Persuasion (Jane Austen)

Membaca ulang ‘Persuasion’, aku jadi teringat saat pertama kali membacanya. Lebih karena sebuah upaya menggenapi membaca karya Jane Austen daripada menikmati membacanya sebagai sebuah karya sendiri. Tapi, setelah membaca biografi mininya Jane Austen dari Carol Shields, aku jadi pengen membaca ‘Persuasion’ lagi. Menurut Carol Shields, jika ada sebuah fungsi untuk biografi, itu adalah untuk membantu menjelaskan makna sebuah karya daripada menghidupkan ulang si pengarang. Benarkah? (Mungkin bisa aja ya, biar biografi nggak ‘jatuh’ jadi sebuah buku gosip…)

‘Persuasion’ adalah buku terakhir yang diselesaikan Jane sebelum kematiannya, tapi bersama dengan ‘Northanger Abbey’ diterbitkan sesudah kematiannya. Anne Elliot, heroin Jane di ‘Persuasion’ adalah karakter yang usianya paling senior di antara karakter-karakter Austen lainnya, 27 tahun. Secara kekayaan, mungkin ia hanya bisa disaingi oleh Emma Woodhouse, karakter di ‘Emma’. Tapi, berbeda dengan karakter-karakternya yang lain (kecuali Fanny Price, karena aku belum membaca ‘Mansfield Park’), Anne Elliot tidak sedang mencari seorang (calon) suami. Dia sudah pernah menemukannya delapan tahun lalu. Yang jadi masalah, pertunangan itu dibatalkan karena dikalkulasi akan jadi sesuatu yang tidak menguntungkan dari segi koneksi atau pun materi. Anne akhirnya dipertemukan lagi dengan Frederick Wentworth secara ‘tidak sengaja’ (kalau dari skenario hidup Anne, mungkin bisa dihitung tidak sengaja, tapi hidup Anne kan diatur oleh Jane Austen, jadi ya pastinya ada kesengajaan dari Austen dong…). Frederick Wentworth yang dulunya dianggap biasa-biasa saja itu ternyata, delapan tahun kemudian, sudah menjadi seorang perwira angkatan laut berpangkat kapten. Jadi gimana?

Well, aku tidak akan membocorkan jalan ceritanya. Tapi kalau ada penilaian yang muncul kok materialistis banget sih aturannya mau menikah, hmm…Anne Elliot di sini diceritakan punya ayah bertitel ‘Sir’ yang punya properti rumah sendiri. Dari segi materi, Anne dan keluarganya terhitung mapan dan terhormat. Pernikahan di masa itu memang amat sangat ditekankan pada koneksi serta kesejajaran status dan latar belakang ekonomi. Pasalnya perempuan di saat itu menggantungkan kesejahteraannya pada seorang suami, karena masyarakat tak memberinya pilihan untuk mencari penghidupan sendiri. Bahkan, Kellynch Hall, rumah keluarga Elliot akan diwariskan pada seorang sepupu jauh karena Anne tak punya saudara laki-laki. Sehingga keberadaan suami dengan koneksi yang bagus dan latar belakang ekonomi yang kuat untuk menikah menjadi penting, bukan hanya bagi kesejahteraan hidup si pasangan suami istri, tapi juga keluarga si istri—apalagi jika tak punya saudara laki-laki, seperti Lizzie dan Jane di ‘Pride and Prejudice’—dan bagi status kehormatan mereka selanjutnya. Bukan berarti mereka gila hormat, tapi itu memang aturan sosial di kala itu.

Bagi perempuan-perempuan muda dari kelas sosial yang, tidak benar-benar di bawah sebenarnya, tapi tak seberuntung Elizabeth Bennett misalnya, ada pilihan untuk bekerja sebagai pengasuh (governess) atau guru. Jane Austen sendiri kerap dihadapkan pada pilihan ini karena keterbatasan ekonomi keluarganya dan ia yang tidak menikah. Karakter Jane Fairfax di ‘Emma’ menggambarkan perempuan muda dari kelas sosial yang tidak tinggi tapi juga tidak rendah itu.

Oke, kembali ke ‘Persuasion’. Anne, di usia mudanya, tidak bertindak sendiri. Ada karakter Lady Russell, sahabat mendiang ibunya yang berperan memberi nasihat. Juga ayah dan kakak Anne yang kekurangan rasionalitasnya bisa melebihi karakter Mrs Bennett di ‘Pride and Prejudice’. Ini juga yang terasa beda dibanding karakter orangtua di novel-novel Austen sebelumnya. Irasionalitas pada Mrs Bennett (‘Pride and Prejudice’), hipokondria di Mr Woodhouse (‘Emma’), pasifitas Mrs Dashwood (‘Sense and Sensibility’), dan keabsenan sebagian besar elemen orangtua Catherine Morland di ‘Northanger Abbey’ adalah sesuatu yang cenderung bisa dimaafkan. Tapi di ‘Persuasion, Sir Walter Elliott dan Elizabeth—kakak Anne—adalah ciptaan Austen yang benar-benar berbeda.

Austen jadi lebih cuek menggambarkan sosok keluarga, yang biasanya jadi faktor pendukung utama si heroin, sebagai karakter-karakter yang sama sekali tidak simpatik. Dan yang menyenangkan sebenarnya, kali ini si heroin tak ambil pusing dengan kondisi keluarganya. Mungkin juga karena Austen memberi usia yang lebih matang bagi Anne, sehingga ia bisa memutuskan sendiri pada siapa dia bisa bergantung akan nasihat dalam memutuskan kebahagiaannya. Pastinya nasihat-nasihat itu tidak akan datang dari ayah dan kakaknya sendiri. Dan Anne tampaknya sudah berdamai dengan kenyataan itu.

Plus ada lebih banyak referensi terhadap perwira-perwira angkatan laut, kondisi politik yang sudah mendamai setelah gejolak yang dimunculkan oleh Napoleon. Mungkin tidak terlalu banyak sehingga Austen kerap dituduh melupakan sejarah atau abai terhadap kondisi politik yang terjadi di sekitarnya. Tapi di ‘Persuasion’, referensi itu ada dan dalam kadar yang cukup. Tak berhamburan di mana-mana sehingga ia jadi novel sejarah (and thank God that doesn’t happen) tapi cukup menandakan bahwa Austen cukup perseptif tentang apa yang sedang terjadi. Dan caranya menggambarkan kategori kapal-kapal perang, standar etika yang berlaku di atas kapal, sampai kehidupan istri perwira-perwira angkatan laut, bukan sesuatu yang bisa dinilai sebagai pengabaian terhadap kondisi sosial politik saat itu.

Kematangan usia Austen mungkin mendorongnya menciptakan karakter yang, secara usia, lebih matang dibanding pahlawan-pahlawannya sebelumnya. Dari segi emosi cerita pun terasa sekali betapa ‘Persuasion’ punya ritme dan nuansa keceriaan berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang jadi terasa meremaja. Yang konsisten adalah hasrat. Austen tetap bisa membuatku menahan nafas dan membuat jantung jadi berdetak lebih cepat. Baca secara khusus surat yang diberikan Wentworth untuk Anne. Surat itulah yang buatku jadi alasan akan jauh lebih memilih sebuah kisah cinta imajiner dibanding yang lain-lain..

Popularity: 20%

Leave a Reply