adalah suatu hal yang penting. Mood yang berbeda mungkin bisa memberi penilaian yang berbeda, tempat membaca yang berbeda juga bisa ikut berpengaruh. Kalau katanya karakter Katharine Hepburn di “The Philadelphia Story”, Tracy Lord, “The time to make your mind up about people is never!” Dalam hal ini, “The time to make your mind up about a book is never” sepertinya.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Prof. Haris Prima — anjinnggg.,.lho emg pintar..salutt
  • petrus adi utomo — cicipi maduku bila kau belajar hidup datanglah pada duri rasakan cicipi onaknya naik ke gunung rasakan penatnya daki baru nikmati sehatmu ringanmu ketika menjejaki hidup ...
  • ade — buat BUMI : Kalau anda memang tau kisah pribadi Andrea Hirata dari sumber langsung (tdk melalui orang lain apalagi media ...
  • enny — ass... annida kalo ada lomba lagi kasih tahu lewat email ku yaw!!! syukron
  • nyoek — ide yang bagus capa tau bisa menang, bisa buat beli kerupuk tuh! kalo perlu lombanya ditambah biar lebih seruuuuuuuuuuu!
  • Andi Zulkifli — Hai, salam kenal
  • sati — aku mau tanya kalo mau ikut lombanya gimana? kalo bisa bales ke emailku yaaaaa....
  • aisha — aku belum sempet baca bukunya, tapi ada talkshow mengenai novel ini di kampus jadi lagi cari info tentang novel ini...^^ mungkin ...
  • Cherry Cooper — hi5dgsrn3enoz6r8
  • Janie Wilder — mt0nhiz3sz9hv9ai