You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Catatan-catatan Kecil dari Rahasia Meede
Sungguh lho. Aku sudah super yakin bahwa buku pertama yang akan aku selesaikan pada 2008 ini adalah Kartun Riwayat Peradaban I. Tapi ternyata, karena tugas kantor yang mengharuskanku mewawancarai ES Ito, penulis ‘Rahasia Meede’ dan ‘Negara Kelima’, aku kebutlah mbaca itu buku.
Sebelumnya, aku menyerah sama buku ini pas di halaman 100an karena ‘keringnya’ itu. Ternyata pas Hari H wawancaranya membacanya baru sampai di halaman 260an, dan akhirnya selesai hari Minggu kemarin. Ringkasan ceritanya, ah itu mah jaket bukunya sudah bisa ngasih ya. Jadi, aku kasih catatan-catatan kecil selama membaca ‘Rahasia Meede’ ya…
Maksudnya, baik Kalek, Batu, Cathleen, Lusi, Rian, dan banyak lainnya itu memang terasa idealismenya apa, emosi mereka sedang gimana, tapi semuanya karena dikasih tahu si penulis. Ya, oke, memang mereka ciptaan penulisnya, tapi kenapa aku merasa karakter-karakter ini tidak lebih dari potongan kardus sosok manusia (seperti yang dipakai buat iklan produk itu lhooo…) dan ditempeli pamflet.
Dua dimensi aja terasanya, bukan manusia dengan segala emosinya WALAUPUN si penulis mendeskripsikan gamblang apa yang mereka rasakan. Hasilnya, aku jadi tidak peduli dengan apa yang terjadi sama si karakter-karakter ini sebagai manusia.
Yang membuatku masih terus membolak-balik halaman sampai akhirnya selesai, lebih karena teka-teki aja. Dan nggak ada tuh apa-apa yang aku rasakan ketika ada karakternya yang mati. Walaupun karakter-karakternya lagi marah, sedih, bingung, kesal, senang, takut, teriak, hancur, apalah, semuanya dataaaar aja kerasanya. Benar-benar flat. Asystole.
Saking datarnya, sampai-sampai di halaman 520an aku harus berhenti dan ‘do a complete 180′, menghubungkan diri ke sesuatu yang berurusan banyak dengan hati–sesuatu yang lebih aku sukai–nonton ‘Becoming Jane’ (Bukan karena filmnya digarap lebih dengan hati dibanding ‘Rahasia Meede’, tapi karena temanya yang memang berfokus pada emosi manusia. Dan Anne Hathaway ternyata memberi penampilan yang lebih dari sekedar ’sesuatu yang bisa dimaafkan. Tapi oke, akan aku buat posting berikutnya tentang film itu).
Selesai dengan urusan nangis-nangis dan hati yang diremas-remas di ‘Becoming Jane’, kembali lagi dan menyelesaikan ‘Rahasia Meede’ yang datar. Catatan selanjutnya:
Tapi, tiba-tiba aku teringat pada kutipan dari film ‘2 Days in Paris‘. Salah satu karakternya, Jack (Adam Goldberg) ditanyai arah jalan oleh serombongan turis asal Amerika. Jack, yang memang sedang jahat dan tidak tahu Paris, menjawab asal-asalan dengan meyakinkan biar si rombongan turis ini keluar dari antrian taksi. Ketika pacarnya, Marion (Julie Delpy) muncul dan mengetahui apa yang dilakukan Jack, Jack menanggapinya dengan, “They’re here on a Da Vinci Code tour, they voted for Bush and Cheney, they are what’s culturally and politically wrong in this world.” (aku cukup yakin 75 persen dengan kutipan ini)
Marion: “You’re so mean. But that’s so truuueee.”
Hahaha.
Oke, oke, tidak bermaksud mengatakan bahwa Meede akan jadi bagian dari what’s culturally wrong, tapi entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan kutipan itu saat memikirkan tentang paket tur Meede seperti paket tur Da Vinci Code.
Walaupun sebenarnya, cerita tentang Meede dan Clusse dan Pieter Erberveld sudah beberapa kali aku dengar saat ikut beberapa kali tur keliling Jakarta Kota. Tapi sekarang ada tambahan info tentang kejadian-kejadian itu.
Yang ketiga….SPOILER ALERTSPOILER ALERT*
AKHIR SPOILER ALERTAKHIR SPOILER ALERT*
Oke, mungkin karakter adalah anak-anak ciptaan si penulisnya, tapi semuanya jadi terasa seperti orang yang sama. Bukan anak malah. Tapi jadi klon.
Kadang, malah, di tengah deskripsi suasana, deskripsi karakter, ada umpatan kekesalan akan zaman yang menyelusup yang membuatku bertanya, ini yang ngomong siapa sih? Ya memang dari penulisnya sih. Dan ini penilaian yang sangat pribadi ketika aku bilang, tolong, jangan menceramahiku dong.
Tapi gara-gara bagian ini juga aku jadi mengerti tentang apa yang dimaksud di bab pertama The Rhetoric of Fiction tentang sudut pandang. Itu buku teknik penulisan pertama yang aku baca, gara-gara Scott Esposito di Conversational Reading membacanya tahun lalu. Aku nggak nyangka ada orang lain yang sudah atau bakal membaca buku itu, karena aku punya buku bekasnya sejak 3 tahun lalu yang belum disentuh-sentuh, hehe. (Dan hey, ternyata dia berencana memrioritaskan ‘The Mill on the Floss’ untuk 2008. He’s MY kinda guy..)
Terakhir, tapi sepertinya mungkin tidak perlu ya…karena kita cukup sepakat kan totalitas ES Ito dalam meneliti bahan untuk buku ini tidak setengah-setengah?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.