You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Northanger Abbey (Jane Austen)

Northanger Abbey (Jane Austen)

isyana — February 9, 2008 / 6:41 pm

Sebagian dari sistem ingatanku akan menyimpan informasi ini: ‘Northanger Abbey’ adalah novel yang aku selesaikan saat sedang menjalani tugas piket hari Jumat terakhir sebelum kematian seorang mantan presiden.

Sebelumnya sih, waktu menimbang-nimbang untuk membawa buku ini sebagai pengisi waktu, aku agak bertanya-tanya, pas nggak ya tema komedi romantik berbalut parodi novel Gothic untuk berjaga di rumah sakit? Tapi aku sudah mulai penasaran dengan cara Austen menyimpulkan kisah Catherine Morland, karakter utama novel ini.

Ini (membaca ulang ‘Northanger Abbey’) masih termasuk efek lanjutan setelah membaca ‘mini’ biografinya Jane Austen dari Carol Shields. Jika bacaan sebelumnya, ‘Persuasion’ adalah karya terakhir yang ditulis Austen (mulai ditulis saat Austen berusia 39, selesai pada usia 40), maka ‘Northanger Abbey’ adalah yang pertama (dimulai pada usia 22, selesai direvisi pada usia 27). Dan, karena ‘Northanger’ ditulis saat Austen berusia relatif lebih muda, maka aura kemudaanlah yang muncul di karya ini. Ringan, tapi tetap bijak.

Karakter utamanya, Catherine Morland, di usia 17, adalah karakter utama termuda yang ditulis Austen. Masih penuh dengan kepolosan dan kecuekan terhadap beberapa hal. Sebenarnya Catherine sudah punya sebuah sistem nilai tata krama tersendiri yang ia percayai, hanya saja masih belum mantap. Kehadiran teman-teman baru seperti kakak beradik Isabella Thorpe dan John Thorpe serta kakak beradik Henry Tilney dan Miss Tilney seperti mewakili dua kutub kesopanan, tata krama, dan kekuatan karakter yang berlawanan.

Kisahnya sebenarnya sederhana saja, seorang perempuan muda bernama Catherine Morland, yang “has been looking plain for the first fifteen years of her life” dan pada usia 17, “look almost pretty”. Kalimat pertama yang digunakan Austen untuk menggambarkan Catherine adalah: “No one who had ever seen Catherine Morland in her infancy would have supposed her born to be an heroine”. Intinya? Catherine adalah gadis yang biasa-biasa saja.

Dia hidup di sebuah desa yang berukuran menengah, tapi tidak ada yang menarik bisa terjadi di situ dan akan terjadi di situ. Tetangga keluarga Morland, Mr dan Mrs Allen akhirnya membawa Catherine ikut dengan mereka ke Bath, sebuah kota tujuan wisata, destinasi spa, keramaian, serta berbagai pesta pada 1800an. Di Bath-lah Catherine bertemu Henry Tilney, pemuda menarik dan sopan yang tidak ia ketahui asal-usulnya, serta Isabella Thorpe, yang ternyata kakaknya, John Thorpe, adalah teman sekolah kakak Catherine. Pada interaksi-interaksi dengan kakak beradik Tilney dan kakak beradik Thorpelah kemampuan Catherine menilai karakter seseorang diuji. Lewat interaksi-interaksi sosial itu pula Catherine berusaha menemukan dan menentukan karakternya sendiri.

Cerita Catherine, ‘Northanger Abbey’, intinya sebenarnya adalah pendewasaan, coming of age. Pendewasaan kan yang terjadi ketika kita mampu menilai, ‘oh, kelompok teman ini akan membawa pengaruh buruk bagiku’, atau berkomentar, ‘ada sesuatu yang bisa aku pelajari dari kelompok teman yang ini’. Walaupun pada akhirnya, kita tetap harus berani membela diri sendiri, to stand up for ourselves, dan yakin pada nilai-nilai kehormatan yang kita pegang.

Salah satu ‘anak’ cerita yang menarik dari ‘Northanger Abbey’ adalah parodinya terhadap novel-novel Gothic. Jadi ceritanya Catherine suka sekali dengan novel-novel misteri yang melibatkan kastil tua dengan segala rahasianya, plot-plot jahat si pemilik kastil terhadap seorang damsel-in-distress. Mungkin saking sukanya, Catherine membayangkan jadi damsel-in-distress itu sendiri, imajinasi liarnya sudah berlompatan ke sana-kemari sebelum akhirnya sebuah peristiwa lumayan pahit menyadarkan Catherine bedanya antara dunia nyata dan novel.

Mungkin karena ‘Northanger Abbey’ juga aku jadi tidak bisa menganggap ‘serius’ novel-novel Gothic seperti ‘Jane Eyre’ atau ‘Wuthering Heights’, jadi menganggap konyol Gothic-isasi dan dramatisasi situasi di dua novel belakangan. Karena aku sudah membaca parodi dari bentuk-bentuk novel seperti itu. (Walaupun, ‘Jane Eyre’ dan ‘Wuthering Heights’ ditulis jauh sesudah ‘Northanger Abbey’. Tapi mungkin tradisi kepenulisan novel Gothic masih terus berlanjut ya..) Mungkin sama seperti, aku nggak bisa lagi menganggap ‘Godfather’ itu film hebat karena merasa terganggu dengan akting Marlon Brando karena sudah lebih dulu menonton parodi dari gaya akting itu (Dr Evil di trilogi Austin Powers contohnya…).

Anyway.

Saat pertama membacanya, aku pikir kekuatan ‘Northanger Abbey’ terletak pada sisi komedinya. Tapi efek kejutnya bisa memudar setelah membaca kedua kali. Jadi, sekarang, aku pikir yang jadi kekuatan ‘Northanger Abbey’ adalah cara Austen mempresentasikan karakter, terutama pada Isabella dan John Thorpe. Bukan pada sosok fisik mereka, tapi pada cara berpikir mereka. Lewat umpatan, ketidakkonsistenan ucapan dan tindakan, atau lewat surat. Catherine bisa menjadi sebuah cermin—setidaknya, aku menjadikannya sebuah cermin—sudah seberapa beranikah aku untuk berpegang pada nilai-nilai yang aku yakini sebagai kebenaran?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...
  • Herman Suryadi, S.Pd. — Bung Hudan Hidayat Aku lagi nyusun riwayat penyair - sastrawan kelahiran Bengkulu kotaku. Aku minta dikirimkan biodata/riwayat lengkap anda + ...
  • zulhaiban — iya ya, kenapa wartawan tidak mencantumkan gelarnya disusunan redaksi maupun ID Card wartawannya. Mungkin wartawan tidak ingin diketahui latarbelakangnya kali, ...
  • Sayyid fahmi alathas — Menanggapi buku esai nabi tanpa wahyu hudan hidayat. ...
  • hudan hidayat — iya isyana kamu di multiply juga ya? rame di sana kan. sastra memang untuk siapa saja tak ada patokan. maaf aku ...
  • DARIATI — mau donk ikutan LoMba, waLaupun Tidak Lesbian.... sTidaknYa kita berPartisipaSi sMa Tmen2 YaNg PuNya kElaiNan Seksual......
  • yuliana — houwwww, Q tertarik.... 1 hal Q tny.... yg m'adakan adl skul tinggi agama islam, bleh kah non-i juga ikut?
  • yulyanto — Mba ‘Is, Aku mohon ijin tautkan link URL-nya Mba ini ke blog saya (www.yulyanto.com) yach ????….. Tx-alotz
  • Sayyid fahmi alathas — Seni dalam kaijan ilmiah karya sastra ...