You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: ES Ito, Si Pemasak Rendang
Baru beberapa hari yang lalu aku selesai men-transkrip (jadinya ‘menranskrip’ ya karena luluh?) rekaman wawancara dengan penulis ‘Rahasia Meede’, ES Ito. Ada beberapa kutipan dari wawancara itu yang cukup menarik.
Aku sempat menanyakan tentang betapa identiknya tokoh-tokoh di ‘Meede’ saat menyuarakan kemarahannya, atau bahkan saat berbicara. Dan ini jawabannya:
“Tafsir pembaca kan boleh-boleh aja. Tapi saya melihat bahwa…saya sepertinya dari dulu membagi tokoh-tokoh saya itu gampang saja. Saya tarik garis lurus antara orang tua yang tamak dan anak-anak muda yang struggle. Saya bagi antara itu saja. Simpel saja. ‘Negara Kelima’ seperti itu, ‘Rahasia Meede’ seperti itu.
Walaupun ada pertentangan antara si Kalek, Batu, Cathleen Zwinckel, Lusi, dan segala macam, yang terjadi di sini adalah ada yang muda berjuang, ada yang tua yang selalu ingin menguasai kembali..berkuasa segala macam. Itu kan problem-problem di Indonesia. Bahwa alih generasi tidak pernah terjadi di Indonesia. Bahwa semuanya omong kosong di Indonesia.”
Oke, oke, oke.
Nadanya berbicara sih biasa-biasa saja. Bersemangat lah. Tapi dari pilihan bahasa dan ungkapan-ungkapannya, aku nggak bisa nggak nanya, kamu sebenarnya marah sama apa sih?
Him: “Saya sebenarnya… kemarahan dalam arti sesuatu yang bersifat personal terhadap republik ini tidak ada saya. Karena saya pikir republik ini tidak pernah memperhatikan saya juga kok. Saya nggak ada urusan dengan Indonesia ini.
Tapi saya melihat bahwa kalau pun kita marah, kita marah dengan potensi-potensi yang menjadi sesuatu yang baik menjadi runtuh di tengah jalan. Kita berbicara tentang reformasi 98 misalnya, tentang apa yang diperjuangkan pada 74, 78, 66, sesuatu yang terhenti di tengah jalan karena saya pikir setiap semua generasi muda, generasi mahasiswa selalu menyemai benih untuk kehidupan yang baik di Indonesia, tapi ketika mereka tua mereka sendiri yang menghancurkan benih-benih yang mereka tanam itu. Itu problem terbesarnya. Bahwa pengkhianat terbesar di Indonesia adalah mereka yang memperjuangkan apa yang mereka khianati sendiri. Saya pikir bahwa kita patut marah terhadap diri kita sendiri di Indonesia, kita jadi pengkhianat akan apa yang kita perjuangkan sendiri.”
(Hmm…sebenarnya dia peduli kan artinya?)
Selanjutnya, adalah pertanyaan yang tidak bisa tidak aku tanyakan ketika bertemu seorang penulis, who’s your biggest influence in writing?
(Orang-orang yang fleksibel mungkin tak selalu menjawab dengan sosok karena tak pernah ada dan menjawab dengan sesuatu yang abstrak, tapi sebenarnya aku lebih ingin tahu tentang siapa atau apa sumber energi terbesar si penulis ketika menulis. Atau mungkin si penulis ini merasa terus berada di bawah bayang-bayang siapa sih…)
ES Ito: “Orang selalu bilang saya terpengaruh dengan Dan Brown. (padahal aku menebak Pram–blogger–). Soal cerita, soal macam-macam, dan saya pikir ada beberapa hal yang mirip dengan Dan Brown tapi saya tidak akan katakan bahwa saya banyak terpengaruh oleh Dan Brown. Misalnya… Mbak suka makanan Eropa nggak? Apa ya, spaghetti, misalnya, itulah Dan Brown. Dia memasak sesuatu yang tidak ada bumbunya, dan itu bumbu lama, tentang masalah agama, masalah apa. Dan dia tidak berasa rempah-rempah kayak kita.
Konteks cerita, mungkin, dari Dan Brown, tapi dia cuma masak spaghetti, minus rempah-rempah, tidak ada bumbu, dan saya sangat tidak suka dengan masakan Eropa. Saya itu masak rendang lho, mbak, penuh dengan rempah-rempah nusantara. Ini suatu kekayaan yang tidak dimiliki Dan Brown. Dia berkutat dengan masalah agama. Saya tidak melakukan itu (menjelek-jelekkan), saya pikir di luar konteks agama jadi masalah peradaban dari dulu, saya pikir orang harus melihat konteks sosial hubungan orang antar manusia dan itu hanya ada pada kebudayaan yang tidak terikat dengan nilai-nilai langit (di sini aku butuh beberapa menit untuk me-rewind, me-fastforward, kebingungan dan merenungkan artinya…–blogger). Saya pikir itulah kekayaan Indonesia. Pengaruh terbesar, seperti Victor Hugo yang bisa mengangkat Perancis lewat Les Miserables dan semacamnya, jauh lebih hebat saya pikir, walaupun cara penceritaannya beda dari saya. Atau Ibunda-nya Gorky. Pram juga dengan Arus Baliknya, juga sangat bagus. Dan juga tentang kemarahan-kemarahan yang sangat bagus disampaikan, saya pikir itu AA Navis jagonya. Saya melihat konteksnya seperti itu. Saya pikir saya melakukan sesuatu yang baru di Indonesia dengna pola penceritaan seperti ini. Saya pikir setiap penulis membangun karakternya sendiri.”
‘Saya pikir’, sepertinya adalah pembuka kalimat favoritnya…
Ini juga pertanyaan yang (pengennya) selalu aku ajukan ke penulis, sutradara, musisi, karena kecintaanku dengan “High Fidelity”. Top 5 books of all time kamu apa?
“Saya sebut satu saja ya, karena lainnya nggak yakin. Ibunda-nya Gorky. Lainnya ragu, saya tidak yakin, setahu saya saya sudah tiga tahun baca dan saya masih yakin itu yang menarik menurut saya. Yang lain kadang bagus, tapi bisa aja tiba-tiba nggak suka. Itu (Ibunda) buku yang berpengaruh tidak langsung ke jantung kekuasaan tapi berasal dari tingkat rumah tangga, perlawanan segala macam itu.”
‘Negara Kelima’, katanya sampai sekarang baru terjual 2500 eksemplar, tapi ‘Meede’ sudah mau naik cetak ketiga kalinya. Buat ‘mencoba sesuatu yang baru di Indonesia’, dia mengakui angka itu cukup bagus. Apa yang bisa dibacanya tentang pasar pembaca Indonesia?
Angka itu sih, menurutnya, adalah reaksi wajar dari pasar, sebanding dengan upayanya mengerjakan buku itu selama dua tahun (”Itu belum cukup, kalau bisa saya butuh waktu empat tahun lagi mengerjakannya…”). Tapi, ‘gerutuan’ lengkapnya:
“Bahkan penerbit pun selalu bilang, pasar penulis Indonesia nggak bisa dibaca. Saya sendiri pesimis ketika menjual karya ini, karena saya pikir ini bukan sesuatu yang layak dijual, ini bukan masalah cinta-cinta dengan akhir bahagia, bukan kisah di mana laki-laki yang bisa poligami tiga orang, bukan juga kisah menguras air mata tentang pendidikan segala macamnya (haha, I think I know siapa yang dimaksud–blogger–), kalau pun ini kejual, ini juga bukan sesuatu menguras air mata. Saya tidak bisa membuat orang menangis. Tapi kita punya urusan dengan sejarah, dengan bangsa Indonesia, tapi kalaupun kejual, saya tidak tahu kenapa kejual.
Tapi seharusnya orang membaca karya-karya seperti ini walaupun tidak seluruhnya benar, kan bisa saja yang ditulis tidak benar. Tapi budaya berpikir tidak tumbuh dari kita terima lalu kita menangis, kita berurai air mata, puja-puji segala macam, kita belajar berpikir dari meragukan sesuatu. Saya pikir ketika orang melemparkan sebuah karya sastra dia harus menimbulkan polemik di masyarakat. Dan tidak melulu masalah seks. Seks saya pikir bukan akar utama dari polemik. Ada hal-hal yang lebih penting daripada seks. Seks, kebebasan, saya pikir itu isu usang yang nggak perlu lagi kita angkat-angkat.”
Tentang kenapa dia memilih menulis sejarah, mungkin kutipan ini bisa kurang lebih membantu menjawab:
“Menulis, pertama, (sumber energinya) rasa ingin tahu. Saya tidak bisa menulis kalau tanpa ada literatur atau konteks yang benar-benar ada. Saya tidak bisa menulis, misalnya, membayangkan sesuatu kisah cinta segala macam, saya bikin konteks yang seperti ini, seperti ini, saya tidak bisa. (Harus ada) Konteks yang benar-benar terjadi, riil yang ada di masa lalu, masa sekarang. Saya belajar menulis karena saya merespon sesuatu ketika saya kuliah dulu. Saya menulis bukan utopia-utopia cinta, damai, segala macam. Saya menulis karena merespon sesuatu yang riil terjadi di masa lalu atau masa sekarang. Jadi energinya ya bisa rasa ingin tahu.”
Tapi di bagian lain wawancara, dia terus-terus mengulang ini tentang menulis (dan entah kenapa, nggak bisa saya keluarkan dari kepala): “Menulis itu respon, respon. Saya pikir respon.”
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 8 komentar untuk artikel ini.
Sayyid
mmm, rendang… Keaslian tanah Minang. Sangat lezat jika dimasak dengan bumbu yang pas dan daging yang tidak terlalu keras alias lembut. Dan ES Ito, saya sepaham dengan jalan pemikirannya.
Dan entah kenapa, darah Minang hampir tak pernah diam dalam tubuhnya. Darah yang pedas, seperti kepunyaan Navis yang sedikit panas.. Cemeeh, adalah khas satu lagi dari Minang.
Jadi jika kemari (ke Minang) berhati2lah agar tidak kena cemeeh. haahahhaa
January 25th, 2008 at 9:17 pm
Rusyda
Saya jadi terharu dengan cara perpikir ES ITO di atas. Seolah sebuah pemberontakan yang dibungkam sehingga memgejawantah menjadi hantu-hantu realitas. Negara Kelima seperti hantu yang ingin meneror realitas yang sakit pada bangsa ini.
Saya sedang baca novelnya, yah walaupun ceritanya baru menawarkan semangat revolusi tapi saya berharap semangat ini akan membakar pemikiran orang2 yg ingin mengubahnya menjadi realitas.
February 7th, 2008 at 8:55 pm
rmz
Tiap ‘membaca’ E.S ITO, seperti membaca ulang “INDONESIA MENGGUGAT” :D
benar2 seorang NASIONALIS
February 18th, 2008 at 4:59 am
satria madangkara
Memang saya berharap dalam waktu dekat akan muncul ito2 lain yang mempunyai semangat yang luar biasa untuk merubah keadaan republik ini. Dan perubahan ini kan dimulai oleh ito dengan karya2nya……………
Hidup Muhammad Saw, hatta, Chavez,Morales, Tan.
June 26th, 2008 at 4:46 pm
37 486
ada yang bisa kasi tau saya siapa es ito sbnernya? klo bisa riwayat hiupnya, saya penasaran bgt, karena buku yg dikarangnya bnr2 bgus, ga kaya buku2 karya penulis Indonesia yg lain.
September 11th, 2008 at 6:40 pm
lani
please..picture..
i love your books..your ..ideas..your style..
dua-duanya..aku suka
walo dibanding rahasia meede, negara kelima terasa kurang nge-gas..
September 18th, 2008 at 2:13 pm
santo
Mas ES Ito , saya sudah baca buku2 anda, saya baru saja baca rahasia Meede.
Salut! anda bisa memaparkan realita dan kebenaran yang terjadi di tengah2 masyarakat.
Suatu tulisan yang didukung dengan riset yang dalam.
Saya nggak sabar untuk membeli novel anda berikutnya.
October 29th, 2008 at 9:14 am
santo
Bukunya kereen
October 29th, 2008 at 9:16 am