You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Rosemary’s Baby (Ira Levin)
Tahu nggak toko buku bekas di Pasar Festival itu?
Bukan, bukan yang di lantai dasar dekat Hartz Chicken Buffet. Yang di dalam, di dekat food court, tempat jual DVD bajakan?
Kebanyakan sih memang jualannya majalah bekas. Asalnya agak luas tokonya, tapi terakhir ke sana dua, tiga minggu lalu, sekarang cuma setengahnya yang jual buku dan majalah. Setengahnya lagi dipakai untuk menjual baju.
Nggak masalah sih. Toh tempat itu masih jadi tempat menyimpan harta karun-harta karun kecil. Kompilasi tiga novelnya Eudora Welty misalnya. Atau volume pertama jurnalnya Anais Nin. Dan Rosemary’s Baby.
Aku mengetahui Rosemary’s Baby pertama sebagai sebuah film karya Roman Polanski. Pada sebuah musim panas, aku dan beberapa teman menyewa film ini karena rekomendasi yang menyatakannya sebagai salah satu film paling mengerikan. Tapi sampai filmnya selesai, kami yang mengharapkan terjengking-jengking saking ketakutannya ternyata tak merasakan apa-apa.
Baru beberapa tahun kemudian, saat filmnya diputar di MetroTV (setahun, dua tahun lalu, stasiun ini masih punya program yang menayangkan film-film bagus tiap malam tertentu di TV), aku jadi mengerti ‘tipe’ kengerian yang ditampilkan Rosemary’s Baby. That it was of the human kind.
Dan sejak saat itulah ada bagian dari otakku yang, entah bagaimana, bisa mengingat adegan per adegan film itu. Mungkin karena aku sampai pada kesimpulan bahwa Rosemary’s Baby adalah film yang bagus.
Sekarang tentang bukunya.
Membaca versi bukunya, aku malah jadi lebih menghargai Roman Polanski sebagai seorang sutradara. Versi filmnya benar-benar, adegan demi adegan, bahkan sampai setting apartemen The Bramford dari pasangan Woodhouse, mengikuti dengan setia versi bukunya.
Ceritanya tentang pasangan muda Rosemary dan Guy Woodhouse. Guy adalah seorang aktor yang sedang berusaha jadi terkenal. Rosemary adalah perempuan muda cantik yang ingin sekali tinggal di komplek apartemen The Bramford.
Pasar properti New York pada 1967an (perkiraan berdasarkan tahun terbit Rosemary’s Baby) memberikan citra ini; bahwa penting untuk mendapat apartemen yang masih punya karakter, yang bukan sekadar kotak-kotak tanpa keunikan gaya. Maka The Bramford pun jadi penting buat Rosemary.
Yang selalu ditunjukkan oleh Levin bagi karakter Rosemary adalah bahwa ia gadis Katolik dari kota kecil yang, tanpa izin orangtua dan keluarganya, datang ke New York. New York, seperti mungkin kota-kota metropolitan lainnya, bisa punya dampak pada siapa kita dulu dan siapa kita di masa depan. Jauh dari keluarganya, Rosemary bisa bebas mempertanyakan keyakinan yang diwarisi dari orangtuanya. Walaupun kadang ia masih kagum pada sosok Paus, ia tak lagi secara fanatik mempercayai apa yang dulu dipercayainya (Percaya deh, ini akan jadi salah satu poin penting yang membuat Rosemary’s Baby, terutama pada versi buku, begitu mengesankan).
Di The Bramford, pasangan muda ini bertemu dengan pasangan tua tetangga mereka, Minnie dan Roman Castevet. Pada awalnya The Woodhouses tak menganggap mereka serius, sampai Guy–yang sering sinis–tiba-tiba jadi dekat dengan mereka.
Ketika Rosemary hamil, pasangan Castevetlah yang paling perhatian dengan kondisi bayi Rosemary dan Guy. Atau mungkin terlalu perhatian? Dari mulai merekomendasikan dokter sampai membuatkan minuman kesehatan.
Bramford, sebagai sebuah apartemen, juga tak berhenti memberikan Rosemary kejadian-kejadian aneh. Dari mulai bunuh dirinya seorang gadis penghuni yang ia kenal sampai mimpi-mimpi aneh–yang salah satunya kemudian ia sadari sebagai sebuah kenyataan. Sementara Guy, yang sebelumnya tak pernah mendapat kesempatan berarti dalam berakting, kemudian mulai mendapat peran-peran bagus, bersamaan dengan semakin dekatnya ia dan pasangan Castevet.
Jadi, apa hubungannya dengan bayi Rosemary?
Menjawab pertanyaan itu sama saja dengan membongkar ceritanya.
Tapi ini yang aku pikir jadi mengerikan dari Rosemary’s Baby. Aku sudah pada tahap yakin bahwa untuk menjauh atau mempertanyakan atau menemukan sebuah bentuk kepercayaan atau ‘religiusitas’ baru dari yang diwariskan secara dogmatis oleh keluarga adalah bagian dari menjadi dewasa. Seperti yang terjadi pada Rosemary, contohnya.
Levin membuatnya jadi mengerikan ketika ia menceritakan seorang karakter yang menjadi dewasa dengan cara itu–menemukan versi kepercayaannya sendiri dan mempertanyakan apa yang sudah ia pelajari selama ini–tapi terus dihadapkan pada ‘kenyataan’ bahwa ternyata semua yang ia yakini ’salah’ memang sebuah kebenaran.
Itu sepertinya yang membuat Rosemary’s Baby jadi menakutkan.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.