You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Saman (Ayu Utami)
Dari Zadie Smith, aku meloncat lagi ke ‘Saman’. Buku yang, meminjam istilah seorang teman, sudah jadi keniscayaan sastra Indonesia (Aku mengutip perkataannya: “Orang-orang beranggapan kalau mau kenal sastra Indonesia, ini lho baca ‘Saman’”. Kata-kata ini disampaikannya setelah mendengar laporanku di sebuah toko buku yang menguping percakapan beberapa perempuan muda berseragam SMA di Gramedia Matraman. Mereka terdengar sangat bersemangat ingin mulai ‘membaca’ dan bilang, “Gue pengen mbaca yang sastra-sastra gitu lho. ‘Saman’ ya? Atau Fira Basuki yang ‘Jendela-jendela’?).
Yang aku ingat dari Saman, ini adalah bagian dari pengalaman coming-of-age pribadi. Aku ingat terbangun suatu Minggu pagi dan membaca di Kompas artikel pembahasan panjang lebar akan sebuah dentuman besar bernama Ayu Utami dan karyanya, ‘Saman’. Aku tidak ingat lagi apa yang jadi kesimpulan akhir artikel itu, sebuah perayaan ataukah sebuah penghujatan. Yang pasti, aku terintimidasi. (Maafkan atas reaksi ini. Saat itu, aku masih berumur 15 atau 16 tahun. Untuk perempuan muda usia itu, rambut bercabang saja bisa mengintimidasi, apalagi sebuah artikel pembahasan sastra di Kompas…)
Aku juga ingat langsung membelinya minggu esoknya sepulang sekolah dan tidur baru jam tiga malam karena menyelesaikannya. Saat itu, aku cuma bisa membahasakan pengalaman membaca ‘Saman’ sebagai ‘gilaaa…keren banget.’
Sembilan tahun sudah berlalu. Apa yang berubah?
Bisa dibilang, hampir tidak ada. Terlepas dari euforia berkenalan dengan sesuatu yang baru dan exciting, ‘Saman’, buatku tetap jadi sebuah karya prima. Metafora yang segar, riset yang kuat, disajikan dengan kadar yang pas, tak jadi menggurui tapi cukup kaya memberi informasi, dan ide-ide yang muncul dari percakapan internal karakter-karakternya membuatku beberapa kali merenung dan mencoba memikirkan jawabannya sendiri.
Aku menilai penulisnya sebagai seorang penulis dewasa yang sudah matang. Yang tak perlu lagi menonjolkan otot-otot kepenulisannya secara berlebihan untuk menarik simpati pembacanya tapi akhirnya malah terjerumus dalam upaya yang terlalu keras untuk memberi kesan ia ‘tahu’. Seperti yang aku temui dalam beberapa novel riset (jika bisa dibilang genre itu ada) belakangan ini. Yang ada di ‘Saman’ adalah kesan bahwa penulisnya nyaman dengan pengetahuan yang ia miliki dan bisa memilih waktu-waktu tepat untuk memberi informasi cukup pada pembacanya. (Hmm, bicara tentang metafora menonjolkan otot, aku baru tersadar, penulisnya kan memang punya bisep—atau trisep?—yang dilatih dengan baik, hehe)
Jika ada yang mempertanyakan, kenapa aku bisa meloncat dari Zadie Smith ke Ayu Utami, mungkin aku jadi seperti Vogue yang memasukkan mereka dalam kelompok ‘young, eclectic talent(s)’. Mereka meluncurkan buku pertamanya dalam usia yang kurang lebih sebaya, Smith sekitar 26, Ayu Utami sekitar 30. Lalu mereka sama-sama dibandingkan dengan seniornya, Smith ‘dituduh’ sebagai The New Salman Rushdie, Ayu Utami sebagai…ya, tak perlu diulang kan?
Dan, ya, kalau kita mau berjalan ke arah yang lebih dangkal, dua-duanya sama-sama cantik. Tapi, ini juga tentang kesamaan besaran energi dan stamina untuk menghasilkan ‘Debut yang Hebat’. Yang witty, atau cerkas meminjam istilah Goenawan Mohamad—dari blurb di sampul ‘Filosofi Kopi’-nya Dewi Lestari—, yang cerdas, yang kaya, dan, sekali lagi, yang membuat kenyang tapi tak membuat bosan.
Tak ada yang salah, menurutku, ketika ‘Saman’ diposisikan sebagai satu keniscayaan dalam sastra Indonesia, walaupun bukan satu-satunya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
firman firdaus
bener gak sih desas-desus cas cis cus yang bilang itu karya GM?
September 25th, 2007 at 6:51 am
isyana
hehe, aku menganggapnya sebagai holy grail-nya sastra indonesia kontemporer. kita bisa berspekulasi dengan berbagai argumentasinya, tapi tetap ada pandangan mainstream yang disepakati sebagai kebenaran. atau…ya, kalau mau, bahannya bisa cukup sih untuk nulis ‘da vinci code’ buat misteri ini, hehe.
September 27th, 2007 at 5:07 pm