You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Daftar Belanja dan Baca September 2007
Buku yang dibeli: 1. Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia (ed.Indonesia)–Janet Steele 2. Pencuri Anggrek–Susan Orlean 3. Special Topics in Calamity Physics–Marisha Pessl 4. Lenny Bruce: How to Talk Dirty and Influence People–Lenny Bruce 5. Mysterious Affair at Styles (ed. Indonesia)–Agatha Christie 6. Iblis Tidak Pernah Mati–Seno Gumira Ajidarma 7. The French Connection–Robin Moore 8. The Egyptologists–Kingsley Amis & Robert Conquest 9. Raise High the Roofbeam Carpenters–JD Salinger 10. Kartun Riwayat Peradaban–Larry Gonick
Buku yang dibaca: 1. Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia (ed.Indonesia)–Janet Steele 2. Special Topics in Calamity Physics–Marisha Pessl 3. On Beauty–Zadie Smith 4. Saman–Ayu Utami 5. Laskar Pelangi–Andrea Hirata (setengah selesai)
Dari mana tepatnya aku memulai; yang dibeli atau yang dibaca? Yang dibaca dulu sepertinya lebih mudah dijelaskan. Metode membacaku bulan ini sepertinya lebih pada keinginan untuk membuktikan sendiri kebenaran akan ‘hype’ yang dibangun mengelilingi reputasi sebuah buku.
Buku nomer dua sampai lima pada daftar yang dibaca punya banyak pendukung. Di jaket luarnya, lapisan bagian dalamnya, bahkan sampai beberapa lembar lapisan bagian dalamnya, penuh dengan ‘blurb’ atau komentar-komentar positif dari berbagai publikasi, tokoh sastra dan budaya, wartawan, peresensi, orang awam, direktur BUMN, sesama penulis, dst, hanya untuk meyakinkan pembaca untuk membeli dan membaca buku ini.
Aku punya sejenis alergi terhadap blurb sebenarnya. Bukan hanya untuk buku, tapi juga film, musik atau produk budaya lainnya. Jadi aku jarang sekali membaca atau menonton atau mendengar sesuatu yang tengah ramai dibicarakan pada saat itu juga. Tapi menunggu dulu sampai hype dan histerianya mereda, barulah produk itu dinikmati. Blurb, buatku, jika tak hati-hati digunakan, malah bisa meruntuhkan apa yang sudah susah-susah dibangun oleh penulisnya, buku itu sendiri. Dan apa pula gunanya sih, maksudnya, helloooo…kami kan pembaca cerdas yang punya standar estetika sendiri. Kenapa kami butuh orang lain untuk berkata, pada intinya, ‘BACA BUKU INI’?
Buatku, sevulgar itulah blurb berteriak. Tapi, seberapa jauh kebenaran blurb?
Dari studi kasusku–tanpa membaca blurb dengan detil, hanya sekedar scanning dan akhirnya menghitung jumlah–aku mengerti kenapa Marisha Pessl mendapat begitu banyak komentar positif. Karena karyanya memang benar-benar segar, kaya, unik, baru, dan jenaka sampai membuatku terbahak. Tapi aku tidak mengerti ketika ada yang mengatakan ‘On Beauty’ itu ‘wildly funny’. Dan funny itu bukan cuma satu, dua kali diulang, tapi lebih. Buku itu memang menarik dan penuh detil, tapi bukan sesuatu yang lucu.
Lalu, Saman. Membacanya di usia 15 atau 16 saat masih hijau, dan saat buku itu diposisikan sebagai Dentuman Besar dalam sastra Indonesia, hype memang masih pada taraf yang paling panas. Tapi sekarang, ketika membacanya lagi, pendapatku belum berubah. Karya itu malah terasa makin tajam. Bahasanya pun tak lekang dalam sepuluh tahun. Seperti karya-karya Salinger yang sudah lewat 50 tahun tapi bahasanya terasa segar dan lincah terus. Saman pun sama, menurutku. Mungkin asumsi ini harus dicek 20, 30, 40 sampai 50 tahun mendatang.
Aku mungkin tidak akan mulai membaca ‘Laskar Pelangi’ kalau tidak bertemu dan mendengar sendiri cerita penulisnya, Andrea Hirata. Aku punya seorang teman yang belum mau membaca buku itu hanya karena sudah terlalu banyak orang yang menyarankan untuk membaca buku itu. Yeah, the same thing goes for me. Maksudnya, selera adalah hal yang sangat personal. Ukuran nilai yang terbangun dari pengalaman-pengalaman hidup kita sendiri. Mungkin juga ada pengaruh nilai lingkungan di sekitar kita, tapi pada akhirnya selera adalah sesuatu yang tipikal diri kita. Yang ingin aku bilang, adalah, aku tidak percaya ada suatu ‘produk’ yang mampu mengena secara massal tapi tetap punya ‘jiwa’ di dalamnya. Jatuh-jatuhnya paling cuma mediokritas yang dilebih-lebihkan. ‘Laskar Pelangi’, aku takutkan, adalah mediokritas yang dilebih-lebihkan itu.
Ternyata, sial. Dari tiga bab pertama buku itu, aku selalu mengakhirinya dengan rasa tercekat di tenggorokan menahan air mata. Dan buku itu menyadarkanku lagi akan sesuatu yang hilang dari cara menulis penulis Indonesia; humor. Bukan humor yang asal konyol, asal gila, asal gokil, asal nggak beraturan pokoknya lucu, tapi humor lewat kata-kata subtil, tapi cukup membuat pembacanya sedikit tergelak. Atau terkikik. Terbahak-bahak juga boleh. Kenapa masih terhenti di tengah-tengah? Mungkin karena tak ada rasa penasaran tentang ‘akhir’ buku itu. Mungkin juga karena akhir-akhir ini aku lagi ingin membaca misteri-misteri whodunnit yang membuatku bisa terus-terusan menebak dan kembali ke buku itu. Atau mungkin karena gaya penulisannya yang sudah berhenti pada metaforik saja. Walaupun, harus diakui, metaforanya sangat kreatif.
Tentang ‘Wars Within’? Aku membeli buku itu selepas bertemu dengan penulisnya di peluncuran edisi Indonesia ‘Pencuri Anggrek (Orchid Thief)’ oleh Susan Orlean. Janet Steele, penulis Wars Within, waktu itu hadir sebagai salah satu pembicara karena ia mengajar jurnalisme sastrawi dan ‘Pencuri Anggrek’ ditulis dengan konsep dasar jurnalisme sastrawi itu. Sebagai pekerja di bidang media, terus terang, aku penasaran dengan perjalanan sebuah media bisa menjadi besar. Apakah setiap institusi dan orang-perorangnya mengalami kejadian dan masalah yang kurang lebih sama walaupun di masa yang berbeda? Dan setahuku, belum ada pembukuan dan penelitian yang rinci tentang perjalanan sebuah media di Indonesia jadi besar dan jadi ikon kelas menengahnya. Ada bab-bab statistik yang, yah mungkin relevan, tapi tidak membuatku tertarik. Yang membuatku tertarik? Ya tentu saja sisi gosipnya, hehe. Yang saling tuduh, katanya ini, katanya itu, yang cs-an sama siapa, intrik-intriknya, sisi politis dan persaingannya, who’s who-nya; intinya sih aspek selebritis dari buku itu. Lebih seru. Alasan utama membeli buku ini sih mungkin sama seperti saat aku membeli biografi Katharine Hepburn, atau jika suatu saat nanti membeli biografi seorang groupies band terkenal di 1960an. Akhirnya, sebuah buku yang cukup menghibur.
Dari daftar buku yang dibeli, dari nomor 4 sampai 9, itu dari Jogja Book Fair 2007. Buku nomor 4, 7, 8 dan 9 dibeli di kios Yusuf Agency seharga @ Rp 5 ribu. Buku nomor 5 dibeli karena judulnya dijadikan salah satu judul bab di “Special Topics in Calamity Physics” dan aku penasaran apakah Pessl mengambil inspirasi dari “Mysterious Affair…”. Nah, yang agak menyesal beli malah “Raise High the Roofbeam, Carpenters”-nya JD Salinger.
Aku sebenarnya sudah punya buku ini. Tapi aku membelinya karena nggak ada orang yang memedulikannya. Sudah aja, ditumpuk, seperti sudah siap dibakar. Akhirnya, karena kok memelas sih, jadinya aku ’selamatkan’. Tapi setelah membeli di halaman depannya, JD Salinger mempersembahkan buku ini pada para pembaca yang tipenya ‘read and run’, yang tidak terlalu serius mempertimbangkan buku bacaannya. “Kalau masih ada tipe pembaca seperti itu, maka buku ini saya persembahkan untuk anda, dibagi empat juga untuk istri dan anak-anak saya,” tulis Salinger.
Uggghh. Aku langsung merasa berdosa. Aku terlalu sombong untuk membiarkan buku itu tetap berada di tumpukan bersama buku-buku bekas lainnya. Terlalu sombong untuk membiarkan buku ini bertemu dengan pembaca ‘read and run’-nya. Aku jadi merasa bahwa buku ini cuma layak buat pembaca sepertiku. Salinger pasti tak mempermasalahkan siapa yang membaca bukunya. Atau pesan apa yang mereka dapat dari bukunya. Atau apakah pembacanya menikmatinya. Malah mungkin ia tak peduli apakah ada yang membaca bukunya atau tidak. Jadi apa yang aku lakukan, bermain Tuhan, dengan menentukan siapa yang ‘layak’ membaca Salinger atau tidak. Dengan membeli buku ini, aku jadi menutup kemungkinannya bertemu dengan orang yang akan membacanya. Kesalahan ini masih aku sesali sampai sekarang. Buku itu masih teronggok di tas plastiknya. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Menjualnya lagi? Tapi aku tidak mau mengambil keuntungan finansial dari Salinger. Memberikannya? Bisa saja. Mungkin aku harus meletakkannya di satu tempat secara sembarangan, biar siapa yang menemukannya dapat memilikinya.
Sampai ketemu di kolom ini bulan depan.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.