You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Marlon Brando
Beberapa hari menjelang akhir 2007 dan beberapa hari setelah akhir 2007, aku mengisi hari-hari (tsaahh..) dengan menonton DVD film-film Marlon Brando. ITC Ambassador punya peran (sangat) besar dalam pengenalanku terhadap ikon-ikon budaya pop. Di situlah aku menemukan sebuah set DVD yang isinya lima film-film ‘utama’ Brando, “On the Waterfront”, “Mutiny on the Bounty”, “Viva Zapata”, “A Streetcar Named Desire” dan “Desirée”.
(Aku nggak yakin sih “Desirée” bisa dibilang sebagai film ‘utama’ Brando, tapi itu film menunjukkan betapa tidak konyolnya Brando sebagai seorang aktor, sampai-sampai dia bisa memerankan banyak tokoh karismatis [kharismatis ?] nyata atau pun imajiner, dan kita nggak meragukan dia sebagai sosok-sosok itu. Mulai dari pemimpin revolusi Emiliano Zapata, Julius Caesar, Mark Antony [ini versi imdb.com lhoo] sampai, tentu saja, Don Vito Corleone)
Awalnya, waktu memikirkan alur posting ini, aku ingin memulai dari ‘Kartun Peradaban’-nya Larry Gonick–yang aku yakini jadi buku pertama yang diselesaikan tahun ini, tapi ternyata enggak–dan menghubungkannya ke Brando. Di ‘Kartun Peradaban’, Gonick memberikan gambaran runtun dan panjang tentang evolusi manusia, dari yang punya ciri ‘kebinatangan’ sampai akhirnya jadi manusia cerdas. Dan ketika aku melihat sosok Brando, ternyata evolusi itu jadi seperti sebuah proses yang nggak gitu berguna, karena ternyata kita (atau mungkin aku ya?) tetap menginginkan adanya sisi-sisi animalistik itu muncul pada seorang pria (ngguanteng).
Tapi, ini, jika ada satu ciri utama yang digunakan dalam menggambarkan sosok Marlon Brando, maka ciri itu adalah ‘kebinatangan’. Karakter Stanley Kowalski di dramanya Tennessee Williams, “A Streetcar Named Desire”, contohnya. Stanley Kowalski adalah peran yang sangat melekat pada Brando, bukan hanya karena ia memerankannya pada pementasan teater di panggung, tapi diabadikan pula di seluloid film berjudul sama. Beginilah cara Stanley Kowalski, dalam naskah Tennessee Williams, digambarkan:
“He is of medium height, about five feet eight or nine, and strongly, compactly built. Animal joy in his being is implicit in all his movements and attitudes. Since earliest manhood the center of his life has been pleasure with women, the giving and taking of it, not with weak indulgence, dependently, but with the power and pride of a richly feathered male bird among hens.”
(Dan buku seken “A Streetcar Named Desire”-ku sampul depannya adalah Brando yang sedang telanjang dada, memamerkan ‘animal joy’ yang implisit itu…)
Di “Movie Love in the Fifties”-nya James Harvey, sutradara Elia Kazan–yang menyutradarai Brando di “On the Waterfront”, “Streetcar” dan “Viva Zapata”–mengomentari Brando:
“Brando, he said, was the only actor genius he’d ever known–it was “like directing some genius animal.” And indeed Brando’s face does have an animal sort of inadvertence–the undefended expressiveness that goes with not being able to make a face, the way people (and actors) do.”
Ya, jika ada yang ingin menjadi aktor hebat seperti Brando–dan, let’s face it, aktor mana yang tidak lepas dari Brando?–maka mungkin ini saat yang tepat untuk menyumpah-nyumpahi evolusi. Cara sebuah aktor hebat dibuat ternyata dengan mempertahankan animalistik yang disisihkan oleh jutaan tahun evolusi, hehe.
Ada sesuatu lagi yang aku dapat dari Brando lewat bukunya James Harvey itu. Bahwa aku ternyata tidak bisa lari dari Salinger dan Holden. Di buku itu sebenarnya Harvey berfokus pada pergerakan karakter perempuan dari film-film noir 1940an ke melodrama 1950an. Dari perempuan-perempuan femme fatale, ada pergeseran nilai karakter perempuan menjadi lebih polos dan pirang, kemudian menjadi lebih muda dan seksi secara tradisional. Tapi Harvey juga memetakan adanya perubahan nilai pada karakter laki-lakinya, dari yang berusaha dewasa dan berakting seperti orang dewasa menjadi karakter-karakter boy-men yang gagal menjadi orang dewasa. Brando memerankan beberapa tipikal karakter ini lewat “On the Waterfront” dan “Streetcar”.
“Brando’s Stanley felt at times like the kind of explosive truthteller the culture will occasionally produce just when the cant and banality seem most unchallengeable, someone who cuts through all the bullshit and to hell with it.
But of course he only felt like that to us: even in Brando’s person he was too mean and stupid, and still to much William’s rough-trade nightmare, to really be that figure. The one who was for most of us was in a book, not a play or movie: it was Salinger’s Holden Caulfield in The Catcher in the Rye (1951)….
Holden’s obsession with “phonies”, wonderfully comic and entirely serious, both echoed and gave a rich, special voice to the very American concern with personal authenticity, with the sort of plainness and directness and honesty of character that we wanted to think of as ours–or at least as potentially ours. And it was such an enlivening voice–in spite of fundamentally depressed view it took of us, of our contemporary lives, and of American culture in general. “Nothing is more exhilarating than philistine vulgarity,” says Nabokov (also a Salinger fan) in his afterword to Lolita, another seminal text of the time. And The Catcher in the Rye seemed to capture both the vulgarity and the exhilaration as no one had before–or perhaps has since (except for Lolita).”
Oke, pertama, aku baru tahu kalau Nabokov ternyata penyuka Salinger. Tapi siapa yang bisa kebal terhadap pesona Salinger coba? (Really, I want to meet that person) Dan kedua, kayaknya nggak guna juga ya mencoba keluar dari kolam nyaman Salinger seperti resolusi pembaca tahun baruku itu, karena ketika aku memulai dari topik yang sangat tidak Salinger (Hollywood maksudnya…) lalu meloncat ke Tennessee Williams, eh kok ya tahu-tahunya ketemu lagi dengan Salinger dan Holden.
Mungkin juga karena aku melihat ke periode 1950an dan ada kesamaan nilai ‘boy-man’ yang merajai budaya pop saat itu sih..Tapi sepertinya jawabannya adalah, Salinger memang sebeperpengaruh itu.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
pilgrimage
wah, kalo brando ya apocalypse now. dahsyat.
April 7th, 2008 at 5:38 am