Archive for September, 2007

Andrea Hirata di “Kick Andy”

Thursday, September 27th, 2007

Rabu (19/9) lalu, penulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, hadir di studio Metro TV untuk pengambilan gambar program acara ‘Kick Andy’. Tema acaranya sebenarnya tentang buku-buku yang menginspirasi, jadi ada beberapa penulis lain selain Andrea di sana, tapi mereka kebanyakan memang menulis di genre self-help/inspiration.

Cukup lama pengambilan gambarnya, sekitar dua jam. Tapi sebagian besar porsi waktunya memang ditujukan untuk Andrea. Kalau tidak salah, edisi ini akan ditayangkan 3 Oktober mendatang. Tapi, karena aku sempat datang ke sana, ini ada laporan pandangan mata (dan catatan) dari jawaban-jawaban yang diberikan Andrea.

Awalnya, ia menceritakan tentang buku Laskar Pelangi yang dalam seminggu sudah cetak ulang itu. Ceritanya tentang memoar masa kecilnya dengan sahabat-sahabatnya yang dijuluki Laskar Pelangi oleh Ibu Muslimah, atau Ibu Mus, guru sekolahnya. “Segala sesuatu tentang buku ini emosional sekali,” kata Andrea. Kondisi sekolahnya amat sangat menyedihkan, jika malam digunakan untuk menyimpan ternak. Seragam anak-anaknya, copot semua kancing bajunya. Selain itu, sepatu mereka menggunakan plastik.

Andrea juga bercerita tentang bagaimana Laskar Pelangi ini mulai bersahabat, bahwa mereka adalah sepuluh anak yang mendaftar di sebuah sekolah, SD Muhammadiyah, yang awalnya sudah mau ditutup karena kekurangan murid. Lalu cerita berlanjut tentang bagaimana mereka terus bertahan di sekolah dengan kondisi mengerikan itu dan terus bersahabat. “Ini sebenarnya sekolah yang hampir bubar, ketika ujian, kami dititipkan di sekolah lain. Secara administrasi, sekolah itu hampir tidak ada,” tambah Andrea.

Pertanyaan berlanjut pada hari pendaftaran sekolah itu, persis seperti bab pertama Laskar Pelangi “Sepuluh Murid Baru”. Hari sudah siang, tapi murid yang mendaftar belum genap sepuluh, padahal kalau tidak mendapat sepuluh murid maka sekolah ini akan bubar. Di saat-saat kritis, muncullah murid yang mau mendaftar, seorang pemuda bernama Harun yang memiliki keterbelakangan mental dan menderita polio. Belitung, menurut Andrea, tidak memiliki fasilitas sekolah luar biasa. Oleh ibunya, Harun lalu dititipkan di sekolah, sebagai alternatif daripada mengejari ayam-ayam piaraan keluarganya.

Tekad Andrea untuk menulis buku ini muncul saat suatu hari, di tengah hujan yang lebat, kelas bocor, Ibu Mus, perempuan perkasa itu, tidak segera datang. Murid-muridnya sudah ketakutan. Sampai akhirnya Andrea merasa legaaa sekali ketika melihat Ibu Mus datang berpayung pelepah pisang. “Satu hari nanti, saya harus menulis tentang beliau,” tegasnya. Tapi Andrea juga menegaskan, walaupun dasarnya adalah sebuah memoar, tapi ada fiksionalisasi yang terjadi. Ia menyebutnya sebagai ‘memoar yang dikemas dengan sastra dengan tambahan latar belakang sosio-kultural’.

Andrea juga secara spesifik berbicara tentang kawan sebangkunya, Lintang, yang dalam buku harus bolak-balik sejauh 80 km menggunakan sepeda yang sadelnya terlalu tinggi ‘hanya’ demi ke sekolah. Lintang, dalam penilaian Andrea, adalah anak yang sangat cerdas. Andrea selalu berusaha setengah mati mencoba menyaingi Lintang, tapi selalu jadi nomor dua. “Nomor duanya abadi,” tambahnya. Andrea mengaku bahwa sepanjang hidupnya, ia terinspirasi oleh Lintang. “Seluruh hidup saya sebenarnya adalah balas dendam kekecewaan atas nasib Lintang. Saya tahu betuil kapasitas kecerdasan Lintang. Dia sebenarnya yang ingin sekolah ke Perancis. Saya belajar sampai jungkir balik karena tidak sepintar Lintang agar bisa sekolah ke sana,” kata Andrea.

Lintang harus berhenti sekolah karena ayahnya meninggal. Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, kewajiban mencari nafkah akhirnya tertumpu padanya. Padahal ayahnya harus menanggung hidup 14 nyawa. Terakhir kali bertemu Lintang, ia bekerja sebagai supir truk di sebuah daerah eksploitasi pasir gelas.

Andrea mengakui bahwa ‘Laskar Pelangi’ bukanlah sebuah buku yang berakhir bahagia, tapi realistis dalam menggambarkan kisah dan nasib orang Indonesia kebanyakan. “Saya menulis tentang konteks, bukan sekedar peristiwa. Tentang interpretasi fenomena dan hidup senyatanya, seadanya. Dan ini yang identik dengan nasib banyak orang. Ini mungkin ‘feel’ yang didapat pembaca,” ujar Andrea. Buku ini, menurutnya, tak terpaku pada tren metropop atau isu urban dan hedonistik, tapi masuk pada esensi kepribadian orang sehingga pembaca mempersepsikan dirinya sendiri pada karakter-karakter di dalam buku.

Sumber energinya yang terbesar dalam menulis buku ini adalah kecintaan Andrea pada Ibu Mus, sang guru. Bahwa pelajaran terpenting yang diberikan Ibu Mus adalah integritas dan cinta. “Beliau selalu bisa menghubungkan hal-hal kecil dengan substansi yang lebih besar,” kata Andrea. Saat kelasnya banjir akibat air hujan yang masuk lewat atap bocor, anak-anak Laskar Pelangi itu mengeluh, tapi Ibu Mus kemudian menunjukkan sebuah gambar di buku bahasa Belanda yang memuat foto sel Soekarno di Banceuy. “Lihatlah ruang yang suram ini, tapi Pak Karno terus belajar, membaca buku, dan dia adalah salah satu orang paling cerdas di negara ini,” Andrea menirukan Ibu Mus. Kebajikan-kebajikan yang diajarkan oleh Ibu Mus bukan sesuatu yang dikhotbahkan, tapi ia lakukan dengan memberi contoh.

Adalah sesuatu yang wajar, menurut Andrea, untuk menulis buku seperti ‘Laskar Pelangi’ jika kita bertemu dengan karakter seperti Ibu Mus, diajar oleh guru seperti beliau. Karena beliau memang guru yang luar biasa.

Yah, sekian dulu laporan dariku. Masih penasaran dengan episode lengkapnya, tunggu siarannya ya.

Popularity: 100%

Usaha Penulis Asia Mendunia

Thursday, September 27th, 2007

Pemenang penghargaaan sastra Man Booker Prize 2006, Kiran Desai, untuk karyanya “The Inheritance of Loss” sedang berada di Bali sebagai pembicara untuk Ubud Readers and Writers Festival 2007. Penulis Amerika kelahiran India ini, pada usia 35, adalah pemenang perempuan termuda penghargaan tersebut.

Ada satu pemikiran menarik yang disampaikan Kiran pada jumpa pers, Selasa (25/9) lalu, seperti dikutip di Kompas:

“Selama ini masyarakat internasional lebih banyak mengenal karya-karya sastra dari dunia Barat. Padahal, belakangan telah ada perubahan. Muncul penulis-penulis yang berkonsentrasi kepada tempat asal mereka hidup dan menulis dengan sangat baik,” ujar Kiran Desai dalam jumpa pers di Ubud, Selasa (25/9).

….Setelah mengunjungi berbagai festival sastra yang diadakan di Sri Lanka, Brasil, Hongkong, China, dan kini di Bali, Kiran sampai pada satu kesimpulan akan penting untuk menarik perhatian dunia internasional terhadap kesusastraan di luar tradisi Barat. Di dalam festival-festival itu, tambah Kiran, muncul diskusi dan perdebatan menarik yang tidak terekspos dalam wilayah kesusastraan Barat.

“Banyak karya yang sangat baik dan belum dibawa ke dunia. Sebagian dikarenakan belum diterjemahkan ke dalam bahasa di luar bahasa penulisnya. Karya-karya itu (lalu) seakan menjadi tidak ada. Padahal, tidak hanya Barat yang punya arti dan berharga,” ujar Kiran.

Kompas, untuk menegaskan yang dimaksud sebagai sastra di luar Barat, juga mengutip dari penulis serial Detektif Feng Shui, Nury Vittachi.

Serial Detektif Feng Shui, salah satu seri detektif favoritku, memang kental dengan hal-hal yang berbau Asia. Mulai dari kebiasaan dan kepercayaan akan hal-hal yang tidak hanya materiil tapi juga immateriil, penggambaran pertentangan budaya antara CF Wong–lelaki tua etnis Cina-Singapura–dan asistennya–Joyce yang sangat remaja dan sangat Barat–Vittachi menuliskannya dengan sangat kaya dan kental. (Aku sampai tiba-tiba lapar kalau ada adegan CF Wong dan kolega sesama paranormalnya memesan menu macam-macam untuk makan bersama, hehe).

Bagian favoritku dari artikel ini adalah kutipan-kutipan dan pemikiran dari Nury Vittachi:

Hal senada diungkapkan Nury Vittachi, penulis yang berdomisili di Hongkong. Dia mengatakan, Indonesia berpotensi untuk tampil dalam dunia sastra karena banyak penulis muda yang bermunculan. Penulis-penulis muda itu perlu diberikan kesempatan.

…”Saya harus sungguh-sungguh menerangkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan wilayah dan jumlah penduduk sangat besar. Contoh kecil lainnya, tulisan saya pernah ditolak karena narasumber yang saya kutip tidak mempunyai nama belakang. Editor itu beranggapan saya tidak menuliskan nama narasumber dengan benar, padahal di Indonesia tidak semua orang punya nama belakang,” ujarnya.

Jadi, penulis muda Indonesia, jangan takut dengan mimpi mendunia!

Popularity: 11%

Saman (Ayu Utami)

Monday, September 24th, 2007

Dari Zadie Smith, aku meloncat lagi ke ‘Saman’. Buku yang, meminjam istilah seorang teman, sudah jadi keniscayaan sastra Indonesia (Aku mengutip perkataannya: “Orang-orang beranggapan kalau mau kenal sastra Indonesia, ini lho baca ‘Saman’”. Kata-kata ini disampaikannya setelah mendengar laporanku di sebuah toko buku yang menguping percakapan beberapa perempuan muda berseragam SMA di Gramedia Matraman. Mereka terdengar sangat bersemangat ingin mulai ‘membaca’ dan bilang, “Gue pengen mbaca yang sastra-sastra gitu lho. ‘Saman’ ya? Atau Fira Basuki yang ‘Jendela-jendela’?).

Yang aku ingat dari Saman, ini adalah bagian dari pengalaman coming-of-age pribadi. Aku ingat terbangun suatu Minggu pagi dan membaca di Kompas artikel pembahasan panjang lebar akan sebuah dentuman besar bernama Ayu Utami dan karyanya, ‘Saman’. Aku tidak ingat lagi apa yang jadi kesimpulan akhir artikel itu, sebuah perayaan ataukah sebuah penghujatan. Yang pasti, aku terintimidasi. (Maafkan atas reaksi ini. Saat itu, aku masih berumur 15 atau 16 tahun. Untuk perempuan muda usia itu, rambut bercabang saja bisa mengintimidasi, apalagi sebuah artikel pembahasan sastra di Kompas…)

Aku juga ingat langsung membelinya minggu esoknya sepulang sekolah dan tidur baru jam tiga malam karena menyelesaikannya. Saat itu, aku cuma bisa membahasakan pengalaman membaca ‘Saman’ sebagai ‘gilaaa…keren banget.’

Sembilan tahun sudah berlalu. Apa yang berubah?

Bisa dibilang, hampir tidak ada. Terlepas dari euforia berkenalan dengan sesuatu yang baru dan exciting, ‘Saman’, buatku tetap jadi sebuah karya prima. Metafora yang segar, riset yang kuat, disajikan dengan kadar yang pas, tak jadi menggurui tapi cukup kaya memberi informasi, dan ide-ide yang muncul dari percakapan internal karakter-karakternya membuatku beberapa kali merenung dan mencoba memikirkan jawabannya sendiri.

Aku menilai penulisnya sebagai seorang penulis dewasa yang sudah matang. Yang tak perlu lagi menonjolkan otot-otot kepenulisannya secara berlebihan untuk menarik simpati pembacanya tapi akhirnya malah terjerumus dalam upaya yang terlalu keras untuk memberi kesan ia ‘tahu’. Seperti yang aku temui dalam beberapa novel riset (jika bisa dibilang genre itu ada) belakangan ini. Yang ada di ‘Saman’ adalah kesan bahwa penulisnya nyaman dengan pengetahuan yang ia miliki dan bisa memilih waktu-waktu tepat untuk memberi informasi cukup pada pembacanya. (Hmm, bicara tentang metafora menonjolkan otot, aku baru tersadar, penulisnya kan memang punya bisep—atau trisep?—yang dilatih dengan baik, hehe)

Jika ada yang mempertanyakan, kenapa aku bisa meloncat dari Zadie Smith ke Ayu Utami, mungkin aku jadi seperti Vogue yang memasukkan mereka dalam kelompok ‘young, eclectic talent(s)’. Mereka meluncurkan buku pertamanya dalam usia yang kurang lebih sebaya, Smith sekitar 26, Ayu Utami sekitar 30. Lalu mereka sama-sama dibandingkan dengan seniornya, Smith ‘dituduh’ sebagai The New Salman Rushdie, Ayu Utami sebagai…ya, tak perlu diulang kan?

Dan, ya, kalau kita mau berjalan ke arah yang lebih dangkal, dua-duanya sama-sama cantik. Tapi, ini juga tentang kesamaan besaran energi dan stamina untuk menghasilkan ‘Debut yang Hebat’. Yang witty, atau cerkas meminjam istilah Goenawan Mohamad—dari blurb di sampul ‘Filosofi Kopi’-nya Dewi Lestari—, yang cerdas, yang kaya, dan, sekali lagi, yang membuat kenyang tapi tak membuat bosan.

Tak ada yang salah, menurutku, ketika ‘Saman’ diposisikan sebagai satu keniscayaan dalam sastra Indonesia, walaupun bukan satu-satunya.

Popularity: 17%

On Beauty (Zadie Smith)

Monday, September 24th, 2007

Dari Marisha Pessl lewat ‘Special Topics in Calamity Physics’, aku berpindah ke ‘On Beauty’ karya Zadie Smith. Salah satu buku yang dibeli Agustus lalu di toko buku bandara dalam salah satu perjalanan tugas ke luar kota. Tapi kenapa Zadie Smith? Karena di sampul belakang ‘Special Topics..’ majalah mode Vogue menulis komentar ini, “Witty and exuberant…place(s) the author alongside young eclectic talents like Dave Eggers, Jonathan Safran Foer, and Zadie Smith.”

Aku ingin menguji, seberapa tepat sebenarnya pengkategorian yang dilakukan oleh Vogue ini. Dan, oh ya, juga atas dasar keinginan rahasia untuk mengetahui apa yang dibutuhkan agar berada di deretan ‘young, eclectic talents’ itu, hehe.

“On Beauty” adalah karya ketiga penulis Zadie Smith setelah White Teeth dan The Autograph Man. Smith, yang lahir dari perkawinan campuran antar ras kedua orangtuanya, kerap membuat karakter-karakter mudanya juga sebagai hasil perkawinan antar ras dan etnis. Yang juga aku catat, Smith sangat tak bisa terlepas dari memasukkan referensi atas budaya-budaya pop sebagai pembentuk karakter tokoh-tokohnya. Terlihat jelas di “The Autograph Man” dan masih terus muncul di “On Beauty”. Mungkin di sini Pessl dan Smith menjadi mirip. Selepasnya, cara mereka bercerita sangat berbeda. Pessl memilih menceritakan karakter dan hidup yang ‘sureal’, Smith memilih bercerita tentang yang keseharian.

Oke, kembali ke ‘On Beauty’, ini sepertinya lebih banyak bercerita tentang orang-orang seusia orangtua kita. Awalnya adalah pertentangan dua keluarga akademia, keluarga Belsey dan Kipps. Keluarga Belsey mewakili sebuah rumah tangga yang dominan nilai-nilai liberalnya, sangat rasional, tak percaya dengan ketuhanan atau aspek-aspek spiritual lainnya, dan sangat percaya dengan kebebasan berpendapat. Kecuali mungkin kebebasan berpendapat mereka yang berada di garis politik sangat kanan, conservative right wing, di sinilah posisi keluarga Kipps. Bayangkan orang-orang seperti Condoleezza Rice atau Colin Powell, dan voila, kamu akan mendapatkan pandangan utama kepala keluarga Kipps, Monty atau Montague.

Sebenarnya pertentangan antara kedua keluarga ini bukan pertentangan antara masing-masing anggota keluarga, tapi lebih pada pertentangan masing-masing kepala keluarga, Howard Belsey dan Monty Kipps. Dua-duanya profesor di bidang humaniora, dan dua-duanya bersaing tanpa akhir di jurnal ilmiah lewat esai-esainya, mata kuliah, penghargaan dari kolega mereka di dunia akademia, sampai berebut pengaruh. Tapi, yang menjadi ‘konflik’ adalah hubungan antara masing-masing anggota keluarga mereka yang ternyata oke-oke saja, malah cenderung akrab, dibanding pertentangan antara kedua kepala keluarga. Setidaknya awalnya dimulai dari kisah cinta anak sulung Howard, Jerome, dengan Victoria, anak bungsu Monty Kipps. Lalu ada persahabatan antara istri Howard, Kiki, dan Carlene, istri Monty. Dan seperti buku-buku Smith sebelumnya, setiap karakter mendapat jatah penceritaan yang cukup lengkap. Smith adalah seorang penulis dengan energi besar. Ia kuat membangun jalinan cerita antar banyak karakter dalam jangka waktu sekitar dua tahun. Belum lagi kekuatannya menggambarkan detil tentang setiap gestur dan gerak yang dibuat oleh karakternya di setiap adegan. Dan dialognya yang bisa dengan jelas menggambarkan karakter pengucapnya.

Jalinan ceritanya membuatku teringat akan White Teeth. Ceritanya juga paralel tentang dua keluarga. Jika pertentangan nilai yang dibangun di sini adalah tentang pandangan liberal versus konservatif, di White Teeth yang dikhawatirkan adalah pandangan progresif dan konservatif dalam sebuah keluarga imigran muslim Pakistan di London utara. Kalau tidak salah ingat, dua-duanya juga berakhir pada kesimpulan peristiwa yang tidak menyenangkan hati karakter ayahnya.

Aku mengagumi energi Smith, tapi tidak bisa dibilang aku menikmati buku ini. Blurb atau kutipan yang ada di sampul belakang dan dalam buku tentang kehebatan penulisan Smith terus mengulang-ulang sebuah kata kunci; funny. Sesuatu yang belum bisa aku hargai di karya-karya Smith. Mungkin jenis lucunya yang sifatnya ironi, dark humor yang getir dan pahit. Tapi sepertinya butuh diidentifikasi lebih lanjut. Setidaknya tak membuatku langsung berpikiran ini sesuatu yang lucu in that way.

Tapi, secara pribadi, aku juga salut pada kemampuan Smith untuk membuatku terus setia membaca sampai akhir, tidak membaca buku ini berbarengan dengan buku lain. Pengalaman kenyang membaca sebuah buku, dan tak perlu makanan sampingan lain, baru-baru saja aku alami. Mungkin karena dua buku terakhir yang aku baca adalah makanan yang cukup kaya rasa, tapi mudah dicerna, sehingga aku tetap bisa merasa kenyang tanpa merasa kelelahan mengunyah? Kalau begitu, aku menyampaikan pujian dan terima kasih untuk juru masaknya. (Habis nonton ‘No Reservations’…)

Popularity: 14%

Gossip Girl Goes TV

Tuesday, September 18th, 2007

Sepertinya baru beberapa saat yang lalu serial novel Gossip Girl berderet memenuhi rak-rak buku di Kinokuniya (Atau karena baru-baru saja tersadarnya?). Eh ternyata sekarang sudah jadi sebuah serial televisi.

Harian New York Times menurunkan cerita lengkap tentang awal mula pembuatan serial tentang anak-anak orang kaya di New York ini. Pembuatnya adalah Josh Schwartz yang sebelumnya sukses dengan serial televisi The OC. Serial ini, bahkan sebelum muncul, sudah dijuluki East Coast OC karena settingnya di New York.

Kota New York, di artikel itu, disebut-sebut bakal jadi bagian utama serial. Setting utamanya. Agak mengingatkan dengan serial Sex and the City, yang walaupun bukan ditujukan untuk remaja, tapi sepertinya cukup banyak yang mengidolakan Carrie Bradshaw dan Big. (Maksudnya, majalah-majalah remaja kerap memberi referensi pada serial ini. Bahkan pernah membuat sebuah pesta dengan tema salah satu kutipan di serial SATC. Padahal kan….)

Setelah membaca ringkasan isi Gossip Girl di situs ini, kok isinya ternyata penuh dengan karakter-karakter kejam ya? Apakah benar itu yang terjadi di dunia nyata, di antara gadis-gadis kaya yang tinggal di kawasan mewah Upper East Side, New York? Kalau menurut artikel lain di NY Times tentang reaksi dari pemutaran perdana serial ini, seni bisa mengimitasi kehidupan nyata.

Popularity: 12%

Special Topics in Calamity Physics (Marisha Pessl)

Friday, September 14th, 2007

Calon kuat untuk daftar “10 Buku Terbaik Yang Aku Baca 2007″. Terbaik karena bahasa dan jalinan ceritanya yang membuatku nagih, nggak bisa berhenti membaca. Terbaik juga karena setelah seminggu menyelesaikan buku ini, aku masih belum bisa lepas dari ‘aftertaste’-nya. Masih terus-menerus mencari info-info tambahan atau komentar dari orang-orang lain tentang buku ini. Dan, terbaik karena memberikan semua yang aku impikan dalam sebuah buku. Narator yang jenaka dan cerdas, penuh dengan referensi akan budaya pop, plot misteri, hubungan orangtua dan anak yang unik, dan judul bab yang ‘meminjam’ judul-judul buku bacaan klasik seperti sebuah kurikulum kuliah yang diakhiri dengan final exam.

Ceritanya tentang seorang Blue van Meer, gadis berusia 16 tahun, jenius, punya ayah seorang profesor Political Science yang eksentrik, ganteng, intens dengan afiliasi politiknya dan egosentris. Blue, akibat didikan ayahnya, Gareth van Meer, juga tak kalah intensnya dengan bacaan-bacaannya. Bersama ayahnya, ia membaca berbagai macam buku, mulai dari bacaan klasik, sampai biografi bintang-bintang film Hollywood masa lalu (mulai dari bintang kelas A sampai kelas D). Apa pun, bahkan siapa pun, yang ditemui Blue dalam hidupnya selalu dibandingkan dengan bacaan-bacaannya. Kadang ada buku yang nyata, kadang ada juga yang diciptakan sendiri oleh Marisha Pessl, penulis buku ini.

Ayah Blue memilih mengajar mahasiswa-mahasiswa di universitas-universitas level bawah dan mengacuhkan tawaran mengajar di universitas top sekelas Harvard. Akibat pilihan ayahnya ini, Blue harus ikut berpindah-pindah sampai ke tiga kota setiap tahunnya. Sampai akhirnya, untuk tahun terakhir SMA Blue, ia dan ayahnya menetap di kota bernama Stockton. Di sinilah Blue berkenalan dengan seorang guru film, Hannah Schneider, yang diidentikkan kecantikannya dengan femme fatale di film-film Hitchcock. Dan di sekeliling Hannah, ada Bluebloods. Kumpulan murid populer di SMA St Gallway yang menganggap Hannah sebagai figur mentor mereka dan dipaksa oleh Hannah untuk jadi teman Blue.

Hannah, diceritakan di bagian awal, mati gantung diri. Tapi ini bukan sebuah cerita tentang whodunnit, atau siapa yang melakukan, tapi kenapa ini dilakukan. Dan Pessl, memberikan sebuah teori konspirasi yang sebenarnya cukup gelap dan berat kalau dipikir-pikir lagi, tapi dibungkusnya dengan sesuatu yang ringan. Bayangkan, serial The OC ketemu ama film Conspiracy Theory.

Usaha-usaha Blue untuk fitting in dengan kelompok Bluebloods punya satu cerita sendiri. Hubungan Gareth dan Blue, terutama di awal cerita, juga jadi satu cerita sendiri. Tiap kali Gareth muncul, profesor ini selalu bisa membuatku ketawa dengan kutipan-kutipan yang diucapkannya penuh dengan keagungan dan rasa penting akan dirinya sendiri. (Dia paling suka menirukan Marlon Brando, bahkan percaya punya kemampuan lebih daripadanya…)

Dan Blue, aku tidak bisa membayangkan apa yang ada di pikirannya saat ia dihadapkan pada situasi-situasi yang menunjukkan keegoisan ayahnya, selain ia sangat mengidolakan Gareth. Ada kritik dan kekhawatiran dan keraguan, sebenarnya. Dari Blue untuk ayahnya. Tapi pada akhirnya, Blue menerima ayahnya sebagai seorang manusia dan tetap mengidolakannya. Contohnya di bagian ini:

I’d accuse him of secretly wanting to return to Africa in order to spearhead a well-organized revolution, single-handedly stabilizing the D(emocratic) R(epublic of) C(ongo) (expunging Hutu-aligned forces), then moving on to other countries waiting to be freed like exotic maidens tied to railroad tracks (Angola, Cameroon, Chad). When I voiced these suspicions, he’d laugh of course, but I always felt the laugh wasn’t quite hard enough; it was conspicuously hollow, which made me wonder if I’d haphazardly thrown in my line and caught the biggest, most unlikely of fishes. This was Dad’s deep-sea secret, never before photographed or scientifically classified: he wished to be a hero, a poster boy for freedom, silk-screened, reduced to bright colors and printed on hundred thousand T-shirts, Dad with Marxist beret, martyr-ready eyes, and a threadbare mustache (see The Iconography of Heroes, Gorky, 1978).

Mwahaha.

Lalu Blue dan Hannah, juga misteri tentang siapa Hannah sebenarnya adalah salah satu anak cerita yang menarik. Semua aspek di buku ini buatku menarik untuk dipikir-pikir lebih lanjut.

Banyak yang membandingkan gaya penulisan Pessl dengan Nabokov yang katanya penuh dengan permainan asosiasi dan kata-kata. Tapi, aku belum membaca Nabokov untuk bisa membaca perbandingan-perbandingan itu. Yang aku suka dari gaya penulisan Pessl adalah ritmenya. Cukup cepat. Tidak terlalu dibebani dengan detil-detil yang terjadi dalam sebuah percakapan (sebagai perbandingan, sekarang aku lagi membaca ‘On Beauty’-nya Zadie Smith dan sejujurnya agak merasa lelah karena ia menulis begitu banyak detil dalam percakapan antar karakternya).

It’s a pretty thick book, sekitar 700an halaman, tapi karena cara penulisannya yang cukup cepat dan ringan dan membuat penasaran juga pengen tahu jawabannya (agak-agak seperti novel misteri Agatha Christie menjelang akhirnya), jadi bisa selesai dalam waktu yang cukup cepat buatku. Satu minggu. Heheh. (Ingat kan, aku penderita ADD yang suka bosan membaca satu buku?).

Selesai membaca, karena pengen sesuatu yang lebih dari cerita ini, aku jadi suka browsing-browsing tentang Marisha Pessl (ternyata aku dan dia sama-sama suka The Jazz Age dan F Scott Fitzgerald, Katharine Hepburn, Jimmy Stewart, Old Hollywood, Edith Wharton, dan blog gosip socialitelife.com), wawancaranya, resensi bukunya, resensi lain lagi, dan lagi, dan lainnya lagi kalau masih penasaran.

Popularity: 68%

Berbicara Tentang Daftar

Monday, September 3rd, 2007

Kesukaanku pada daftar sudah pernah beberapa kali diulang di blog ini. Jadi, salah satu entry yang pasti bakal muncul adalah tentang daftar-daftar yang berhubungan dengan dunia literer. Contohnya, dari situs World Hum. Di situs itu disebutkan 10 traveller fiksi terhebat versi mereka.

Tak semuanya berasal dari buku, ada “Dora The Explorer” (katanya, Boots adalah Sancho Panza untuk Don Quixote-nya Dora) dan “Original Crew of the Starship Enterprise” yang berasal dari program televisi. Daftar yang menarik buat tambahan bacaan. Seharusnya daftar ini bisa lebih menggerakkanku untuk mulai membaca “On the Road” sebelum tambah tua.

Daftar lain datang dari penulis Irvine Welsh yang menulis “Trainspotting” (aku belum sampai membaca bukunya, tapi versi filmnya benar-benar menghempas pikiranku). Daftar ini bukan tentang buku, tapi lagu. Blog buku harian New York Times tiap Rabu menerbitkan “Living with Music”, daftar tentang lagu-lagu yang ada di playlist para penulis yang mereka tanyai.

Tapi mereka menulisnya dengan lebih baik:

On Wednesdays, this blog is the delivery vehicle for “Living With Music,” a playlist of songs from a writer or some other kind of book-world personage. Why? Because books and music, on good days, just seem to go together. And because the “celebrity playlists” on iTunes never get around to asking writers to pitch in.

Haha.

Tapi, playlist iPod milik Irvine Welsh ada di sini.

Popularity: 8%

Wawancara Daniel Clowes

Monday, September 3rd, 2007

“Ghost World” versi film ternyata sangat tidak mengecewakan. Ada anak cerita yang linier dengan versi novel grafisnya. Tapi ada perkembangan-perkembangan baru yang tak digarap sedalam itu di buku, tapi dieksplorasi lebih dalam di film dan sesuai dengan semangat karakter Enid dan Rebecca.

Ah, tentang apa ini? Novel grafis “Ghost World” yang pernah aku resensi beberapa bulan sebelum ini. Baru beberapa minggu yang lalu aku menemukan DVD-nya (dari tempat penyewaan DVD Subtitles di The Dharmawangsa Square) dan sekarang, film ini sudah masuk daftar favorit. Oh ya, ada beberapa bagian di buku itu yang mengingatkanku sama film “Art School Confidential” yang naskah dan komiknya juga dikembangkan oleh Daniel Clowes.

Ada wawancara singkat dengan Clowes di blog buku harian New York Times. Yang paling mengejutkan, ternyata akan ada edisi 10 tahunnya “Ghost World”. Buku itu ternyata sudah berusia 10 tahun? Kenapa rasanya masih sangat aktual dan segar ya?

P.S: Salah satu penulis favoritku, Nick Hornby, ternyata sudah punya blog. Tak tahu apakah ini ditulis oleh publicist-nya atau oleh ia sendiri, tapi aku tetap …*meloncat kegirangan*

Popularity: 8%