Archive for July, 2008

Rosemary’s Baby (Ira Levin)

Saturday, July 19th, 2008

Tahu nggak toko buku bekas di Pasar Festival itu?

Bukan, bukan yang di lantai dasar dekat Hartz Chicken Buffet. Yang di dalam, di dekat food court, tempat jual DVD bajakan?

Kebanyakan sih memang jualannya majalah bekas. Asalnya agak luas tokonya, tapi terakhir ke sana dua, tiga minggu lalu, sekarang cuma setengahnya yang jual buku dan majalah. Setengahnya lagi dipakai untuk menjual baju.

Nggak masalah sih. Toh tempat itu masih jadi tempat menyimpan harta karun-harta karun kecil. Kompilasi tiga novelnya Eudora Welty misalnya. Atau volume pertama jurnalnya Anais Nin. Dan Rosemary’s Baby.

Aku mengetahui Rosemary’s Baby pertama sebagai sebuah film karya Roman Polanski. Pada sebuah musim panas, aku dan beberapa teman menyewa film ini karena rekomendasi yang menyatakannya sebagai salah satu film paling mengerikan. Tapi sampai filmnya selesai, kami yang mengharapkan terjengking-jengking saking ketakutannya ternyata tak merasakan apa-apa.

Baru beberapa tahun kemudian, saat filmnya diputar di MetroTV (setahun, dua tahun lalu, stasiun ini masih punya program yang menayangkan film-film bagus tiap malam tertentu di TV), aku jadi mengerti ‘tipe’ kengerian yang ditampilkan Rosemary’s Baby. That it was of the human kind.

Dan sejak saat itulah ada bagian dari otakku yang, entah bagaimana, bisa mengingat adegan per adegan film itu. Mungkin karena aku sampai pada kesimpulan bahwa Rosemary’s Baby adalah film yang bagus.

Sekarang tentang bukunya.

Membaca versi bukunya, aku malah jadi lebih menghargai Roman Polanski sebagai seorang sutradara. Versi filmnya benar-benar, adegan demi adegan, bahkan sampai setting apartemen The Bramford dari pasangan Woodhouse, mengikuti dengan setia versi bukunya.

Ceritanya tentang pasangan muda Rosemary dan Guy Woodhouse. Guy adalah seorang aktor yang sedang berusaha jadi terkenal. Rosemary adalah perempuan muda cantik yang ingin sekali tinggal di komplek apartemen The Bramford.

Pasar properti New York pada 1967an (perkiraan berdasarkan tahun terbit Rosemary’s Baby) memberikan citra ini; bahwa penting untuk mendapat apartemen yang masih punya karakter, yang bukan sekadar kotak-kotak tanpa keunikan gaya. Maka The Bramford pun jadi penting buat Rosemary.

Yang selalu ditunjukkan oleh Levin bagi karakter Rosemary adalah bahwa ia gadis Katolik dari kota kecil yang, tanpa izin orangtua dan keluarganya, datang ke New York. New York, seperti mungkin kota-kota metropolitan lainnya, bisa punya dampak pada siapa kita dulu dan siapa kita di masa depan. Jauh dari keluarganya, Rosemary bisa bebas mempertanyakan keyakinan yang diwarisi dari orangtuanya. Walaupun kadang ia masih kagum pada sosok Paus, ia tak lagi secara fanatik mempercayai apa yang dulu dipercayainya (Percaya deh, ini akan jadi salah satu poin penting yang membuat Rosemary’s Baby, terutama pada versi buku, begitu mengesankan).

Di The Bramford, pasangan muda ini bertemu dengan pasangan tua tetangga mereka, Minnie dan Roman Castevet. Pada awalnya The Woodhouses tak menganggap mereka serius, sampai Guy–yang sering sinis–tiba-tiba jadi dekat dengan mereka.

Ketika Rosemary hamil, pasangan Castevetlah yang paling perhatian dengan kondisi bayi Rosemary dan Guy. Atau mungkin terlalu perhatian? Dari mulai merekomendasikan dokter sampai membuatkan minuman kesehatan.

Bramford, sebagai sebuah apartemen, juga tak berhenti memberikan Rosemary kejadian-kejadian aneh. Dari mulai bunuh dirinya seorang gadis penghuni yang ia kenal sampai mimpi-mimpi aneh–yang salah satunya kemudian ia sadari sebagai sebuah kenyataan. Sementara Guy, yang sebelumnya tak pernah mendapat kesempatan berarti dalam berakting, kemudian mulai mendapat peran-peran bagus, bersamaan dengan semakin dekatnya ia dan pasangan Castevet.

Jadi, apa hubungannya dengan bayi Rosemary?

Menjawab pertanyaan itu sama saja dengan membongkar ceritanya.

Tapi ini yang aku pikir jadi mengerikan dari Rosemary’s Baby. Aku sudah pada tahap yakin bahwa untuk menjauh atau mempertanyakan atau menemukan sebuah bentuk kepercayaan atau ‘religiusitas’ baru dari yang diwariskan secara dogmatis oleh keluarga adalah bagian dari menjadi dewasa. Seperti yang terjadi pada Rosemary, contohnya.

Levin membuatnya jadi mengerikan ketika ia menceritakan seorang karakter yang menjadi dewasa dengan cara itu–menemukan versi kepercayaannya sendiri dan mempertanyakan apa yang sudah ia pelajari selama ini–tapi terus dihadapkan pada ‘kenyataan’ bahwa ternyata semua yang ia yakini ’salah’ memang sebuah kebenaran.

Itu sepertinya yang membuat Rosemary’s Baby jadi menakutkan.

Popularity: 5%

Washington Square (Henry James)

Saturday, July 19th, 2008

“What is this, a Henry James novel? The young lady acts up, and her family ships her off to Europe?” (Rory Gilmore)

“TO paraphrase Henry James: It’s a complex fate, being an American girl.” (AO Scott, kritikus NY Times menulis resensi film American Girl)

Coba tentukan, mana yang lebih ‘buruk’. Dokter Austin Sloper adalah seorang pria yang, digambarkan, hampir sempurna. Cerdas, rasional, tak kurang apa pun dari segi fisik. Dan tinggal di kalangan sosialita New York yang menjadi kaya dengan warisan atau dengan ilusi bahwa mereka bekerja, Dokter Sloper punya profesi idaman. Ia masih bekerja untuk penghasilannya, tapi pekerjaannya dianggap cukup ‘terhormat’ (dalam artian tidak terlalu kasar, karena melibatkan pikirannya) oleh kalangan sosialita New York.

Dalam dunia yang pernikahannya diatur oleh uang dan koneksi, ia bertemu keseimbangannya dari segi kesempurnaan, seorang Miss Catherine Harrington. Yang cantik, luwes, rasional, dan…punya uang.

Mereka menikah atas dasar sesuatu yang paling mirip dengan cinta, punya anak lelaki yang juga sempurna dan bisa jadi penerus sang ayah. Sayangnya, si anak laki-laki meninggal dan, setelah melahirkan anak keduanya, si ibu juga meninggal.

Tidak, tidak, tidak.

Jangan salah sangka, ini bukan spoiler. Ini justru awal.

Anak keduanya, secara ironis, diberi nama sama dengan ibunya, Catherine. Catherine Sloper adalah sosok yang…sehat. Tapi di mata ayahnya, dia tak memiliki keanggunan dan kecantikan ibunya, atau kepintarannya. Juga keluwesan. Bagi Dokter Sloper, Catherine is dull.

Jadi, mana yang lebih ‘buruk’?

Seorang ayah dengan segala kesempurnaannya diberi anak yang sangat berbeda darinya dan istrinya? Atau seorang anak yang selalu dianggap remeh keberadaannya (dan segala tindakannya) oleh ayahnya?

Catherine, dengan warisan 10 ribu dollar dari ibunya dan 30 ribu dollar dari ayahnya, punya status sebagai seorang heiress (Ada masanya ‘heiress’ tak selalu berarti Paris Hilton. Ini adalah New York pada tahun 1840-1850an).

Ketika Catherine sudah digambarkan dalam ‘ketidaksempurnaan’ itu (tapi memiliki kesempurnaan dari segi finansial) dan datanglah seorang Morris Townsend (He had features like young men in pictures; Catherine had never seen such features–so delicate, so chiselled and finished–among the young New Yorkers whom she passed in the streets and met at dancing-parties) tanpa pekerjaan jelas, maka ayah Catherine diarahkan untuk berpikir bahwa niatan Townsend adalah uang.

Dan Henry James juga tak membuat keadaan jadi lebih baik. Pertemuan-pertemuan Townsend dan Catherine hanya didominasi dengan cerita-cerita Townsend dan Catherine yang hanya mampu diam mendengarkan.

Jadi, sebenarnya, mungkin ‘vonis’ Dokter Sloper tentang anaknya (dan tentang Morris Townsend) benar. Tapi bukankah itu berarti, sebagai pembaca, kita berlaku sama tidak adilnya terhadap Catherine? Sama seperti yang dilakukan Dokter Sloper?

Yang menurutku paling menarik dari Washington Square adalah perpindahan sudut pandang yang dilakukan James secara halus. Pada awalnya semua dilihat dari sudut pandang Dokter Sloper dengan ketajaman ironinya. Aku jadi ikut menilai Catherine dari mata ayahnya. Tapi kemudian, lama-lama, Catherine mulai diberi suara.

Dan benar, ia memang tak pernah melakukan sesuatu yang istimewa atau memikirkan sesuatu yang cerdas. Tapi juga tidak ada yang ’salah’ dengan itu. She being who she is.

Washington Square, karena ketipisannya mungkin, adalah Henry James pertama yang aku selesaikan. Beberapa tahun lalu, aku pernah mulai membaca The Portraif of a Lady sampai akhirnya berhenti di tengah-tengah. Dari situ, aku jad ber-oh ya, ya, pada ‘potret-potret’ yang dibuat James tentang menjadi seorang gadis Amerika. Di The Portrait, adalah Isabel Archer, juga seorang gadis Amerika dengan warisan uang, yang mencoba menemukan dirinya sendiri.

Dan ya, ya, konsep an American in Europe (dan mungkin semua disorientasi yang timbul karenanya) juga merupakan tema yang muncul berulang di dua novel itu.

Tapi ini, jika Henry James adalah pemeta atau pencatat fase kehidupan dan perilaku gadis-gadis Amerika, siapa ya yang menjalankan peran itu buat gadis-gadis Indonesia? Atau kompleksitas takdir menjadi seorang gadis itu tak memiliki batas geografis?

Popularity: 5%