Kerlip Teenlit

Warnai Dunia dengan Cinta dan Cerita

Memasuki Dunia Jane

Ada beberapa film (atau malah mungkin banyak) yang membuatku jadi lapar membaca. “Becoming Jane” adalah salah satunya. Sebenarnya nggak ada niatanku menonton film ini, walaupun subyek yang diangkat adalah Jane Austen–salah satu penulis favoritku–.

Keengganan menonton itu karena aku nggak habis pikir, gimana bisa seorang Anne Hathaway terpilih memerankan Jane Austen yang, berdasarkan sketsa dan gambaran umum dari teman-teman dan keluarganya, bukan seorang perempuan yang jelita. Tapi karena keringnya ‘Rahasia Meede’ dari unsur-unsur ‘matters of the heart’ yang jadi kekuatan Jane Austen, dan juga ternyata…aku nggak bisa hidup tanpa ‘matters of the heart’ itu, ya tampaknya membaca “Meede” harus dihentikan sebentar biar ‘hatiku’ bisa diremas dan dipijat. (Plus my latest crush, James McAvoy main jugaaa….)

Ternyata, Anne Hathaway memberikan penampilan yang lebih dari sekedar sesuatu yang ‘bisa dimaafkan’, walaupun kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya ‘cuma’ OK performance aja, nggak wuaaahhh banget (Mungkin penilaian ini juga karena pada awalnya aku menganggap Hathaway akan jadi bencana…). Ceritanya sih, pada usia 20an atau 21an, Jane Austen pernah jatuh cinta sama seorang Tom Lefroy. Sayangnya, mereka sama-sama miskin. Tidak seperti karakter-karakter di cerita-ceritanya yang bisa menemukan cara untuk menikah walaupun sama-sama miskin (Edward Ferrars-Elinor Dashwood, misalnya), Austen hidup di dunia nyata. Dan Tuhan juga bukan penulis seperti Jane Austen yang memberinya happy ending.

Ada jejak-jejak ‘Pride & Prejudice’ di ‘Becoming Jane’, elemen-elemen Mr Darcy di Tom, elemen-elemen Mr Collins, Lady Catherine de Bourgh, skenario Wickham-Lydia….lewat ‘Becoming Jane’, sumber-sumber inspirasi ‘Pride & Prejudice’ jadi terdefinisi, walaupun mungkin bisa tepat, bisa tidak tepat. Tapi, aku jadi ingin mengecek tentang hal-hal detil, apakah Jane pernah berciuman dengan Lefroy, mengingat masa itu begitu sopannya aturan-aturan sosial sementara di situ digambarkan beberapa kali mereka berciuman, berapa kakak laki-laki yang dimiliki Jane sebenarnya, sampai…benarkah Jane merencanakan elopement (kawin lari) dengan Lefroy. Dan, oh ini, sepertinya Jane dan Lefroy nggak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dan terikat erat, padahal mereka cuma ketemu beberapa kali, ketika ketemu pun omongannya nggak gitu menggambarkan pertemuan pikiran yang klop seperti digambarkan Jane untuk karakter-karakternya gitu.

Keinginanku adalah menemukan sebuah biografi Austen yang bagus.

Dan keinginan itu terjawab tepat dua hari kemudian, ketika aku tidak sengaja jalan ke QB. (Kenapa cepatnya keinginan yang terkabulkan ini tidak pernah terjadi untuk urusan cowok adalah hal yang di luar kemampuanku menafsirkan…). Dengan harga diskon pula. (Walaupun ada biografinya F Scott Fitzgerald dan JD Salinger juga yang harganya sama-sama diskon 40 persen…). “Jane Austen” judulnya, penulisnya Carol Shields.

Sebenarnya ini bukan biografi ‘resmi’, dalam artian biografi yang diberikan terasa umum, tapi juga cukup spesifik pada beberapa titik. Tidak terasa terlampau akademis, tapi terasa bahwa orang yang mengerjakannya sudah menguasai apa yang akan ditulisnya. Mini biografi, bisa dibilang. Tapi lengkap mencatat perjalanan hidup, impresi Shields terhadap karya-karya Austen, sampai proses kepenulisan Austen. Singkatnya, batu loncatan yang pas sebelum beranjak ke biografi yang lebih ‘akademis’ dan pasti, lebih tebal.

Ternyata, pertemuan-pertemuan Jane dengan Lefroy memang tak sering. Dan ‘Becoming Jane’ ternyata patut dihargai karena tak luput menampilkan detil, tentang kebiasaan Jane dengan piano forte-nya, tentang perbincangan antara Lefroy dan Jane mengenai ‘Tom Jones’, dan ciuman-ciuman itu juga ternyata tak salah.

Tapi dari keduanya, buku dan film, aku jadi sadar, bahwa…walaupun resolusi tahun baruku adalah mengurangi prasangka sebagai seorang pembaca dan keluar dari ‘kolam-kolam nyaman’, tapi aku tidak bisa tidak merencanakan marathon membaca Jane Austen setelah ‘Meede’ selesai. (Bisa dihitung sebagai detoksifikasi ‘Meede’ kali ya…)

Dan sekarang, dalam dua hari selesai ‘Persuasion’ (ya emang mungkin naturenya penyuka cerita cinta ya…), dan sekarang lagi membaca ‘Northanger Abbey’. Resolusi tambahan juga, tahun ini harus menyelesaikan ‘Mansfield Park’ deh, satu-satunya yang nggak aku baca karena heroine-nya, Fanny Price, paling ‘berbeda’ dengan karakter-karakter Austen lainnya.

‘Persuasion’, tunggu ya resensinya.

Popularity: 29%

Join the discussion. Add your comment.

Asia Blog Network

AsiaBlogging.com News

Kerlip Teenlit is part of Asia Blogging Network