You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Metro Paris, Harper Lee dan Yang Tak Pernah Dibaca
Saat naik bis dan kebetulan beruntung karena mendapatkan tempat duduk, aku akan mengeluarkan buku dan mulai membaca. Tapi saat keberuntungan itu didapat, buku mulai dikeluarkan, eh…tiba-tiba ada genjreng-genjreng mengiringi suara super cempreng dari pengamen bis kota. Coba-coba baca lagi, duh, kok tetap terganggu sih?
Akhirnya, setelah menunggu sampai si pengamen selesai, eh kok berhenti baru setelah enam lagu dan…sudah sampai di tujuan. Arrgghh. Padahal lagi pengen banget melanjutkan membaca. Duh.
Kapan ya Jakarta punya transportasi publik yang membahagiakan buat ‘pembaca angkot’ sepertiku? The Guardian menurunkan artikel tentang bacaan para penumpang metro di Paris. Berdasarkan deskripsi suasana di artikel itu, metro-nya Paris terasa benar-benar seperti surga bagi pembaca. Banyaknya orang yang membaca mungkin juga karena faktor kenyamanan ya? (Tapi katanya suka bau pesing juga? Lha kok tetap banyak yang membaca?)
Penggemar “To Kill a Mockingbird” yang penasaran dengan penulisnya, Harper Lee, bisa deg-degan sampai 5 November nanti. Pada tanggal itu akan Lee akan menerima penghargaan Presidential Medal of Freedom dari presiden George W Bush. Sama seperti Salinger, Lee memilih untuk menutup diri dari dunia luar, tak mau diwawancarai, dan tak lagi menerbitkan karya. (Masih relevankah kalau aku bertanya kenapa?). Jadi, 5 November nanti, akankah Lee keluar dari persembunyiannya? Oh ya, fotonya di artikel The Guardian itu kok mirip dengan potongan rambutnya Scout Finch di versi film “To Kill a Mockingbird” ya?
Masa-masa indahku dengan Joyce memang baru dua hari lalu. Dan aku masih optimis akan masa depan pertemanan yang baru terjalin ini. Tapi tak seoptimis itu untuk yakin akan menyelesaikan “Ulysses” suatu hari nanti. Tampaknya sih aku tak perlu cemas jika “Ulysses” tidak akan bisa diselesaikan. Slate menerbitkan lagi satu artikel tentang penulis kontemporer yang belum pernah membaca atau belum menyelesaikan buku yang ‘patut’ dibaca. “Ulysses” dan “Moby Dick” sempat disebut beberapa kali (dua-duanya ada di lemari bukuku, entah dulu untuk alasan apa membelinya…). “Swann’s Way”-nya Proust juga disebut. Jadi lega. Dan, oh, ini satu lagi artikel ’serupa’ yang pernah diterbitkan Slate enam tahun lalu, tapi saat itu yang mengaku dosa adalah para peresensi di berbagai publikasi. Baca deh, pasti merasa lega :D
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.