You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: On Beauty (Zadie Smith)
Dari Marisha Pessl lewat ‘Special Topics in Calamity Physics’, aku berpindah ke ‘On Beauty’ karya Zadie Smith. Salah satu buku yang dibeli Agustus lalu di toko buku bandara dalam salah satu perjalanan tugas ke luar kota. Tapi kenapa Zadie Smith? Karena di sampul belakang ‘Special Topics..’ majalah mode Vogue menulis komentar ini, “Witty and exuberant…place(s) the author alongside young eclectic talents like Dave Eggers, Jonathan Safran Foer, and Zadie Smith.”
Aku ingin menguji, seberapa tepat sebenarnya pengkategorian yang dilakukan oleh Vogue ini. Dan, oh ya, juga atas dasar keinginan rahasia untuk mengetahui apa yang dibutuhkan agar berada di deretan ‘young, eclectic talents’ itu, hehe.
“On Beauty” adalah karya ketiga penulis Zadie Smith setelah White Teeth dan The Autograph Man. Smith, yang lahir dari perkawinan campuran antar ras kedua orangtuanya, kerap membuat karakter-karakter mudanya juga sebagai hasil perkawinan antar ras dan etnis. Yang juga aku catat, Smith sangat tak bisa terlepas dari memasukkan referensi atas budaya-budaya pop sebagai pembentuk karakter tokoh-tokohnya. Terlihat jelas di “The Autograph Man” dan masih terus muncul di “On Beauty”. Mungkin di sini Pessl dan Smith menjadi mirip. Selepasnya, cara mereka bercerita sangat berbeda. Pessl memilih menceritakan karakter dan hidup yang ‘sureal’, Smith memilih bercerita tentang yang keseharian.
Oke, kembali ke ‘On Beauty’, ini sepertinya lebih banyak bercerita tentang orang-orang seusia orangtua kita. Awalnya adalah pertentangan dua keluarga akademia, keluarga Belsey dan Kipps. Keluarga Belsey mewakili sebuah rumah tangga yang dominan nilai-nilai liberalnya, sangat rasional, tak percaya dengan ketuhanan atau aspek-aspek spiritual lainnya, dan sangat percaya dengan kebebasan berpendapat. Kecuali mungkin kebebasan berpendapat mereka yang berada di garis politik sangat kanan, conservative right wing, di sinilah posisi keluarga Kipps. Bayangkan orang-orang seperti Condoleezza Rice atau Colin Powell, dan voila, kamu akan mendapatkan pandangan utama kepala keluarga Kipps, Monty atau Montague.
Sebenarnya pertentangan antara kedua keluarga ini bukan pertentangan antara masing-masing anggota keluarga, tapi lebih pada pertentangan masing-masing kepala keluarga, Howard Belsey dan Monty Kipps. Dua-duanya profesor di bidang humaniora, dan dua-duanya bersaing tanpa akhir di jurnal ilmiah lewat esai-esainya, mata kuliah, penghargaan dari kolega mereka di dunia akademia, sampai berebut pengaruh. Tapi, yang menjadi ‘konflik’ adalah hubungan antara masing-masing anggota keluarga mereka yang ternyata oke-oke saja, malah cenderung akrab, dibanding pertentangan antara kedua kepala keluarga. Setidaknya awalnya dimulai dari kisah cinta anak sulung Howard, Jerome, dengan Victoria, anak bungsu Monty Kipps. Lalu ada persahabatan antara istri Howard, Kiki, dan Carlene, istri Monty. Dan seperti buku-buku Smith sebelumnya, setiap karakter mendapat jatah penceritaan yang cukup lengkap. Smith adalah seorang penulis dengan energi besar. Ia kuat membangun jalinan cerita antar banyak karakter dalam jangka waktu sekitar dua tahun. Belum lagi kekuatannya menggambarkan detil tentang setiap gestur dan gerak yang dibuat oleh karakternya di setiap adegan. Dan dialognya yang bisa dengan jelas menggambarkan karakter pengucapnya.
Jalinan ceritanya membuatku teringat akan White Teeth. Ceritanya juga paralel tentang dua keluarga. Jika pertentangan nilai yang dibangun di sini adalah tentang pandangan liberal versus konservatif, di White Teeth yang dikhawatirkan adalah pandangan progresif dan konservatif dalam sebuah keluarga imigran muslim Pakistan di London utara. Kalau tidak salah ingat, dua-duanya juga berakhir pada kesimpulan peristiwa yang tidak menyenangkan hati karakter ayahnya.
Aku mengagumi energi Smith, tapi tidak bisa dibilang aku menikmati buku ini. Blurb atau kutipan yang ada di sampul belakang dan dalam buku tentang kehebatan penulisan Smith terus mengulang-ulang sebuah kata kunci; funny. Sesuatu yang belum bisa aku hargai di karya-karya Smith. Mungkin jenis lucunya yang sifatnya ironi, dark humor yang getir dan pahit. Tapi sepertinya butuh diidentifikasi lebih lanjut. Setidaknya tak membuatku langsung berpikiran ini sesuatu yang lucu in that way.
Tapi, secara pribadi, aku juga salut pada kemampuan Smith untuk membuatku terus setia membaca sampai akhir, tidak membaca buku ini berbarengan dengan buku lain. Pengalaman kenyang membaca sebuah buku, dan tak perlu makanan sampingan lain, baru-baru saja aku alami. Mungkin karena dua buku terakhir yang aku baca adalah makanan yang cukup kaya rasa, tapi mudah dicerna, sehingga aku tetap bisa merasa kenyang tanpa merasa kelelahan mengunyah? Kalau begitu, aku menyampaikan pujian dan terima kasih untuk juru masaknya. (Habis nonton ‘No Reservations’…)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.