You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Franny and Zooey (JD Salinger)
Holly Golightly dalam versi film Breakfast at Tiffany’s mengatakan pada karakter Paul Varjak, setiap kali dia got the mean reds, tujuan pertamanya adalah Tiffany’s.
(Paul Varjak: The mean reds, you mean like the blues? Holly Golightly: No. The blues are because you’re getting fat and maybe it’s been raining too long, you’re just sad that’s all. The mean reds are horrible. Suddenly you’re afraid and you don’t know what you’re afraid of. Do you ever get that feeling? Paul Varjak: Sure. Holly Golightly: Well, when I get it the only thing that does any good is to jump in a cab and go to Tiffany’s. Calms me down right away. The quietness and the proud look of it; nothing very bad could happen to you there. If I could find a real-life place that’d make me feel like Tiffany’s, then - then I’d buy some furniture and give the cat a name!)
Tiffany’s berada ribuan mil dari tempatku berada. Jadi tidak akan membantu juga untuk pergi ke Tiffany’s sementara ‘ancaman’ mean reds-nya ada di sini, sekarang. Dan menonton DVD juga bukan aktivitas yang bisa dilakukan di mana-mana. Jadi, Tiffany’s-ku adalah Franny and Zooey. Portabel, bisa dibaca di bis, dibolak-balik juga gampang, dan memenuhi kebutuhan.
Resikonya? Ya aku jadi tipe pembaca yang dibenci Salinger.
Aku menenteng-nenteng Franny and Zooey kan tidak ada bedanya dengan Franny menenteng-nenteng The Pilgrim Continue His Journey kan? Padahal yang coba ‘ditentang’ Salinger lewat Franny and Zooey (jika Salinger mau mengakui dia punya misi) adalah sebuah cult berbau-bau mistisisme keagamaan (setidaknya itu yang muncul di halaman 33). Tapi, dari caraku menenteng-nenteng dan ‘menziarahi’ buku ini, Franny and Zooey sudah jadi sebuah institusi cult tersendiri. Salinger hanya menginginkannya sebagai sebuah cerita cinta dalam bentuk home movie. (Mungkin ini sebabnya cerita-cerita Salinger selalu ingin difilmkan, karena ia sudah filmis sejak dalam bentuk tulisan. Setiap set director, sutradara, costume director, make-up artist, penyunting, penulis naskah bisa langsung bekerja dari naskah-naskah Salinger).
Kisahnya sederhana. Tentang proses breakingdown-nya seorang mahasiswi/aktris teater cantik dan pintar (in a genius kind of way) berusia 20an akibat…kehilangan kepercayaan akan kemanusiaan mungkin singkatnya. Bukan sekadar tentang baik dan buruk sifat seseorang, tapi lebih pada ketulusan orang-orang di sekitarnya dalam berkarya. Franny Glass mencoba mencari tahu apa arti egois, ego, tulus, dan apa yang ‘seharusnya dilakukan’ dengan karya. Dan ia tiba di kesimpulan-kesimpulan yang membuatnya mengalami depresi itu.
Zooey, kakaknya, juga seorang aktor. Bagian kedua buku inilah yang menggambarkan lebih banyak tentang antidot yang diberikan Zooey pada adiknya. Itu singkatnya. Tapi bagian inilah yang membuatku terus-terus membolak-balik dan mencoba mengambil pelajaran. Kesimpulan akhir yang ditawarkan Zooey (berdasarkan ajaran kakak-kakak mereka, Seymour dan Buddy) bisa jadi kesimpulan paling indah, paling melegakan yang pernah aku temui dalam sebuah buku.
Keluarga Glass adalah…aku nggak tahu apakah mereka adalah keluarga favorit Salinger, tapi keluarga ini paling sering diulik oleh Salinger dalam karya-karyanya. Ada referensi-referensi ke Seymour dan Buddy yang mengenalkan Franny dan Zooey pada standar-standar spiritual yang tinggi dan, mereka menuduh, mengubah keduanya jadi sejenis circus freak. “Rumah ini terlalu penuh dengan hantu,” umpat Zooey di buku itu. Seymour pada masa itu sudah lama meninggal karena bunuh diri, Buddy tinggal seperti seorang pertapa di sebuah rumah di hutan tanpa sambungan telepon. Hantu keduanya memang terasa kuat di rumah masa kecil yang jadi tempat pengungsian Franny di saat-saat depresinya. Dalam kutipan-kutipan yang mereka kumpulkan dan dicatat di balik pintu kamar, dari buku Pilgrim yang ditenteng-tenteng Franny, sampai percakapan Franny dan Zooey. Terutama ya referensi atas kondisi yang membuat Franny (dan Zooey) berada pada kondisi mereka sekarang.
Aku sudah membolak-balik buku ini selama 5 tahun terakhir dan masih banyak lapisan karyanya yang belum tercerna dengan baik. Setidaknya belum habis dicerna. Masih ada cadangan-cadangan bahan yang bisa mengaduk emosi. Bahkan sampai detil-detil terkecilnya. It’s that great a work, I think. Aku cukup yakin, aku bukan satu-satunya orang yang menjadikan buku ini sebagai sebuah institusi cult deh.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
franny
bisa tolong menceritakan novel ini ga ?
tolong kirim ke email saya yaa .
i want to know about this novel
October 17th, 2008 at 7:15 pm